ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Sebuah Telpon (S2)


__ADS_3

"kenapa baju di pakainya tadi malam,di pakai lagi? Lepas kak,biar aku mencucinya". Rea, mengulurkan tangannya.


"Bagaimana tidak aku pakai,dirumah mu masih banyak keluarga. Masa aku,keluar kamar mandi menggunakan handuk yang melilit di pinggang ku. Untung saja,kalau rumah kita jadi nanti. Kamar mandi ada dua,di kamar kita sama untuk para tamu". Kai, melepaskan bajunya.


Rea,hanya meneguk salivanya. Saat melihat sixpack perut,sang suami. Apa lagi, rambutnya masih basah. Membuat hati Rea, meleleh memandang wajah tampan Suaminya.


Kai,hanya tersenyum kecil saat melihat sang istri. Terus-menerus memandanginya, tanpa berkedip. "Pengen pegang, sixpack aku?".


Mendengar ucapan sang suami, Rea langsung tersadar dari pandangannya. "Apaan sih? Aku nungguin,bajunya kak". Rea, langsung mengambil baju di tangan Kai.


Saat berbalik badan, tiba-tiba tangan Rea di cekal oleh Kai. "Kamu yang nyuci,kenapa tidak laundry saja. Aku gak mau,kamu kecapean".


Jantungnya Rea, berdegup kencang saat Kai di belakangnya. Di tahu,jika sang suami begitu dekat. Ia tak mau membalikkan badannya,sudah pasti akan lebih intim lagi. "Cuman beberapa lembar, ngapain harus laundry". Jawab Rea,mencoba melepaskan cekalan suaminya. Namun tidak bisa, Rea merasa sangat tidak nyaman dengan posisi seperti ini. "Kak, lepaskan tanganmu. Aku mau nyuci, pergilah ke ruang tamu. Temui ayah,di sana kakak bisa minum kopi".


"Baiklah,aku segera ke ruang tamu". Kai, langsung melepaskan cekalan tangannya.


Rea, tergesa-gesa keluar dari kamar. Ia segera menutup pintu, tubuhnya bersandar di balik pintu.Ia menetralkan detak jantungnya. "Lama-kelamaan,aku bisa kena penyakit jantung. Kalau sering di dekatnya,gawat kalau ini". Gumam Rea,ia langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur.


Kai, keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu. Benar saja,ayah mertuanya dan para bapak-bapak lainnya. Sepertinya, mereka tengah mengobrolkan Sesuatu.


"Kebetulan sekali, menantuku datang. Duduklah,ada yang di bahas nak Kai". Pak Broto, menyuruh menantunya duduk.


"Minumlah,nak". Ucap seorang bapak di sebelah Kai.


"Nak kai, perkenalkan beliau pak Alif. Dia merekrut anak buah, untuk membangun rumah mu nanti. Jadikan,kamu dan Rea membangun rumah di belakang rumah ini". Tanya pak Broto, tersenyum kecil.


"Tentu jadi ayah,aku serahkan semuanya kepada ayah. Masalah biaya,bilang saja berapa". Jawab Kai, dengan santainya.

__ADS_1


"Aku sudah melihat desain rumah,yang kalian pilih. Insyaallah,akan selesai dengan cepat.masalah bahan-bahan,jangan di ragukan lagi. Aku akan memilih yang terbaik,". Kata pak Alif,yang di angguki oleh Kai.


"Berikan nomor rekeningnya, biar gampang membayar upahnya pak". Ucap Kai,tanpa ba-bi-bu lagi.


Beruntung sekali,pak Broto mempunyai menantu yang kaya. Batin pak Alif,dia juga merasa senang mendapatkan tawaran untuk membangun rumah menantu pak Broto.


Sementara rumah di bangun, Kai dan Rea. Sepakat, untuk tinggal di rumah orangtuanya Rea.


Kai,hanya menuruti kemauan istrinya. Dia juga,tak keberatan tinggal di rumah mertuanya itu.


"Kak, gak papakan kita tinggal di rumah ini". Tanya Rea,takut sang suami merasa tak nyaman.


"Hemmm...aku terserah saja,mau tinggal dimana. Masalah bahan sembako,di rumah ini. Beli lah,jangan sampai orangtuamu mengeluarkan uang. Kita sudah menumpang, setidaknya ringankan beban masalah keuangan".


"Iya kak,tapi aku mengajar pagi-pagi di sekolah. Sedangkan, tukang sayur lewat agak siangan. Aku beri uang saja, ke ibu gimana? Biar ibu,yang beli ikan sama sayur". Tanya Rea, berharap sang suami tidak pelit kepada orangtuanya.


"Makasih,kak. Hemmm...berapa hari, Kakak ijin tidak ke kantor". Tanya Rea, karena lusa dia sudah masuk bekerja.


"Lusa, mungkin. Aku ada janji dengan,rekan bisnis. Kalau kamu,kapan". Tanya Kai, duduk di samping Rea.


Rea, menggeser posisi duduknya agak menjauh. "Lusa kak,gak papakan aku bekerja".


"Hemmm...tidak apa,kalau mau kemana-mana ijin dulu sama aku. Ingin beli sesuatu, belilah apa yang kamu mau. Jangan sungkan, menggunakan uang di ATM itu. Karena uang itu,milikmu nafkah uang dariku".


Mendengar ucapan sang suami, Rea merasa tak nyaman. Maafkan aku,kak. Belum siap, melakukan hal itu.batin Rea,ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Kai,hanya terdiam dan menatap ke arah langit-langit kamar istrinya.

__ADS_1


Dering ponselnya, berbunyi tertera nama Elvina. Kai, sempat melirik ke arah istrinya yang membelakangi.


Kai, beranjak berdiri dan mengangkat telpon tersebut. Akan tetap,dia keluar dari kamar. Sontak membuat Rea, bertanya-tanya mengapa suaminya sampai keluar. hanya mengangkat telpon,jiwa penasarannya meronta-ronta. Seakan-akan,sang suami menyimpan sesuatu. Dadanya terasa sesak, melihat suaminya pergi.


************


Pagi-pagi sekali, Kai mendengar keributan antara ibu mertua dan seseorang.


"Ada apa,bu? Kenapa ribut-ribut". Tanya Kai, langsung menghampiri ibu mertuanya.


"Nak,kai. Tidak apa nak,dia kakak ipar ibu. Panggil saja bi Wahdah". Bu Minah, merasa tak nyaman dengan keributan mereka. Di ketahui oleh, menantunya itu.


"Maaf,bi. Emangnya ada apa, ribut-ribut sepagi ini". Tanya Kai,mimpi apa dia semalam. Hingga menghadapi, seorang ibu-ibu. Ternyata,bibi Rea.


"Ini urusan keluarga,kamu tidak berhak ikut campur. Mentang-mentang punya, menantu kaya raya pelitnya minta ampun". Kata bu Wahdah, setengah berteriak.


"Mbak, bukannya aku tidak mau meminjamkan uang. Tapi,hutang yang dulu belum di lunasi. Bahkan,adik Mbak melarangku untuk meminjamkan uang kepada mbak lagi". Bu Minah, langsung mengungkapkan kenapa dia tak mau meminjamkan uang kepada kakak iparnya itu.


"Lalu,suaminya bibi mana? Apa tidak bekerja". Tanya Kai, langsung.


"Nak,kai. Suami mbak Wahdah, seorang mandor kebun sawit. Gajihnya juga lumayan, tapi...". Bu Minah, menggantungkan Ucapnya.


"Alahhhh...gak usah deh,mau minta belaan sama menantumu ini. Bilang saja,kamu tidak ada uang Minah. Jangan-jangan menantu mu,kaya raya ini. Sangat pelit, dengan mertuanya". Bu Wahdah, menyaringkan suaranya. Dia ingin mempermalukan menantu bu Minah


Mendengar ucapan bu Wahdah, Kai rahangnya mengeras seketika. bisa-bisanya dia,di katakan pelit kepada orangtuanya istrinya. "Cukup,bi. jangan asal tuduh, seperti itu". Bentak Kai, seandainya dia tak memandang seorang wanita. mungkin saja,bogem mentah melayang di wajahnya


"Astagfirullah,mbak Wahdah. apa yang di pikiran Mbak,dia adalah menantu ku. sekalipun seorang anak,aku tidak se matre itu. istighfar mbak,jangan menuduh menantu ku sembarangan". bu Minah,syok mendengar ucapan kakak iparnya itu. dia tahu, ingin menjatuhkan harga diri keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2