Black Swan

Black Swan
New Life (One Hundred Fourty One)


__ADS_3

            Olivia tampak sedang menuruni anak tangga sambil menopang pinggangnya yang terasa mulai berat. Hari ini lagi-lagi Scout membawanya pindah dari rumah mereka sebelumnya. Berkali-kali ia mengatakan pada Scout jika ia lelah, tapi pria itu selalu tidak pernah meresponnya dan langsung membawanya pergi dari rumah-rumah yang nyaman itu.


            Sekarang ia menempati rumah baru lagi yang berada di Dallas, Texas. Meskipun ia cukup heran mengapa tiba-tiba Scout membawanya ke sebuah rumah yang berada di tengah-tengah distrik terelit di Texas, tapi ia akui ia menyukai rumah ini. Selama ini Scout selalu membawanya ke sebuah rumah biasa yang berada di kawasan pedesaan Amerika. Pria itu jarang membawanya ke sebuah rumah yang sangat elit seperti ini. Pria itu lebih suka membawanya ke daerah sepi yang akan sulit untuk dilacak oleh Sian dan juga anak buahnya.


            Ngomong-ngomong mengenai suaminya, Olivia nyaris lupa dengan semua hal mengenai Sian. Pikiran


tentang Sian akhir-akhir ini tidak muncul di otaknya. Ia justru lebih sibuk memikirkan Scout yang sering menghilang di siang hari dan baru akan pulang larut malam. Terkadang ia ingin menanyakan kegiatan pria itu di rumah, namun


pada akhirnya ia lebih memilih diam sambil menyimpan semua pertanyaan itu di dalam otaknya. Tidak akan ia biarkan dirinya terlibat emosi terlalu jauh dengan Scout. Jika waktu telah tiba nanti, ia akan melupakan pria itu dan kembali mengisinya dengan bayangan Sian yang baik hati dan juga tampan.


            Merasa bosan, Olivia kemudian mulai berjalan ke ruang depan karena saat ia datang ke rumah ini, ia merasa tertarik dengan sebuah foto yang berada di ruang depan. Ia merasa foto itu mirip dengan Scout.


            “Itu adalah foto tuan Scout saat masih berusia dua belas tahun.”


            Tiba-tiba Wills telah berdiri di sebelahnya sambil menatap dalam pada foto besar yang terpajang di depannya. Olivia yang merasa heran dengan ucapan pria itu langsung menoleh penuh minat pada Wills untuk mendengar cerita lengkap dari pria itu.


            “Jadi..”


            “Ya, ini adalah rumah pribadi tuan Scout. Peninggalan keluarganya.” tambah Wills menjelaskan. Pria itu kemudian membawa Olivia untuk duduk di salah satu sofa yang berada di ruangan itu untuk menceritakan semua masa lalu Scout pada Olivia. Semua masa lalu Scout yang tidak pernah diungkap oleh pria itu padanya.


            “Jadi ini benar-benar rumahnya? Hmm, pantas rumah ini sangat bagus.” komentar Olivia dengan dahi berkerut. Pandangan matanya langsung memutari ruangan itu untuk mengamati setiap foto yang dipajang di sana. Sepertinya saat memasuki rumah ini tadi pagi, ia terlalu lelah dan mengantuk, sehingga ia sama sekali tidak sadar dengan semua foto-foto yang terpajang di sana.


            “Rumah ini adalah rumah tempat tuan Scout menghabiskan masa kecilnya.”


            “Tunggu, mengapa kau tahu jika rumah ini adalah rumah Scout sejak kecil, sedangkan umurmu sepertinya sama dengannya.” tanya Olivia heran. Wills tampak tersenyum aneh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pria itu tampak sedikit canggung untuk menjawab pertanyaan Olivia.


            “Karena sejak kecil saya tinggal di rumah ini, saya adalah anak dari supir mr. Voyage, ayah tuan Scout.”


            “Oh, pantas saja kau sangat mengetahuinya. Awalnya kupikir kalian adalah sepasang kekasih. Karena sepertinya Scout sangat bergantung padamu.” canda Olivia dengan cengiran kecil. Tidak buruk juga menghabiskan waktu dengan bergosip bersama Wills. Ia pria yang sangat menarik dengan wawasan luas dan wajah tenang. Berkali-kali Olivia merasa jika Wills memiliki rasa kasih sayang yang sangat tulus untuk semua penghuni rumah ini.


            “Kekasih? Apakah kami terlihat seperti itu? Saya tidak mungkin menjadi kekasihnya, saya pria normal. Selain itu tuan Scout adalah pria yang sangat kaku. Ia adalah pria berdarah dingin dan juga seorang pembunuh bayaran.”


            Olivia menatap terkejut pada Wills sambil melebarkan matanya yang bulat dengan pandangan tak percaya.


            “Jadi selama ini aku tidur dengan seorang pembunuh? Oh Ya Tuhan, dan aku juga mengandung bayinya. Benar-benar sulit dipercaya.” balas Olivia berlebihan. Wills tertawa keras mendengar tanggapan Olivia yang sangat diluar perkiraannya itu. Ia pikir Olivia akan takut atau bergidik ngeri, tapi wanita itu justru berteriak-teriak dengan kata-kata konyolnya yang menggelikan.


            “Tuan Scout sudah menjadi pembunuh sejak lima tahun terakhir. Awalnya tuan Scout hanya ingin mempelajari tekhnik-tekhnik bela diri dan tekhnik menggunakan senjata. Tapi sejak mr dan mrs Voyage meninggal, tuan Scout menjadi pria dingin yang selalu dirundung kesedihan.”


            “Kenapa aku tidak melihat itu saat pertama kali bertemu dengannya. Ia lebih terlihat menyebalkan.” potong Olivia menyebalkan. Tatapan tajam Wills langsung mengarah padanya. Dan Olivia hanya menunjukan cengiran kecil sambil memberi kode agar Wills segera melanjutkan ceritanya.


            “Hanya senjata-senjata yang bisa mengalihkan rasa sedihnya dari kematian tragis kedua orangtuanya. Lalu tuan Scout mulai memutuskan untuk melampiaskan kemarahannya dengan berlatih menembak. Sejak dulu kemampuan menembaknya sangat baik, hingga terkadang saya merasa ngeri setiap mengantarkan minuman ke dalam ruang berlatih menembak tuan Scout.”


            “Di rumah ini ada ruangan seperti itu?” tanya Olivia penuh keterkejutan. Wills kemudian mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Olivia. Sedangkan Olivia sendiri tampak terlihat lemas dengan semua fakta yang baru saja diketahuinya. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa ia akan berurusan dengan seorang pembunuh


berdarah dingin seperti Scout. Ia pasti saat itu benar-benar sial karena harus mendapatkan nasib yang sangat mengerikan seperti ini.


            “Lalu siapa orang pertama yang dibunuhnya?” tanya Olivia lagi. Wills tampak mengingat sebentar sambil mengetuk-ngetukan jarinya di lengan kursi. Sungguh ia lupa siapa saja yang pernah menjadi target tuannya itu, karena selama ini ia tidak pernha bertanya langsung pada Scout. Ia hanya mencuri dengar dari percakapan Scout dengan Xaner.


            “Sepertinya menteri perhubungan Korea. Kalau saya tidak salah ingat, saat itu tuan Scout menerima perintah dari seorang pengusaha yang memiliki dendam pada Kang Jimin karena menteri itu tidak mau membantu perusahaannya untuk mendirikan anak perusahaan di luar negeri.”

__ADS_1


            “Hanya karena itu Kang Jimin dibunuh? Benar-benar sangat mengerikan. Aku tidak mau mendengar cerita mengenai pekerjaan membunuhnya. Ceritakan aku cerita yang lain yang berhubungan dengan Scout, seperti kekasihnya, makanan kesukaannya, teman kecannya, atau hal lain selain reputasi membunuhnya. Tiba-tiba aku merasa mual dengan cerita-ceritamu, pasti anakku juga tidak suka mendengar cerita mengenai ayahnya yang seperti itu.” ucap Olivia malas. Wills tersenyum penuh arti pada Olivia ketika mendengar wanita itu menyebut bayi yang berada di dalam kandungannya sebagai anaknya dan juga menyebut Scout sebagai ayahnya. Secara tidak langsung, Olivia baru saja mengakui jika bayi itu adalah anaknya dan juga Scout. Karena selama ini Olivia tidak pernah mengakui anak itu sebagai anaknya, dan hanya menganggap anak itu sebagai anak dari Scout saja. Olivia yang melihat Wills yang tampak tersenyum aneh di depannya langsung memukul lengan pria itu dengan keras agar pria itu tidak terus menerus tersenyum aneh sambil menatap wajahnya.


Plakk


            “Apa yang kau tertawakan?” tanya Olivia galak. Wills benar-benar merasa kaget dan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


            “Tidak, bukan apa-apa. Tuan Scout selama ini tidak pernah memiliki kekasih, anda adalah wanita pertama yang dibawa tuan Scout ke rumah ini dan juga wanita pertama yang mengandung anaknya.”


            “Hmm, jadi apakah aku harus tersanjung setelah mendengar hal itu? Tentu kau tidak lupa bagaimana ini semua bisa terjadi kan?” tanya Olivia dengan nada sakarstik. Wills menganggukan kepalanya paham sambil tersenyum lembut pada Olivia.


            “Tentu saja saya ingat nona. Tapi selama anda berada di sini tuan Scout selalu memperlakukan anda dengan baik.”


            “Ya, dia melakukannya karena bayi ini, bukan karena aku. Sebaiknya kita membahas hal lain saja. Apa Scout suka meniduri wanita-wanita murahan, seperti seorang *******?”


            “Entahlah, itu bukan wewenang saya. Yang jelas tuan tidak pernah membawa wanita lain ke rumah ini selain anda.”


            Tentu saja, batin Olivia keras. Kekasih-kekasih Scout pasti tidak sampai hamil sepertinya. Jadi untuk apa Scout harus membawa mereka ke rumahnya. “Yah, tidak membawa wanita lain ke rumah ini bukan berarti dia tidak meniduri wanita-wanita murahan di luar sana kan? Ah, pembicaraan ini membuatku bosan. Apa kau tidak memiliki informasi lain yang lebih berbobot?”


            “Saya.. sepertinya tidak. Nona, saya masih memiliki pekerjaan lain. Selamat malam.”


            Tiba-tiba saja Wills pergi begitu saja dengan langkah cepat yang terlihat terburu-buru. Merasa heran, Olivia kemudian menolehkan kepalanya ke kanan, arah yang sebelumnya dilirik oleh Wills sebelum ia berlari terbirit-birit. Dan betapa terkejutnya Olivia saat ia menemukan Scout sedang berdiri di sebelahnya dengan baju berwarna hitam-hitam dan sebuah sarung tangan hitam. Pria itu tampak berdiri kaku sambil menatap wajahnya datar.


            “Ssscout, apa yang kau lakukan?” tanya Olivia tergagap. Pria itu tiba-tiba mendudukan dirinya di sebelahnya, membuat sofa putih yang sedang diduduki oleh Olivia langsung melesak turun dan membuat Olivia sedikit merasa kesempitan.


            “Kau bisa duduk di sana, kenapa kau harus meringsek di sebelahku? Kau membuat perutku terhimpit.”


            “Ini rumahku dan sofaku, aku bebas duduk dimana saja. Apa yang kalian bicarakan? Wills pasti terlalu banyak berbicara tentangku.” ucap Scout dingin. Olivia menatap wajah pria itu lekat sambil menyentuh wajah Scout yang dingin.


            “Aku baru saja membunuh mr. Donahue dan istrinya.” Scout menatap wajah Olivia lekat-lekat, dan ia sama sekali tidak terkejut saat Olivia ternyata sama sekali tidak terkesan dengan kata-katanya. Scout tidak menemukan wanita itu meringkuk ketakutan karena saat ini sedang berbicara dengan seorang pembunuh.


            “Oh. Jadi mereka sudah mati. Hmm, aku tidak terkejut.” komentar Olivia tanpa ekspresi. Merasa aneh, Scout kemudian mengamati wajah Olivia lekat-lekat dan mencari raut sedih di sana, tapi ia sama sekali tak menemukannya di sana. Justru wanita itu balas menatapnya dengan tatapan datar yang sama dengannya. Ada apa dengan wanita ini?


            “Kenapa? Aku tidak merasakan ketakutan apapun jika itu yang sedang kau cari dari wajahku. Semuanya hilang begitu saja dari diriku setelah kau menculikku. Kurasa semakin lama perasaanku semakin tumpul.” kekeh Olivia garing. Ia sama sekali tidak merasa lucu dengan candaannya sendiri.


            “Baguslah kalau begitu. Aku juga tidak mengharapkannya darimu. Apa kau sudah makan?”


            “Sudah, Wills selalu merawatku dengan baik.”


            “Hmm, kau sudah meminum susumu?” tanya Scout lagi. Olivia menggeleng pelan sambil menatapnya dengan matanya yang bulat, membuat Scout cukup risih dengan tatapan itu.


            “Singkirkan matamu dari wajahku. Kau tidak perlu menatapku seperti itu jika kau ingin aku membuatkan susu untukmu.” ucap Donghae gusar. Entah mengapa ia tidak suka dengan mata bulat Olivia yang selalu menatapnya dengan tatapan memohon saat ia memintanya untuk membuatkan susu khusus ibu hamil. Saat itu Olivia beralasan jika susu buatannya enak, sehingga ia tidak mau ada orang lain yang membuatkannya. Pernah suatu hari Scout harus pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya selama tiga hari, dan selama itu Olivia tidak pernah meminum susunya karena Scout tidak ada di rumah untuk membuatkannya susu. Benar-benar manja.


            “Kalau begitu buatkan sekarang, dan aku akan langsung meminumnya karena aku sedang haus.”


            “Ayo, aku akan membuatkannya sekarang.”


            Scout bangkit dari duduknya dan segera melangkah pergi meninggalkan Olivia sendirian yang masih mencoba untuk berdiri karena pinggangnya yang terasa pegal. Sejak kehamilannya memasuki bulan ke enam, jika ia duduk terlalu lama, pinggangnya pasti akan terasa pegal saat ia menggunakannya untuk bangkit dari posisi duduk menjadi berdiri. Dan ia merasa kesal akan hal itu, karena ia menjadi sangat lamban dan harus menyesuaikan diri untuk beberapa saat sebelum benar-benar dapat berjalan.


            “Perlu bantuan?”

__ADS_1


            Olivia berjengit kaget di tempatnya saat melihat Scout yang tiba-tiba berada di sampingnya. Padahal beberapa saat yang lalu pria itu sudah berjalan pergi meninggalkannya, tapi tiba-tiba saja pria itu sudah muncul di sebelahnya sambil merangkul tubuhnya dengan lengan kanannya yang kekar.


            “Aku hanya perlu sedikit menyesuaikan diri, kau tenang saja. Di kehamilanku yang pertama, aku sama sekali tidak merasakan hal seperti ini. Kau terlalu memanjakanku di sini.” ucap Olivia sedikit tidak nyaman.


            “Kau memiliki suami yang selalu siaga mendampingimu saat kehamilan pertama, tidak sepertiku yang sering memiliki urusan di luar rumah.”


            Scout berceloteh panjang lebar sambil terus membantu Olivia berjalan. Dan hal itu sukses membuat jantung Olivia berdebar-debar. Selama ini ia tidak pernah berada di jarak yang sedekat ini dengan Scout selain di atas ranjang. Itupun mereka saling memunggungi dan tidak pernah berhadap-hadapan. Tapi ini terasa berbeda. Sekali lagi ia merasa ada yang aneh dengan kedekatannya dengan Scout.


            “Darimana kau tahu jika Sian selalu ada untukku?”


            “Kalian terlihat saling mencintai.”


            “Memang. Tapi kurasa itu karena Sian adalah pria pertama yang datang untuk mengulurkan tangan di depanku. Aku tidak pernah mengenal seorang priapun hingga mencapai usia dua puluhan. Jadi aku tidak pernah tahu jika setiap pria memiliki karakteristik dalam memperlakukan seorang wanita.”


            “Jangan katakan jika hatimu goyah selama tinggal bersamaku.”


            Sejujurnya Olivia ingin mengatakan ya di depan Scout. Hatinya praktis goyah karena perhatian Scout yang begitu berbeda dari Sian. Jika bersama Sian ia hanya akan menjadi wanita polos yang terlalu lembut. Namun saat bersama Scout ia ternyata dapat mengeluarkan sisi lain dari dirinya yang selama ini telah terkubur rapat di hatinya karena rasa rendah diri yang menderanya bertahun-tahun. Sudah lama sekali ia tidak merasakan rasa percaya diri, keangkuhan, dan kesombongan karena merasakan dunia ada di dalam genggamannya.


            “Jadi selama ini kau adalah pembunuh?” tanya Olivia merubah topik pembicaraan mereka. Pertanyaan itu mengalun begitu saja dari bibir Olivia setelah sebelumnya ia tengah berperang dengan batinnya karena ketidaknyamanan tubuhnya yang terlalu dekat dengan Scout. Rasanya ia hanya ingin mendengar jawaban langsung dari pria itu terkait dengan hobinya yang sangat mengerikan. Dan lagi, ia juga ingin memastikan apakan setelah ini pria itu akan membunuhnya, mengingat hari kelahiran bayinya sudah dekat. Dan pria itu tidak akan membutuhkannya lagi untuk menjaga bayinya.


            “Ya, bisa dibilang begitu. Wills pasti telah menceritakan semuanya padamu, masa laluku, dan masa kelamku.”


            “Tidak semuanya, ia hanya menceritakan bagian yang ia ketahui. Tapi sepertinya ada banyak hal yang kau sembunyikan dari orang-orang di sekitarmu, dan aku ingin mengetahuinya. Apa aku boleh...”


            “Apa yang ingin kau ketahui dariku?” potong Scout langsung. Pria itu seperti sedang menurunkan benteng pertahanannya untuk Olivia. Dan pria itu pasti tidak akan melakukan hal itu lagi di lain waktu.


            “Apa alasanmu melakukan hal itu?”


            “Karena aku menikmatinya.”


            “Tidak, kau tidak menikmatinya. Kau bohong.” Tuduh Olivia telak. Scout melepaskan rangkulan tangannya dari tubuh Olivia dan langsung menatap manik karamel Olivia dengan gusar.


            “Atas dasar apa kau menuduhku berbohong. Aku sudah memberimu kesempatan untuk menanyakan semua pertanyaan yang bersarang di benakmu, jadi jangan menuduhku sesuka hatimu seperti itu.”


            “Tapi kau benar-benar berbohong. Kau tidak menikmatinya, kau sebenarnya justru merasa sakit dan ingin orang lain juga merasakan kesakitan yang kau rasakan. Dan sampai saat ini pun kau masih merasakan rasa sakit itu.”


            Olivia menatap kaku Scout yang terlihat menyedihkan. Untuk pertama kalinya Olivia dapat melihat raut kesakitan yang dipancarkan oleh Scout dengan jelas. Ia tahu jika sebenarnya alasan Scout melakukan pekerjaan membunuh itu karena ia ingin menyalurkan rasa sakit yang menderanya pada orang lain. Ia ingin rasa sakitnya


juga ikut pergi bersama dengan rasa sakit yang dirasakan oleh orang-orang yang dibunuhnya. Tapi rasa sakit itu tidak bisa pergi. Rasa sakit itu justru mengendap semakin dalam di hatinya dan mengkristal di dalam sana, menciptakan sebuah dendam yang begitu besar dan ambisi untuk menyakiti si pemberi kesakitan yang telah menuangkan kesakitan itu di dalam hatinya.


            “Hahaha, kau benar.”


            Scout tertawa hambar di depan Olivia dengan wajah pesakitannya yang mengenaskan. “Aku memang tidak suka melihat orang lain bahagia saat aku merasa tidak bahagia. Dan kalian menunjukan rasa bahagia itu di depanku saat aku datang untuk makan malam di rumah kalian.”


            Olivia yang melihat hal itu tiba-tiba merasa iba dan langsung berinisiatif untuk menggenggam tangan Scout. Ia merasa memiliki nasib yang sama dengan Scout. Bersyukur ia mengalami amnesia kanak-kanak, sehingga ia tidak perlu menyimpan dendam yang begitu besar di hatinya seperti Scout. Mungkin jika ia tidak mengalami amnesia kanak-kanak, hidupnya pasti akan lebih menyakitkan daripada apa yang dirasakan oleh Scout.


            “Aku juga pernah merasa sakit di masa lalu. Pembunuhan orangtuaku itu meninggalkan luka yang besar. Tapi karena aku tidak bisa mengingat semuanya dengan jelas, dan hanya mendapatkan rasa sakit dari kedua mataku yang saat itu nyaris buta, jadi aku tidak pernah berambisi untuk melakukan balas dendam.”


            “Rasa sakit itu memang tidak pernah hilang dan justru semakin parah membelengguku. Tapi setidaknya aku telah membunuh orang-orang keparat yang telah membuatku menjadi seperti ini. Mereka telah membawa rasa sakitku pergi ke neraka, aku tidak akan merasa sakit lagi. Dan aku juga telah merenggut sebagian kebahagiaan yang dimiliki Sian, sehingga ia tidak bisa lagi berbahagia atas hidupnya.”

__ADS_1


            “Semua itu tergantung padamu.”


            Tanpa aba-aba, Olivia langsung memajukan wajahnya untuk mencium bibir Scout. ******* lembut itu mengirimkan getar-getar ketulusan pada jiwa kosong Scout, membuat pria itu akhirnya membalas ******* Olivia dengan ******* yang sama lembutnya dengan wanita itu. Meskipun ia tidak tahu apa maksud wanita itu menciumnya, tapi semua ini sudah cukup untuk menghangatkan hatinya yang beku. Wanita itu berhasil merubuhkan dinding egonya yang sangat kuat dan kokoh dengan ketulusan dan kecerewetannya yang menyebalkan. Dan wanita itu berhasil membuatnya berdebar hanya dengan sebuah ciuman.


__ADS_2