
"Emily,". Seseorang memanggil namanya di belakang. Sontak Emily, langsung membalikkan badannya.
"Ck, Yulia..!! Kenapa memanggil ku,kau itu hanya gadis miskin". Emily,mengejek Yulia anak Ambar dan Johan.
Mentang-mentang punya segalanya, seenaknya mengejek-ejek harga diriku. Awas kamu Emily, bagaimana aku memanfaaatkan dia saja.batin Yulia,ia tersenyum smrik. "Aku tahu,apa yang kau inginkan. Aku bisa membantumu,kalau niat sih".
"Hahahah...aku meminta bantuan kepada mu, astaga Yulia....kau hanya perempuan miskin,yang tidak ada gunanya". Ejek Emily,ia berlalu pergi meninggalkan Yulia. Ck, keturunan miskin. sok-sokan membantu ku,bilang saja mau minta bayaran mahal. dia kira aku tidak tahu apa,padahal hanya memanfaatkan diriku.
"Ck, lihatlah nanti. Kau akan mencari-cari diriku". Yulia, menyunggingkan senyumnya. Emily, kau adalah perempuan yang bodoh. hanya ambisius ingin memiliki Al, kau melakukan apapun untuk mendapatkan dirinya.
Emily,tak menghiraukan gumam Yulia. Ia langsung menuju ke parkiran dan masuk ke dalam mobil. Hanya satu tujuannya, yaitu tempat tongkrongan William.
Beberapa menit kemudian, akhirnya sampai di tempat tongkrongan William.
Melihat kedatangan Emily, salah satu temannya William langsung memberitahu kepadanya.
William, langsung menghampiri Emily."untuk apa lagi,kau ke sini". Bentak William,ia menatap kebencian yang dalam. kenapa lagi,dia ke sini? bahaya ini, nyawaku pasti terancam.
"Aku ingin meminta bantuan kepadamu,akan aku bayar berapapun". Senyum smrik Emily. Uang adalah segalanya,demi uang kau bisa melakukan hal apapun untukku.pria bodoh, miskin itulah julukan yang terbaik untuk mu.
"Aku tahu, pasti Al kan...hahahha kau pikir,aku semiskin itu hemmm... menerima uang yang kau beri,ingat Emily. Sampai kapan pun, aku tidak ingin bekerjasama dengan mu lagi. Berapapun kau memberikan uang kepadaku. Lihatlah,kaki ini". William, memperlihatkan kakinya masih di perban. kurang ajar sekali, Emily sama saja merendahkan harga diriku.
"Kakimu,kenapa? Apa kecelakaan,". Tanya Emily, menatap ke arah perban di kaki William. tidak mungkin kecelakaan, sedangkan wajah dan anggota lainnya. baik-baik saja, pasti ada hal yang lainnya.
"itu semua gara-gara kamu, Emily. Kakiku kena tembak oleh ayahnya Al,jangan coba-coba berurusan dengan mereka. Ayahnya Al,tidak bisa di anggap main-main. Dia begitu berkuasa Emily, kalau kamu tidak percaya tanyakan saja kepada orang tua mu. Jangan ganggu kehidupan Al, jangan sampai kau menyesal". William, mencoba menyadarkan Emily.
"Tidak, William. Apapun yang aku mau,harus dapat. Kau taukan, seperti apa sifatku". Emily,malah menantang perkataan William. Tidak ada sedikitpun,rasa takutnya.
__ADS_1
"Terserah,apa yang kamu lakukan. Pergilah, jangan ganggu aku dan jangan pernah menemuiku lagi. Aku tidak mau,dapat masalah jika kau masih berkeliaran di dekatku". William, mengusir terang-terangan kepada Emily.
"Ck,dasar pria miskin". Emily,malah mengejek William dengan tatapan mengejek. sial,dia benar-benar menolak ajakan ku.
"Jaga ucapan mu, Emily. Kau berada di wilayah ku,apa perlu kita mengulangi dan mende-sah di bawah Kungkungan ku". William, menyeringai tajam dan membelai lembut pipi mulusnya Emily.
Secepatnya, Emily menangkis tangannya William. "Ck,tak sudi aku di sentuh oleh mu. Pria licik,". Bentak Emily, mendorong tubuh William. "Jangan pernah berani menyentuh diriku,karena aku masih istri Liam".
"Kau bangga sekali, menjadi istri Liam. Apakah,dia peduli terhadap mu. Hemmm.... sepertinya,tidak". Kekehnya William, dengan tatapan me-sum. Ia sambil memainkan lidahnya, membuat Emily jijik melihatnya.
Dengan hati kesal, Emily langsung meninggalkan William. Ia tergesa-gesa masuk ke dalam mobil dan melihat ke arah William yang sudah mengacungkan jari tengahnya.
William, menyeringai tajam ke arah Emily. Saat mereka saling bertatapan,ada rasa benci yang dalam terhadap Emily.
"Kurang ajar sekali, William. Dia tidak mau membantu ku, seperti apa sih? Kekejaman ayahnya Al,aku tahu! Jika ayahnya, seorang militer. Siapa lagi,yang mau membantu ku? Apa Yulia, Aaaahh....tidak mungkin dia bisa melakukan hal ini". Decak Emily,ia juga beberapa kali memukul setir mobil.
Malam semakin larut, Laila mondar-mandir di ruang tamu. Karena Shelly,tak kunjung pulang sedangkan nomor ponselnya tidak aktif.
"Kemana Shelly,jam segini belum pulang". Gerutu Laila,ia langsung mengirim pesan kepada Al.
[Al, sudah larut malam tapi Shelly tak kunjung pulang. Terakhir kali,siang tadi berangkat kuliah. Aku khawatir Al,mana nomornya tidak aktif].
Laila, langsung mengirim pesan kepada Al. Ia tengah kebingungan, entah kenapa temannya tidak pulang-pulang.
[Kenapa baru sekarang memberitahu ku,ini sudah malam Laila. Tenangkan dirimu,aku akan cari bantuan untuk mencari keberadaannya. Kau dengan siapa? Apa perlu aku temanin sayang]. Al
Laila, tersenyum sumringah membaca pesan dari Al.
__ADS_1
[Jemput aku,kita cari sama-sama. Takutnya Shelly, kenapa-kenapa lagi].
Balas Laila,ia benar-benar gelisah saat waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
[Baiklah, tunggu aku sayang]. Al.
Laila, langsung bersiap-siap untuk pergi bersama Al. "Semoga Shelly, tidak apa-apa. Kenapa perasaanku, sangat takut dan gelisah seperti ini. Lindungilah Shelly, Tuhan". Gumam Laila,ia sudah selesai bersiap-siap.
Waktunya menunggu kedatangan Al, ia tak henti-hentinya menghubungi Shelly.
Beberapa menit kemudian,Al sudah tiba di perkarangan rumah Shelly. Laila, terburu-buru masuk ke dalam mobil.
"Kita cari sekitar jalanan,kau tetap menghubungi nomornya Shelly. Dion, Zaki dan Herman. Mereka sudah bergerak,". Ucap Al, ia tersenyum manis. "Tenangkan dirimu,sayang".
"Bagaimana aku, tidak tetang? Karena Shelly,tidak ada kabar sana sekali Al. Aku takut,sumpah". Kini air matanya berkaca-kaca,ia calingukan sepanjang perjalanan.
"Hallo, Shelly... nomornya aktif Al dan di angkatnya." Ucap Laila. "Shelly,kau dimana. Hallo, Shelly....hallo....". Laila, berbicara setengah berteriak memanggil temannya lewat telpon.
(Toooloong, ak-aku....Lai-Laila). Shelly, meminta bantuan kepada Laila dengan suara terbata-bata.
"Al, Shelly....Al,dia meminta bantuan kepadaku, sekarang nomornya tidak aktif". Kini Laila, terlihat syok mendengar suara Shelly melalui telpon.
Al, langsung menghentikan mobilnya karena melihat Laila sudah menangis pecah. "Sabarlah,aku sudah bergerak cepat. Tenangkan dirimu, Laila". Al, langsung menenangkan hatinya di dalam pelukannya.
"Aku yakin, Shelly dalam bahaya Al. dia membutuhkan bantuan kita". isak tangisnya Laila.
"Oke,aku tahu Laila. tenanglah,anak buahku dan lainnya. sudah bergerak, semoga tidak terjadi apa-apa dan semoga saja mereka secepatnya menemukan Shelly. aku janji,akan menemukan Shelly. asalkan tenangkan dirimu,sayang". Al, meyakinkan bahwa dirinya bisa menemukan Shelly.
__ADS_1
"Tapi, secepatnya Al. aku tidak mau,jika Shelly kenapa-kenapa karena terlambat. aku ceroboh,kenapa tidak dari tadi. aku salah Al,aku yang salah". tangisnya semakin pecah di pelukkan Al, Laila tak menyangka jika temannya akan terjadi apa-apa.