
Malam harinya bu Minah,bersama suami dan anaknya tengah duduk santai di ruang tamu.
"Pak,apa tidak mengkhawatirkan pernikahan anak kita. Maaf,aku menyinggung keluarga mu pak. Apa lagi skandal, Dewi". Bu Minah,merasa tak nyaman dengan besannya.
"Bu, jangan di pikirkan masalah itu. Bapak Sanga yakin, mereka tidak akan menilai keluarga kita buruk. Yang penting,Rea tidak melakukan apapun" pak Broto,juga mengkhawatirkan masalah ini.
Pasalnya,anak kakaknya itu. Pernah berbuat kesalahan besar, untung saja bisa di selesaikan secara baik-baik. Pak Broto,takut jika mempengaruhi pernikahan anaknya.
"Pak,bu. Yang penting aku,tidak melakukan hal itu. Percayalah, pernikahan Rea akan berjalan dengan lancar". Rea,juga menenangkan hati dan pikiran kedua orangtuanya.
"Rea,ini sama saja menyangkut tentang pernikahan mu. Jujur,ibu sangat malu dengan ibu mertua mu" sahut bu Minah.
"Lalu,harus bagaimana bu? Namanya juga,rumah mereka dekat dengan kita. Sabarlah, semoga baik-baik saja". Pak Broto, bingung harus berbuat apa lagi.
"Padahal,ibu sudah meminta Dewi tidak hadir sore tadi. Ibu, sangat malu karena mendengar cibiran para tetangga. Apa lagi, skandal Dewi sudah meluas. Nyatanya, Dewi tidak tahu malu. Dia berani masuk dan menampakkan diri. Untung saja,ibu mertua Rea tidak mempersalahkan tentang ini". Decak bu Minah,dia sudah was-was sore tadi.
Bu Minah dan keluarga suaminya sendiri,memang tidak akur. Seringkali kakak iparnya, menyudutkan Rea. Apa lagi saat bu Minah,hanya bisa melahirkan seorang anak. Rahimnya, terpaksa harus di angkat. Bu Minah, selalu sabar menghadapi sikap kakak-kakak iparnya itu. Walaupun,sang suami sering membela dan sering bertengkar dengan kedua kakaknya.
Apa lagi kakak ipar bu Minah, selalu mengejek-ejek sana sini. Karena Rea, menikah dengan seorang pria yang terpandang dan jauh. Apa lagi, pernikahan Rea secara mendadak.
Ada rasa iri hati,karena pak Broto dan bu Minah. Mendapatkan menantu, keturunan Negredo dan kaya raya. Membuat kakak pak Broto, semakin murka kepada adiknya itu.
Pak Broto,hanya bisa mengelus dada dengan pelan. Saat mendengar,ocehan mereka.
Sedangkan keluarga dari Bu Minah,kakaknya dan adiknya. Menyetujui pernikahan Rea, selalu mendukung keluarga Bu Minah.
"Bu,tidak usah mengkhawatirkan pernikahan ku". Rea, memegang erat tangan sang ibu. Rea,semakin deg-degan begini. Tinggal satu minggu lagi, pernikahannya akan segera di laksanakan.
"Iya,nak. Kamu juga yah,ibu sangat yakin. Kalau keluarga suamimu,orang yang sangat baik. Percayalah,nak. Bu Ayunda,juga seperti kita. Tidak memiliki harta kekayaan, yang banyak". Bu Minah, mengelus lembut pipi anaknya.
__ADS_1
"Kapan keluarga kak Alayya,ke sini bu". Rea, memeluk erat tubuh ibunya.
"Nanti,saat dua hari sebelum acara resepsi pernikahanmu. Paman Sam dan bibi Tutik dan paman Ilyas dan bibi Titin. Berserta anak-anak, mereka". Jawab bu Minah,ada senyuman kecil di sudut bibirnya. "Nak Rea,kamu yakin melanjutkan pernikahan ini".
"Bu,jangan membahas ini lagi. Gak enak,di dengar ayah". Rea, sangat malas sekali jika membicarakan masalah pernikahan dirinya.
"Baiklah,ibu mau kekamar dulu. Tidurlah,lebih awal sayang". Bu Minah, langsung meninggalkan anaknya.
Rea, juga masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya, di atas ranjang. "Tiga hari lagi,aku bekerja. Sisanya,libur selama satu mingguan. Hemmm...aku harus, mengubah kamarku. Sudah pasti,kakak akan tidur di kamar ini juga. Selama rumah,belum selesai. Astagfirullah,aku lupa mengabarinya". Rea, langsung mengambil ponselnya di atas meja.
Rea,juga mengirim desain rumah yang dia inginkan. Sisanya, terserah sang suami.
************
"Wahhh...rajin bener,mau acara pernikahan. Masih kerja". Ucap seseorang,di belakang Rea.
"Tiga hari lagi,bi. Setelahnya,aku cuti". Jawab Rea, ternyata bu Wahdah. Istri kakak ipar,ibunya.
"Bi,aku kerja. Bukan, keluyuran gak jelas". Rea,pun tahu jika Pemali kalau pengantin wanita kemana-mana. Namun,karena pekerjaan yang harus di kerjakan.
"Alah.... ngapain kerja,toh Sudah dapat suami kaya raya". Timpal Dewi, yang baru datang.
Bu Minah, langsung tergesa-gesa melihat anaknya bersama kakak iparnya itu.
"Rea, berangkatlah. Biar ibu,yang mengurus bibimu". Bu Minah, langsung menyuruh anaknya berangkat bekerja.
"Baiklah,bu. Assalamualaikum,". Rea, langsung meninggalkan perkarangan rumahnya.
"Wa'alaikum salam,". Jawab mereka bersamaan, dengan santainya.
__ADS_1
"Minah, ngapain lagi anakmu kerja? Toh, sudah punya suami kaya. Hidup anak kalian, bakalan enak kaya ratu. Gak tau sih? Gimana lamanya, siapa tahu? Belang menantu mu, ketahuan". Bu Wahdah, mengejek adik iparnya itu.
Rumah pak Broto,tak jauh dari rumah kakak-kakaknya. Hanya bersebelahan,rumah. Karena tanah warisan,yang di bagi oleh kedua orangtunya.
"Maaf mbak, Wahdah. Jangan terus-terusan, mengurus anakku. Urus lah anak mbak,kalau bukan karena adikmu. Mungkin saja, Dewi di usir dari sini. Malu,mbak sangat malu. Orang-orang sekitar, membicarakan Dewi. Aku tidak sanggup, harus menjawab pertanyaan dari mereka. Bagaimana, pendapat besanku mbak". Bu Minah, mengeluarkan unek-uneknya selama ini.
"Sok-sokan ngatain anakku, mentang-mentang anaknya menikah dengan pria kaya raya. Ck,aku jamin seratus persen Minah. Anakmu, tidak akan selamanya bahagia. Ancamkan itu, seenaknya mengejek-ejek harga diri anakku". Bu wahdah, langsung meninggikan suaranya.
Dewi, hanya diam dan melihat sang ibu bertengkar dengan adik iparnya. baginya,sudah terbiasa melihat adegan seperti ini.
"Mbak,aku bukan bermaksud mengejek-ejek Dewi. Aku hanya, mengeluarkan isi hatiku mbak. Malu,itu yang aku rasakan. Mbak, selalu mengurus anakku. Tapi,anak mbak di biarkan bebas". Bu Minah, menahan rasa amarahmya. Dadanya, sudah naik turun.
"Ck,aku adukan kamu sama Broto. Sudah berani, meninggikan suaranya kepada aku kakaknya". Kata bu wahdah, langsung meninggalkan bu Minah.
Bu Minah,hanya menggelengkan kepala saja. ia yakin,sang suami pasti membelanya.
*************
Sesampai di kantor sekolah,Rea langsung di sambut sahabatnya Tina di parkiran.
"kirain gak berangkat kerja". kekehnya Tina,yang duduk di atas motornya.
"Apaan sih". kata Rea, sambil melepaskan helmnya.
"Yeeehhh...kamu punya hutang sama aku, kemarin. E'ehmmm...sama suami,". ledek Tina, cengengesan. dia sangat suka, menggoda sahabatnya.
"Gak kemana-mana,cuman memilih cincin kawin saja". jawab Rea, dengan santai.
"Mana lihat". Tina, langsung menarik tangan Rea. Memang benar,ada cincin kawin melingkar di jari manis Rea. namun,mata Tina tertuju gelang yang sangat indah di matanya. "Wahhhh...aku salfok sama, gelang kamu. pasti dia,yang memberikan kepadamu. mana mungkin, kamu beli sendiri".
__ADS_1
Rea,hanya tersenyum malu-malu dan mengangguk kepalanya. "hemmm...benar sekali,apa tebakan mu". kekehnya Rea, tersenyum manis.
Cukup lama Rea, bercerita tentang kejadian kemarin. Dimana dia pergi,bersama suaminya. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk masuk kedalam kantor.