
"Tuan,dia ada di dalam". Ucap seorang pria,yang menghampiri Kai.
Kai, langsung mengangguk dan pergi ke ruangan tersebut dengan arogan. Dia juga,membuka dua kancing kemeja. Ada sorotan mata,tajam di matanya.
Ceklekk.
Pintu terbuka lebar, melihat sesosok Elvina di ikat di bangku.
"Kai, syukurlah kamu datang dan membantuku. Mereka telah, menculikku Kai. Bahkan, mereka sudah dua kali menculikku. Saat resepsi pernikahan,kamu kemarin. Kai, tolooong.... lepaskan ikatan ini,yang menyakiti ku". Elvina, memberontak dan menjerit-jerit. Air matanya, membanjir wajahnya.
Seorang pria, memberikan kursi dan Kai duduk di hadapannya Elvina. Dia, melipat pergelangan bajunya ke atas. Kai, menyunggingkan senyumnya.
Elvina,syok karena Kai begitu santai. Bukannya melepas ikatan,malah dia duduk dengan santainya. Dia baru sadar,jika menculiknya adalah anak buah Kai.
"Kai, jangan-jangan kamu bosnya". Tanya Elvina, dadanya naik turun mengontrol dirinya.
"Kalau, iya. Lalu,kenapa Elvina. Aku pelakunya, yang sudah menyuruh mereka menculikmu. Ini akibatnya,mengusik ketenangan dalam rumah tangga ku. Elvina,jangan berani macam-macam dengan ku. Aku bisa saja, melenyapkan janin dan nyawamu. Kau kira,aku tidak tahu?apa yang kamu rencanakan, Elvina". Kai, menyambut sebuah botol kecil di tangan anak buahnya.
"Akhirnya, kau tahu Kai. Aku ingin sekali, merusak rumah tangga kalian. Kamu hanyalah,milikku Kai". Teriak Elvina, meronta-ronta. "Aku minta maaf, Kai. Berikan aku kesempatan lagi,aku rela menjadi simpanan mu. Atau,aku akan memberitahu janin didalam perutku. Walaupun,bukan anak mu. Tapi,aku bisa mencoreng nama baik keluarga kalian".
"Elvina, seharusnya kamu pergi jauh dariku. Kamu,belum pernah tahu? Bagaimana,sifat asliku". Seringai tajam Kai,ia memperlihatkan sebuah botol kecil di perutnya. "Kau tahu,ini cairan apa? Cairan ini,akan memberikan kamu pelajaran untuk kemudian hari. Cairan ini, bekerja dalam tiga puluh menit untuk menyiksa dirimu. Jika,kamu benar-benar hamil. Maka janin mu,akan hilang. Akan tetapi,tes kehamilan ini adalah palsu. Nyatanya,kamu tidak hamil. Elvina,kau salah lawan"
Mendengar ucapan Kai, membuat Elvina semakin ketakutan. Dia memang benar, memalsukan pemeriksaan kehamilannya. Untuk merusak rumah tangga,sang mantan kekasih. Saat ingin menemui Rea, tiba-tiba saja Elvina di cegah oleh seseorang.
"Tidak,jangan kai. Aku memang sudah, memalsukan data itu. Jangan lakukan itu,aku mohon lepaskan aku". Elvina, bermohon-mohon kepada Kai.
"Tahan dia dan buka mulutnya. Aku ingin memasukkan cairan ini,ke dalam mulutnya". Perintah Kai, kepada anak buahnya.
Dengan sigap,dua anak buahnya memaksa Elvina membuka mulutnya.
Setelah mulutnya,terbuka lebar. Kai, memasang sarung tangan dan mendekati Elvina.
__ADS_1
Kepala Elvina, mendongak ke atas. Dia tak bisa berbuat apa-apa lagi,hanya bisa menangis sejadi-jadinya.
Dengan sadisnya,Kai memasukkan selang ke dalam mulut Elvina. Hingga masuk ke tenggorokan, Elvina merasakan sangat tersiksa. Sakit, jangan di tanyakan lagi.
Barulah Kai, memasukkan cairan melalui selang tersebut. Saat selesai menuangkan semuanya, barulah selang itu di cabut dengan kasar.
"Uhuukkk..... Uuhukk...". Elvina, terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah. Kemungkinan, dalam tenggorokan Elvina terluka. Dia tak menyangka,jika Kai sesadis itu kepadanya.
"Nikmatilah, penderitaan mu Elvina. Aku memberikan kesempatan satu lagi,jika kamu berani mengusik rumah tangga ku. Siap-siap,aku akan menghabisi nyawa mu dan ayahmu itu,". Tegas Kai, langsung meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah kepergian Kai, ikatan Elvina di lepas dan dia tersungkur di lantai.
"Aaarghhh....tidak, Aaaaakk.....sakit sekali, toooloong...... sakkiiiiiit...". Elvina, merasakan perutnya sangat sakit luar biasa.
Berdiri pun,dia tak mampu sama sekali. Seakan-akan tubuhnya,di bakar hidup-hidup. Ia merasakan tubuhnya, sangat panas.
Elvina, berguling-guling di lantai sambil berteriak-teriak memanggil nama kai.
Dia tak sadarkan diri, barulah anak buah Kai membawanya pergi dari tempat itu.
Di suatu tempat,terbilang sepi tidak ada rumah penduduk apapun. Anak buah Kai, meletakkan tu-buh Elviana di pinggir jalan. Penampilan sangat berantakan dan berlumuran darah.
Beberapa menit kemudian, Elvina sadar dan merasakan kepalanya sangat sakit.
Segerombolan anak muda, mendekati Elvina yang terduduk lemas di pinggir jalan.
Mereka berbisik-bisik,jika Elvina adalah orang gila. Tapi, wajahnya sangat cantik.
Segerombolan anak muda itu, langsung menarik Elvina ke semak-semak.
Elvina,hanya pasrah dan tidak bisa berteriak lagi.
__ADS_1
"Sepertinya,dia masih sangat bagus. Lepaskan baju dan bersih kan tub-uhnya,kita bisa menik-mati secara bergantian". Ucap seorang pria,yang berjong-kok di depan Elvina.
"Benar sekali, lihatlah tub-uhnya masih sangat indah". Sahut yang lainnya, dengan semangat mele-paskan pakaiannya. Mereka hampir meneteskan air liur,saat mem-andang tub-uh Elvina.
Elvina,hanya samar-samar melihat segerombolan anak muda itu. Hatinya menjerit-jerit meminta tolong dan melepaskan dirinya. Hatinya hancur,harga dirinya Sirna. Setiap kali, mereka menik-mati tub-uh Elvina. Hanya air mata,yang mengalir deras.
Namun,para pemuda itu. Semakin bersem-angat, menik-mati tub-uhnya. Eran-gan kenik-matan panjang,yang di lontarkan oleh mereka. Tak tanggung-tanggung lagi, Elvina langsung di setub-uhi sekali dua orang.
Elvina, merasa tak pantas untuk hidup lagi. ia berharap, secepatnya dia mati. Menyesal itulah,yang di rasakan Elvina. Tub-uhnya,di gilir secara berga-ntian. Satu jam berlalu, akhirnya mereka sudah berhenti meni-kmati tu-buh Elvina.
Elvina,yang sudah tak sadarkan diri. mereka langsung membawa Elvina pergi,ke tempat bangunan kosong. mungkin saja, mereka masih ingin bermain-main dengan tub-uhnya.
Entah bagaimana,nasip Elvina. Masih sanggup bertahan,atau merenggang nyawa.
*************
Di kantor sekolah, Rea jadi bahan perhatian dan pembicaraan. Pasalnya,dia masih pengantin baru.
"Rea,apa kamu sudah memberikan itu untuk suamimu". Tanya Tina,yang kepoan sekali.
Dengan malu-malu, Rea mengangguk kepala. Sontak Tina, menutup mulutnya dengan tangan. "Seriusan, yesssss....aku bakalan,jadi seorang aunty". Tina, nampak kegirangan loncat-loncat. Akan tetapi, dia tiba-tiba berhenti. "Tapi,kamu tidak menunda kehamilan kan".
"Ak-aku menunda dulu,". Jawab Rea,karena seseorang mengirim gambar tersebut. Rea, secepat mungkin meminum pil KB.
"Apa...?? Kenapa kamu, menundanya Rea". Tina, nampak kecewa berat.
" Kami, ingin merasakan masa-masa indah bersama dulu". Alibi Rea, tak ingin menceritakan semuanya. Biarlah, di tutupi masalah ini.
"Oh... terserah kamu saja, karena kamu menjalani rumah tangganya". kekehnya Tina,namun dia paham dari raut wajah sahabatnya itu. ada yang tidak baik,ada sesuatu yang di sembunyikan Rea. batinnya.
Rea, masalah tidak nyaman saat di meminum pil KB. dia sudah membohongi semuanya, termasuk ibunya. Keraguan untuk hamil, membuatnya menjadi-jadi saja.
__ADS_1
Takut, itulah yang di rasakan Rea. rumah tangganya,masih tidak baik-baik. Apa lagi mantan suaminya,masih berkeliaran di kehidupan suaminya.