
Usia kandungan Laila, memasuki lima bulan. Perutnya semakin membesar,ia tersenyum di balik pantulan cermin. Hanya beberapa orang saja,yang sudah mengetahui kehamilannya.
Al, memeluk tubuh Laila dari belakang. Sambil mengelus lembut Perut,sang istri. "Aku tidak sabar, ketika mereka ada di dalam gendongan ku nanti. Aku sudah menyiapkan baby sitter,yang kinerjanya bagus dan banyak pengalaman dan dua sekaligus. Aku tidak mau,kau lelah dan stres sayang" Ucap Al,ia tersenyum dan mencium pucuk kepala Laila.
"Terimakasih,cukup satu saja tidak apa-apa. Ada aku dan mamah,yang menjaga". Ucap Laila, tersenyum manis.
"Tidak, untuk apa aku bekerja keras dan banyak uang. Sedangkan, orang yang aku sayang. Malah kecapean dan stres,lebih baik aku gunakan untuk dirimu. Nurut sama suami,".
"Hemmm... baiklah,aku akan menuruti perkataanmu". Laila,tak ingin berdebat masalah sepele itu.
Kata orang-orang lain,kalau sedang hamil. Pasti banyak maunya,tapi Laila tidak ada meminta apapun. Apa jangan-jangan dia tidak ingin, merepotkan diriku? Baiklah,kita tanyakan kepada nya.
"Sayang, katakan apa yang kau inginkan"
"Ha...? Hemmm... sebenarnya ada sih? Tapi,apa kamu benar-benar mengabulkan permintaan ku". Tanya Laila, dengan raut wajah sedih.
Benarkan,ada maunya dan malu bertanya. Aku adalah seorang pria ter peka di dunia, tentu akan mengabulkan permintaan istriku.batin Al,ia tersenyum sumringah. "Tentu, apapun itu..! Aku akan mengabulkan permintaan mu,tidak akan membantahnya"
"Terimakasih, sebenarnya aku sudah lama menginginkannya. Tapi,takut kalau kamu maran. Jadi aku pendam saja, mumpung kamu yang nawarin. Aku sangat menginginkannya, terimakasih". Mata Laila, berbinar seketika. saat sang suami, mengabulkan permintaannya.
"Demi anak kita, mungkin bawaan hamil. Jadi harus di turuti, katakan apa yang kau inginkan". Tanya Al, sambil memainkan kedua alisnya.
"permintaan ku ini, sangatlah mudah. Tapi,harus sabar dan tentunya menguras emosimu. Suamiku,aku ingin makan. Tapi, ingin di suapin sama Arkana". Pinta Laila, dengan raut wajah sedih.
Byuuuurrrrr...... Uhukk... Uhuukk... Uuhukk....
Jus jeruk tersembur keluar mulutnya,Al pun terseda-sedak mendengar permintaan sang istri. Mana mungkin bisa,sang istri makan minta di suapin oleh Arkana.
Dadanya naik turun, mengontrol emosi kepada sang istri. "Tidak, aku tidak akan mengabulkan permintaanmu itu. Kau ingin aku jantungan, Laila". Tolak Al, langsung. Ia mengusap mulutnya dengan tisu.
__ADS_1
"Huuhuuu...Huuuhuuu...". Laila menangis,karena sang suami menolak permintaannya. "Kau jahat, bukankah ingin mengabulkan permintaan ku. Aku sudah lama, ingin makan tapi di suapi oleh Arkana. Dia temanku,mau jahat sekali...huuuhuuu...huuuhuu...aku akan melaporkan kamu, kepada mamah Ayunda. Sekalian saja,aku pergi dan tinggal di rumahnya mamah". Laila, langsung marah-marah kepada suaminya.
"Laila, plisss....aku tidak sanggup menahan rasa cemburu ku, sudahlah. Jangan mengada-ada seperti ini,mana mungkin bawaan anak kita". Al, mencegah Laila untuk pergi. Sudah pasti Laila,akan mengadu kepada ibunya.
"Menjauhlah dari pintu,aku akan melakukan apapun. Mamah, pasti membelaku. Minggir,Al lepaskan tanganmu". Laila, memberontak terhadap suaminya.
Namun Al, teringat perkataan ayahnya. Jika seorang wanita hamil,dia sangat sensitif terhadap apapun. Setidaknya, turuti kemauan nya. "Oke,aku turuti asal jangan mengadu kepada mamah". Al, langsung memeluk istrinya.
Seketika Laila, berhenti memberontak dan mendongakkan kepalanya ke atas. "Benarkah,awas jangan bohong. Hubungi Arkana, sekarang juga dan harus makan di restoran favoritnya". Pinta Laila,lagi. Sontak membuat Al, bertambah gelisah dan sebisa mungkin menahan rasa cemburunya.
Baiklah,aku kabulkan hanya satu kali Al. Kau bisa melakukan hal ini,sabar. Batin Al, langsung menghubungi Dion. Karena Al,tidak sudi menyimpan nomor pria itu. Al,juga menceritakan semuanya kenapa dia tiba-tiba meminta bantuan kepada Arkana. Dion dan Zakir, terdengar suara gelak tawa mereka. Walaupun Al, menahan rasa amarahnya yang hampir meledak.
************
Mereka semua tiba di restoran, tepatnya restoran favorit Arkana.
Kebetulan sekali Arkana, hendak makan siang bersama temannya.
Di meja, pesanan makanan sudah datang. Laila, memilih menu makanan nasi goreng spesial. Dia tak sabar, untuk menerima suapan pertama kalinya dari Arkana.
Arkana, tersenyum mengejek ke arah Al. Begitu juga Al, menatap tajam ke arahnya. Demi sang istri,Al menyetujui menemui Arkana.
Dion, langsung menyenggol lengan Al. Agar tetap bersabar,ini adalah ujian. "Anggap saja, ujian Nasional". Kekehnya Dion.
"Apa jangan-jangan,anak kalian mirip dengan ku lagi. Sedangkan Laila,ngidam untuk aku suapi. Kau siap, Laila". Kekehnya Arkana,ia sudah siap menyuapkan makanan ke mulutnya Laila.
"Hemmm....aku sudah lama, ingin kamu menyuapkan makanan ke mulutku. Entah kenapa, mungkin ayahnya sangat membencimu. Sehingga anaknya, mempersatukan kalian". Kata Laila, tersenyum sumringah.
"Sepertinya,kau benar Laila". Arkana, langsung menyahut ucapan temannya. Rasakan kau,Al. Nikmatilah, kecemburuanmu hahahha....
__ADS_1
"Oh...itu salah besar, Laila. Hanya mitos,jangan sampai kau mempercayai seperti itu. Dia adalah pria,yang licik. Aku yakin,dia sangat bahagia karena bisa mendekati mu dan tatap-tatapan". Bantah Al, langsung.
"Bukankah,kau juga pria licik". Sahut Dion,tanpa ba-bi-bu dulu. Gak yakin,Al sanggup menahan dirinya. melihat sang istri, bersama pria lain. walaupun, sudah meminta ijin dan di setujui.
"Diam kau, Dion". Bentak Al, memberikan tatapan tajam. Terlihat jelas, sorotan matanya membara karena amarah.
Arkana,mulai menyuapkan makanan dan Laila menyambut dengan hangat. Ada senyuman kebahagiaan,di wajah Laila.
Membuat Al, semakin cemburu. Ingin sekali dia, menyeret Arkana keluar dari restoran ini. Namun di bawah meja, Laila menggenggam erat tangan suaminya.
"Terimakasih, Arkana. Kau sudah mau, membantu ku". Kata Laila, tersenyum manis.
Melihat senyuman manisnya Laila, hatinya tersentuh dan jantungnya berdegup kencang. "Sama-sama, Laila. Apapun yang kau mau, pasti terpenuhi". Jawab Arkana,dia tersenyum dan tatapannya tak teralihkan.
Braakkkk....
Al, menggebrak meja makan. Membuat Laila dan lainnya, melonjak terkejut dengan aksinya.
"Al,kau apa-apaan sih? Gak malu apa,". Ucap Laila,ia geram kepada suaminya. Arkana, langsung menghentikan suapan keduanya.
"Laila, apa kamu tidak lihat? Dia memandang mu, seperti itu. Aku tidak bisa,terus seperti ini. Ayo,kita pulang saja. Bukankah,sudah dapat suapan dari Arkana". Al,yang langsung tergesa-gesa pulang.
"Al,tapi makanannya belum selesai. Nasi goreng spesial, sangat enak aku ingin. Maafkan,sikap suamiku Arkana". Laila,tak enak hati kepada temannya itu. Arkana,hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Lupakanlah,biar Dion yang memesannya kembali untuk mu". Kata Al,yang langsung meninggalkan meja makan dan menarik lengan istrinya.
"Ck,temanmu sangat posesif sekali". Decak Arkana, Dion hanya menggeleng kepalanya. Baru satu kali,aku menyuapkan makanan untuk Laila. apa lagi,kalau sampai habis.Eeehh... ternyata, Al tak sanggup menahan cemburuannya.
"Terimakasih, atas semuanya. Aku pamit dan semuanya sudah di bayar oleh Al". Dion,juga pamit dan memesan nasi goreng spesial. Yang di pinta oleh Al, untuk istrinya.
__ADS_1