
"Lihatlah,aku gak hamil kan? Makanya,jadi orang gak usah asal tuduh deh". Ucap Lilis, sambil memperlihatkan hasil testpacknya garis satu. Berarti negatif,dia tidak hamil
Bu Minah dan Rea, menyuruh Lilis untuk testpack. Karena mereka mencurigai Lilis,bukan hanya testpack saja.
Bu Minah, meminta bidan memeriksa kondisi Lilis. Memang Lilis,di nyatakan tidak hamil. Bu Minah dan keluarganya, merasa lega karena Lilis tidak terbukti hamil.
"Baguslah,kalau tidak hamil. Kami, hanya jaga-jaga dan menjaga nama baik keluarga saja". Kata Rea, tersenyum smrik.
"Sudahlah,kalau memang terbukti tidak hamil. Ingatlah,jangan berbuat macam-macam Lilis. Kamu seorang wanita,jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai,pria lain menyentuhnya". Bu Minah, mencoba menasehati keponakannya itu.
"Iya,bi. Aku tahu,mana baik dan gak nya." Jawab Lilis, tersenyum. Fiiiuuhhh.... untung saja,janin di dalam perutku sudah tiada. Batin Lilis,dia merasa lega sekarang. "Gara-gara dukun cabul itu, aku sampai hamil. Untung saja,ibu punya cara lainnya". Gumam Lilis,masih kesal dengan dukun cabul itu.
Selesai dengan Lilis, Rea langsung menemui suaminya di rumah.
"Lilis,gak hamil kak". Ucap Rea, langsung. "Tapi,aku kaya gak yakin? Bisa saja,dia menggugurkan kandungannya".
"Baguslah,kalau dia tidak hamil. Setidaknya,nama keluarga kita aman. Aku sudah was-was, terhadap ini. Bagaimana,ayah dan ibumu menahan rasa malu". Kai,membawa Rea ke pelukkannya.
"Oh,iya...aku ingat, bahwa Dewi bakalan nikah sama pacarnya. Gak tau,sih? Apa pekerjaan calon suami, Dewi. Tapi,ada tetangga sebelah yang dengar kalau Dewi mual-mual. Jangan-jangan, Dewi...."
"Hussssttttt....jangan berpikiran aneh-aneh, apa pagi menuduhnya seperti itu. Ingatlah sayang,kamu lagi hamil. Intinya, jaga kesehatan dan anak kita". Kai, mencium perut Rea yang masih rata.
Rea, tersenyum saat mendengar ucapan Suaminya. Wajahnya sudah memerah seperti, kepiting rebus.
"Apa kamu,mau sesuatu hemmm... katakan,aku bakalan mengabulkan permintaan mu itu". Tanya Kai, Mengingat perkataan ibunya. Jika ku wanita hamil, memiliki banyak maunya. Hanya seorang suami lah,yang peka terhadap istri.
Rea,nampak kebingungan dan memikirkan apa yang di inginkan. "Apa,yah? Sebenarnya,gak ada sih". Jawabnya, dengan santai.
"Yakin gak,ada? Biasanya, wanita hamil. Pastilah, banyak maunya". Tanya Kai,dia berbaring dan kepalanya diletakan di atas pangkal paha Rea.
"Iya,gak ada. Tapi,malam nanti kita ke pasar malam yuk. Yang di persimpangan situ, pasti banyak orang jualan cemilan". Rengeknya Rea, langsung di angguki Kai. Berlahan-lahan Kai,menarik tengkuk leher istrinya.
__ADS_1
Kini mereka sudah berciuman dengan mesra,akan tetapi di balik pintu rumah. Seseorang, tengah mengintip kemesraan mereka.
**************
Malam harinya,kai menepati janji. Membawa Rea,ke pasar malam dan beberapa pengawal pribadi untuk menjaga sang istri.
Walaupun, Rea merasa tak nyaman dengan ada pengawal di samping dan belakang. Lama-kelamaan,terbiasa jadinya.
Bahkan,pengawal sangat berguna untuk Kai. Misalnya, memegang belanjaan sang istri dan memegang sisa makanannya.
Rea, selalu membeli makanan setiap dia lewati. Seperti cilok,somay, pentol kuah, pentol pedas,burger,kebab, takoyaki dan masih banyak lagi. Terkadang Kai,juga menghabiskan sisa makanan istrinya. jika tak suka, Kai malah menyerahkan semua kepada pengawal pribadinya.
"Hmmmm... enaknya,". Gumam Rea, mengigit satu sosis bakar berukuran jumbo.
"Hati-hati, makanlah jangan buru-buru. Ingat, perlihatkan jalan kakimu". Kai, mengkhawatirkan keadaan istrinya. Dia, sangat takut jika istrinya jatuh dan mengenai bagian perutnya.
Di tambah lagi, Rea sering menjahili suami dan pengawalnya. Tak memperdulikan tatapan orang-orang sekitar, nyatanya Kai di pasang masker oleh Rea.untuk menutupi wajahnya, tidak ingin wajah suaminya di pandang oleh wanita-wanita lainnya.
Saat Rea,mulai menjahili suaminya.Tetapi
"Hahahaha.... ayolah,jangan mengkhawatirkan jalanku kak. Aku baik-baik saja, tidak akan terpeleset jatuh". Rea, menggeleng kepalanya. Begitu dalamnya, mengkhawatirkan dirinya.
"Sayang,jangan main-main. Jalan yang benar,lalu pelan-pelan. Tidak perlu putar-putar,segala. Ayolah....jangan membuat ku takut". Rengeknya Kai,terus mengingat istrinya. Tangannya,tak lepas dari tangan sang istri.
"Kak, mau naik itu". Tunjuk Rea,ke arah wahana permainan sangkar burung. Sangat besar dan lumayan tinggi, setinggi ketakutan Kai.
Glekkkk....
Kai,masih terbayang-bayang saat kejadian yang suram waktu masa kecilnya. Keringat membasahi keningnya, wajah Kai nampak pucat pias.
Rea,syok melihat wajah sang suami. "kak, kenapa? Kakak,takut naik". Tanya Rea, tiba-tiba mengkhawatirkan keadaan Suaminya. "Ayo,kak. Kita jalan-jalan lagi,tolong carikan tempat duduk. Hemmm... tempat tongkrongan atau apalah di sini". Pinta Rea,kepada pengawalnya.
__ADS_1
"Baik,non". Satu pengawal, langsung mencari-cari tempat bersantai.
"Aku baik-baik,saja. Hanya,trauma di masa lalu". Kata Kai, tersenyum kecil ke arah istrinya.
"Benarkah,kita duduk di sana. Ceritakan kak, sepertinya sangat menarik". Pinta Rea, langsung di angguki oleh Kai.
Lima pengawal pribadi,terus membuntuti pasangan suami-istri ini.
Di sudut lainnya,dua sepasang mata tengah melihat mereka dari kejauhan.
"Lihatlah, mereka sangat bahagia sekali". Ucap Lilis,kepada pria di sampingnya.
"Sangat sulit, untuk memisahkan antara mereka. Apa lagi, Rea tidak bekerja lagi". Sahut Ade,masih menatap lurus ke arah Rea.
"Aku punya ide, untuk memisahkan antara mereka. Asalkan,kamu harus bekerjasama dengan ku". Ade, memiliki ide cemerlang. Aku yakin, rencana licik ini akan berhasil. Asalkan Lilis,bisa di ajak kerjasama dengan baik.
"Apa itu, katakan kepadaku. Aku,akan siap membantumu". Lilis, langsung siap untuk bekerjasama dengan Ade.
"Kita berbicara di sana, tidak enak kalau di sini". Ade,menarik tangan Lilis dan menuju ke belakang tenda orang berjualan. Nampak sepi dan hanya pantulan cahaya lampu saja.
"Bukankah,kamu bekerja di rumah orangtuanya Rea. Bagaimana,jika dirimu aku buat hamil? Lalu,kamu bisa memfitnah Kai menghamili dirimu". Ucap Ade, membuat Lilis terkejut mendengar rencananya.
"Tidak,aku tidak mau. Tidak akan, orang lain mempercayai ucapan ku". Lilis, langsung menolaknya. Apa? Ade, memiliki rencana segila ini.
"Astaga, Lilis. Pakai otakmu, bukan hanya mereka terpisah. Akan tetapi,kamu bisa memiliki Kai seutuhnya. Bilang saja, Kai menggoda ku lalu kalian melakukan hubungan terlarang itu. Apa lagi, kalian tinggal bersebelahan dan Kai sering masuk kedalam rumah mertuanya. Aku yakin,orang sekitar pasti mempercayai ucapan mu itu". Ade, sampai geram kepada Lilis. Ini adalah kesempatan emas,yang harus terjadi.
"Tidak,aku takut dan tidak berani melakukan hal itu. Hidupku akan hancur,jika ketahuan Ade. Apa kamu,mau? Ikut bertanggung jawab juga ha? Jangan seenaknya, menyuruhku untuk melakukan ini". Lilis,tak menyangka jika Ade terlihat sopan santun. Akan tetap,dalamnya sangat menjijikkan.
"Ayolah....ini demi kebaikan kita, Lilis". Ade, langsung mencekram lengan Lilis. Kurang ajar sekali, Lilis menolak ajakan rencanaku. Dia,harus melakukan hal ini.
"Aaakkhh..sakit, lepaskan aku. Satu kali lagi,aku tetap tidak ingin melakukan hal itu. Aku salah menilai mu,kau sangat jahat Ade". Lilis, mencoba melepaskan cengkraman Ade.
__ADS_1
"Kamu harus mau, menerima ajakan ku Lilis. Ayolah,apa kamu tidak mau hidup enak ha". Ade,malah memperkuat cengkraman tangannya.
Air mata Lilis, luruh sudah. Ada tatapan benci, untuk Ade. Lilis,tak ingin melakukan hal ini. karena akibatnya, sangat besar. Dia,tak sanggup melakukan fitnah yang sangat besar ini. mengakibatkan dua keluarga, menahan malu.