
"Laila, piring-piring di dapur kenapa kamu tidak mencucinya". Teriak bu Ati,dari luar kamar Laila. "Baju-baju anakku belum kamu lipatin juga,aku ini kakak ibumu".
Ceklekk.....
"Bukankah kalian yang makan, seharusnya kalian dong. Cuci sendiri,masih untung kalian numpang hidup di tempatku. ini malah ngelunjak,". Decak Laila, dengan kesal. Astagfirullah, maafkan hamba berkata kasar kepada orang yang jauh lebih tua dari hamba.
"Aku ini kakak ibumu,sudah sewajarnya membantu kami. Cepat sana...." Bu Ati,menarik lengan Laila menuju dapur.
Benar saja,di wastafel banyak cucian piring bekas. Laila, langsung bergegas membawa piring bekas makan mereka. Bukannya mencuci piring, malah di buang Laila tempat bak sampah.
"Aku sudah bilang,Tante. Aku tidak mau mencuci piring bekas kalian,di buang saja kalau kalian malas mencucinya. Sekalian makan pakai daun,". Gerutu Laila,kepada bu Ati.
Bu Ati,hanya melongo melihat kelakuan Laila. Ia benar-benar membuang piring bekas makan mereka tadi, dengan hati dongkol bu Ati berteriak.
"Laila.....!!!anak kurang ajar kamu, inikah didikan ibumu ha". Bentak bu Ati, dengan kesal. Terpaksa dia, mengambil piring bekas itu dari bak sampah dan mencucinya.
"gimana sih? Laila, gak bisa di andalkan". Gumam Lili. Saat melihat Laila, melongos masuk ke dalam kamar. "Iiisss...kata ibu, Laila bisa di bodohin".
Laila, merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Lelah itulah yang di rasakannya,ia menatap ke atas langit-langit kamar tidurnya. Malam ini adalah terakhir dia tidur di rumah ini, semua barang-barang yang di perlukannya. Sudah siap, hatinya merasa lega. Ia tak sanggup lama-lama,seatap bersama mereka. pantesan saja ibunya dulu,lebih baik menjauhkan diri dari keluarganya. ternyata sifat mereka seperti itu.
*******
Pagi harinya, Laila di sibukkan membawa dua tas lumayan besar ke motornya.
Bu Ati, penasaran dengan Laila. "Mau kemana kamu Laila, bawa-bawa tas segala".
"Aku mau pindah,tidak sanggup bersama kalian. Nikmatilah rumah ini, sebelum aku jual". Jawab Laila, dengan kesal. Pagi buta sekali, Laila siap pergi. Sebelum para tetangga bangun,sudah pasti mereka akan mengusir keluarganya Laila. Agar Laila,tidak pergi dari rumahnya.
"Kamu gak bisa pergi, Laila. Bagaimana dengan kami,kau tahukan. Suamiku baru bekerja,terus membeli bahan-bahan sembako lainnya uang darimana mana? Kalau kamu pergi,". Lili, mencegah Laila.
__ADS_1
"Aku gak perduli, masih untung kalian ada tempat tinggal gratis. Aku tak sudi,jika kalian memanfaatkan kebaikanku". Tegas Laila,ia menancapkan gas motornya.
"Kita ini keluarga Laila, seharusnya saling menolong satu sama lain". sahut bu Ati, dengan geram.
Laila tak memperdulikan suara teriakkan bu Ati dan Lili, mereka hanya memanfaatkan kebaikannya. Mereka mencaci maki, mengumpat Laila. Sumpah serapah,keluar dari mulut mereka.
Beberapa menit kemudian. Laila, sampai di rumah Shelly. Ia di sambut hangat oleh temannya, yang sudah memperdulikan dirinya di saat terpuruk seperti ini.
Shelly, langsung mengajak Laila masuk ke dalam kamarnya.
"Wah...luas banget kamarku, Shell. Aku kira,kita bakalan satu kamar". Kata Laila, calingukan melihat sekeliling kamarnya.
"Bisa saja,kalau kita tidur bareng. Besok kamu,bisa langsung bekerja Laila. Lebih baik besok kita belanja, soalnya di sana memakai baju seragam khusus. Kamu pakai rok,aja". Shelly, memberitahukan kepada Laila.
"Boleh deh,soalnya aku gak banyak punya rok. Sekalian kita jalan-jalan,". Jawab Laila, hatinya merasa senang. Sekarang memiliki pekerjaan jauh lebih baik dan gajihnya lumayan besar.
*********
Al, melihat sebuah video yang barusan di kirim oleh anak buahnya.
Video tersebut adalah Emily, sekarang Al salah paham kepada Laila. "Kau ingin main-main denganku, Emily. Baiklah,kau melanggar peraturan dariku. Maka hidupmu akan hancur,di tanganku Emily ". Seringai tajam Al.
Ia menelpon seseorang, untuk melancarkan aksinya. Al,tak main-main dengan perkataannya. "Aiiss... apartemenku,jadi kandang ayam". Gerutu Al,ia melihat sekililing apartemennya berantakan sekali.
"Tunggu aku, Laila. Kau tak akan aku lepaskan, lihatlah permainanku Laila". Senyum smrik Al.
"Bos,kenapa apartemen milikmu,menjadi seperti ini? Apakah ada maling yang sudah mengacak-acak apartemenmu". Tanya Lin, sekertaris pribadinya Al.
Lin, nampak bingung melihat isi apartemen milik bosnya. Kini seperti kapal pecah, barang-barang berhamburan dan serpihan kaca kesana kemari.
__ADS_1
"Baguslah,kau cepat datang. Suruh seseorang membersihkan apartemen ini dan culik perempuan di foto itu. Dia bernama Laila,bawa dia ke villa indah. Aku akan menyusul ke sana nanti,". Al, memerintahkan kepada Lin. Agar menculik Laila,ia sangat geram kepada laila sehingga dia melakukan rencana ini. " Dia bekerja di supermarket, alamatnya sudah aku kirim di WhatsApp".
"Baik bos,". Jawab Lin. Ia adalah tangan kanan Al, sekaligus kepercayaannya.
"Bagus,tenang akan ada bonus tambahan". Kekehnya Al dan menepuk pundak Lin,ia meninggal apartemennya biarkanlah sang sekertaris mengatur segalanya.
"Ngapain bos, sampai menculik perempuan ini. Masa sih? Di suruh culik perempuan memakai gamis dan berhijab ini. Nambah dosa namanya ini,". Gerutu Lin,ia geleng-geleng kepala.
Lin, terpaksa harus menuruti perintah dari bosnya. Apa lagi bonus tambahan,yang sangat menggiurkan baginya.
********
Plakkkk.....
Wajah Emily,di tampar oleh Vivian. Ibu kandungnya sendiri, sedangkan Regan sang ayah. Menahan amarahnya, seandainya Emily bukan anak perempuan. Mungkin Regan,sudah menghajar anaknya habis-habisan.
.
"mamah,kenapa menampar wajahku? Salahku apa,mah" tanya Emily,ia meringis sambil memegang pipinya yang terasa perih.
"Kamu tanya,apa salah mu ha? Lihat ini, Emily. Lihatlah, seseorang mengirim video panas antara kau dan Liam. Mau taruh dimana wajah kami, orang tuamu Emily? Apa kata orangtuanya Al,mamah dan papah mu. Sangat malu,bahkan Ayunda. Sudah menghubungiku, menanyakan tentang video panas mu itu". Vivian,tak sanggup menahan diri. Air matanya luruh, melihat kelakuan anaknya. Berbuat zinah, dengan anak temannya.
Tidak,tidak mungkin. Siapa yang sudah mengirimkan video panas itu,kepada orang tua ku dan orang tuanya Al. Apa jangan-jangan orang tua Liam,juga tahu. Siapa yang mengirim video itu? "Mah,itu bukan aku. Mungkin saja itu,hanya editan". Emily, mencoba membela diri.
"Papah,sudah memutuskan untuk menikahimu dengan Liam. Terimakasih, sudah membuat papah dan mamah mu jadi malu seperti ini. Kami memberikan kamu, kebebasan. Tapi,kau kelewatan batas Emily. Secepatnya kalian akan menikah,aku tidak mau memiliki anak hamil di luar nikah". Tegas Regan, Emily hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak,aku tidak mau menikah dengan Liam. Aku mencintai Al,pah. Aku hanya ingin menikah dengan Al, tidak mau dengan yang lain". Emily, bersimpuh di kaki ayahnya.
"Cukup Emily,apa kau sadar ha? Mana mau Al, menikahi seorang perempuan yang tidak suci lagi. Mamah, sangat kecewa denganmu. Apa kata orang-orang nanti,apa jangan-jangan kamu hamil Emily? Jangan bilang kamu, melakukan hal kotor ini bukan hanya dengan Liam saja. Tapi, dengan pria lain juga. Katakan Emily,". Teriak Vivian,ia benar-benar kecewa kepada anak perempuannya.
__ADS_1
Mendengar perkataan sang ibu, Emily langsung bungkam. kepalanya nyut-nyutan karena memikirkan, siapa telah menyebarkan video panasnya. ia sangat takut,sudah pasti akan kehilangan Al. Emily, mencoba memohon ampun kepada orangtuanya yang sudah terlanjur kecewa dan sakit hati. Nasi sudah jadi bubur,tak bisa berbuat apa-apa lagi.