
Satu minggu kemudian.
Semuanya sudah kembali normal. orangtuanya Emily, tidak memperpanjang atas kematian anaknya. Regan dan Vivian, sudah ikhlas atas kepergian anak mereka.
Vivian, hanya sedih karena gagal mendidik anaknya sendiri. Apa lagi Emily,sudah banyak melakukan kesalahan dan memalukan keluarga.
Ayunda dan Laila, mereka pergi ke butik salah satu temannya untuk fitting baju pengantin. Ayunda, dengan senang hati pergi bersama dengan calon menantunya. ia bahkan, mengusir Al agar tidak menggangu kesenangan mereka berdua.
Ayunda, memilih beberapa lembar gaun pengantin untuk Laila sang menantu kesayangannya.
"Aduh,jeng... menantunya cantik banget sih? selamat loh, jeng Ayunda". Ucap bu Eva, pemilik butik.
"Jeng Eva,bisa saja. memang menantu ku ini, cantik no debat". kekehnya Ayunda.
Laila,hanya senyum cengar-cengir saja. apa lagi sang calon mertua, memujinya di hadapannya. "kau sangat cantik, sangat serasi dengan Al". bu Eva, memuji kecantikan Laila sambil menyentuh dagunya.
"Makasih,Tante. jadi malu,akunya". jawab Laila,ia tersipu malu-malu.
"Silahkan, pilih yang mana kamu suka". Ucap Ayunda,ia membawa Laila tepat di depan beberapa gaun pengantin yang sangat mewah.
"Tapi,mah? Aku bingung mau pilih yang mana,bagus semuanya. Mamah saja, memilih untuk ku". Jawab Laila,ia hanya memegang satu gaun dan melihat-lihat saja.
"Astaga, bukankah kau yang menikah dan menjadi pengantin. Bukan mamah, Laila. Ayolah,kau pilih dan cobalah". Ayunda,menarik tangan Laila dan memaksa dirinya untuk memilih gaun sendiri.
"Benar,coba yang ini. pasti sangat cocok untuk mu,". bu Eva, memberikan satu gaun ke tangan Laila.
"Mah,aku tidak ingin ada resepsi pernikahan segala. Cuman akad nikah,hanya itu". Pinta Laila,ia tersenyum kecil.
__ADS_1
"Jangan sungkan Laila,jeng Ayunda memang kaya raya. uangnya juga berlimpah,sayang gak di gunakan". sahut bu Eva, sambil cengengesan.
Ayunda, tersenyum dan membawa Laila duduk. "Mamah,juga akad nikah waktu dulu. Tidak ada resepsi pernikahan segala,itu sangat melelahkan bagi mamah". Kekehnya Ayunda, sambil menggenggam tangan Laila. "tapi, untuk mu harus ada acara pesta pernikahan. harus,tidak boleh menolaknya".
"hanya akad nikah saja,aku mohon mah. Tidak ada acara resepsi pernikahan segala,itu sudah cukup bagiku. Aku sudah sering merepotkan keluarga mamah,apa lagi aku tidak memiliki orang tua. Mereka sudah tiada, di saat hari kebahagiaan ku nanti". Isak tangisnya Laila, Ayunda langsung memeluk tubuhnya dengan erat.
"Laila,kau adalah menantu perempuan ku. Apapun,aku akan melakukan yang terbaik. Acara resepsi pernikahan,itu penting. Apa lagi Al, memiliki banyak rekan bisnis dan teman-teman. Bahkan,kau juga memiliki teman-teman juga kan. Mamah, tidak setuju. Masalah Tante mu,biar mamah yang mengurusnya. Kau tinggal santai dan duduk manis. Semuanya, sudah beres dan di atur. Kalian akan mengadakan resepsi pernikahan,di sebuah hotel". Ucap Ayunda,ia ingin melakukan hal yang terbaik untuk menantunya.
Terimakasih, Tuhan. Kau memberikan seorang ibu mertua, sebaik mamah Ayunda. Seakan-akan, akulah yang paling beruntung sekali. Batin Laila. "Hotel? Kenapa tidak di mansion,mah. Kata Al, mansion papahnya ada".
"Ehh... jangan deh,kalau masalah mansion. Sepertinya, mereka gak mau. Karena tempat pribadi, takutnya ada barang-barang hilang. Kalian,kalau mau tinggal di mansion gak papa. Mamah, bakalan sering-sering mampir ke sana. Kamu taukan,mamah gak bisa jauh dari ibu-ibu". Kedip mata Ayunda, membuat Laila geleng-geleng kepala.
"Sepertinya,aku ingin tinggal di dekat rumah mamah. Kaya asyik aja,mah. Bahkan, melebihi anak mamah sendiri". Laila, terang-terangan menyatakan bahwa,dia lebih asyik berbincang dengan calon mertuanya.
"Hahahaha...kau sangat lucu, sayang. Mamah, sepertinya juga seperti itu". Kata Ayunda,kini mereka cekikikan tertawa berduaan.
Setelah selesai, barulah mereka memilih kartu undangan. Terkadang Ayunda, memandang wajah cantik Laila. Ia tersenyum kecil, hatinya sangat bahagia. Kini sudah memiliki seorang menantu perempuan dan menganggap Laila sudah menjadi anaknya sendiri.a
J dan Al, beberapa kali menelpon mereka masing-masing. namun tak kunjung di angkat oleh mereka, apakah mereka akan di abaikan nantinya.
Selesai dengan semuanya, akhirnya Ayunda mengajak Laila jalan-jalan ke Mall.
Ayunda, memilih beberapa keperluan untuk hantaran pernikahan nanti. Laila,hanya mengangguk dan tersenyum sumringah.
"Mamah, sepertinya untuk hantaran pernikahannya sudah cukup. ini juga banyak aku kembalikan,yang perlu nya saja. Gak usah banyak-banyak,kan nanti bisa beli lagi". Laila,menaruh barang yang tidak di perlukan.
"Benar katamu,kau harus membantu menghabiskan uang suami mu. Bilang saja,kalau Al pelit kepadamu. Biar mamah,gorok lehernya". Kata Ayunda, ia malah membela menantunya itu.
__ADS_1
Maafkan aku,Al. Kau akan menjadi anak tiri dan aku menggeser posisi mu.batin Laila,ia tersenyum kecil. "Mah, terimakasih. Sepertinya, sekarang kita makan-makan. Sudah lama kita, berkeliling berbelanja nya. Pasti mamah, sangat lelah sekali ". Laila, mengajak calon mertuanya untuk beristirahat.
"Mamah, masih kuat kok. Bahkan,beronde-ronde sekalia". Jawab Ayunda, dengan santainya.
"Beronde-ronde, maksudnya apa mah". Sontak membuat Laila, penasaran dengan ucapan Ayunda.
Astagfirullah, menantuku masih polos. Aiss...nih,mulut asal-asalan. "Maksudnya, olahraga sayang. Olahraga,". Alibi Ayunda. "Aaahhh.... Ayo,kita pergi makan. Jangan mau pikirkan tentang itu".
Beronde-ronde maksudnya, apa ya? Apa aku tanya dengan Al,masa sih olahraga ada beronde-ronde nya. Aneh, tapi penasaran.hihihi. "Baiklah, kita ke sana mah". Ajak Laila, mereka saling bergandengan tangan. Alhamdulillah, dapat calon mertua seperti bestie.
Orang-orang sekitar, melihat mereka begitu dekat. Mungkin,bagi orang-orang mereka sepasang ibu dan anak. Padahal,masih calon menantu.
Laila,tidak merasa canggung atau hal lainnya. Ia marasa nyaman di dekat calon ibu mertuanya, bahkan kedekatannya melebihi seorang ibu.
*********
Sedangkan di rumah,J dan Al tengah menonton televisi bersama.
Hanya berhalat beberapa menit, mereka langsung menoleh ke arah jam tangan. Karena Ayunda, sudah lama membawa pergi Laila.
"Sepertinya,ibumu tengah bersenang-senang dengan calon istrimu. kau lihat sekarang,kita seperti mesin ATM. jik ada keperluan apa-apa, baru di perlukan dan kau siap-siap menjadi anak tiri". Decak J, matanya masih menatap lurus ke arah televisi.
"Papah,kau juga akan siap-siap di anggurin mamah. aku yakin, mereka akan lebih sering berpergian berduaan.Di bandingkan dengan kita, jangan-jangan kita di anggap pajangan". Gerutu Al, sambil mengunyah kacang.
Kai,yang sedari tadi hanya menonton mereka berdua sambil main game. "Apa yang kalian tonton? lihatlah, televisi dari tadi tidak menyala. apa yang kalian lihat,hanya mulut kalian komat-kamit kaya dukun". Ucap Kai,asal bicara kepada Ayah dan kakaknya.
"Diam,kau bocah". Ucap bersamaan J dan Al, menatap tajam ke arah Kai. karena mendapatkan bentakan dadakan, membuat Kai terkejut dan takut dengan tatapan mengerikan dari sang ayah dan kakaknya. "matilah aku,". Gumam kai, susah payah meneguk air liurnya. Tiba-tiba......!!!!
__ADS_1