
"Aaaakkhh.... ssshhhhhh...". Rea, meringis merasakan rasa sakit dan perih di kepalanya.
"Tidaaaakkkk....jangan bunuh dia". Lila, langsung bermohon-mohon kepada pria bertopeng tersebut yang sudah menodong pistol ke arah Rea.
Laila, berlutut dan bermohon untuk melepaskan Rea. "Jangan bunuh dia,dia adalah adik iparku. Tolong, lepaskan kami...kami, berjanji tidak akan membuka rahasia kalian. Kami berjanji, tolong lepaskan kami. Tuan,dia adalah adik iparku. Sekarang dia tengah hamil,ini adalah anak pertamanya. Aku mohon,jangan lakukan itu". Isak tangis Laila,dia juga bergantian memandang setiap orang yang di sekelilingnya. "Tolong, lepaskan kami. Di rumah, anakku sudah menunggu kedatangan ku. Aku mohon, lepaskan kami".
"Kami berjanji tidak akan, membocorkan rahasia ini. Aku mohon, lepaskan kami". Pinta Laila, lagi. Keadaannya, sudah memprihatinkan.
Rea,berbaring di atas tanah. Matanya terus menatap, ke arah pria tersebut. "Aku mohon, lepaskan kami. Dia,kakak iparku dan memiliki anak empat. Mereka masih, ingin merasakan kasih sayang seorang ibu. Lepaskan kami,aku mohon. Jangan bunuh aku,aku ingin melahirkan anak ini dan melihat dia tumbuh seiring waktu. Aku mohon, ijinkan aku menjadi seorang ibu. Jangan bunuh kami, tolong lepaskan. Kami, meminta kemurahan dari hati nurani mu". Rea, menangkup kedua tangannya. Air matanya mengalir deras, begitu juga Laila.
"Kami menantu,dari keluarga Negredo. Kami memiliki ayah mertua, seorang mantan militer bernama J. Nama panggilannya,J". Laila, langsung memberitahu kepada mereka.
"Bos,". Seseorang membisik ke telinga pria bertopeng tersebut.
Pria bertopeng tersebut, menjauhkan diri dari Rea dan Laila.
Pria bertopeng tersebut, melihat sebuah gambar di ponsel anak buahnya dan mengangguk kepala.
"Kau,bawa mereka pergi". Pria bertopeng tersebut, memerintahkan salah satu anak buahnya.
Betapa terkejutnya, Rea dan Laila. Saat melihat pria itu, melepaskan topengnya. Ada goresan luka di wajahnya, memanjang dan melewati mata sebelahnya.
"Kakak, baik-baik saja". Rea, memeluk erat tubuh Laila.
"Aku baik-baik saja,aku yang sangat khawatir keadaan mu Rea. Alhamdulillah,kita masih selamat". Isak tangisnya Laila.
"Iya,kak. Tapi, sepertinya mereka takut dengan papah J".
__ADS_1
"Sudahlah,jangan membahas tentang itu lagi. Yang penting kita,pergi secepatnya dari sini" Laila, membantu adik iparnya bangun.
"Nona,apa perlu bantuan ku". Ucap seorang, pria yang tengah berdiri di sampingnya.
"Tidak perlu....!!". Tolak Laila dan Rea, dengan nanda tinggi.
Susah payah Laila dan Rea,berjalan saling menuntun. Mereka mengikuti pria,yang ada di hadapannya.
"Nona," pria itu, langsung berlutut di hadapan Laila dan Rea.
"Eeeee....kamu,". Laila dan Rea, terkejut dengan sikap pria itu langsung berlutut.
"Nona, maafkanlah kami. Tolong, jangan beritahu kepada siapapun tempat ini dan yang lebihnya penting lagi. Jangan beritahu oleh,tuan J. Sebab,dia akan memberikan hukuman berat kepada kami. Karena sudah, menyakiti kalian. Tolonglah, tutupi semuanya Nona". Pria itu, bermohon-mohon dan menunduk ke arah Laila dan Rea.
"Tidak,janji". Jawab Laila dan Rea, sudah kesal kepada mereka yang sudah menyakitinya.
"Enak saja,di tutupi kesalahan kalian ha? Kau tahu,kalian hampir membunuh kami dan menyakiti kami. Apa kamu,buta? Tidak melihat darah,di sudut bibir ku dan kepala adik ipar ku ha". Laila, mengeluarkan unek-uneknya.
"Iya,apa kamu tidak tahu? Aku sedang hamil,di dorong begitu kuat ha? Bahkan,aku rentang akan keguguran. Untuk saja,janinku tidak apa-apa. Itupun,kalian mau membunuh kami". Bentak Rea, dadanya naik turun mengontrol dirinya.
"Nona,kami melakukan hal yang wajar. Seandainya, nona-nona diam dan menuruti perkataan kami. Tentu, nona-nona tidak apa-apa. Sedangkan,nona melawan dan berusaha menyakiti kami. Asal nona tahu,kami tidak sembarang menyakiti orang lain. Sebelum, mengetahui sebenarnya." Pria itu, membela dirinya.
"Ckckck.... bilang saja, kamu meminta iba kepada kami. Tidak perlu, beralasan apapun". Bantah Laila, membuat pria itu menggeleng kepalanya.
"Hahahaha... nikmatilah, hukuman yang di berikan oleh papah mertua kami. Aku berharap,kamu bisa bernafas lagi". Rea, tersenyum smrik.
Laila dan Rea, tercengang saat keluar dari bangunan kosong itu. Mereka keluar tepat di pelabuhan dan di pinggir pantai.
__ADS_1
"Pantai? Mana mungkin bisa, bukankah awal masuk tidak di sini". Laila, calingukan melihat sekeliling bangunan kosong itu.
Terlihat bangunan kosong,akan tetapi di dalamnya sangat banyak rahasia. "Sepertinya, bangunan kosong ini. Memang sangat luas dan tidak bisa di tebak kak. Buktinya,di dalam sana aku yakin. Tempat pembuatan senjata api,aku sempat mengintip mereka membuatnya. Mereka, sengaja melakukan bangunan ini terlihat tak rawat atau di jaga". Bisik Rea, membuat Laila terdiam membisu.
"Benar,aku melihat setumpuk uang banyak dan ruangan itu banyak senjata api.aku yakin,ada kaitan dengan ini papah J tentang bangunan ini". Bisik Laila,juga.
"Lihatlah, mereka...". Rea, menunjuk jarinya ke arah depan. Masih dari jarak jauh, terlihat Al dan Kai berlarian ke arah mereka.
"Kakak...". Teriak Rea,akan tetapi tak sanggup berlari. Begitu juga, Laila tersenyum senang melihat suaminya berlari menujunya.
Al dan Kai,tak henti-hentinya memanggil nama istri masing-masing. Hingga akhirnya, mereka sampai dan langsung berpelukan dengan erat.
"Kakak,aku sangat takut". Isak tangis Rea, pecah di pelukkan suaminya.
"Maafkan aku, Rea. Maafkan aku,yang lalai menjagamu". Air matanya,tak bisa di bendung lagi. Kai,terus memeluk erat tubuh istrinya.
Begitu juga Al, seperti anak kecil yang menangis kesegukan. Membuat Laila, geleng-geleng kepala dan menenangkan Suaminya.
"Sayang, Sudahlah jangan menangis lagi. Apa kamu tidak malu,di lihat adik dan adik ipar mu. Seharusnya,aku yang menangis histeris. Kenapa,jadi kamu? ayolah....". Laila, terus berusaha melepaskan pelukan suaminya yang terlalu erat.
"Laila,apa kamu tidak tahu? Aku sangat ketakutan, kehilanganmu. Aku tak sanggup,jika hidup tanpamu. bagaimana, dengan anak-anak kita...huuu...huuu.. Laila,aku sangat bahagia. Kamu, baik-baik saja dan masih tersenyum manis". Al, membenamkan wajahnya di dada istrinya. Walaupun,dia mencondongkan tubuhnya agak ke bawah.
"Al, jangan seperti ini. Lihatlah,aku baik-baik saja". Laila, menangkup pipi Al dan memberikan kecupan manis di bibirnya.
"sayang, sudut bibir mu. Kenapa, bengkak dan berdarah seperti ini? Siapa,yang melakukan ini. Katakan,siapa pelakunya? akan aku,habisi dia". Mood Al,kembali dan sorotan mata tajam keluar.
Begitu juga Kai, langsung marah melihat darah masih melekat di kening Rea. Bukan hanya di kening, bahkan hijabnya juga ada bekas darah. Secepatnya, Laila dan Rea menenangkan pikiran dan hati sang suami.
__ADS_1
Cukup lama mereka menumpahkan, rasa ketakutan di dada dan kecemasan di dalam hati. J dan anak buahnya, menghampiri mereka. Tak luput Ayunda,menciumi kedua menantunya itu. Memeluk erat dan menangis,tak kuasa menahan sesak di dadanya.saat mengetahui,sang menantu dalam bahaya.