Black Swan

Black Swan
Lying and Divorce (One Hundred)


__ADS_3

Tiin tiinn!


            Suara klakson mobil yang begitu nyaring terus berbunyi di halaman depan kediaman Aciel, disusul dengan suara jeritan Ciara yang tampak berlari begitu kencang dari dalam ruang keluarga dengan kaki-kaki mungilnya yang lucu. Gadis kecil itu tersenyum senang ke arah Aciel sambil melambai-lambaikan tangannya dari teras rumahnya yang luas.


            “Daddy!”


            Gadis itu merentangkan tangannya lebar dan langsung disambut hangat oleh Aciel yang juga langsung merentangkan tangannya pada Ciara sambil menggendong gadis kecil itu cepat.


Hup


            “Daddy merindukanmu.” ucap Aciel sungguh-sungguh sambil menciumi pipi anaknya yang chubby dengan gemas. Seminggu berada di Jerman membuat Aciel begitu merindukan gadis kecilnya dan juga keluarga kecilnya yang lain.


            “Ciara juga. Lihat, baju Ciara baru.” pamer gadis kecil itu lucu di depan Aciel sambil menarik ujung dresnya yang berwarna pink pucat. Aciel kemudian mengalihkan pandangannya pada dress baru Ciara sambil mengernyitkan dahinya.


            “Baju baru lagi? Berapa banyak kartu milik daddy yang digunakan mommymu untuk berbelanja?” tanya Aciel sangsi. Ia tahu, selama ia pergi pasti Eden akan menghabiskan banyak waktunya untuk belanja. Padahal seminggu yang lalu ia baru saja memarahi Eden, karena wanita itu dengan borosnya membeli sebuah pakaian


dalam melalaui internet dengan alasan jika modelnya lucu. Padahal wanita itu masih memiliki setumpuk pakaian dalam di dalam lemarinya hingga ia tidak sempat untuk memakainya. Tapi ketika Aciel mulai marah, wanita itu mulai menggunakan alasan, bahwa ia memerlukan pakaian dalam untuk itu menyenangkan suaminya. Padahal selama ini Aciel justru lebih senang jika Eden tidak memakai apapun untuk menyenangkannya. Lebih praktis, dan tidak boros.


            “Emm, sepertinya dua. Saat itu mommy mengeluarkan kartu berwarna biru dan emas.” ucap Ciara lancar sambil membentuk angka dua dengan jari-jarinya yang mungil. Aciel kemudian memutar bola matanya malas sambil menghela napas lelah. Istrinya itu memang telah mengajarkan hal-hal yang tidak baik pada Ciara. Ia telah mengajarkan Ciara untuk bersikap boros, padahal di luar sana masih banyak orang-orang yang kelaparan dan membutuhkan makanan. Setelah ini ia akan langsung menegur Eden.


            “Mommymu mengajarkanmu pemborosan ya?”


            “Emm, tidak. Kata mommy kita harus membeli baju sekarang sebelum kehabisan. Ciara juga punya baju baru yang lain untuk menghadiri pesta pernikahan paman Andrew. Mommy memilihkan sebuah dress yang cantik berwarna biru, sama seperti punya mommy dan sama seperti kemeja milik daddy dan Louise.” cerita Ciara


bersemangat. Gadis itu tampaknya benar-benar menyukai berbelanja dan segala barang-barang bermerek lainnya.


            “Andrew? Kapan orang itu akan menikah?” tanya Aciel bermonolog sendiri. Ia tidak tahu jika pria itu akhirnya dapat terlepas dari bayang-bayang istrinya dan mampu mencari wanita lain untuk menemani kehidupannya yang suram.


            “Kata mommy dua bulan lagi.” jawab Ciara tiba-tiba dengan mimik polos yang sangat menggemaskan. Aciel tak kuasa menahan rasa gemasnya pada gadis kecilnya yang lucu. Langsung saja ia menciumi pipi Ciara berkali kali hingga membuat gadis itu kesal karena risih dengan perilaku ayahnya.


            “Ya Tuhan, pernikahan Andrew masih dua bulan lagi sayang, untuk apa membeli baju-baju itu sekarang? Bagaimana bila bajumu nanti kekecilan, daddy lihat kau semakin chubby sekarang.”


            “Kata mommy kita harus membelinya sebelum kita kehabisan barang-barang itu daddy. Lagipula, kata mommy uang daddy banyak, daddy tidak akan kehabisan uang jika Ciara membeli baju beberapa potong.” ucap Ciara dengan ekspresi kesal, sama seperti ekspresi Eden yang kesal jika Aciel telah memarahinya mengenai kebiasaan wanita itu yang boros. Tapi akhirnya Aciel tidak mau terlalu berkomentar banyak. Karena apapun yang dilakukan Ciara tidak akan jauh-jauh dari Eden, jadi percuma saja ia memarahi Ciara atau mendisiplinkan gadis kecil itu, jika ibunya masih terus-menerus mengajarinya untuk berbelanja, lebih baik ia memarahi Eden dan


menarik salah satu kartu ATMnya supaya Eden tidak terlalu boros lagi. Ahh, dia justru terlihat seperti seorang ayah yang hendak menyita kartu ATM putrinya. Tapi mau bagaimana lagi, jika ia diam saja, maka Eden akan semakin boros dan akan mempengaruhi Ciara. Ia tidak mau putrinya tumbuh menjadi gadis remaja yang boros dan sombong. Ia ingin anaknya menjadi seorang wanita yang baik hati dan juga rendah hati. Aciel telah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membuat Ciara atau Louise tumbuh seperti dirinya atau Eden.


            “Daddy mau kemana?”


            “Menemui mommymu, dimana mommy?”


            Tanpa diduga Ciara justru memeluk leher Aciel erat sambil menahan Aciel agar ia tidak naik ke kamar untuk menemui Eden.


            “Daddy jangan ke atas, jangan memarahi mommy, mommy sedang sakit.”


            Aciel kemudian menaikan alisnya bingung sambil menatap Ciara heran. Kenapa tiba-tiba Eden bisa sakit? Padahal kemarin siang ia terdengar sangat ceria. Bahkan, tadi pagipun, sebelum ia masuk ke dalam pesawat, Eden masih sempat menggodanya dan membuatnya kesal dengan mengungkit-ungkit masa lalunya yang dipenuhi oleh pria-pria tampan. Sekarang jika Ciara mengatakan padanya jika Eden sakit, ia sedikit tidak percaya. Menurutnya Eden adalan wanita kuat yang jarang sekali sakit.

__ADS_1


            “Sakit? Kenapa?”


            “Mommy mungkin terlalu lelah. Kemarin kami menghabiskan waktu di panti asuhan untuk membantu anak-anak yang tidak memiliki orangtua. Mereka semua sangat kasihan, Ciara kemudian bermain-main bersama anak-anak panti itu.”


            “Benarkah? Tapi mommymu tidak pernah mengatakannya pada daddy.”


            “Kata mommy ini rahasia. Jadi, mommy menggunakan kartu ATM mommy untuk membeli beberapa bahan makanan untuk diberikan pada anak-anak panti itu. Daddy jangan marah, mommy tidak boros.” bela Ciara sungguh-sungguh dengan air mata yang hampir menetes dari pelupuk matanya. Melihat hal itu, Aciel menjadi geli. Ia merasa aneh pada Ciara yang tampaknya memiliki ikatan batin yang begitu kuat dengan Eden. Jika ia bertengkar dengan Eden dan mendiami wanita itu, maka Ciara yang akan datang kepadanya sambil menangis dan meminta padanya supaya memaafkan Eden. Padahal gadis kecil itu sebenarnya juga tidak mengerti apa-apa. Tapi ia seperti dapat merasakan kesedihan yang Eden rasakan.


            Terkadang jika ibu dan anak itu sudah mulai bersatu untuk mengerjai Aciel, maka pria itu sudah dipastikan tidak akan berkutik untuk menghadapi dua wanita berharganya yang sangat mengerikan itu. Seperti sebulan lalu, saat mereka berempat sedang pergi berlibur ke Maldives untuk menikmati ressort baru milik Aciel yang baru ia beli karena hasutan Sian yang terus meracuninya dengan iklan properti berharga murah di pinggir pantai. Saat itu Eden terus merengek-rengek pada Aciel untuk membiarkannya berjalan-jalan di pantai bersama Ciara menggunakan bikini cantik berwarna merah pink yang mereka beli bersama saat di London. Tapi dengan keras Aciel langsung melarangnya karena ia tidak suka jika tubuh istrinya menjadi bahan tontonan gratis bagi pengunjung lain yang sedang berjemur di pinggir pantai. Dan setelah itu Eden mulai memasang mode mengambek dengan tidak mau


berbicara sepatah katapun pada Aciel. Seharian itu Aciel justru diabaikan begitu saja oleh istrinya dan kedua anaknya.


            Sebenarnya Louise tidak mengabaikannya, balita menggemaskan itu jelas tidak tahu apa-apa mengenai ibunya yang sedang dalam mode mengambek. Hanya saja selama ini Louise sudah terbiasa bersama Eden. Dan ketika Eden mulai memusuhinya, ruang geraknya bersama Louise menjadi terbatas karena bayi mungil itu jelas akan memilih bersama ibunya daripada bersama ayahnya. Selain Louise, tentu saja Ciara juga ikut memusuhinya. Gadis kecil itu bahkan menolak untuk digendong oleh ayahnya dan selalu membuang muka jika ayahnya memanggilnya. Akhirnya Aciel menyerah dan mengijinkan Eden untuk memakai bikini itu, tapi tidak secara langsung. Wanita itu hanya diperbolehkan menggunakan shortpants dan bikini yang tidak terlalu mengekspos dadanya. Meskipun saat itu Eden masih merasa tidak puas, tapi akhirnya ia tetap memakainya dan kembali bersikap normal pada Aciel.


            Sekarang, setiap ia akan memarahi Eden atau menegur Eden, pasti Ciara akan berdiri di barisan depan


sambil berkacak pinggang untuk menghalangi sang ayah yang akan memarahi mommynya.


            “Daddy, sebenarnya ini rahasia. Ciara seharusnya tidak mengatakannya pada daddy. Sssstt, jangan katakan pada mommy jika Ciara yang mengatakannya pada daddy. Please.” mohon Ciara dengan wajah memelasnya yang lucu. Aciel kemudian mencubit pipi chubby Ciara dengan gemas sambil menganggukan kepalanya pasti untuk Ciara. Ia memang tidak akan menanyai Eden secara langsung. Tapi ia akan menanyai Eden secara perlahan, kenapa wanita itu tidak pernah mengatakan padanya jika selama ini ia telah menjadi donatur di sebuah panti asuhan.


            “Ya, daddy janji. Sekarang ayo kita temui mommymu di atas.” ajak Aciel sambil membawa Ciara ke lantai dua. Ketika mereka berdua berada di tangga, mereka mendengar suara jeritan Louise yang sedang menangis begitu keras dari dalam kamar utama. Dengan cepat, Aciel segera berlari menuju kamarnya untuk melihat apa yang sedang terjadi pada anak bungsunya dan istrinya, karena biasanya Louise tidak pernah sampai menangis seperti itu jika Eden ada di sampingnya.


           Aciel kemudian membuka pintu kamarnya sambil mengintip ke dalam. Disana Eden tampak terbaring lemas dengan Louise yang terus menjerit di sampingnya sambil menggoyang-goyang tubuh Eden kasar. Merasa tak tega, Aciel kemudian segera menurunkan Ciara dari dalam gendongannya, dan segera beralih pada Louise yang masih terus menangis di samping Eden.


            “Ed, kau kenapa?” tanya Aciel khawatir. Pria itu masih mencoba menenangkan Louise sambil menggoyang-goyangkan pria kecil itu kesana kemari agar segera diam. Aciel kemudian mencoba memberikan Louise susu formulanya. Tapi bocah satu tahun itu tetap tidak mau diam dan justru semakin menangis dengan kencang, membuat Aciel merasa frustasi dan stres. Ingin rasanya ia marah pada Eden, tapi ia tidak tega karena ia melihat Eden yang tampak lunglai di atas ranjang sambil memeluk guling dengan nyaman. Sejak tadi sebenarnya wanita itu tidak tidur atau memejamkan mata, wanita itu tetap melihat Louise dan berusaha menenangkan pria kecil itu. Tapi, sayangnya Louise tetap tidak mau diam dan justru terus menangis dengan sangat kencang.


            Aciel kemudian menyentuh kening dan leher Eden secara bergantian, namun wanita itu sama sekali tidak demam. Suhu tubuhnya bahkan normal. Pria itu kemudian mengambil thermometer yang tersimpan di dalam laci mejanya. Sambil tetap menenangkan Louise, Aciel berusaha mengukur suhu tubuh Eden menggunakan thermometer agar lebih akurat.


            “Stabil.” gumam Aciel lega.


            “Daddy, apa yang terjadi pada mommy dan Louise?”


            “Mommymu baik-baik saja sayang, ia hanya kelelahan. Sedangkan Louise, daddy tidak tahu. Apa Louise lapar?” tanya Aciel pada Louise sambil menggoyang-goyangkan tubuh Louise yang berada di dekapannya agar bocah lelaki itu dapat segera tenang. Tapi tangis Louise justru terdengar semakin berisik dan kencang.


            “Ssshhhh, tenang Lou, daddy tidak tahu apa yang kau inginkan. Tolong berhentilah menangis.”


            “Hikks.. Lou.. hikss.. Louise mau mobil.. hikss hikss, mommy nakal.” ucap Louise terbata-bata sambil memeluk leher Daddynya erat. Eden kemudian membuka matanya sedikit dan melirik ayah dan anak itu dengan prihatin. Sebenarnya ia sudah berjanji pada Louise akan membelikan bocah kecil itu mainan yang diinginkannya, tapi pagi ini ia mendadak merasa tidak enak badan dan merasa mual. Ia kemudian meminta Louise untuk menunggu hingga nanti sore, tapi anak laki-lakinya itu tidak mau dan justru terus menangis dengan sangat keras, hingga ia lelah untuk menenangkannya dan memilih untuk mengabaikan suara tangisan Louise begitu saja.


            “Ace, ia ingin mobil-mobilan. Kau bisa membelikannya? Kepalaku sakit sekali.” erang Eden dengan suara tertahan. Aciel pun mengangguk pada istrinya sambil tetap memeluk Louise yang masih sesenggukan di dalam pelukannya.


            “Ed, sepertinya kau harus melakukan tes urin di rumah sakit. Mungkin saja kau hamil.” ucap Aciel bersungguh-sungguh di dekat pintu kamarnya. Tapi Eden langsung menggelengkan kepala cepat sambil berkata tidak perlu, karena ia tidak mungkin hamil secepat itu.


            “Tidak perlu. Aku sudah bertemu Laila kemarin. Aku tidak mungkin hamil.” jawab Eden malas sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Aciel kemudian mengangguk mengerti dan berjalan keluar dari kamarnya bersama Ciara dan Louise yang berada di dekapannya.


            Hari ini Aciel akan mengajak kedua anaknya jalan-jalan. Sesekali mereka bertiga memang harus pergi

__ADS_1


bersenang-senang tanpa Eden, karena terkadang Aciel sendiri merasa khawatir dengan pertumbuhan kedua anaknya yang hanya didampingi Eden setiap harinya. Ia jarang sekali berada di rumah untuk memperhatikan tumbuh kembang Ciara dan Louise. Bahkan tak terasa, kini usia Louise telah menginjak satu tahun. Padahal sepertinya baru kemarin Eden membuat kehebohan hingga Louise harus dilahirkan paksa dengan jalur operasi. Tapi tak terasa kini Louise sudah besar dan ia sama sekali tidak tahu bagaimana tumbuh kembang Louise selama ini.


            “Daddy, Lou mau mobil.” pinta Louise lucu ketika Aciel memasangkan sabuk pengaman pada bocah kecil itu di kursi penumpang. Aciel kemudian mengangguk-angguk pelan sebagai jawaban ya atas permintaan putra semata wayangnya itu. Lagipula selama ini ia belum pernah membelikan Louise mainan apapun. Selalu Eden yang membelikan anaknya itu mainan dan segala kebutuhannya. Tugasnya selama ini hanya bekerja, bekerja, dan bekerja. Hari ini ia benar-benar akan memanfaatkan waktunya dengan baik bersama anak-anaknya.


            “Ciara juga mau mainan baru dan sepatu baru. Sepatu Ciara sudah jelek.” tunjuk Ciara pada sepatunya. Gadis itu kini tampak lebih dewasa dan lebih matang daripada anak-anak seusianya. Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan kerepotan ibunya yang harus mengurus adik kecilnya, sehingga Ciara sudah terbiasa untuk mandiri. Dan Aciel cukup merasa bersalah atas hal itu. Seharusnya saat itu ia memang tidak terlalu terburu-buru untuk memberikannya seorang adik. Tapi semuanya sudah terjadi. Lagipula ia cukup bahagia dengan hadirnya Louise, karena rumahnya yang besar itu tidak akan pernah sepi. Selalu ada suara teriakan Ciara dan Louise yang terkadang memang suka bertengkar untuk memperebutkan sesuatu.


            “Baiklah, kita berangkat sekarang.” teriak Aciel dari kursi kemudi sambil melajukan mobilnya keluar dari pekarangan mansionnya yang luas. Ia berharap kali ini kedua anaknya akan menjadi dekat dengannya juga, sama seperti mereka dekat dengan Eden.


-00-


            Sepeninggal Aciel dan kedua anaknya, Eden mulai bangun dari atas ranjangnya sambil berjalan sempoyongan. Wanita itu mulai berjalan terburu-buru menuju westafel toiletnya sambil membekap mulutnya yang sudah merasa sangat mual. Ia kemudian langsung menumpahkan seluruh isi perutnya yang kosong sambil merosot lemas di bawah westafel. Padahal seharusnya ia tidak akan merasakan seperti ini karena ia kemarin merasa sehat. Dengan susah payah, Eden mulai berjalan menuju ranjangnya sambil membuka laci di meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Ibu muda itu kemudian mengeluarkan sebuah wadah kecil yang di dalamnya berisi pil putih. Seminggu yang lalu ia pergi untuk menemui Laila dan meminta pada dokter kandungan itu untuk memberinya obat pencegah kehamilan. Karena saat ini usia Louise sudah menginjak satu tahun, ia jadi was-was jika Aciel sewaktu-waktu akan menagih janjinya untuk memiliki anak lagi. Padahal ia masih merasa lelah untuk mengurus anak. Ia ingin sesekali menikmati waktu-waktu bebasnya tanpa seorang anakpun yang bergelayut di lengannya.


            Eden kemudian mengeluarkan pil putih itu dan mulai meminumnya. Sebenarnya ini baru kali ke tiga Eden meminumnya, karena kemarin-kemarin ia masih merasa ragu untuk meminumnya. Ia tahu, suaminya itu pasti akan sangat marah jika ia ketahuan mengonsumsi pil itu. Tapi ia sudah menyiapkan berbagai macam alasan untuk


diberikan pada Aciel, jika nanti suaminya itu marah-marah. Lagipula ia yakin jika suaminya itu pasti tidak akan sampai marah besar hanya karena ia mengonsumsi obat pencegah kehamilan. Ia yakin, Aciel pasti dapat mengerti perasaanya dan menghormati keputusan istrinya, karena Aciel adalah sosok suami yang baik dan pengertian.


            “Ah, kepalaku pusing sekali.” gumam Eden lelah. Ia kemudian mulai memijit-mijit pelipisnya sambil melihat kalender di kamarnya. Tiba-tiba ingatannya melayang pada kejadian seminggu yang lalu ketika Aciel akan pergi ke Jerman. Malam harinya mereka sempat melakukannya di kamar tamu karena Aciel yang terus mendesaknya. Saat itu ia ingat jika Aciel tidak menggunakan pengaman. Eden kemudian terlonjak kaget sambil memukul keningnya frustrasi. Apa yang dikatakan oleh suaminya tadi bisa saja menjadi kenyataannya. Ia baru meminum obat itu tiga hari yang lalu, dan bisa saja janin kecil itu kini sudah mulai tumbuh di rahimnya. Mengingat kata-kata Aciel yang tidak pernah salah, Eden kemudian menjadi was-was dan takut. Ia kemudian segera berlari menuju kamar mandi untuk mencari test pack, namun sayangnya ia sudah tidak punya satu pun di sana karena dua bulan yang lalu Ciara menemukan test pack itu di lemari obat di dalam kamar mandi, dan gadis kecil itu menggunakan alat itu untuk dimainkan bersama Louise di kamar mandi ketika Eden sedang memasak. Kini wanita itu tampak semakin lemas dan pucat. Ia takut jika pada akhirnya ia benar-benar sedang hamil. Eden kemudian segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Laila, ia ingin membuat janji dengan Laila besok di rumah sakit, agar wanita itu memeriksanya.


            “Halo, Laila apa kau sedang sibuk?” tanya Eden dengan suara lemah. Laila yang mendengar suara lemah Eden di seberang telepon tampak mengernyitkan dahinya bingung. Tidak biasanya Eden akan bersikap seperti itu ketika berbicara padanya, karena bisanya Eden selalu bersikap menggebu-gebu saat bertemu dengannya bersama Olivia. Ini sungguh tidak biasa, batin Laila curiga.


            “Ed, ada apa? Suaramu terdengar sangat lemah. Apa kau sakit?”


            Eden terlihat mengangguk kecil di dalam kamarnya sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hari ini ia benar-benar merasa lemas dan tak bertenaga. Untung saja hari ini Aciel sudah pulang, sehingga pria itu dapat membantunya untuk mengurus Ciara dan Louise yang sangat aktif itu.


            “Aku sakit, tapi kata Aciel aku baik-baik saja. Maksudnya aku tidak demam setelah Aciel mengukur suhu tubuhku menggunakan thermometer. Tapi aku merasa mual dan pusing. Menurutmu apa aku hamil?” tanya Eden mulai was-was. Dalam hati ia terus berdoa agar Laila tidak mengatakan ya, karena itu akan sangat gawat sekali untuknya.


            “Kau tidak meminum obat yang kuberikan padamu?” tanya Laila curiga. Eden merasa bingung untuk menjelaskan pada Laila. Wanita itu pasti justru akan menyalahkannya jika ia tahu yang sebenarnya.


            “Aku.... meminumnya.” jawab Eden tak yakin. Laila terdengar menghela napas lega di seberang sana sambil tersenyum bahagia. Ia sangat yakin jika Eden tidak akan hamil lagi jika wanita itu mengaku telah meminum obat yang diberikannya seminggu yang lalu.


            “Syukurlah. Kalau begitu kau tidak akan mungkin hamil, kecuali...”


            “Tapi aku baru meminumnya tiga hari yang lalu.” potong Eden cepat. Tiffany lantas menghentikan kalimatnya di udara sambil menganga tak percaya. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Eden yang tak bisa ditebak itu. Seminggu yang lalu wanita itu merengek-rengek meminta padanya untuk diberikan suntikan atau obat agar ia tidak cepat-cepat hamil. Tapi sekarang wanita itu justru tidak menuruti nasihatnya untuk meminum pil itu. Selain itu, Eden juga tidak membicarakan hal ini pada Aciel terlebihdahulu, sehingga Laila juga sedikit takut jika nantinya Aciel akan marah pada Eden. Apalagi seminggu yang lalu ia juga turut membantu Eden untuk membohongi Aciel dengan mengatakan pada pria itu jika Eden datang ke rumah sakit hanya untuk meminta vitamin. Padahal Eden sama sekali tidak meminta vitamin, wanita itu justru meminta obat untuk mencegah kehamilan. Ck, ia pasti akan terkena imbasnya juga nantinya.


            “Kau baru meminumnya? Lalu, apa kalian melakukannya?”


            “Emm, ya. Malam hari setelah aku menemuimu untuk meminta obat itu.” jawab Eden pelan. Laila memutar bola matanya jengah sambil bertopang dagu. Jika seperti ini, obat yang diberikannya tidak akan efektif. Eden kemungkinan besar akan tetap hamil karena wanita itu tidak langsung meminumnya. Akhir-akhir ini Olivia juga bercerita padanya jika Aciel sangat ingin memiliki anak lagi semenjak ia melahirkan seorang bayi perempuan yang lucu. Lalu sebulan yang lalu Eden dipaksa Aciel untuk melepas alat kontrasepsinya agar mereka bisa memiliki anak lagi. Jadi sekarang Laila hanya bisa berharap, semoga Eden benar-benar hamil sebelum Aciel mengetahui kebohongan wanita itu.


            “Kalau begitu besok kau harus datang ke rumah sakit untuk tes urine. Mungkin saja kau memang hamil.” ucap Laila santai. Seketika Eden merasa semakin lemas dan tak bertenaga. Ia belum siap  untuk memiliki anak lagi. Ia terlalu repot untuk mengurus Louise, hingga sekarang berat badannya semakin turun dan turun.


            “Ahh, percuma saja aku meminta obat darimu jika pada akhirnya aku hamil lagi. Tolong rahasiakan semuanya dari Aciel, ia akan marah besar jika ia tahu aku memiliki pil itu. Dan tenju saja jangan katakan apapun pada Olivia, karena Olivia pasti akan bercerita pada Sian, dan Sian pasti akan mengadukannya pada Aciel.” gerutu Eden malas.


            “Tentu. Aku tidak akan mengatakan apapun pada Olivia, bahkan suamimu. Ah, Laurel menangis, sepertinya aku harus menutup teleponnya sekarang, apa kau tidak keberatan?”


            “Tentu saja tidak. Terimakasih banyak atas bantuannya. Selamat bersenang-senang.”

__ADS_1


            Eden kemudian menutup sambungan teleponnya sambil menelungkupkan kepalanya di atas bantal. Ia kemudian melemparkan ponselnya ke sembarang tempat dengan wajah yang masih ia benamkan di dalam bantal. Sungguh ia merasa kesal dengan kebodohannya sekarang. Seharusnya ia tidak perlu merasa ragu dan langsung meminum obat itu. Jika sekarang ia hamil lagi, maka ia tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima bayi itu dengan suka cita. Bagaimanapun juga, memiliki seorang bayi adalah karunia dari Tuhan. Jika ia dipercaya oleh Tuhan untuk menjaga seorang malaikat lagi, itu berarti Tuhan menyayanginya dan senantiasa memberikan limpahan karunia kepada keluarganya. Eden kemudian menghela napas kecil sambil menyingkap selimut merahnya pelan. Setelah ini ia benar-benar harus menyiapkan mental untuk menerima keadaanya. Apapun yang terjadi, ia akan selalu siap.


__ADS_2