
[7/12 10.08] Erlina: "Ck, buktikan kalau kamu tidak pelit dengan keluarga". Bu Wahdah,malah menantang Kai.
"Katakan,apa yang harus aku lakukan. Untuk membuktikan,aku tidak pelit kepada orangtua istriku". Kai, menerima tantangan bu wahdah. "Apa perlu,aku membelikan beberapa mobil,atau mengubah rumahnya menjadi baru dan mewah. Atau aku membelikan beberapa perhiasan emas,apa perlu aku belikan toko emasnya langsung. Dalam sekejap,aku bisa memberikan semuanya".
"Nak,kai. Sudahlah, jangan terbawah emosi. Mbal wahdah,hanya menguji mu saja. Ayo,kita masuk. Jangan menghiraukan perkataan,bibimu itu". Bu Minah,menarik tangan menantunya.
[7/12 10.10] Erlina: "Bu, aku tidak terima dengan perlakuan dia terhadap ibu. Sama saja, mengejek-ejek harga diri ibuku sendiri. Ucapannya, harus di beli dan buktikan. Biar mulutnya, bisa bungkam". Ucap Kai, dengan tegas.
Bu Wahdah, mengepalkan kedua tangannya. "Kurang ajar sekali, beraninya berbicara seperti itu. Kepada orang yang lebih tua, dari mu".
[7/12 10.12] Erlina: "lalu, orang tua seperti apa di turuti. Sedangkan,bibi adalah yang tua. Tapi, berkata tak pantas. Sama saja, mengajarkan kepada umur lebih muda". Jawab Kai,ia menyunggingkan senyumnya.
"Bibi,cukup... bisakah,bibi jangan mencampuri urusan keluarga kami. Selama ini,kami tidak pernah mengusik kehidupan bibi. Tapi,bibi selalu mencari-cari gara-gara". Kata Rea,yang baru saja datang dari warung.
[7/12 10.13] Erlina: "Eeee...jaga yah, omongan mu. Dia ibuku,paham". Dewi,malah mendorong tubuh Rea.
Kai, melihat secara langsung. Emosinya,malah memuncak ingin sekali membanting tulang Dewi.
"Sabar nak, mereka memang seperti itu". Bu Minah,mengusap pundak menantunya itu.
[7/12 10.18] Erlina: "Ck,pelakor". Kata Rea,mengejek Dewi.
"Kamu....". Dewi, menunjukkan jarinya ke wajah Rea.
"Aduhhh....kenapa ribut-ribut, sepagi ini". Seorang wanita, paruh baya sambil membawa kipas di tangannya. "Bu wahdah,bawa gih....anakmu ini, takutnya dia merayu-rayu suami orang".
"Bu Rt,bisa diam gak". Bentak bu Wahdah, langsung menarik lengan anaknya dan pergi ke rumah.
"Rea, hati-hati lo. Takutnya, Dewi malah merebut pria di sana. Maksudnya,suami kamu". Bu RT, langsung melangkah kakinya lagi.
Rea,hanya diam dan menatap ke arah Kai. "Masuklah kak,lain kali jangan di hiraukan perkataan bibi Wahdah. Orangnya,memang seperti itu".
"Aku yang bawa". Kai, langsung mengambil alih bawaan di tangan istrinya.
__ADS_1
[7/12 10.27] Erlina: Kai, membawa beberapa kresek hitam ke arah dapur. Setelahnya,Kai keluar dari rumah dan melihat ibu mertuanya menghidupkan kran air.
Sepertinya,ibu mau menyiram tanaman. Batin Kai,ia langsung menghampiri ibu mertuanya. "Bu,biar aku saja yang menyiram tanamannya". Kai, langsung mengambil alih pekerjaan ibu mertuanya.
"Baiklah, ibu ingin membantu Rea masak". Bu Minah, langsung masuk ke dalam rumah.
Kai,telaten menyirami tanaman bunga di depan rumah. Taman rumah mertuanya, sangat luas dan ada pohon buah-buahan. Terlihat, sangat sejuk dan damai .Segerombolan anak-anak, tengah bermain kelereng.
"Kak,sirami kami dong. Kami belom mandi". Teriak seorang bocah,meminta di siram.
[7/12 10.36] Erlina: Dengan senang hati,Kai langsung menyiramkan air ke arah bocah-bocah itu. Kai, juga kena percikan air dan membasahi tubuhnya.
Dia menggunakan baju kaos berwarna putih,karena basah. Terlihat jelas, sixpack perutnya dan begitu kekar.
Para perempuan anak tetangga melihat ke arah Kai, sampai tak berkedip mata. Begitu juga,para ibu-ibu dan janda muda. Apa lagi Dewi,dia sudah ileran mungkin. Saat melihat pemandangan, begitu menakjubkan.
Karena baju Kai,basah. Dia malah melepaskan baju kaosnya dan melemparnya ke sembarang arah. Semua orang-orang, tercengang dan melongo. Ini adalah pemandangan, begitu indah dan menakjubkan.
Rea,yang barus saja melihat aksi suaminya. Hatinya tiba-tiba memanas,karena tubuh sang suami banyak di pertontonkan oleh kaum hawa.
"Kenapa,biasa aja kan. Aku main-main dengan bocah,kalau mereka menatapku seperti itu. Bukank salahku,dong. Jangan-jangan,kamu cemburu". Bisik Kai, membuat wajah Rea memerah seperti tomat masak.
"Tau ah....". Rea,tak sanggup lagi. Ia langsung meninggalkan suaminya, ke dapur dan melanjutkan acara masaknya.
[7/12 10.46] Erlina: Rea,yang tak fokus dengan memasaknya. Hingga menuangkan garam, berulangkali. Entah, bagaimana rasa masakannya nanti. Apa lagi, Rea tak mencicipi dulu.
Tepat jam sepuluh pagi,pak Broto, istri,anak dan menantunya. Mereka sudah duduk dan siap mencicipi masakan Rea.
Pak Broto, tersenyum merekah. Karena anaknya,memasak sayur gulai nangka muda.
Terlihat Kai,juga menyukai gulai. Mereka berdua, sengaja menuangkan sayur agak banyak.
Pak Broto dan Kai, langsung mencicipi gulai nangka muda itu dan tiba-tiba.....
__ADS_1
"Uuhukk..... Uuhukk...". Pak Broto dan Kai, terbatuk-batuk saat sayur itu masuk ke dalam mulut mereka.
"Siapa yang masak,asin sekali". Pak Broto,masih terbatuk-batuk.
Rea dan Ibunya, terkejut mendengar ucapan pak Broto. Sontak mereka,juga mencicipi gulai nangka muda itu.
"Uuhukk.... Uuhukk...kok asin sih? Asin banget". Kata Rea,ia langsung minum air putih.
Kai,hanya cekikikan tertawa. Pertama kalinya, mencicipi masakan sang istri malah asin sekali.
"Astagfirullah, Rea....kamu, benar-benar yah... bukankah,ibu bilang berapa takaran garamnya". Bu Minah, menegur anaknya.
"Maaf,bu. Mungkin Rea,gak fokus". Lirih Rea, merasa sangat malu.
"Sudahlah,bu. Mungkin, Rea gagal fokus atau lupa". Kai, membela istrinya.
Pak Broto,hanya menggaruk kepalanya. Pasalnya,gulai nangka muda adalah kesukaan pak Broto. "Biarlah bu,namanya juga pengantin baru". Kekehnya pak Broto, tersenyum kecil.
Bu Minah,hanya menggelengkan kepala.
Mereka melanjutkan makan,dengan seadanya. Untung saja,ada lalapan di sediakan dan sambel pedas cabainya. Kai, ngos-ngosan kepedasan.
*************
Kai, masuk kedalam kamar dan melihat sang istri duduk bersandar. "besok aku, bekerja karena ada hal penting". ucap Kai, dengan tiba-tiba. "Mau ikut,gak".
Rea, langsung meletakkan ponselnya di samping. "Hemmm...boleh deh, soalnya ada yang ingin aku beli". jawab Rea, mumpung ada hari libur masih.
"Baiklah,jam tujuh kita berangkat dari sini. mampir dulu,kerumah orangtuaku". kai, merasa senang karena Rea mau di ajak.
"Gimana sore ini,kita berangkatnya. Kita bisa bermalam, di rumah orangtuamu ". Rea, mengusulkan ide.
"Boleh, juga. ya sudah, nanti kita ijin dulu sama orangtuamu". kai, bertambah semangat. ini adalah kesempatan, untuk berduaan dengan istrinya.
__ADS_1
Rea, turun dari ranjang. dia ingin memberitahu kepada orangtuanya,karena malam ini. mereka akan pergi, kerumah mertuanya dan bermalam di sana.
"Ridwan, siapkan kamar hotel malam". Ucap Kai,dia menelpon seseorang untuk menyiapkan kamar malam ini.