
"Apa kamu,bisa menyetir mobil". Tanya Laila, kepada Rea yang duduk di sampingnya.
Rea,hanya menggeleng kepalanya. "Tidak,kak. Karena takut,itu saja". Jawabnya, tersenyum kecil.
"Oh,mau aku ajarin". Laila,berniat untuk mengajari adik iparnya. Masa Kai, segitu posesif terhadap istrinya. Rea, tidak di ijinkan menyetir mobil sendiri.
"Nanti aja,kalau sudah lahiran". Kekehnya Rea, pasti tidak di ijinkan suaminya. Masalahnya,takut kenapa-kenapa. Sebenarnya mau,tapi... Sudahlah, turuti saja perkataan suami.
"Hahahaha... baiklah, walaupun masih lama". Kekehnya Laila,mulai menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan sedang.
Laila dan Rea, berniat untuk mengantar makanan siang ke kantor. Kebetulan sekali, Kai juga berada di perusahaan Al. Karena ada meeting,bersama.
"Kak, berhenti di penjual rujak buah. Aku pengen," pinta Rea,entah kenapa dia menginginkan rujak buah.
"Oke, sekalian kita beli banyak. Mumpung teman-temannya Al,juga ada. Rame kalau,makan rujak sama-sama". Jawab Laila, tersenyum manis.
Beberapa menit kemudian, Laila menepikan mobilnya dan menuju penjual rujak.
Laila dan Rea, langsung memesan rujak buahnya.Tak lupa juga,makan di tempat sambil menunggu.
"Ngapain, mereka ke sini". Laila, langsung menyenggol lengan Rea. Seakan-akan, mengganggu kesenangan mereka.
Rea, nampak terkejut melihat kedatangan Annisa dan Elvina. Sepertinya, mereka menuju ke arahnya. "Ck, pengganggu". Decak Rea, masih menguapi sepotong buah ke mulutnya.
"Waw, siang-siang begini makan rujak buah. Apa jangan-jangan,antara kalian hamil" Ucap Elvina, tersenyum smrik.
"Merantara, Laila atau Rea? Tetapi,aku malah mencurigai Rea. Oh,apa itu benar". Delik mata Annisa, mencurigai Rea.
"Wajarlah, jika kami hamil. Kan kami, memiliki suami. Kalau kalian yang hamil? Gak mungkinlah,toh gak punya suami". Sahut Laila, langsung.
"Hemmm...apa yang di katakan, oleh kakak ipar ku benar. Apa lagi,hamil ngaku-ngaku anak dari suami mantan". Sambung Rea, membuat Elvina dan Annisa mengepalkan kedua tangannya.
Tidak akan aku, biarkan ini. Batin Elvina, menggeretakkan giginya.
Braakkkk.....
Annisa,yang menggebrak meja mereka. Akan tetapi, Laila dan Rea tidak terkejut.
"Non, buahnya sudah siap". Ucap sang penjual rujak.
"Makasih,mang". Jawab Laila, tersenyum kecil. "Ayo,kita pergi. Tidak perlu, meladeni mereka yang tidak penting".
__ADS_1
Rea, langsung mengangguk dan mengikuti langkah kaki kakak iparnya. Tiba-tiba, Elvina menarik paksa tangan Rea.
"Lepaskan, tanganmu...!!". Bentak Rea, dengan tatapan tajam.
"Tidak akan, aku lepaskan Rea...!! Ancamkan itu,aku tidak terima jika kamu bahagia dengan Kai. Apa lagi, memiliki anak dari Kai ha...!!! Aku akan melakukan apapun,jika aku tidak bahagia? Maka, kamu juga tidak bisa". Ancam Elvina, menyunggingkan senyumnya.
Laila, ingin melepaskan cengkraman tangan Elvina dari Rea. Tetapi, Annisa mencegahnya.
"Ckckck...selama ini,aku sudah bersabar menghadapi dan melihat kalian bahagia. Aku akan melakukan belas dendam, Laila ". Ucap Annisa, dengan suara keras.
"Berani sekali, dengan ku". Laila,tak segan-segan mendorong tubuh Annisa. Karena dorongannya terlalu kuat, membuat Annisa tersungkur di tanah.
Rea, juga mendorong tubuh Elvina dan jatuh ke tanah. Karena ada kesempatan terlepas, Laila langsung menarik tangan adik iparnya dan masuk kedalam mobil.
"Kita harus segera pergi, dari sini". Laila, tergesa-gesa menancapkan gas mobilnya.
"Sial...!!! mereka kabur,ayo kita kejar". Annisa dan Elvina,juga masuk ke dalam mobil dan mengejar Laila dan Rea.
Aksi kejar-kejaran pun, terjadi sudah. Jik ada kesempatan, Annisa tak segan-segan menyenggol mobil yang di tumpangi Laila dan Rea.
"Hahahahha...mati saja, kalian". Gelak tawa Annisa, yang semakin menjadi-jadi.
Sesekali Laila, membanting setir mobilnya karena menghindari benturan mobil Annisa.
"Kakak, hati-hati. Mereka pasti berniat, untuk membunuh kita". Rea, sudah semakin ketakutan saat mobil mereka semakin dekat.
"Rea,kau tenang. Hubungi Al atau Kai, siapapun. Agar mereka menolong kita,aku akan membawa ke suatu tempat untuk tidak terjadi apa-apa". Laila, membelokkan mobilnya dengan arah tak tahu tujuan.
Annisa dan Rea, semakin bersemangat untuk meluncurkan aksinya. Satu keinginan mereka berdua, adalah menghabisi nyawa Laila dan Rea.
Laila, tetap fokus menyetir mobilnya dan selalu menghindari Annisa.
Rea, semakin panik dan mencoba tenang. Sudah beberapa kali menelpon dan mengirim pesan. Kepada Al dan Kai, akan tetapi tidak ada menjawab satupun.
"Rea,jangan panik. Oke, aaaakkhh...". Laila, terkejut saat Annisa menabrak bagian belakang mobil.
"kak,aku takut. Mereka benar-benar, ingin membunuh kita.... aaaakkhhh...". Rea, terkejut melihat keberanian Annisa.
Karena Al, Kai dan teman-temannya. Sedang mengadakan rapat dan fokusdengan pekerjaan. Apa lagi, ponsel mereka tidak bersuara.
Tak putus asa, Rea mencoba menghubungi kedua mertuanya. Tetap saja, tidak ada jawaban sama sekali.
__ADS_1
Karena J dan Ayunda, menikmati sarapan paginya dengan santai. Tepatnya di belakang mansion, tak memperdulikan ponsel merek terus-terusan bergetar.
Annisa dan Elvina, terus tertawa terbahak-bahak melihat ketakutan Laila dan Rea.
"hahahahha..... mereka takut,hahahahh". Annisa, tersenyum merekah saat ini.
Sebentar lagi,dia akan menghancurkan kebahagiaan mereka. Dengan tangannya sendiri,tanpa ada penyesalan apapun.
"hahahaha,aku sungguh menantikan hal ini. Matilah kau, Rea" Ucap Elvina, tersenyum sumringah.
************
"kenapa, mereka belum datang". Al, calingukan mencari-cari istrinya di ruang kerja.
"Benar sekali,ada beberapa panggilan masuk dan pesan di ponselku". Ucap Kai, langsung membuka isi pesan ponselnya. Begitu juga Al, matanya memerah manahan amarahnya.
[kakak,tolong kami. Annisa dan Rea,mengejar dan ingin membunuh kami]
[kakak,dimana? Tolong kami,kak]
[Aku dan kak Laila, sangat ketakutan saat ini. Tolong,kak]
"Kurang ajar,Zakir, Herman. Lacak keberadaan Laila dan Rea, mereka dalam bahaya". Teriak Al,kepada temannya.
Al dan Kai, berlarian menuju parkiran mobil. Pikiran mereka hanya tertuju, kepada sang istri.
Gelisah, ketakutan dan mencemaskan keadaan istrinya. Perasaan itu, bercampur aduk.
Al dan Kai, mengendarai mobil masing-masing. Dengan kecepatan tinggi, entah kemana tujuan. Mereka calingukan,entah kemana.
Dion, zakir dan Herman, terus-menerus melacak keberadaan istri bosnya. Walaupun,dalam keadaan paniknya.
Setelah mendapatkan hasilnya, barulah mereka semua pergi menuju keberadaan Laila dan Rea. satu harapan mereka, semoga Laila dan Rea baik-baik saja.
Bukan hanya mereka saja, Ayunda juga ikut syok mendengar kabar menantunya dalam bahaya. Para pelayan, mencoba menenangkan perasaan Ayunda.
J,juga turun tangan dan menghubungi anak buahnya. Melihat keadaan istrinya, sangat memperihatinkan. J,juga membawanya ke tempat tujuan menantunya.
Al dan Kai,tak henti-hentinya menghubungi sang istri sudah tidak aktif lagi ponselnya. Hanya ada air mata, yang menetes.
Berharap istrinya, baik-baik tanpa luka sedikitpun. Hanya ada ucapan sumpah dan caci makian,yang di keluarkan oleh Al dan Kai. Hanya ada kata terlambat dan menyesal, karena kelalaian menolong sang istri.
__ADS_1