ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Kehilangan Sesosok Ayah (S2)


__ADS_3

"Kau sakit apa," tanya J, kepada Abraham.


Abraham,berbaring lemah di atas ranjang pasien. "Aku sudah tua,J. Tentu saja,aku sakit-sakitan dan tidak berdaya seperti ini... uhuukkk.... Uhuukkk...".


"Kenapa kamu, memanggil mu? Bukankah,kamu memiliki seorang putri yang bisa mengurusi mu". Kata J, tersenyum kecil dan duduk santai di samping Abraham.


"J,aku tahu. Jika kamu tidak menyukai hubungan, anak-anak kita... uhuukkk.... uhuukkk...J,hanya kalian yang aku percayai. Hanya kalian,yang bisa menjaga putri ku. Aku sangat mencintai, putriku J. Hanya satu pintaku,restuilah hubungan mereka. J,aku mohon. Agar,aku bisa tenang meninggalkan putri ku. Harta satu-satunya, yang aku miliki". Abraham, menyentuh tangan J.


J,hanya menghembuskan nafas beratnya. "Abraham,jangan berpikir macam-macam. Aku sebagai orangtua,hanya bisa pasrah dalam urusan anak-anak ku. Aku rela,apa yang mereka inginkan akan aku lakukan. Agar, ikatan anak dan ayah selalu dekat.selagi itu,hal yang baik. Abraham,kau merestui hubungan anak-anak kita. Cepatlah, sembuh". J, menepuk punggung tangan Abraham.


"Seandainya, aku sembuh? Apa kamu,akan memberikan Ayunda". Tanya Abraham, terkekeh.


"Abraham, sampai kapan pun. Aku tidak akan, melepaskan Ayunda. Kecuali,aku tiada. Mungkin saja, Ayunda tidak akan menerimamu. Aku pergi dulu, semoga lekas sembuh". J, langsung beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke luar.


"J, tolong jaga putri ku baik-baik. Aku sangat menyayangi, putriku". Ucap Abraham,ada air mata mengalir di sudut matanya.


J, langsung menutup pintu ruang inap Abraham. Ia juga menghapus air matanya,yang di tahan dari tadi.


Beberapa menit kemudian, Elvina berlarian di lorong sepanjang rumah sakit. Air matanya mengalir deras,saat mendengar ayahnya masuk ke rumah sakit. Begitu juga Kai,terus mengikuti dari belakang.


"Papah....". Teriak Elvina,di ambang pintu. Melihat kondisi,sang ayah sangat mengkhawatirkan.


"Putriku...". Abraham, merentangkan kedua tangannya dan mereka seling berpelukan.


Elvina, menangis kesegukan di pelukkan ayahnya. Yang berbaring lemah,di atas ranjang pasien. "Sudahlah,anak papah jangan menangis lagi. Apa tidak malu,hemm... kelihatan kekasih mu". Kekehnya Abraham, menghapus air mata anaknya.


"Cepat sembuh,Om". Ucap Kai, mendekati ayah kekasihnya itu.


"Terimakasih,Kai". Kata Abraham, tersenyum.


"Papah, kenapa seperti ini? Papah,sakit apa". Tanya Elvina,ia masih terisak-isak.


"Papah,hanya kelelahan sayang, uhuukkk....papah,tidak apa-apa kok". Abraham, merasakan tubuhnya sangat lemah dan matanya mulai memburam. "Kai, uhuukkk.... tolong,jaga Elvina... uhuukkk....".


"Pah,jangan bicara lagi". Pinta Elvina, menghapus air mata ayahnya.

__ADS_1


Abraham, mengambil tangan putrinya dan tangan Kai. "Aku sangat bahagia, karena kalian saling mencintai. Terimakasih,Kai".


"Om,jangan seperti ini. Aku akan menjaga Elvina, apapun terjadi nanti". Jawab Kai, tersenyum kecil.


"Papah, cepat sembuh. Jangan seperti ini, Elvina gak mau kehilangan orangtua lagi". Isak tangisnya, memeluk erat tubuh ayahnya.


Kai, terkejut melihat keadaan ayah Elvina. Matanya,mulai terpejam dan tidak ada pergerakan sama sekali. "Om....Om...bangun,Om...." Kai, mencoba menggerakkan tubuh Abraham.


Elvina,nampak tak percaya dan syok. "Pah...pah...papah....bangun pah...." Elvina,tak kalah hebatnya menggerak tubuh ayahnya.


Kai, langsung berteriak-teriak memanggil dokter. Hingga akhirnya, Elvina dan Kai di suruh keluar.


Walaupun, Elvina menangis histeris karena di suruh keluar dari ruangan.


Beberapa menit kemudian,dokter keluar dari ruangan dan memberitahu bahwa Abraham sudah meninggal dunia.


"Maafkan kami, pasien bernama Tuan Abraham Samad. sudah tiada, mohon bersabar menghadapi semuanya". Ucap dokter tersebut, membuat jiwa Elvina terguncang hebat dan tidak sadarkan diri.


Untung saja, Kai sigap menahan tubuh sang kekasih. Walaupun,dia juga syok mendengar perkataan dokter tesebut.


Pemakaman telah usai, Ayunda menemani Elvina yang masih tersandar di atas ranjang. Dengan tatapan kosong,kini kedua orangtuanya telah tiada.


"Nak, makanlah....jangan sampai kepada mu, menjadi buruk. Tenanglah,ada Tante di sini dan Kai" Ayunda,membawa Elvina ke pelukkannya.


Elvina, menangis sejadi-jadinya. Telah lama,yang di inginkan. Akhirnya,di merasakan pelukan seorang ibu.


Laila, hanya diam dan menatap mereka. "Elvina,kamu yang sabar ya".


Teman sekolahnya,juga datang dan melihat keadaan Elvina.


Begitu juga dengan rekan bisnis lainnya,yang datang untuk melayat jenazah Abraham samad.


Apa lagi mereka terkejut,jika seorang J juga ada sejak mereka belum datang.


Teman sekolahnya Elvina, mencoba menghiburnya. Mereka bersimpati, kepada Elvina yang hanya ad tatapan kosong di matanya.

__ADS_1


"Kalian pulanglah,aku akan di sini untuk menemani Elvina. Kai,juga di sini". Pinta Ayunda,kepada J,Al dan Laila.


"Baiklah mah,". Jawab Kai,J hanya mengangguk kepalanya.


Saat ingin pulang, seseorang datang menghampiri mereka.


"Siapa anda". Tanya J, langsung menghadapinya.


"kenalkan,saya Ramos. Pengacara Tuan Abraham Samad,". Seorang pengacara, langsung memperkenalkan dirinya.


"Silahkan,duduk. Ada hal penting apa,". Tanya J,Ramos kagum dengan ketegasan J seorang pensiunan militer.


"Senang bertemu dengan anda,Tuan J. Saya, ingin memberikan maps ini. Atas wasiat terakhir,Tuan Abraham. Semua data-data hak kekuasaan dan kekayaan,Tuan Abraham. Jatuh ke tangan, anaknya Elvina. Di memberikan wasiat,agar semua data ini di serahkan kepada Tuan J". Ucap Ramos, seorang pengacara terlihat masih muda.


Abraham Samad,menaruh kepercayaan terhadap J dan keluarganya. J, langsung melihat isi data dan membacanya.


"Maaf, kenapa Alm.Abraham ? Memberikan kepercayaan ini,kepada kami". Tanya Ayunda, langsung.


"Karena kalian adalah bagian keluarganya, bukankah kalian besan Alm.". Jawab pengacara Ramos, membuat Ayunda menyunggingkan senyumnya.


"Masalah perusahaan, milik Abraham. Aku akan mengerjakan seseorang,yang memimpin perusahaannya sementara. Elvina,akan belajar mengurus perusahaannya nanti. Jika dia,sudah lulus sekolah dan bisa diandalkan". Ucap J, dengan tegas. "Al,simpan data ini". J, langsung memberikan kepada anaknya.


"Tuan J, sebenarnya Abraham memiliki saudara tiri. Berhati-hatilah, mereka ingin menguasai seluruh kekayaan Alm. Mungkin saja, mereka melakukan licik dan menjaga Elvina misalnya". Pengacara Ramos, memberikan nasehat kepada J. "jangan sampai, seluruh kekayaan Alm. jatuh ke tangan mereka".


"tenang saja, Pengacara Ramos. selagi di tanganku, semuanya aman". jawab J, begitu juga sang pengacara pamit undur diri.


Sepulang J dan lainnya, Ayunda masuk ke dalam kamar Elvina. Terlihat,Kai dan Elvina tidur bersama.


Ayunda, mengurungkan niatnya untuk masuk. "Semoga saja, Elvina tabah menghadapi ujian ini". Gumam Ayunda.


Saat turun dari anak tangga, ternyata J masih setia menunggu sang istri. "J,kau tidak pulang sayang". Ayunda, bergelut manja di lengan Suaminya.


"Tidak,mana mungkin aku meninggalkan istri sendirian". J, langsung mengangkat tubuh istrinya dan masuk ke dalam kamar tamu


Entah apa yang terjadi,dua sejoli tersebut. nyatanya, mereka hanya berpelukan mesra dan tidak melakukan hubungan apapun.

__ADS_1


__ADS_2