ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Pil KB (S2)


__ADS_3

Kai, menggenggam erat sebuah pil KB di tangannya. Sorotan matanya, memerah manahan emosi. Namun,dia sabar untuk hal ini. Kemungkinan,ada alasan kuat mengapa Rea menunda kehamilannya.


Kai, tidak sengaja menemukan pil KB di laci. Saat dia mencari-cari peniti baju dan akhirnya menemukan pil KB satu keping. Sudah beberapa biji, Rea meminum pil KB itu.


Ceklekk.....


Pintu kamar terbuka, Rea baru saja selesai mandinya.


"Kenapa,kamu berbohong". Kata Kai,duduk di tepi ranjang masih membelakangi istrinya.


Mendengar perkataan sang suami, Rea hanya mengerutkan keningnya. "Berbohong? Berbohong apa kak,aku tidak mengerti".


"Masalah menunda kehamilan,". Kai, menunjukkan satu keping pil KB di tangannya.


Rea,hanya diam dan menatap ke arah pil KB di tangannya Kai. Mulutnya tidak bisa berkata apa-apa, sudah pasti suaminya sangat marah.


"Aku tidak masalah, jika kamu menunda kehamilan. Setidaknya, jangan membohongi kedua orang tuamu". Kai, melempar pil KB di hadapan Rea.


Kai, langsung menuju pintu keluar kamar. Sebelum dia keluar, menyempatkan diri untuk berbicara dengan istrinya. "Aku tahu,kenapa kamu menunda kehamilan? Karena masa lalu ku, kan. Kenapa juga,kamu membohongi orang tua mu? Karena tidak ingin, menyakiti perasaan mereka. Di saat mereka menginginkan seorang cucu, ketahuilah Rea. Aku dan masa lalu,ku. Telah berakhir,jangan ragukan keseriusan ku. Rumah tangga kita,akan baik-baik saja". Kata Kai, dengan tegas. Lalu,dia keluar dari kamar. Ia ingin istrinya, merenungkan kembali kesalahannya.


Rea, terduduk lemas di lantai sambil memungut pil KB nya. Tangisnya,pecah sudah. "Maafkan,aku". Isaknya.


Sedangkan Kai, keluar dari rumah dan mondar-mandir di teras. Ia mengusap rambutnya,ke belakang. Ada rasa sesal, sudah memarahi istrinya. Karena merasa bersalah,kai langsung masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamarnya.


Melihat istrinya tengah menangis, meringkuk di lantai. Dengan cepat, Kai memeluk erat tubuh istrinya itu.


"Maafkan aku, sudah memarahi mu". Kai, mengecup kening istrinya.


Tangisnya Rea,mulai mereda. "Maaf, seharusnya aku tidak menutupi masalah ini. Aku sudah menyembunyikan, masalah ini".


"Tidak,kamu tidak salah. Aku yang salah, gara-gara ini masa laluku. Sehingga,kamu meragukan semuanya". Kai, membujuk Rea.


"Aku janji, tidak akan meminum pil KB itu lagi kak. Seharusnya,aku tidak melakukan itu". Isak tangisnya,di pelukkan suami.

__ADS_1


"Hussssttttt, diamlah". Kai, langsung ******* bibir istrinya. Agar tidak menangis lagi,ia berlahan membawa istrinya melayang.


Di sore hari, mereka melakukan olahraga. Hanya ada suara desa-han, menggema di kamar.


Ada seseorang tengah menguping,di balik pintu kamar mereka.


Samar-samar, mendengar suara desa-han mereka.


"Dewi, apa yang sedang kamu lakukan di balik pintu anakku". Bu Minah, memergoki Dewi tengah menajamkan telinganya di balik pintu. Untung saja, kamarnya di kunci.


"Eehh...anu bi, tadi mau cari Rea. Mau menanyakan, pekerjaan tempat suaminya". Dewi,merasa gugup karena kepergok tengah menguping.


"Keluarrrrr.... mentang-mentang aku, tidak ada di rumah. Asal nyolong masuk,ke dalam begitu. Tidak sopan santun,". Bu Minah, langsung menyeret paksa Dewi keluar.


Sedangkan di dalam kamar, Kai menghentikan aksinya. Ada samar-samar, mendengar suara perbincangan di luar. "Sial, kamarnya tidak kedap suara". Gerutu Kai, menggaruk-garuk kepalanya.


" Kenapa juga, sore-sore main kuda-kudaan. Ketahuankan, bikin malu". Rea, mengerucut bibirnya.


Kai,malah mengecup bibir istrinya yang terlihat gemas.


"Lanjut yah, nanggung. Lagian,gak ada suara orang lain". Kata Kai, tersenyum smrik. Dia memulai maju mundur, sehingga Rea terbawa suasana kenik-matan.


Kai,terus membungkam mulut Rea. Agar suara desa-han nya tidak, terdengar sampai keluar.


Sedangkan di luar rumah, bu Minah terus-menerus memaki-maki keponakannya itu.


"Bi, apa-apaan sih? Aku mau, menanyakan pekerjaan doang". Dewi, terus-menerus membela diri.


"Gak sopan,asal masuk ke dalam rumah. Apa bibi pernah, asal masuk di rumahmu ha? Tidak kan,kamu bisa berteriak-teriak memanggil orang di dalam ada gak nya. Kalau gak ada,bisa nantikan". Bu Minah, langsung terbawa emosi.


"Untung saja,aku tadi lihat kamu masuk mengendap-endap. Jadi,kami curiga lalu mencari bibimu. Ternyata benar,tengah menguping di kamar Rea". Sahut ibu, lainnya.


"Mending kamu cepat nikah,gih. Atau sudah gatel banget, jangan-jangan mau menggoda suami Rea". Sambung ibu, lainnya.

__ADS_1


"Cukup, Dewi...!! Kamu itu, kerjaannya bikin malu saja. Bisa tidak,diam jangan kemana-mana". Bentak bi Minah,akan tetapi bu Wahdah langsung menghampiri mereka.


"Kenapa kalian, menyudutkan anakku". Bu Wahdah, langsung membentak keras.


"Wahdah,anak mu tidak sopan. Kami melihat secara langsung,anakmu tengah menguping di balik pintu kamar anaknya Minah. Kurang kerjaan,bikin malu". Sahut ibu, lainnya.


"Benar,dia masuk mengendap-endap lo. Padahal, pintu rumah tertutup rapat". Sahut yang lainnya. "Bikin malu,saja".


Bu Wahdah, langsung menahan rasa malu dan langsung menyuruh anaknya pulang. "pulangggg.....bisa gak,jangan bikin malu". Bentak bu Wahdah,kepada anaknya.


Sesampai di rumah,bu Wahdah langsung memarahi anaknya itu.


"kamu ngapain, masuk ke dalam rumah Minah? bikin malu aja,".


"Bu,aku ingin menemui Rea dan suaminya. menanyakan masalah pekerjaan itu,eeee....Ku malah menguping suara desa-han, dari balik pintu. suaranya, samar-samar gak jelas gitu". Dewi, langsung menjawabnya dengan jujur.


"Astaga..... Dewiiiiii....!! ngapain kamu, menguping mereka ha? tidak sopan, sudah cukup kamu bikin malu. tidak perlu mencari pekerjaan, di perusahaan suaminya Rea. Toh,dia gak mau berangkat bareng kamu". bu Wahdah,malah geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya.


"Aku melakukan hal ini,demi keluarga bu. Biar ibu dan bapak, dapat menantu kaya raya. Aku iri bu,kepada Rea. Dia selalu beruntung,di bandingkan aku". Kata Dewi,air matanya luruh sudah.


"Dewi, kamu dan Rea jauh berbeda. Kamunya aja,malas belajar. Cari pria kaya juga,apa susahnya. Mana ahli mu,dalam menggoda pria lajang. Jangan istri orang". Decak bu Wahdah, sudah bertubi-tubi menahan malu dari tetangganya.


"Tidak bisa,bu. Aku terlanjur jatuh cinta, dengan suami Rea. Aku ingin memilikinya, tidak masalah jika aku menjadi istri keduanya". Ucap Dewi,yang sudah berselimut emosi.


Mendengar ucapan anaknya,bu Wahdah malah syok. "Apaaa...? sadar Dewi,kamu jangan gila. mana mungkin dia, menyukai mu ha? cari saja,pria lain".


"Tidak bu,selama aku berusaha terus-menerus. aku yakin,akan berhasil. tidak ada pria lain, yang tidak tergoda dengan tubuh ku ini". jawab Dewi,ia tersenyum merekah.


"Ibu, tidak setuju Dewi. Jangan gila kamu,". bu Wahdah, tidak menyetujui rencana anaknya. "Walaupun,ibu tidak menyukai kebahagiaan mereka. akan tetapi,jangan sampai melewati batas Dewi". tegas bu Wahdah, sambil menunjuk ke arah anaknya.


"Terserah aku,bu". bentak Dewi, langsung meninggalkan ibunya dan masuk kedalam kamar.


Bu Wahdah,hanya menghembuskan nafas beratnya dan terduduk lemas. ia memijit pelipis keningnya, kepalanya nyut-nyutan karena memikirkan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2