
Satu minggu kemudian,Al dan Laila sepakat untuk tinggal di apartemen. Mereka menolak tawaran Ayunda dan J,agar mereka tinggal di mansion saja. Di apartemen pun, Laila tidak menginginkan seorang art. Dia mampu mengerjakan semuanya dan membereskan seisi apartemen,apa lagi Laila juga tidak bekerja lagi. Ayunda, sangat keberatan dengan permintaan Laila. ia tak mau, menantunya kelelahan karena bersih-bersih tempat tinggal mereka.
Mereka berdua tengah di sibukkan, dengan membereskan semua barang-barang milik Laila. barang yang di angkut, dari rumah Shelly. walaupun tidak banyak,tapi menguras tenaga. "Akhirnya, selesai juga". Laila,melap keringat di keningnya.
selesai dengan pekerjaannya, barulah Laila membersihkan diri dan setelahnya menyusul sang suami sedang masak-masak.
"Aku yakin,mamah bakalan sering-sering mampir ke apartemen kita. Bisa jadi,kamu menghilang tiba-tiba di culik mamah". Decak Al, sambil memasak nasi goreng. Al tahu,jika sang istri datang dan dia duduk di kursi.
Hemmm...harumnya, aku gak nyangka. kalau Al, pintar juga masak.
"Gak papa,Al. Yang culik aku mamahmu,bukan om-om". Kekehnya Laila, tersenyum sumringah.
Apa, om-om? tidak,mana mungkin Laila berpaling dari ku. apa lagi, memilih om-om yang haus belaian.
"Awas aja kalau berani, om-om culik kamu. Bakalan,aku buat sate" sahut Al, langsung. "Kalau mau kemana,bilang sama aku dulu. Jangan kaya mamah,sudah sampai di tempat tujuan baru bilang. Terpaksa deh,papah ijinkan. Walaupun, was-was dalam pikiran papah. Siapa tahu,ada duda muda gitu".
"Iya,kalau gak lupa.hihihihi...salut deh,mamah Ayunda berani melawan papah mu ". Laila, cekikikan tertawa. Sedangkan,Al bermuka masam. "Sebenarnya,aku mau nanya sesuatu yang penting".
"Bertanyalah,aku siap mendengarnya dan sarapan siang kita sudah masak". Al,menaruh piring berisi nasi goreng dan telor ceplok. "maaf,hanya sederhana saja. setelah makan, kita belanja bulanan. kulkas kita,kosong melompong".
Laila, tersenyum manis saat sang suami memberikan sepiring nasi goreng dan telor ceplok. "Aku boleh cek ponselmu dulu". Pinta Laila, ia menunjuk ke arah ponsel suaminya tepat di hadapan.
__ADS_1
Sudah aku duga, seorang wanita pasti ingin mengetahui apa saja. isi ponsel sang suami,cek saja sampai sepuasnya. karena aku,tidak macam-macam terhadap wanita lain.batin Al,ia tersenyum manis.
"Periksalah,kau bebas melakukan apapun. Kata sandinya,namamu". Al, langsung memberikan ponselnya kepada sang istri.
"Sejak kapan,kamu memakai kata sandi atas namaku". Tanya Laila, hatinya merasa senang. Ternyata,sang suami memakai sandi dengan namanya.
"Sudah lama,sejak aku mulai menyukai mu. Waktu,kita masih sekolah". Kedip mata Al, membuat Laila tersipu malu-malu.
Apa? selama itu dan aku,tidak tahu sama sekali.
"Hemmm.. segitunya,kamu bucin sama aku. Jadi geer akunya". Kekeh Laila,ia mulai mencek isi ponsel sang suami. Terimakasih,suamiku. sudah lama kamu, menyukaiku dan sampai sekarang tidak berubah sama sekali.
Laila,hanya manggut-manggut mendengar ucapan suaminya. Ia mengerutkan keningnya,memang banyak wanita lain sering mengirim pesan kepada suaminya. Banyak sekali wanita,yang kurang bahan dan buah melon meluber keluar. Tapi,Al tidak tertarik sedikitpun. Yah...pria harus patut di curigai, karena di foto dengan aslinya. Pikiran mereka, berbeda. Awas kau Al, seandainya aku melihat kau terpesona dengan buah melon meluber. Akan aku tonjok kedua matanya,yang sudah jelalatan. Tunggu dulu,kemana riwayat panggilan ku dan pesan yang aku kirim juga tidak ada. Apa jangan-jangan,Al menghapusnya?tapi,dia tidak membahas masalah itu. Ada yang aneh,kalau ada sesuatu yang bahaya. Meskipun,bahaya kecil menimpa ku. Pasti dia sudah, khawatir kaya emak yang kehilangan anaknya.batin Laila, ia langsung melirik ke arah suaminya.
Karena mendapatkan lirikan mata,dari sang istri. Membuat Al, tersenyum-senyum sendiri. Ia memainkan kedua alisnya turun naik dan mengelus pipinya. "Ada apa,hemm..? Sampai seperti itu, melirik suamimu. Kau pengen lagi, seperti pagi tadi atau melihat ketampanan suamimu ini".
Laila, menggelengkan kepalanya. "Ada yang aneh,Al". Iya aneh sekali,kenapa semuanya tidak ada riwayat panggilanku kemarin. pantesan Al,nampak biasa-biasa saja.
"Aneh? Aneh,apa sayang. Kau jangan menakuti diriku,". Al, langsung melirik ke sekililing dan menaikan alisnya sebelah. Dari raut wajahnya,ada sesuatu yang janggal.
"Kau tidak tahu,apa yang terjadi sebelum hari resepsi pernikahan kita. Apa kau tidak tahu,aku dan Shelly mengalami hal yang menakutkan Al". Tanya Laila, menatap tajam ke arah suaminya.
__ADS_1
"Maksudnya apa? Hal menakutkan, aku sama sekali tidak tahu". Al, langsung menggenggam erat tangan Laila.
"Kau tidak tahu, bagaimana bisa? Aku dan Shelly, mengalami kejadian di kamar hotel". Laila, langsung menceritakan semuanya. Apa yang telah di alami, Laila dan shelly.
Sampai sekarang, Laila masih trauma atas kejadian tersebut. Baginya, sangat menakutkan dan tidak ingin terulang lagi.
Al,mengusap wajahnya dengan kasar. Saat Laila, sudah selesai menceritakan semuanya. Namun Al, merasakan kejanggalan dalam kejadian tersebut. Kenapa ayahnya, tiba-tiba ada dan membantu Laila. Di sisi lainnya,Al beruntung sekali karena memiliki seorang ayah. Yang selalu sigap, menyelesaikan masalah. Aku harus, menyelidiki semuanya dan menemui papah. Batin Al,ia mencoba menenangkan pikiran Laila.
"Tenanglah, semuanya baik-baik saja". Al,mengecup kening istrinya. "jangan memikirkan masalah itu,maaf aku tidak tahu sama sekali ".
"Bagaimana,aku bisa tenang? Ponsel kita,pasti di sadap oleh seseorang. Termasuk,ponsel teman-teman kita Al". Rengeknya Laila, ia mencemaskan keadaan sekarang. "Sehingga kau dan lainnya, seakan-akan tidak terjadi apa-apa kepada kami. untung saja papahmu,datang. akhirnya,kami bisa bernafas lega".
"Aku dan lainnya,akan menyelidiki semuanya. Percayalah,kepada suamimu ini". Berlahan-lahan Al, mendekati wajahnya Laila. Maafkan aku, Laila. aku lalai,tapi aku sudah memberikan penjaga yang ketat di hotel waktu itu. kenapa,bisa kecolongan lagi.
Hembusan nafasnya, terasa di wajah Laila. Kini benda kenyal menyentuh bibirnya dan mereka saling berciuman dengan mesra.
Akhirnya Laila,mulai merasa tenang dan mempercayai ucapan sang suami. Tubuh Laila, langsung di angkat dan duduk di atas meja. Mereka masih berciu-man dan bertukar saliva, tangannya Laila bertumpu ke arah belakang. Rambutnya yang terurai bebas, kepalanya mendongak ke atas. saat Al, menguasai seluruh lehernya. Beberapa jejak,yang di tinggalkan Al tepatnya di leher sang istri.
Tidak hanya di meja makan, mereka melakukan adegan berciuman. Namun, di tempat lainnya dan beberapa barang dapur yang berjatuhan di lantai. Ciuman mereka semakin panas,apa lagi Al di selimuti gai-rah. Ia menginginkan lebih, sekedar berciuman saja. Dengan cepat,ia menurunkan resleting celananya dan menancapkan ke arah Laila yang begitu mudah dia lakukan.
__ADS_1