
"Jangan pegang-pegang,dia suamiku". Rea, mengibas-ngibas lengan suaminya bekas di sentuh Sarah. Dia, tidak terima suaminya di sentuh. Apa lagi, seorang wanita.
"Pelit banget,akukan cuman pegang dikit Rea. Gak pernah pegang, lengan kekar kek gitu. Maaf,hilaf.hihihihi". Kekehnya Sarah, tersenyum cekikikan.
Rea,hanya memutar bola matanya dengan malas. "Ck,alasan". Gumam Rea, mengerucut bibirnya.
"Rea, hati-hati lo. Punya suami,model kek beginian. Aku yakin,banyak wanita-wanita cantik. Yang berkeliaran di sekitarnya,apa lagi statusnya apa". Kata yang lainnya.
"Kak,kita pulang aja". Rea,menarik tangan suaminya.
"Pulang? Gak papa, teman-teman mu masih ada lo". Kai, menghentikan istrinya.
"Gak,gak perlu kak. Lagian, sudah selesai juga. Lilis,kamu bawa motornya aja yah". Rea,menarik tangan suaminya lagi.
Melihat Rea dan suaminya, pulang. Mereka juga, pamit pulang dari rumah bu Ati.
"Rea, tunggu m". Bu Ati, menghentikan langkah Rea.
"Ada apa,bu". Tanya Rea,yang hampir masuk ke dalam mobil.
" Ini masih ada sisa, makanan tadi. Gak di sentuh-sentuh,kok. Siapa tahu, suamimu belum makan". Bu Ati, menyerahkan satu kresek.
"Aduhh...kok, repot-repot bu. Besok,aku kembalikan tempat makannya". Ucap Rea, tersenyum kecil.
Kai, tersenyum dan mengambil kresek di tangan bu Ati. "Terimakasih,bu. Kami permisi, dulu ". Pamit Kai, menutup pintu mobil Rea.
Bu Ati dan lainnya, menatap kepergian Rea dan suaminya.
"Sarah,jangan macam-macam dengan Rea. Ingat,itu". Ancam bu Ati,sambil menunjuk ke arah Sarah.
"Berani sekali kamu,sarah. Pegang-pegang,suaminya Rea. Kamukan tahu,siapa suaminya Rea". Kata Tina, sedikit tegas.
"Aduhh.... kenapa menyudutkan aku,ha? Aku,cuman tes doang. Gimana aksi suaminya Rea,kalau di pegang wanita lain. Sok-sokan nolak,di hadapan istri dan kalian. Siapa tahu,di belakang lain lagi". Decak Sarah, tersenyum smrik.
"Sudahlah,jangan membahas ini lagi. Kamu juga, Sarah. Jangan sok,dekat dengan suaminya Rea". Sahut lainnya,juga.
Mereka nampak, tidak suka dengan perlakuan Sarah. Apa lagi dengan Rea, sudah pasti dia merasa tak nyaman.
Lilis,juga pamit pulang kepada bu Ati. Akan tetapi, di perjalanan. Ade, mengikuti dari sampingnya.
"Lilis, aku boleh ngomong sesuatu gak". Tanya Ade, langsung.
__ADS_1
"Ngomong aja,kak. Apapun, bakalan aku jawab". Lilis, tersenyum manis kepada Ade.
"Apa Rea, bahagia menjalankan rumah tangga nya? Maaf,aku hanya ingin tahu". Ade,merasa malu dengan pertanyaannya sendiri.
"Emangnya,kenapa kak? Lalu,kakak siapanya Rea". Lilis, nampak heran kepada pria yang di sampingnya. Kenapa dia, bertanya tentang Rea? Emang,siapanya Rea. Batin Lilis, bertanya-tanya.
"Eee...aku temannya Lis,cuman kepo aja". Alibi Ade, dia tidak ingin memberitahu siapa dia bagi Rea.
Lilis, tersenyum kecil dan menoleh sekilas ke arah Ade. "Hubungan rumah tangga, mereka. Baik-baik saja,kak".
"Oh,aku boleh meminta nomormu". Kata Ade, langsung di angguki oleh Lilis.
Setelah persimpangan jalan, akhirnya mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.
***********
"Bu,apa pekerjaan Lilis sudah selesai". Tanya Rea, setelah melihat kepergian Lilis.
Benar sekali, apa perkataan Lilis. Jika dia,akan keluar di hari minggu.
"Hanya pel dan nyapu, kalau cuci baju katanya nanti. Waktu pulang, saja". Jawab bu Minah, sambil menggoreng ikan.
"Oh,dia ada bilang. Mau kemana,bu? Siapa tahu, dia ada bilang". Rea, sedikit kepo terhadap Lilis.
Meminjam uang? Bukankah,dia sudah meminjam kepadaku. Untuk apa,uang lagi? Pasti ada sesuatu,semoga saja dia bayar nantinya. Gak bisa di biarkan ini, lama-lama ngelunjak. Di baikin,malah di manfaatin. Batin Rea,dia bertanya-tanya mengapa Lilis melakukan itu.
Setelah mendengar ucapan ibunya, Rea langsung pergi kerumah dan menyusul suaminya.
Rea, calingukan mencari-cari suaminya. Ternyata, masih di dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Kai keluar.
"Kakak,mau bicara. Ada yang tidak beres, dengan Lilis". Tanya Rea,duduk di tepi ranjang.
"Tidak beres? Memangnya,apa lagi. Hemmm..." Kai,duduk di samping istrinya.
"Itu,hemm... tapi, Kakak jangan ngomong sama siapapun yah". Kata Rea,yang langsung di angguki Kai. "Begini, Lilis meminjam uang kepada ibu. Tetapi,ayah memberinya dua ratus ribu. Kata ayah,anggap saja bonusnya. Masalahnya, dia meminjam uang kepada ku lima ratus ribu. Yang aku pikirkan,dia mau beli apa".
"Ha? Tapi,dia minjam uang ke aku Satu juta". Ucap Kai,Rea terkejut mendengarnya.
"Kapan,kak? Kenapa, tidak memberitahu ku". Rea,nampak kesal kepada suaminya.
__ADS_1
"Kemarin aku,upa menceritakannya. Terserah dia,mau beli apa. Uang segitu,gak seberapa bagiku". Kekehnya Kai, tersenyum.
"Itu bagimu,kak. Kalau bagiku, tidak". Tegas break,dia merasa kesal dengan kelakuan Lilis. Besok kita periksa ke dokter, bagaimana keadaan kakak.Kemarin-kemarin,kakak selalu menolak. Ini sudah lewat, jadwal periksa".
Kai, terdiam sejenak."Eee...besok aku,gak bisa. Ada janjian dengan seorang, klien. Mau ikut,gak". Kai, sudah beberapa kali menolak ajakan istrinya. "Ayolah,aku ingin sekali mengajakmu ke perusahaan". Kai, menarik istrinya ke dalam pelukannya.
"Hemmm...boleh deh, tapi aku masih kepikiran dengan Lilis. Kenapa,aku mencurigai dia yah? Sumpah,aku kaya gak tenang kak". Rengek Rea, sambil mengelus-elus leher suaminya.
"Tanganmu,diam. Kalau ingat selamat, ingat itu". Kata Kai, dengan senyuman smrik. Rea, langsung menghentikan aksinya. " Aku lapar,apa istriku sudah masak".
"Sudah, tapi makan di rumah ibu. Kita,makan sama-sama di sana". Rea, langsung bangkit dari pangkuan suaminya.
***********
Sudah jam lima sore, Lilis baru saja pulang kerumah orangtuanya Rea.
Rea,nampak tak suka dengan Lilis. Karena dia, tidak ingat waktu pulang. Mentang-mentang dia,di ijinkan untuk jalan-jalan hari ini.Bu minah, menenangkan anaknya. Kemungkinan, Lilis ada keperluan penting di luar.
Saat ini Rea dan Lilis, tengah berduaan di dapur. "Lepaskan tanganmu, Rea". Kata Lilis, tangannya di cekal oleh Rea.
"Kamu bohong,sama aku. Aku sudah meminjamkan, uang kepada mu. Kenapa, masih ingin meminjam uang kepada orangtuaku dan suami ku?uang sebanyak itu, buat apa kamu lis". Tanya Rea, setengah berbisik.
"Uang segitu, kecil bagi suamimu. Aku sudah berbicara, dengan suamimu. Uang yang aku pinjam,tidak perlu di kembalikan. Termasuk,uang yang aku pinjam darimu. Jangan pelit deh,wajar saja dia memberikan uang kepadaku. Toh,aku juga termasuk keluarganya". Jawab Lilis, tersenyum sumringah. "Aku mau beli apapun, terserah aku lag". Akhirnya Lilis, melepaskan cekalan Rea.
"Baiklah, untuk kali ini. Aku biarkan kamu, Lilis". Ancam Rea, mendorong tubuh Lilis.
Kebetulan sekali, Kai ingin ke dapur. Lilis, seakan-akan jatuh ke lantai. Hanya mencari simpati kepada Kai dan Rea akan di salahkan.
Khayalannya, sudah setinggi awan. Akan tetapi, tidak sesuai dengan khayalan.
"Ngapain,kamu duduk di lanta". Tanya Kai, mendekati istrinya.
"Rea, Rea yang mendorong ku". Jawab Lilis, mengubah wajahnya menjadi sedih.
"Oh...". Jawab Kai, wajahnya nampak biasa dan menarik tangan Rea.
Lilis,nampak heran jika Kai tidak marah kepada Rea. Dia, mengepalkan kedua tangannya. Sedangkan Rea,hanya menjulurkan lidahnya ke arah Lilis.
"Aku kira,kakak bakalan marah kepadaku. Membela Lilis,yang tidak tahu diri itu". Kata Rea,yang bergelut manja di lengan suaminya. Saat ini, mereka duduk di teras rumah orangtuanya. Sambil menunggu, bakso lewat.
"Ck,aku tetap membela istriku. Aku lebih mempercayai istriku,di bandingkan dia. Walaupun, kamu mendorongnya benar-benar keras". Jawab Kai, membuat Rea semakin mempererat pelukan tangannya.
__ADS_1
Di balik tirai jendela, seseorang tengah mengintip kemesraan mereka. Sesekali Kai, mencium sekilas bibir Rea.