
"Kai,aku ingin berbicara padamu". Elvina, langsung mencegah Kai di parkiran kantoran.
"Apa yang harus di bicarakan, Elvina. Semuanya sudah jelas, kita tak memiliki hubungan apa-apa lagi. Surat pemecatan mu,sudah aku kirim ke alamat rumah mu". Ucap Kai, dengan tegas. sedikitpun, Kau tak melirik ke arah Elvina. Ia malah berbicara, menyampingkan tubuhnya.
"Maaf,aku salah Kai. Aku minta maaf, berilah kesempatan untuk ku. Aku janji,akan mencari gelang itu. Sampai dapat, demi hubungan kita". Isak tangisnya Elvina.
Kai,hanya tersenyum kecil saat mendengar ucapan Elvina. "Gelangnya, sudah dapat. Tak perlu capek-capek, untuk mencarinya".
"Benarkah..!". Wajah Elvina, langsung berbinar seketika saat mendengar ucapan Kai. "Lalu,dimana gelangnya? Kenapa,tidak memberitahu ku Kai? Kamu masih ingatkan,kalau gelangnya ketemu. Kita akan menikah,aku mau Kai. Kita menikah kan".
Kai,hanya diam dan memandang wajah mantan kekasihnya itu. "Yah...aku memang ingin menikah,tapi bukan dirimu".
Deggg....
Ada rasa sesak di dadanya, Elvina. Ia bingung,apa maksud perkataan Kai. "Maksudnya,apa Kai? Bukan dengan ku,kamu bercanda kan".
"Elvina,aku tau semuanya. Cintamu,hanya palsu. Ingin mempermainkan diriku,kau salah Elvina. Aku bukan,pria sembarangan yang bisa kamu andalkan seperti boneka. Aku memang mencintai mu,tapi dulu dan sekarang tidak. Bukankah, ayahmu adalah pamanmu sendiri. Mungkin,kamu tahu? Apa maksud perkataan ku, pantesan saja. Kamu ingin bekerja di perusahaan ku,karena ingin mencuri data-data penting. Kamu kira,aku tidak tahu? Dengan permainan cantikmu,kau salah Elvina". Tegas Kai,ada sorotan mata tajam di kedua mata Kai.
Elvina, terkejut mendengar ucapan Kai. Kakinya, tiba-tiba lemas tak berdaya. Dia bersandar di mobil,tak mampu berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa, melihat kepergian Kai. "Tidak,kenapa aku merasa bersalah dan sesak di dada". Gumam Elvina, air matanya mengalir deras. "Aku tidak mencintainya,kenapa aku menangisi kepergian Kai".
Tiba di dalam lift,saat pintu tertutup. Barulah Kai, terduduk lemas dan mengusap wajahnya dengan kasar. Cintanya sangat tulus, untuk Elvina. Sampai detik ini,cinta itu masih ada. "Sial,dia berani mempermainkan perasaan ku". Decak Kai, menampar dinding lift.
Saat sampai di lantai atas, pintu lift terbuka lebar. Dia keluar dan berjalan, dengan tegak. Raut wajahnya, mampu menyimpan kesedihan dalam hatinya.
Sesampai di ruang kerja, Kai duduk di kursi kebesarannya dan berkas-berkas menumpuk di atas meja.
Ting.....
Sebuah pesan masuk di ponselnya,ia langsung melihat ternyata dari Rea.
[Undangan pernikahan,sudah siap. Di antar sekarang,atau kakak yang ambil]
"Ck,kenapa kata-kata kakak tidak bisa di tinggal? Tidak menduga,aku menikah dengan perempuan seperti dia". Gumam Kai, tersenyum smrik.
[Aku ambil, nanti sore]
Kai, langsung mengirim pesan kepada sang istri.
Ada centang biru, berarti pesan WhatsApp nya sudah di baca.
__ADS_1
Kai, masih menatap layar ponselnya. Menanti sebuah balasan, pesan Rea. Namun,tai kunjung juga di balas. "Sial, kenapa dia tidak membalas pesan ku. Padahal,dia online. Pasti dia, sedang berkirim pesan kepada seseorang". Decak Kai, langsung meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.
**********
Sore harinya,Kai melewati lobi perusahaan. Tiba-tiba saja,ada seseorang menghampirinya Kai.
"Maaf, ini paket untuk anda Tuan. Ada seseorang,yang mengirimkan untuk anda". Seorang staf kantor, paket tersebut.
"Terimakasih,". Jawab Kai, paket tersebut langsung di bawa oleh sang sekertaris ke dalam mobil.
Ting...
[Maaf,kata ayah dan ibu. Kamu jangan dulu,datang ke sini. Kita masih di pingit,jadi undangan pernikahannya. Aku kirimkan, apakah sudah sampai]
Kai, membulatkan matanya dengan sempurna. Saat membaca pesan dari Rea, niatnya ingin menemui sang istri. Namun, tidak di perbolehkan.
Kai, langsung membuka paket tersebut. Ternyata benar,isinya undangan pernikahan mereka yang siap di sebarkan.
[Paketnya sudah aku terima,padahal sudah di jalan mau ke sana]
Kai, langsung membalas pesan dari Rea.
[Maaf,aku lupa bertanya tadi kepada orangtuaku]. Rea.
[Tidak apa,aku mengerti kok].
kai,hanya menghela nafas beratnya dan melonggarkan dasinya. "Kamu kirim undangan pernikahan ini,setiap teman bisnis kita. Sisanya,kamu kasih ke mamahku". Perintah Kai,kepada sang sekretaris.
"Baik,akan saya kerjakan". Jawabnya langsung.
Beberapa menit kemudian,Kai sampai di mansion orangtuanya.
Yang sudah di sambut hangat, oleh kedua keponakannya.
"Uncle.....". Teriak Azzam dan Azima, mereka berlarian minta di gendong oleh sang paman.
"Sini,uncle gendong". Kai, langsung menggendong kedua keponakannya itu.
"Uncle, istrinya cantik sekali. Nanti,aunty tinggal di sini kan". Tanya Azzam,yang sudah di turunkan oleh Kai.
__ADS_1
"Aunty,akan tinggal di sana. Tapi, aunty akan sering jalan-jalan ke sini". Jawab Kai, langsung menarik hidung mancung keponakannya.
"Yahhhh....." Azzam dan Azima, nampak cemberut mendengar jawaban sang uncle.
"Kenapa tidak tinggal di sini,biar rame". Sahut Al, langsung. "Pasti gak bisa jauh dari orangtuanya,alasan yang sangat lumrah terjadi".
"Aku tidak menuntut,yang penting dia senang". Jawab Kai, langsung.
"Yah...Yah...Yah... istrimu seorang PNS, sekaligus mengajar di sekolah dasar. Apa kamu ijinkan, untuk bekerja". Tanya Al,lagi.
"Kalau masih belum punya anak,aku ijinkan. Kalau sudah, mungkin aku berubah pikiran lagi". Kai, langsung menjawabnya lagi.
"Pengen punya anak? Aku yakin, malam pertama mu. Tidak seindah, malam pertamaku. Hahahahaha....". Al, mengejek-ejek adiknya.
Kai, merasa kesal mendengar ucapan kakaknya. "Tau ah,gelap". Gerutu Kai, memukul pangkal paha kakaknya.
"Kasian sekali, si Joni siap meluncurkan aksinya. malah,harus puasa.bhahahahha....gagal deh,buka segel. apa perlu,satu kardus aku memberikan hadiah sabun batangan". Al, mengejek adiknya.
Dengan kesal,Kai langsung meninggalkan kakaknya dan menaiki anak tangga.
Kai,hany menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia sangat bingung,masa iyah.
Sudah menikah, belum bisa mencicipi istrinya.
Apa lagi mereka tidak ada rasa cinta dan sayang. Sangat susah, untuk memulai melakukan hubungan itu.
Tentunya,akan merasa canggung. Apa lagi, meminta jatah untuknya. Sungguh,lidah Kai tidak bisa mengucapkan kata itu kepada Rea.
"Sial,sama saja aku menyiksa diri sendiri". Decak Kai,ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Tinggal beberapa hari lagi, mereka akan tidur bersama dalam satu ranjang. Apa dia sanggup, menahan hasratnya kepada sang istri.
Di kamar sebelah,Al memeluk mesra tubuh sang istri.
Laila, baru saja selesai mandi. Aroma harum sabun dan shampo, membuat gairahnya memuncak ingin melakukan lagi.
Tangannya,mulai nakal menyelusuri lekukan tubuh istrinya. "Al, hentikan kebiasaan deh. Aku sudah mandi, kita sudah melakukan tadi". Laila, langsung menghentikan aksi sang suami.
"Aku pengen,sayang". Bisik Al, dengan suara seraknya. Tanpa ba-bi-bu lagi,Al langsung menarik tangan Laila dan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Terjadilah,suara desa-han menggema di kamar mandi dan saling bersahutan. "Aaahhh....Aaahh...hemmm, pelan-pelan sayang". desa-ha Laila, dengan posisi menungging dan Al menusuknya dari belakang.
"Yeahhh... Oouhhh....". des-ah Al,yang terus-menerus menghunjam tubuh istrinya.