ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Malam Mingguan (S2)


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


"Elvina,aku ingin berbicara sesuatu padamu". Ucap Arlo, menghampiri di kelas Elvina.


Namun Elvina,hanya diam tak menjawab perkataan Arlo. "Elvina,aku ingin sekali berbicara tentang ini. Sangatlah lama, jangan-jangan ayahmu meninggal karena pria bertopeng itu".


"Arlo,jangan berulah lagi. Untuk apa pria bertopeng itu, melakukan hal itu kepada ayahku. Kau pikir saja, perkataanmu tidak masuk akal. Pergilah,aku tidak ingin berdebat dengan mu. Ayahku, meninggal karena memiliki penyakit kanker di otaknya". Tegas Elvina , menatap tajam ke arah Arlo.


"Aku juga tahu, jika kamu adan Kai memiliki hubungan spesial bukan? Bagaimana, orang-orang tahu. Bukankah,kamu akan di caci maki". Arlo, menyunggingkan senyumnya.


"Tidak masalah,orang pasa tahu. Toh,itu kebahagiaan ku juga. Kenapa,iri bilang bos". Decak Elvina, meninggalkan Arlo. Ia melenggang pergi, dengan senyuman merekah di sudut bibirnya yang manis.


Arlo,hanya menatap kebencian dan mengepalkan kedua tangannya.


Ia juga pergi meninggalkan,kelas Elvina.


Arlo,bia berjalan normal. Di saat dia berlari dan bermain bola basket, kakinya tidak bisa melompat karena dia merasakan teramat sakit di bagian kakinya.


Arlo, menghampiri temannya di lapangan bola basket. Di situ ada juga Kai, sedang berlatih. Karena seminggu lagi,akan menuju final.


"Arlo". Ucap Jody, melihat kedatangan temannya.


"Kai, waktu mu sudah berakhir dan pergilah dari sini. Kau hanyalah, seorang pengganti sementara. Lihatlah, aku sudah sembuh". Arlo, memperlihatkan kakinya.


"Arlo,kamu hanya sembuh beberapa hari. Mana mungkin,kamu bisa bermain basket". Aydin,angkat bicara.


"Aydin,diam kau....aku adalah ketua tim basket,akan tetap menjadi ketua". Tegas Arlo,ia mengeraskan rahangnya.


"Bermainlah, denganku". Roy, memberikan bola basket kepada Arlo. Karena dia,tidak percaya dengan keadaan Arlo.


"Brengseeekk....kau mengejek ku,Roy. Ck, mentang-mentang dia lebih hebat dariku. Sehingga, kalian memilihnya. Penghianat,". Teriak Arlo, ia mencekram kerah baju Kai.


Kai, langsung menepis. Hampir saja Arlo,jatuh ke bawah. "Baiklah,ayo kita bermain". Tantang Arlo, langsung mengambil bola di tangan Roy.


Kai dan lainnya, menonton permainan mereka. Benar saja,baru di mulai Arlo terlihat kesusahan untuk berlari mengejar Roy.


Roy, sangat mudah mengambil bola di tangan Arlo.


Bruuuukkk.....

__ADS_1


Arlo, jatuh dan dia merasakan kakinya sangat sakit.


Roy, tertawa mengejek melihat keadaan Arlo. "Kau tidak pantas, menjadi ketua tim basket. Payah,kamu jauh lebih memilih Kai di bandingkan dirimu. Yang selalu angkuh dan mengatur segalanya".


"Brengseeekk,awas kau Roy". Teriak Arlo, mereka langsung meninggalkan lapangan bola basket.


Arlo,hanya memaki-maki mereka. Dia marah,apa lagi kondisi seperti ini. "Aaaargghhh....akan aku balas,kau Kai...jangan senang dulu,aku tahu kelemahan mu". Teriak Arlo,ia menampar kakinya karena kesal.


Kai dan tim basket, mereka langsung menuju ke arah kantin. Begitu juga kai, setelah membeli air minum. Dia langsung meninggal timnya,tak memperdulikan mereka lagi.


Tentu saja Kai,menuju kelas Elvina. Namun,yang di cari tidak ada di kelas. "Kemana dia? Mana pesanku, tidak balas". Gumam Kai,ia melihat sekeliling sekolah.


"Kai,ini undangan ulangtahun malam tadi. Kamu datang yah". Farida, memberikan kartu undangan ulangtahunnya.


"Hemmm... selamat ulangtahun, Farida". Ucap kai, mampu melelehkan hatinya.


"Oh,aku juga membagikan kartu undangan ulangtahun ku kepada tim basket mu. Jadi, mereka pasti datang kok. Ya sudah,aku pamit dulu. Ingatlah, untuk datang malam nanti". Kata Farida, sambil melambaikan tangannya.


Kai,yang mencari-cari keberadaan sang kekasih. Hingga dia melihat Elvina,bersama seorang pria tengah berbincang hangat di perpustakaan.


Saat Kai, menghampiri mereka. Sang pria, langsung meninggalkan Elvina. "Siapa dia". Tanya Kai,yang sudah di selimuti cemburu.


"Undangan ulangtahun Farida,malam ini. Dia menyuruh ku, datang. Aku akan menjemputmu, malam nanti". Ucap Kai, yang mengelus punggung tangan Elvina.


"Tidak,aku tidak dapat. Mana mungkin, dia mengundang ku". Elvina,menolak ajakan Kai.


"Aku akan tetap menjemput mu,malam nanti. Aku akan membawamu, jalan-jalan". Ucap Kai,yang tak mungkin Elvina menolaknya.


"Baiklah,aku akan menunggumu nanti malam" jawab Elvina, tersenyum sumringah.


"Aku pergi dulu,mau ganti baju. Sebentar lagi,jam masuk akan segera di mulai ". Kai, langsung beranjak pergi.


"Dahhh...". Elvina, melambaikan tangannya. Hingga Kai, menghilang di balik pintu perpustakaan.


***********


Malam harinya,Kai sudah bersiap-siap dan berpakaian rapi.


Tentu saja J, bersandar di pintu sambil melihat anaknya yang bercermin. "Mau kemana, malam-malam begini". Tanya J, sebenarnya dia tahu jika anaknya akan malam mingguan.

__ADS_1


"Malam mingguanlah,". Jawab kai, mengambil kunci mobil di atas meja.


"Ingatlah, jangan sampai kebablasan. Ingat itu,". J, memperingati anaknya.


"Pah,aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu,jika aku kebablasan. Tidak akan lari, detik itu juga akan aku nikahi". Jawab Kai, tersenyum smrik. Ia melongos melewati ayahnya, begitu saja.


"Ck,pulang kerumah. Jangan bermalam di rumah Elvina,ingat itu". J, memperingati anaknya lagi.


"Astaga,iya pah...aku bakalan pulang,hanya ciuman saja mungkin". Jawab Kai,yang langsung terbuka dengan niatnya.


"Kai, jangan macam-macam dengan anak orang". Tegas J,yang tak habis-habisnya menasehati anaknya.


"Ayolah pah....aku tahu,jika papah lebih parah lagi kepada mamah". Kata Kai, langsung membungkam mulut ayahnya.


"Hahahaha... rasakan itu, bukankah sifatmu yang di turunkan nya". Ayunda,tertawa melihat suaminya yang bungkam.


"Sial....". Gerutu J, sambil menatap kepergian anaknya.


Tiga puluh menit kemudian, Kai sudah sampai di rumah Elvina.


Ia di sambut hangat oleh bi Narsih dan di suruh masuk kedalam. Kai,yang dapat ijin. Ia langsung masuk ke dalam kamar, sang kekasih.


"Kai,sudah datang". Ucap Elvina,saat ingin keluar dari kamarnya.


Kai, tersenyum smrik dan melangkah masuk ke dalam kamar. "Ayo,kita pergi". Kata Elvina, menahan tubuh Kai.


Namun Kai,malah memeluknya dengan erat. Kedua tangan Elvina, menahan dada bidang Kai."hussssttttt...hanya sebentar". Bisik Kai, berlahan mendekati wajah Elvina.


Awalnya hanya sebuah kecupan, namun Elvina masih memejamkan kedua matanya. Benda kenyal, terasa di bibirnya.


Kai, mengigit bibir Elvina. Untuk membuka mulutnya, saat terbuka. Barulah Kai, menguasai seluruh mulut Elvina. Ia menarik tengkuk leher, agar memperdalam ciumannya.


Elvina, bersusah payah menyeimbangi ciuman Kai.


Cukup lama mereka, berciuman dengan mesra . Hingga akhirnya,Kai menghentikan ciuman mereka. Nafasnya Elvina, ngos-ngosan dan detak jantungnya berdegup kencang.


"Jadi pergi,atau tidak. hemm...kalau tidak,kita bisa melanjutkan lebih dari sekedar berciuman". Ucap Kai,ada senyuman manis di sudut bibirnya.


mendengar ucapan Kai. Elvina, bergegas berdiri dan membenarkan riasannya. "Ayo,kita berangkat". kata Elvina, walaupun dia susah payah mengatur perasaannya. Tidak,mana sanggup aku lama-lama di dalam kamar bersama Kai. bisa-bisa kebablasan nantinya,batin Elvina.

__ADS_1


hingga akhirnya, mereka meninggalkan perkarangan rumah Elvina.


__ADS_2