
"Tapi,mah...Aku,aku takut kecewa" Rea,ragu mengambil testpack baru di tangan ibu mertuanya.
"Coba saja,siapa tahu? Sudah jadi,". Kekehnya Laila, tersenyum manis.
"Kalau gak jadi,gak papa. Tes aja,takut kenapa-kenapa. Mumpung pagi, bagus untuk cek jam sekarang. Apapun hasilnya,gak masalah". Ayunda, memberikan testpack baru ke arah menantunya.
Rea,hanya menghembuskan nafas beratnya. "iya,deh....aku coba,". Rea, gugup sangat-sangat gugup saat ini.
Saat melihat kakak iparnya, begitu tersenyum merekah. "Ayo,cek sana". Laila, seakan-akan tidak sabar lagi.
Rea,hanya mengangguk dan menutup pintu kamar mandi. Mondar-mandir di dalam, sambil menunggu hasilnya. Sudah beberapa menit, Rea di dalam.
Ayunda dan Laila, terus-menerus menggedor pintu. Meminta Rea, untuk keluar dan memperlihatkan testpacknya.
"Mamah dan kakak ipar, ngapain di sini". Tanya Kai,baru datang. Dia, terkejut melihat sesosok ibunya dan kakak ipar berada di kamarnya.
"Terserah kamilah,kamar ini juga kamar menantunya mamah. Lah,kamu ngapain ke sini? Sana, pergi". Usir Ayunda, membuat Kai tercengang mendengarnya.
"Mah,aku mau mandi. Bukankah,mamah sudah mengusir ku pagi-pagi buta sekali dan menyuruh keluar kamar". Kai,tak habis pikir dengan para kaum perempuan di mansion ini.
"Mandi di kamar sebelah,atau gak kamar kakak". Sahut Laila, langsung.
"Gak,aku mau mandi di sini. Mamah dan kakak,yang keluar". Pinta Kai, lagi.
Saat Ayunda, ingin membuka suaranya. Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Rea keluar dengan wajah murung.
"Bagaimana, hasilnya". Ayunda, langsung menanyakan langsung kepada Rea.
Laila,juga tidak sabar apa jawaban dan hasilnya. Bismillahirrahmanirrahim,semoga hasilnya positif hamil. Batin Laila.
"Kalian ini,kenapa sih? Heran, setiap hari ada aja yang penting". Decak Kai,duduk di tepi ranjang sambil menatap ke arah tiga wanita itu.
Rea, memberikan hasil testpacknya dengan rasa sedih. Ayunda dan Laila, langsung bergegas mengambil. Bagaimana ini,aku bakalan mengecewakan mamah dan Kakak ipar. Apa lagi, kak Kai ada di sini. Batin Rea, mencoba tersenyum kecil.
Ayunda dan Laila,ternganga lebar melihat hasilnya. "Aaaaaaaaaaakkk....aku jadi nenek lagi". Ayunda, berteriak keras dan loncat-loncat kegirangan.
__ADS_1
Begitu juga Laila, langsung bergegas memeluk adik iparnya. "aku,jadi aunty sekarang".
Rea, langsung diam dan membeku. "Aku,aku hamil kak. Masa sih? Tadi, belum garis dua". Rea,yang penasaran langsung merampas hasil testpacknya. "Aaaaaaakkkkhhh....aku hamil,kak. Aku,hamil".
Mereka bertiga berteriak-teriak, mendapatkan kabar bahagia ini. Begitu juga Rea,tak menyala hamil bukankah,tadi masih garis satu.
J dan Al, langsung masuk kedalam kamar. Saat mendengar teriakkan, mereka.
"Ada,apa? Kenapa, berteriak-teriak". Bentak J, langsung mendiamkan mereka.
Kai,masih menutupi telinganya, menggunakan bantal. "Tidak tahu,pah. telinga kai, hampir copot". Teriak Kai, langsung.
"Hahahahha,sayangku... selamat untuk kita,kita akan menjadi kakek dan nenek lagi. Lihatlah, Rea hamil". Ayunda, memeluk tubuh suaminya dengan erat.
Mendengar ucapan Ayunda, membuat Al dan Kai terdiam.
"Be-benarkah,kamu hamil". Kai, mendekati Rea.
"Iya,kak. Kamu akan menjadi, seorang ayah". Rea, tersenyum manis.
"Yahhh....Yes,aku akan jadi seorang ayah". Kai, merasa senang mendengar kabar kebahagiaan ini.
Laila, merasa sangat bahagia karena adik iparnya hamil secepat itu. Sedangkan,dia dulu memerlukan lebih dua tahun bisa memiliki anak.
"Berhentilah, menangis". Al, menghapus air mata istrinya.
"Aku masih ingat, detik-detik perjuangan untuk hamil. Dua tahun lebih, penantian dan melakukan segalanya. Akan tetapi, hasilnya nihil. Tak henti-hentinya,aku berdoa dan sekarang kita sudah memiliki anak empat". Laila, memeluk erat tubuh suaminya.
"Intinya,kita sabar dan berdoa. Jangan sampai, terpengaruh dengan pembicaraan mereka. Seandainya, kamu tadi memiliki anak sekalipun. Aku tadi masalah,menua bersama. Apa lagi,masih memiliki Kai. Kemungkinan,dia bisa melanjutkan penerus Negredo. Tapi,Tuhan berkata lain. Tuhan, mendengar doa kita dan keyakinan. Akhirnya,Tuhan mengabulkan permintaan kita selama ini". Al, mengecup kening istrinya.
"Terimakasih, atas semuanya. Selalu, menyemangati ku dalam segala hal". Laila, sangat beruntung memiliki suami seperti Al.
*************
"Akhirnya,ayah akan menjadi seorang kakek". Pak Broto dan bu Minah, sangat bahagia mendengar kehamilan Rea .
__ADS_1
"Benar,aku tidak sabar menimang cucu kita". Bu Minah, memeluk suaminya itu.
Rea, merasa sangat bahagia karena melihat kedua orangtuanya bahagia seperti ini.
Kehamilan Rea, sudah menjalani dua bulan. Dia,juga bingung kenapa tidak ada tanda-tanda kehamilan? Seakan-akan, seperti biasanya. Entah kenapa, Ayunda kepikiran menantunya. Ada yang lain,dari menantunya itu.
"Bu,mana Lilis? Apa,dia tidak ada di rumah". Tanya Rea, tak melihat batang hidung sepupunya itu.
"Sebenarnya,ayahmu dan ibu mencurigai Lilis". Bu Minah,berkata pelan.
Membuat Kai dan Rea, penasaran dengan perkataannya. "Maksudnya,bu". Tanya Rea,yang di angguki Kai.
"Begini, beberapakali ayah dan ibumu. Seringkali memergoki, Lilis mual-mual. Pokoknya,banyak perubahan Lilis nak. Sering sakit-sakitan,mukanya pucat. Kalau,mencium yang aneh-aneh. Dia, langsung mual". Kata pak Broto, langsung.
"Benar,kaya orang hamil. Ibu, sampai menanyakan hal ini kepada orangtuanya di kampung. Siapa tahu, Lilis punya kekasih di sana. Akhir-akhir ini,dia sering pulang kampung ". Sambung bu Minah.
"Jadi, Lilis pulang kampung. Masa sih? Lilis hamil? Aku yang hamil, gak tanda-tanda seperti itu". Kata Rea, membuat dirinya terheran-heran.
"kalau begitu,jangan bilang siapa-siapa. Jika Rea,hamil. Cukup kita dan keluarga Kai,yang tahu. Apa lagi,usia kandungan Rea masih muda. Nantinya, kita tanyakan kepada Lilis. Dia, benar-benar hamil atau tidak. Kalau hamil,kita paksakan siapa pelakunya". Ucap Kai, dengan santai.
Pak Broto dan bu Minah, langsung menyetujui perkataan menantunya. Begitu juga Rea,juga setuju.
Hari demi hari berlalu, Kai selalu perhatian kepada istrinya.
Rea,juga berhenti bekerja karena ibu dan ibu mertuanya selalu merengek meminta jangan berkerja lagu.
Rea,lebih sering tinggal di mansion milik mertuanya. Karena Ayunda,tak ingin menantunya kenapa-kenapa.
Terkadang,pak Broto dan bu Minah. Seringkali juga, pergi menjenguk keadaan anaknya.
Rea, juga Berlahan-lahan belajar mengurus bayi anak kakak iparnya itu. Laila,juga tak lelah menjelaskan semuanya.
Ayunda, tersenyum melihat tingkah kedua menantunya itu saling menyayangi. melihat menantu pertamanya, tidak ragu memberikan pengalaman mengurus bayi. Saat dia, menjadi seorang ibu yang pertama.
Walaupun Ayunda,juga memperkerjakan baby sitter untuk menantunya. tak ingin kelelahan, apa lagi terkena baby blues. Penyakit yang sangat fatal,bagi kaum ibu habis melahirkan.
__ADS_1
Ayunda,tak segan-segan memperingati Al. Untuk tidak membuat Laila, menjadi stress.
karena perasaannya, sangat sensitif terhadap hal lainnya. Apa lagi,masalah hati.