
"Kenapa berhenti,kak". Tanya Rea, tiba-tiba mobil merek tak bisa di hidupkan lagi.
"Astagfirullah, mobilnya tidak bisa hidup Rea. Bagaimana ini, mereka sebentar lagi akan ke sini". Laila, langsung panik dan terus-terusan menghidupi mesin mobilnya.
"Cukup,kak. Kita keluar dari mobil ini, lihatlah di sana". Rea, menunjukkan ke arah bangunan kosong. Sepertinya,bekas pabrik tak terpakai lagi. "Kita pergi ke sana dan bersembunyi,aku yakin suami kita pasti akan datang".
"Tapi..... Rea, lihatlah.... bangunannya, sangat menakutkan". Laila,nampak ketakutan memandang bekas pabrik yang sudah lama di tinggalkan itu.
"Ayo,kak. Kita membawa sintar ini dan Ponsel, berharap di sana ada sinyalnya". Rea, langsung keluar dari mobil dan Laila juga.
Laila dan Rea, berlarian sambil memegang tangan. Bulu kuduk seketika berdiri,saat memandang ke arah bangunan kosong itu.
"Ayo,kak. Insyaallah, tidak ada hantu". Rea,terus meyakinkan kakak iparnya.
Hingga akhirnya, mereka masuk ke dalam bangunan kosong itu. Nampak seisi gelap gulita,tanpa ada cahaya lampu sedikit pun.
Saat Annisa dan Elvina sampai, mereka berdecak kesal karena tidak ada mereka.
"sepertinya, mereka memasuki bangunan kosong itu". Tunjuk Elvina,ke arah bekas bangunan pabrik itu.
"Kau yakin, pabrik kayu. Yah,bekas pabrik kayu. Sepertinya, tempat itu sangat luas dan gelap. Kita akan masuk ke sana,bawa ponsel dan pistol ini". Annisa, memberikan pistol kepada Elvina.
"Benar,kita habisi merek berdua di dalam bangunan kosong itu. Aku yakin, bangkai mereka tak akan di temukan oleh orang lain". Elvina, mengambil pistol di tangan Annisa.
"Hahahahahha.....". Mereka tertawa terbahak-bahak, membuat Laila dan Rea semakin menegang.
"Kak,Kita harus masuk lebih dalam lagi". Dengan melawan rasa takutnya, Rea menarik tangan Laila.
"Rea, jangan lepaskan tanganmu. Sebenarnya,aku sangat takut kegelapan malam. Tapi,aku akan melawannya demi keselamatan kita". Laila, mengikuti langkah kaki adik iparnya.
"Nyalakan satu ponsel saja, untuk menghemat baterai ponsel kita. Karena kita, tidak tahu? Kapan keluar". Ucap Rea, langsung mematikan satu ponselnya.
Keringat bercucuran membasahi tubuh mereka,tangan dan kakinya juga ikutan gemetaran hebat.
"Laila,kau dimana?aku,mencarimu... hahahahaha....". Gelak tawa Annisa.
"Ayolah,keluar Rea. Jangan mempersulit keadaan ini, menyerah lah. Tidak pantas terus-terusan,main kucing-kucingan dengan ku". Kata Elvina,terus mewaspadai keadaan sekililing.
"Hahahaha....kami tahu, jika kalian berada di dalam bangunan ini. Siap-siap kami datang,". Sambung Annisa,terus melangkah menuju ke arah dalam bangunan.
"Rea, keluarlah...aku tidak sabar, untuk menghabisi kau dan bayi di dalam kandunganmu. Hahahaha....kau akan habis,di tanganku Rea". Teriak Elvina,terus berhati-hati.
__ADS_1
"Elvina,kita harus waspada terhadap mereka. Siapa tahu, mereka memiliki rencana licik". Bisik Annisa.
"Benar,apa lagi sekililing sangat gelap. Aku yakin, mereka melakukan sesuatu". Elvina,juga merasa ketakutan saat masuk ke dalam
Laila dan Rea, sudah semakin jauh masuk ke dalam. Setiap pintu-pintu, mereka masuk. Tak memperdulikan lagi, bagaimana keluarnya.
"Rea, sepertinya kita salah tebak. Lihatlah,jejak kaki manusia". Laila, memperlihatkan jejak kaki lainnya.
"Benar,pasti tempat ini ada penghuninya. Aku yakin,ada lampu yang bisa menyinari ruangan ini. Tapi, dimana". Rea,terus mengelilingi ruangan tersebut. Akan tetapi tiba-tiba....
"Aaaakkhhh......kakak ipar". Teriak Rea,saat pintu lainnya. Tiba-tiba tertutup rapat dan tidak bisa terbuka.
"Reaaaaa....buka pintunya, Rea". Laila, semakin ketakutan dan panik. Dia, mencoba membuka pintu. Tetapi saja , tidak bisa di buka.
"Kak,kita harus berpisah dan terus menelusuri pintu yang kita lewatkan. Kakak,jangan takut. Kak Laila,harus berani ". Teriak Rea,di balik pintu sudah menangis kesegukan.
"Baiklah,aku akan menuruti perkataan mu". Isak tangisnya Laila, walaupun dia merasa sangat takut.
Akhirnya Laila dan Rea, terpisahkan. Mereka mencari-cari jalan, masing-masing. Hawa dingin memasuki kulitnya, ketakutan semakin menjadi-jadi.
"Al, cepatlah datang. Aku, aku sangat ketakutan saat ini. Mamah,aku takut mamah.... Rea....!!! Kamu,dimana? Reaaaaaaa....". Laila,terus berteriak-teriak memanggil adik iparnya.
Begitu juga Rea,terus memanggil suaminya dan orangtuanya. "Kak Lailaaaaa....kakak,dimana...kak Lailaaaaa....ayah, Rea takut. Kak Kai, cepatlah datang".
"Hahahahha,kena kalian". Teriak Annisa, yang berlarian dalam kegelapan.
Mendengar gelak tawa Annisa, membuat Laila dan Rea tersadar. Karena teriakan yang di keluarkan, membuat Annisa dan Elvina tahu.
Akhirnya Laila dan Rea, memutuskan untuk diam agar tidak di ketahui oleh mereka.
"Mereka mendengar teriakkan ku,tapi kenapa tidak mendengar teriakkan kak Laila. Ada sesuatu, yang tidak beres di bangunan ini". Gumam Rea,terus berjalan dan membuka pintu setiap kali bertemu.
"Aaaakkhhh.....". Pekik Laila,saat dia jatuh ke dalam dan meluncur bebas.
Buughhhh...
"Aaaakkhh... sssshhhttt...sakit sekali,". Laila,jatuh dari atas menggunakan perosotan. "Tempat apa,ini? sungguh mengerikan sekali"
gumam Laila, tiba-tiba seseorang tengah mengintip dirinya.
Kreaaakkk...
__ADS_1
Seseorang mendekati Laila, membuatnya semakin ketakutan."siapa kalian? Menjauhlah dari ku". Laila, mengambil satu kayu untuk siap memukulnya.
"Tangkap,penyusup itu". perintah seseorang,di belakangnya Laila.
Dua pria bertubuh besar, mendekati, Laila yang siap menangkapnya. "jangan mendekati ku,". Ancam Laila,siap menerkam mangsanya.
"Hahahaha, ayolah....kita akan bersenang-senang,sayang". Ucap Pria itu, dengan tegasnya.
Buughhhh..... Buughhhh...
Laila, sekuat tenaga melawan dua pria bertubuh besar itu. Beberapa kali,dia memukul menggunakan kayu. Hingga akhirnya,dia terlempar ke dinding.
Bruaakkkkkkk....
"Aaaakkhh...". Laila, meringis kesakitan dan darah segar mengalir di sudut bibirnya.
"Tangkap dia dan bawa ke sana". Perintah seorang pria,yang menggunakan topeng tengkorak tersebut.
"Tolong, jangan tangkap aku". Laila, sekuat tenaga untuk bangun. Akan tetapi, matanya mulai memburam dan tak sadarkan diri.
Dua pria bertubuh besar tersebut, dengan mudahnya mengangkat tubuh Laila dan membawanya.
Laila,di letakkan sebuah ruangan kosong. Dia, mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling ruangan tersebut.
"Kak Lailaaaaa...". Rea, langsung menghampiri Laila yang barusan datang.
"Rea,kamu tidak apa-apa". Laila, mencoba menenangkan pikiran adik iparnya.
"Kakak,kenapa? Sampai berdarah, seperti ini". Isak tangis Rea,pecah langsung.
"Tidak apa,aku baik-baik saja. Pergilah,jangan ke sini. Demi keselamatan mu, Rea. Cepatlah,pergi". Perintah Laila,yang menahan perutnya sangat sakit.
"Tidak,aku tidak akan meninggalkan kakak. Kita harus, terus bersama kak. Bagaimana pun, akhirnya nanti". Isak tangis Rea,tak sanggup melihat kakak iparnya itu.
"Pergilah, Rea. Selamatkan dirimu,aku tidak ingin kenapa-kenapa. Apa lagi, keponakan ku ini. Tolonglah, tinggalkan aku. jangan perdulikan, keadaan ku. Cepat sana,pergi". Laila,terus menepis tangan Rea untuk membantunya berdiri.
"Tidak kak,aku tidak bisa meninggalkan kakak. Aku yakin,kakak bisa". Rea, terus membantu kakak iparnya bangun.
"Tinggalkan aku, sendiri. Pergilah,aku mohon". Laila, tersenyum manis. "Aku sudah menganggap dirimu, sebagai adikku sendiri".
"kakak, jangan seperti ini. Aku mohon, berusaha lah... Aaaaakkkkhh....". seseorang menarik Rea,dari belakang dan terbentur meja.
__ADS_1
"Reaaaaaaa.....". Laila, berteriak histeris memanggil adik iparnya itu.