Black Swan

Black Swan
Don't Leave Me (One Hundred Twelve)


__ADS_3

            Ditengah cuaca Kota Vegas yang terik dan panas, Nathan sedang mengerjakan tugas-tugas kantornya yang menggunung sambil sesekali merentangkan tangannya ke udara guna melemaskan otot-otot tangannya yang kaku. Semenjak ia kembali dari studinya di Belanda, karir dokter dan bisnis sampingannya semakin berkembang pesat. Tak heran jika saat ini ia telah menjadi dokter bedah kaya raya dengan karir cemerlang di dunia kedokteran dan juga dunia bisnis jaringan cafe yang tersebar di seluruh negara bagian Nevada. Namun tak pelak kesuksesannya itu membuatnya cukup merasa sedih dan cenderung tidak bahagia. Meskipun saat ini ia telah memiliki harta yang lebih dari cukup, tapi tetap saja kebahagiaannya itu tidak akan lengkap tanpa kehadiran istri atau keluarga kecil yang akan memberikannya dukungan saat ia merasa lelah atau jenuh dengan semua rutinitasnya yang menjemukan.


            “Laila..” Nathan bergumam kecil pada foto manis Laila yang ia letakan di atas mejanya. Foto itu adalah foto Laila yang ia ambil tiga tahun yang lalu saat mereka sedang berkencan di Menara Eiffel. Mengingat saat-saat masa lalu yang bahagia membuat Nathan merasa sedih dan ingin menumpahkan seluruh emosinya yang selama ini ia tahan mati-matian dengan seluruh kesibukan yang ada. Dulu meskipun ia tidak memiliki harta yang berlimpah, tapi ia memiliki cinta dari Laila.


            Saat itu hubungannya dengan Laila bisa dikatakan tidaklah sepadan. Laila adalah anak dari seorang dokter terkenal yang kaya raya, sedangkan dirinya hanyalah anak dari seorang pegawai biasa dan tidak memiliki harta yang bergelimang seperti Laila, namun yang perlu disyukuri, ia memiliki otak yang cerdas.


            Awalnya ia bisa bertahan dengan berbagai macam cibiran yang dilayangkan oleh orang-orang padanya. Namun seiring berjalannya waktu ia merasa jengah dan juga panas dengan semua cibiran itu. Lalu puncaknya adalah saat mereka menikah, beberapa kerabat Laila sering menyindirnya sebagai pria biasa yang hanya bekerja sebagai dokter umum biasa yang belum memiliki gelar yang wah seperti yang kerabat dekat Laila harapkan darinya. Merasa gerah dengan semua penghinaan itu, akhirnya ia memutuskan untuk memusatkan seluruh atensinya pada karir yang ingin ia capai sebagai pembuktian pada ayah dan ibu angkat Laila yang selama ini sering meremehkannya dan memandang rendah dirinya. Setiap hari ia selalu mencoba menjadi yang terbaik di rumah sakit agar ia bisa mendapatkan kenaikan promosi untuk menjadi dokter spesialis. Lalu suatu hari ia pimpinan rumah sakit memanggilnya dan menawarkan sebuah beasiswa untuk mengambil kuliah dokter spesialis bedah di Belanda. Tentu saja kesempatan itu dimanfaatkan Nathan dengan sebaik-baiknya karena  sejak awal tujuannya adalah untuk mendapatkan beasiswa dari rumah sakit tempatnya bekerja. Namun hal itu tentu saja membuat hidup Nathan menjadi lebih sibuk karena sebelum keberangkatannya ke Belanda ia harus mengurus banyak berkas-berkas administrasi yang dibutuhkan. Belum lagi lama masa kuliahnya yang akan memakan waktu selama dua tahun membuatnya akan menjalani kehidupan jarak jauh dengan istirnya. Dan semuanya menjadi buruk ketika Laila mulai mengeluh dengan sikapnya yang selalu dingin dan sedikit kasar ketika berada di rumah. Sejujurnya Nathan sangat ingin mengatakan yang sesungguhnya pada Laila, tapi ia takut itu justru akan membuat Laila merasa tidak enak padanya karena seluruh kerja keras yang ia lakukan saat itu semata-mata adalah untuk membungkam mulut besar keluarga Laila. Ia kemudian memilih untuk memendam semua itu sendiri dan membiarkan Laila berspekulasi sendiri terhadap kesibukannya selama ini.


            “Laila, aku sangat menyesal karena telah menyia-nyiakanmu selama ini. Kupikir dengan memiliki banyak materi kehidupanku akan semakin bahagia karena terbebas dari sikap sinis keluargamu, tapi ternyata aku salah, harta bukanlah segalanya. Harta justru membuatku merasa kesepian dan tidak berarti. Aku merindukan saat-saat kebersamaan kita dulu, Lai, yang meskipun sederhana tapi kita saling memiliki satu sama lain.” gumam Nathan serak sambil memandangi foto cantik Laila yang sedang tersenyum manis ke arahnya. Pria itu tiba-tiba mendapatkan ide dan ia langsung menyambar mantel coklatnya yang tersampir di atas sofa. Hari ini ia memiliki ide untuk membawa Laila kembali kedalam pelukannya.


            Laila, aku akan memperbaiki semuanya....


-00-


            “Huh, akhirnya pekerjaanku selesai juga. Ya Tuhan, hari ini sungguh melelahkan.” gumam Laila kecil sambil membereskan data-data pasiennya yang berserakan di atas meja. Wanita cantik itu kemudian melepas jas putihnya dan bergegas keluar untuk pergi ke restoran terdekat bersama dengan rekan-rekannya yang lain.


            Di depan pintu, Laila berpapasan dengan Stella dan Marion yang sedang berjalan ke arahnya sambil berbincang-bincang asik. Laila yang melihat kehadiran kedua sahabatnya langsung melambaikan tangannya cepat ke arah Stella dan Marion.


            “Laila, hari ini kau tampak lebih ceria. Apa kau sudah menyelesaikan masalahmu dengan calon suamimu itu?” tanya Stella membuka percakapan. Laila mendengus malas ketika Stella mulai mengingatkannya pada Mack yang kemarin telah membatalkan rencana pernikahan mereka. Padahal ia pikir Mack adalah sosok pria yang tepat untuknya. Selain Mack adalah pria yang perhatian, Mack juga tidak pernah mempermasalahkan mengenai statusnya yang sudah pernah menikah sebelumnya, sehingga Laila merasa nyaman berada di dekat Mack. Namun sayangnya mantan suaminya yang menyebalkan itu telah mengacaukan semuanya. Pria itu telah membuatnya kehilangan kesempatan untuk membina rumah tangganya lagi bersama pria yang lebih baik.


            “Ck, kau tidak usah membalasnya lagi. Semalam Mack telah membatalkan semuanya dan memintaku untuk jangan menghubunginya lagi. Kupikir ia pria yang baik, ternyata ia sama brengseknya


dengan pria menyebalkan itu.” sungut Laila kesal. Stella dan Marion merasa prihatin dan juga merasa geli disaat yang bersamaan. Sebenarnya mereka ingin tertawa karena ekspresi wajah Laila yang sangat lucu menurut mereka, tapi mereka juga prihatin dengan nasib cinta Laila yang sejak wanita itu bercerai tak kunjung mendapatkan pria pengganti yang benar-benar tepat untuk dirinya. Justru sang mantan suami yang sering mengganggu kehidupannya hingga membuat Laila geram dan stres.


            “Mungkin Mack memang bukan pria yang tepat untukmu. Bersyukurlah karena mantan suamimu yang tampan itu berhasil mengacaukannya.” timpal Marion ringan dengan cemgiran tanpa dosanya. Laila melotot tajam pada Marion dan berniat akan memarahinya, namun sebelum hal itu terjadi Stella sudah terlebihdahulu menarik lengannya dan menyuruhnya untuk melihat ke arah pintu lobi rumah sakit yang baru saja terbuka.


            “Laila lihatlah, mantan suamimu datang.” bisik Stella sambil menarik-narik kemeja Laila. Wanita itu langsung menoleh ke arah telunjuk Stella sambil memutar bola matanya jengah.


            “Mau apa lagi pria itu datang ke sini? Ck, dia memang pria yang sangat keras kepala.” ucap Laila kesal. Refleks ia menghentikan langkahnya dan merasa malas berjalan ke restoran terdekat. Padahal beberapa menit yang lalu ia merasa sangat lapar dan ingin segera terbang ke restoran beef burger yang berada di samping rumah sakit, tapi saat pria itu datang, seluruh selera makannya tiba-tiba menghilang dan ia menjadi tidak lapar sama sekali.


           “Kalian pergilah, aku akan kembali ke ruanganku.”


            Stella cepat-cepat menarik tangan Laila yang hendak berbalik pergi ke ruangannya.


            “Kau tidak jadi makan bersama kami?”


            “Selera makanku tiba-tiba menghilang, kalian pergilah sendiri, tidak perlu mengkhawatirkanku.”


            “Kami memang tidak mengkhawatirkanmu, tapi mantan suamimu yang tampan itu pasti sangat mengkhawatirkanmu. Lihat, ia sedang berjalan kemari.” timpal Marion sambil berbisik-bisik ribut di sebelah Laila. Laila cepat-cepat berbalik pergi menuju ruangannya untuk menghindari Nathan, tapi pria itu rupanya telah membaca gelagat Laila yang hendak kabur menghindarinya, sehingga ia dengan gerakan cepat langsung berlari mengejar Laila yang saat ini juga tengah berlari dengan panik menuju lift terdekat.


            “Tttunggu, biarkan aku masuk. Tolong jangan tutup liftnya.”


            Laila berteriak kencang pada seorang petugas cleaning service yang hendak menutup pintu lift yang ditumpanginya. Melihat Laila yang tengah berlari-lari panik ke arahnya, pria muda itu segera membuka liftnya kembali dan membiarkan Laila masuk ke dalam lift bersamanya.


            “Hoshh hosh hosh, terimakasih. Sekarang cepat tutup pintunya.”


            Pria itu mengangguk kecil dengan perintah Laila dan langsung menekan tombol tutup pada sisi pintu lift. Namun ketika lift hendak menutup sepenuhnya, sebuah kaki tiba-tiba menyelip diantara pintu dan membuat lift itu terbuka kembali.

__ADS_1


            “Maaf, tapi aku juga ingin masuk.”


            Seketika Laila langsung melotot


sebal pada Nathan yang saat ini sedang berdiri santai di sebelahnya. Pria itu tampak menyeringai licik di sebelahnya sambil menunjukan kotak makan yang ia genggam di tangan kanannya.


            “Makan siang untukmu dokter Stanford.”


            “Selamat siang dokter Nathan.”


            Nathan segera mengangguk kecil pada Roby, si cleaning service yang saat ini sedang berdiri canggung disekitar pasangan fenomenal yang cukup terkenal di rumah sakit tempatnya bekerja.


            Laila mendorong keras tubuh Nathan dan membuat pria itu sedikit menabrak tubuh kecil Roby yang berada di sebelahnya. Beruntung pria itu dapat mempertahankan keseimbangannya sehingga kotak makan yang ia bawa tidak jatuh ke atas lantai dan terbuang sia-sia.


            “Kau sengaja melakukannya, bagaimana jika makanan ini jatuh? Kau benar-benar wanita ceroboh. Kau harus memperbaiki kelakuanmu sebelum kau memutuskan untuk menikah dengan pria lain.” cibir Nathan menyebalkan. Laila bersungut-sungut di ujung belakang lift sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dalam hati ia sibuk meruntuki nasib sialnya hari ini yang harus bertemu dengan Nathan lagi. Padahal kemarin ia telah memaki-maki pria itu dan sengaja membuat pria itu terluka, tapi semua kata-kata menyakitkan itu sepertinya tidak diserap oleh telinga Nathan dengan baik.


Ting


            Lift berdentang nyaring ketika tiba di lantai empat. Dengan acuh Laila langsung melangkah melewati dua pria yang sedang berdiri berseberangan di dekat pintu lift. Melihat Laila yang berjalan keluar, Nathan segera mengekor di belakang Laila sambil sesekali merapikan penampilannya yang sedikit berantakan akibat perbuatan Laila yang mendorongnya di dalam lift.


            “Untuk apa kau datang ke sini?”


            Tiba-tiba Laila menghentikan langkahnya dan langsung berbalik begitu saja menghadap Nathan hingga membuat Nathan hampir menabrak tubuh ramping wanita itu. Untung saja lagi-lagi keseimbangan tubuhnya sangat baik sehingga ia mampu menjaga jarak sebelum tubuh kekarnya menubruk tubuh Laila.


            “Aku hanya ingin mengantarkan makan siang untukmu. Kau pasti belum makan, kita bisa makan bersama-sama di ruanganmu.”


            “Benarkah kau tidak lapar?” Nathan terlihat mengabaikan kemarahan Laila dan tetap saja mengekori wanita itu. Tapi aku hari ini sudah membawakan menu makanan asia kesukaanmu, satu porsi nasi putih hangat ditambah dengan daging sapi yang baru saja dipanggang dengan saus pedas khas thailand di atasnya, apa kau yakin akan melewatkan menu makan siang mu begitu saja?” goda Nathan sambil menggoyang-goyangkan bungkusan plastik yang dibawaya tepat di depan wajah Laila. Laila dengan kasar menepis tangan Nathan dan meninggalkan pria itu sendiri di lorong rumah sakit yang sepi.


            “Laila, heii... Kau benar-benar akan menolak makanan ini?”


            “Terserah! Pergi kau dari sini.” usir Laila kasar tanpa berbalik sedikitpun pada Nathan. Saat ini Laila sedang menahan hasratnya untuk merampas kotak makan milik Nathan yang berisi makanan kesukaannya. Dalam hati ia benar-benar meruntuki perbuatan Nathan kali ini karena pria itu sengaja menggodanya dengan menu makanan yang sangat disukainya. Dan sekarang ia merasa perutnya sedang meronta-ronta karena menginginkan daging sapi panggang itu.


Brakk!!


            Laila membanting pintu di belakangnya dengan keras sambil menghempaskan tubuhnya keras ke atas sofa empuk yang berada di dalam ruangannya. Tak berapa lama, pintu putih itu terbuka sempurna dan menampilkan sosok Nathan yang dengan wajah santainya langsung berjalan masuk ke dalam ruangan Laila dan mendudukan diri di sebelah wanita itu.


            “Hahh, aku merindukan aroma ini.”


            Nathan menghirup kuat-kuat aroma ruangan pribadi Laila yang sudah lama tak dirasakannya. Dulu saat ia masih berstatus sebagai suami Laila, setiap hari saat ia membuka mata dan saat ia selesai dengan pekerjaannya, ia pasti akan mencium aroma itu dari tubuh Laila. Tapi sekarang Laila bukanlah bagian dari hidupnya, jadi ia tidak bisa merasakan aroma itu lagi di sekitarnya.


            “Nah ayo kita makan, kau pasti belum makan siang.”


            Laila menatap Nathan geram tanpa mengomentari ucapan pria itu. Percuma saja ia melawan pria itu jika pada kenyataanya Nathan adalah pria yang sangat keras kepala. Ia justru hanya membuang-buang tenaganya sia-sia untuk pria yang tidak penting seperti Nathan.


            Sebenarnya apa yang diinginkan pria ini? geram Laila dalam hati. Ia lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar melewati Nathan begitu saja. Melihat Laila yang hendak keluar dari ruangannya, Nathan cepat-cepat bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah sang mantan istri dengan wajah heran.


            “Kau mau kemana? Aku sudah menyiapkan makan siang untukmu.”

__ADS_1


            Laila memutar kepalanya malas ke belakang sambil menunjuk arah toilet yang berada di ujung lorong.


            “Kau ingin mengikutiku hingga ke dalam toilet wanita?”


            “Untuk apa kau pergi ke sana jika kau memiliki toilet pribadi di dalam ruanganmu. Jangan coba-coba untuk kabur dariku, Lai.” peringat Nathan dengan wajah yang sedikit meremehkan karena ia merasa tidak mudah untuk dibohongi oleh sang mantan istri.


            “Toilet di dalam ruanganku rusak, cleaning service baru akan memperbaikinya besok pagi. Jika kau memang ingin dituduh sebagai pria mesum dengan masuk ke dalam toilet wanita, lakukan saja. Aku tidak peduli!” jawab Laila acuh. Wanita itu segera masuk ke dalam bilik toilet dan membating pintunya keras-keras untuk menunjukan pada Nathan jika ia sangat kesal dan merasa terganggu dengan kehadiran pria itu.


            “Aku akan menunggu di depan sini, Lai, jadi jangan pernah berpikir untuk melarikan diri dariku.” teriak Nathan tepat di depan pintu toilet yang digunakan oleh Laila. Dengan bosan Nathan mulai mengeluarkan ponsel pintarnya dari dalam saku celana untuk mengecek email yang dikirimkan sekertarisnya hari ini. Sembari membaca email itu satu persatu, ekor mata Nathan tak sengaja melihat sebuah papan peringatan yang bertuliskan jika


kamar mandi sedang rusak. Tiba-tiba ia memiliki ide di dalam kepalanya. Cepat-cepat ia memasukan ponsel pintarnya ke dalam saku celana dan berjalan ke sudut kamar mandi untuk mengambil papan peringatan tersebut.


            “Hmm, dengan begini tidak akan ada seorang pun yang masuk ke dalam toilet ini.” gumam Nathan senang. Ia kemudian segera meletakan papan peringatan itu tepat di depan pintu toilet, lalu ia menutup kembali pintu toilet itu agar tidak ada seorang pun yang melihat keberadaannya di dalam sana.


            “Lai, apa kau sudah selesai?”


            Nathan berteriak nyaring di depan pintu toilet yang digunakan oleh Laila sambil sesekali mengetuk pintu toilet itu untuk mengecek kondisi Laila di dalam sana. Tapi hingga beberapa kali ia mengetuk pintu kayu itu, Laila tak kunjung menjawabnya dan hanya terdengar suara keran air yang terdengar begitu nyaring. Merasa penasaran, akhirnya Nathan mencoba menempelkan telinganya pada permukaan pintu agar ia dapat mendengarkan suara Laila yang sedang berada di dalam toilet.


            “Laila, apa kau mendengar suaraku? Aku tahu kau masih berada di dalam sana, jadi jangan coba-coba untuk mengecohku dengan kebisuanmu itu karena aku tidak akan pergi kemanapun hingga...


Brakk!


            “BERISIK!!”


            Tiba-tiba Laila mendorong pintu kayu itu dengan keras hingga Nathan terjungkal ke belakang dan membuat kepala Nathan membentur pipa saluran pembuangan. Pria itu meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya dan juga tangannya yang sepertinya sedikit terkilir karena ulah Laila.


            “Kau itu berisik sekali! Aku sedang buang air, bisakah kau diam dan tidak terus menerus berteriak?!” ucap Laila berapi-api. Sedangkan Nathan tampak tidak menghiraukan Laila dan sibuk mengelus pergelangan tangannya yang terasa ngilu.


            “Arghh, ini sakit sekali. Kenapa kau tiba-tiba membuka pintunya? Kau membuat tanganku terkilir.”


            “Hahaha? Bohong! Mana mungkin hal sekecil itu bisa membuat tanganmu terkilir. Kau pasti hanya berpura-pura dan ingin membuatku bersimpatik padamu kan? Dasar licik, keluar kau dari sini.”


            Laila berkacak pinggang angkuh di depan Nathan sambil menendang kaki Nathan pelan agar pria itu segera berdiri dari posisi jatuhnya. Namun cukup lama Laila menunggu, tapi pria itu tak kunjung berdiri dan hanya merintih kesakitan di depannya sambil mendekap pergelangan tangan kirinya di depan dada.


            “Hei, kenapa kau masih berada di sana? Cepat berdiri.”


            Dengan terpaksa, akhirnya Nathan mencoba berdiri sambil menggunakan kedua tangannya untuk bertumpu pada lantai, namun ketika ia memaksakan untuk menggunakan tangan kirinya yang terluka, ia langsung berteriak kesakitan karena pergelangan tangannya terasa semakin nyeri ketika ia memaksakan diri untuk menggunakannya.


            “Argghh Lai, ini benar-benar sakit. Apa kau memiliki obat pereda rasa nyeri?” tanya Nathan dengan erangan tertahan. Sambil berdecak kesal, Laila memutuskan untuk melihat luka pria itu dan memastikan sendiri apakah pria itu benar-benar terkilir atau tidak. Laila menarik tangan kiri Nathan lembut dan mencoba mengamati pergelangan tangan Nathan yang memang sedikit memar. Laila kemudian menyentuh pergelangan tangan itu dengan sedikit tekanan hingga membuat Nathan berteriak-teriak heboh karena merasakan kesakitan yang amat meyiksa di pergelangan tangannya.


            “Yakk!! Apa yang kau lakukan? Kau ingin memperparah lukaku?” teriak Nathan kesal. Laila mengendikan bahunya acuh dan setelah itu ia membantu Nathan untuk berdiri. Rasanya tak tega juga jika membiarkan Nathan terkapar tak berdaya di bawah keran westafel sambil memasang wajah memelasnya yang menyedihkan. Apalagi pergelangan tangan pria itu benar-benar terluka, ia tak sampai hati untuk membiarkan pria itu begitu saja.


            “Ayo, aku akan akan mengobatimu di ruanganku.”


            Nathan berjalan tertatih-tatih dengan dibantu Laila di sebelahnya. Wanita itu kemudian membuka pintu kamar mandi lebar-lebar dan sedikit tertegun dengan papan peringatan yang berada di depan pintu toilet.


            “Kau yang melakukan hal ini? Dasar kekanakan!” cibir Laila sadis sambil menendang papan itu ke arah kiri agar tidak menghalangi langkah mereka. Sedangkan Nathan yang mendengar hal itu tampak tak ingin membalas cibiran Laila karena saat ini ia benar-benar sedang merasakan kesakitan. Dan selain itu ia juga sedang malas berdebat dengan Laila. Ia lelah.

__ADS_1


__ADS_2