ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Pengganggu (S2)


__ADS_3

"Yakin,gak mau ikut ke kantor? Gak papa,aku tinggal". Tanya Kai, sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Hemmm... Aku mau ikut sama,ibu. Biasa bantu-bantu bibi, dua hari lagi nikahan Dewi. Gak enak,kalau gak ada bantu-bantu". Jawab Rea, tersenyum manis.


"Gak usah bantu-bantu,segala. Diam aja, aku gak kamu capek. Ingatlah, selalu menjaga anak kita". Kai, mencium kening istrinya dengan lembut.


"Iya,aku cuman lihat-lihat doang. Gak ngapa-ngapain kok. Kamu, hati-hati yah. Jaga hatimu,hanya untukku". Kekehnya Rea, melingkarkan tangannya di leher Kai.


Mereka saling berpelukan dan berciuman dengan mesra. Hingga Rea, mengakhiri ciumannya.


Dia,juga mengantar sang suami ke teras rumah dan melambaikan tangannya ke arah Suaminya sampai tak terlihat lagi.


"Hoaaammm...kok,jadi malas-malasan begini". Rea, merentangkan kedua tangannya. Lalu,dia pergi ke rumah orangtuanya.


Melihat Lilis,tengah mencuci piring bekas. "Kamu pacaran, dengan Ade". Tanya Rea, tiba-tiba.


"Tidak,aku hanya berteman saja. Kenapa,kamu cemburu dengan kedekatan kami? Jangan-jangan, kamu masih ada rasa cinta". Lilis, langsung mendelik ke arah Rea.


Rea,hanya menyungging senyumannya. "Sama sekali,gak. Berhati-hati, dengan dia. Jangan terlalu dekat, mending kamu dekat dengan Reyhan. Aku tahu, sifat Ade bagaimana? Aku tidak ingin, membuat mu menyesal". Rea, mencoba memperingati Lilis.


"Ck, tidak perlu kamu mencampuri urusan pribadi ku. Urus saja, rumah tangga mu itu. Ini kehidupan ku, Rea dan kamu tidak berhak mengaturnya". Decak Lilis, tersenyum kecil.


"Aku,bukan ikut campur dalam urusan pribadi mu. Aku,hanya mengingatkan dirimu Lis. Aku takut,kamu kenapa-kenapa. Hanya itu saja, menjaga nama baik keluarga ini. Kalau,kamu kenapa-kenapa? Kasian kedua orangtuaku, ikut-ikutan menanggung rasa malunya". Rea, langsung meninggikan suaranya. Entah,apa yang di pikiran Lilis.


"Yayah.... terserah apa, katamu". Kata Lilis, pergi meninggalkan Rea yang masih di dapur.


"Astagfirullah,kalian bertengkar lagi". Tanya pak Broto,yang baru datang dari belakang.


"Ayah,dari kebun belakang. Ibu,mana? Ko,gak ada". Tanya Rea, tersenyum kecil.


"Ibumu,di rumah bibi Tutik. Kamu tahu, jika ibu Lilis akan ke sini". Tanya pak Broto.


Rea,hanya menggeleng kepalanya. " Ke sini? Ngapain,yah". Tanyanya.


"Mana ayah,tau? Makanya,ibumu pergi ke rumah bibi Tutik dan meminta bantuan kepadanya. Kalau ayah, merasa tak nyaman. Jika ibunya Lilis, tinggal di sini". Pak Broto, duduk.


Rea, tengah membuatkan kopi panas untuk ayahnya. "Ngapain yah, ibunya Lilis ke sini? Apa, ingin menjenguk Lilis. Bukankah, Lilis sering pulang juga akhir-akhir ini".


"Katanya sih, ibunya Lilis mau cari kerjaan. Bosan,di kampung gak ada kerjaan katanya ". Jawab pak Broto, menghirup kopi panas buatan anaknya.


"Huuufff... ada-ada saja,". Gumam Rea, menghembuskan nafas panjangnya. "Aku akan menanyakan hal ini, kepada temanku. Siapa tahu,ada kerjaan untuk Lilis. Kalau ibunya,bisa kerja menggantikan posisinya. Tapi,gak nyaman juga seorang bibi kerja di rumah ini. Apa kata orang, takutnya jadi bahan pembicaraan".

__ADS_1


"Makanya itu, bisa-bisa ayah bakalan minggat dari rumah ini. Gak mau, terjadi apa-apa. Bagaimana,cari kerjaan lain saja. Pas untuk ibunya, Lilis". Pak Broto, langsung mengusulkan ide lain.


"Hemmm...kalau begitu,aku pergi dulu kerumah Tina. Siapa tahu,ada". Pamit Rea, langsung.


Rea, langsung pergi menuju rumah Tina. Dia, menggunakan motornya. Perlu beberapa menit,dia sampai di rumah Tina.


"Iiissshhh...bumil, ngapain ke sini". Kekeh Tina, langsung mempersilahkan Rea masuk.


"Ada sesuatu,ada lowongan kerjaan gak? Di rumah makan, orangtuamu Tin". Tanya Rea, membuat Tina mengerutkan keningnya.


"Lowongan kerja? Emangnya,siapa yang kerja. gak tau sih,ada gaknya". Jawab Tina, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Itu,ibunya Lilis mau ke sini. Katanya,mau cari kerjaan gitu. Terserah,kerja apa gitu. Gak mungkin,ibu dan anak kerja di rumah orangtuaku. Gak enak,jadi bahan pembicaraan orang-orang sekitar". Ucap Rea, langsung.


"Oh,aku tanyakan pada ibuku. Semoga saja,ada". Tina, langsung mengambil ponselnya di dalam kamar.


Rea, sangat berharap jika ada lowongan kerja di rumah makan orangtuanya Tina. Jika tidak ada, terpaksa meminta bantuan kepada Kai.


Kemungkinan bisa, menjadi Art di mansion mertuanya. Akan tetapi, Rea sangat ragu. Karena di sana, banyak barang mahal-mahal yang di pajang. Takutnya,sang bibi hilaf.


*************


"Eee...kak Kai, sudah pulang? Aduh... gara-gara ngegosip dengan Tina,jam segini baru pulang". Gerutu Rea, dengan tergesa-gesa turun dari motornya.


Baru saja di ambang pintu, Rea sudah di hadang oleh suaminya.


"Darimana saja,jam segini baru pulang". Tanya Kai,menarik tangan istrinya masuk ke dalam rumah.


"Tadi, kerumahnya Tina. Yah...karena ngobrol-ngobrol,lupa waktu". Kekehnya Rea, memeluk erat tubuh suaminya itu. "Maaf,gak bilang-bilang sama kamu. Eeee...tapi, jam segini pulang. Ada,apa hemmm".


"Aku mengkhawatirkan keadaan mu, makanya pulang secepat ini. Pekerjaan ku, tinggal sedikit. Gampang, nanti aku selesaikan. Karena sekarang,aku merindukanmu". Kai, langsung menyambar bibir pink milik Rea.


Posisi mereka masih berdiri, Kai juga menghimpit tubuh istrinya ke dinding rumah. Tak lupa juga,tangan Kai melepaskan kancing-kancing bajunya.


"E'ehmmm...". Seseorang, berdehem di ambang pintu. Sudah pasti, melihat aksi mereka berdua.


"Sial,kenapa mengganggu ha". Bentak Kai, suaranya sampai terdengar ke luar rumah.


"Maaf, mengganggu kalian. Tapi,di suruh ke sebelah". Kata Lilis,yang meremas ujung bajunya.


"Iya, pergilah sana". Usir Kai, langsung.

__ADS_1


"Baik". Jawab Lilis, mengepalkan kedua tangannya. Hatinya terasa teriris-iris,saat Kai mengusir dan membentaknya nyaring.


"Sudah, nanti kita lanjutkan. Bukankah,kita di suruh ke sebelah kak". Rea, menghentikan aksi suaminya.


"Ayolah,aku sudah tidak sabar". Kai, terus-menerus mencium seluruh lehernya.


"Nanti saja, takutnya Lilis malah ke sini lagi. Gak nyaman,di ganggu oleh orang lain". Pinta Rea, tersenyum kecil.


Kai, mendongak ke atas dan menatap wajah cantik istrinya. Dengan pasrah,dia sudah menghentikan aksinya. "Baiklah, tapi kancing kan bajuku" pinta Kai, dengan manja.


"Baiklah, suamiku tersayang" Rea, langsung mengancingkan baju suaminya.


Setelah selesai, barulah mereka ke sebelah rumah orangtuanya Rea.


Di ruang tamu, sudah ada ibunya Lilis.


"Apa kabar,bi". Tanya Kai, duduk di samping ayah mertuanya.


"Kabar,bibi. Alhamdulillah,baik nak". Jawab bu Bidah, tersenyum kecil.


"Minah,gak papakan aku tinggal di sini sementara." Tanya bu Bidah,kepada bu Minah.


Bu Minah, menoleh ke arah suaminya sendiri. Dia,merasa tak nyaman dengan tatapan mata suaminya. "Baiklah,tinggal di sini dulu. Katanya, Mbak Bidah mau cari kerjaan kan".


"Sebenarnya, aku memang ingin berkerja Minah. Tapi, usiaku sudah tidak muda lagi. Selagi Lilis, bekerja dan menabung. Kemungkinan,kami akan beli rumah di sini dan tinggal di sini juga. Aku sudah,menjual rumah di kampung". Jawab bu Bidah, membuat yang lainnya melongo mendengar ucapannya.


Astagfirullah,kalau rumah di kampung di jual? Otomatis,mbak Bidah akan tinggal lama di sini. Bagaimana ini,mana mungkin lama-lama tinggal di sini. Batin bu Minah, merasa tak nyaman dengan suaminya.


Pak Broto,hanya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Maaf,bi. Bukan maksud apa-apa,mana mungkin bibi tinggal terlalu lama di rumah orangtuaku. Apa kata orang-orang sekitar,gak nyaman bi". Sahut Rea, langsung.


"Kalau begitu,gimana nak Kai membangunkan rumah untukku. Bukankah, menantu pak Broto dan Minah. Sangat kaya raya,masa di bikinkan rumah untuk bibinya gak mampu". Kata bu Bidah,mulai menyusun rencananya.


"Apa?mbak Bidah,jangan aneh-aneh". Kata bu Minah, terkejut mendengar ucapan kakak iparnya ini.


"Baiklah,aku akan membangun rumah di sebelah rumahnya kami. Demi kebaikan bersama,". Kai, langsung menyetujui perkataan bu Bidah.


"Aku tidak setuju, dengan ini. Di sebelah sana,ada rumah kosong. Siap untuk di huni,milik temanku. Nanti,aku akan membicarakan tentang ini kepada Rohim". Pak Broto, langsung angkat bicara.


Walaupun tatapan bu Bidah, langsung berubah menjadi tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2