
Eden mendengus malas di dalam mobil sambil memperhatikan Aciel yang tengah berjalan dengan gaya angkuhnya di dalam halaman sekolah Ciara yang luas. Lihat saja tatapan beberapa wanita yang juga sedang mengantarkan anak mereka sekolah menjadi tidak fokus saat Aciel berjalan melewati mereka. Bahkan ada salah satu guru yang dengan genitnya menghentikan langkah Aciel dengan dalih ingin memberitahu perkembangan belajar Ciara di sekolah. Tanpa sadar Eden berdecak kesal pada suaminya yang selalu bersikeras untuk mengantar Ciara masuk hingga ke kelasnya dengan alasan untuk memastikan putrinya selalu aman. Padahal Eden sendiri jika mengantarkan Ciara ke sekolah tidak pernah sampai mengantarkan ke dalam kelas. Ia ingin mendidik Ciara agar lebih mandiri dan juga pemberani. Jadi ia selalu meninggalkan Ciara begitu saja di depan gerbang sekolahnya agar
Ciara bisa berbaur bersama teman-temannya yang lain untuk masuk ke dalam kelas.
“Kau akan membuat Ciara lebih manja jika kau terus memperlakukannya seperti ini.” ucap Eden langsung ketika Aciel telah masuk ke dalam mobil dan sedang memasang sabuk pengaman di tubuhnya.
“Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk putriku."
“Tapi bukan begitu caranya.” balas Eden kesal. Selalu saja mereka bertengkar ketika membahas masalah cara mendidik anak yang selalu bertolak belakang satu sama lain. Di satu sisi Aciel ingin putrinya selalu mendapatkan yang terbaik, hidup aman, dan selalu dikelilingi oleh orang-orang yang selalu siap membantunya. Sedangkan Eden, ia memiliki cara didik yang lebih keras dari Aciel karena ia ingin Ciara tumbuh menjadi gadis kuat sepertinya. Yah... tidak ada yang salah memang, hanya saja Eden maupun Aciel masih belum bisa menggabungkan gaya didik mereka agar saling cocok satu sama lain, sehingga pertengkaran-pertengkaran kecil seperti ini yang selalu terjadi setiap kali Eden memprotes gaya mendidik Aciel yang terlalu memanjakan anak.
“Aku hanya tidak ingin Ciara mendapatkan sesuatu yang kau dapatkan di masa lalu. Sampai sekarang aku masih menyesalinya, Ed.” Aciel mencoba melunak pada Eden kali ini. Ia dengan tenang mulai menjalankan mobilnya keluar dari area parkir sekolah Ciara untuk pergi ke rumah sakit tempat Sian dan Olivia dirawat. Sesekali Aciel melirik kearah istrinya yang sekarang berubah membisu setelah ia mengatakan sedikit tentang masa lalu mereka yang pahit.
“Walaupun aku tidak ingat sepenuhnya, tapi aku masih mengingat bagian ketika kau menjadi pria jahat.” celetuk Eden dengan tatapan kosong. Baik, ia tidak ingin membahas hal ini. Salahkan Aciel yang sekarang telah membuat moodnya menjadi hancur setelah pria itu mengungkit masa lalunya yang tidak bagus.
“Maafkan aku kalau begitu, kita bahas hal lain saja.” Aciel cukup merasakan adanya perubahan dari sikap Eden setelah ia dengan sengaja memunculkan topik mengenai masa lalu mereka. Padahal niat awal ia hanya ingin membungkam mulut cerewet Eden yang selalu saja mengomentari setiap hal yang ia lakukan untuk Ciara. Bahkan ketika ia membelikan crib dengan harga fantastis untuk Louise, selama tiga hari wanita itu terus memarahinya, menyindirnya dengan kata-kata pedas hingga akhirnya ia tidak tahan dan sempat meledak marah saat itu. Yah... beginilah rumah tangga, terkadang manis, namun terkadang juga pahit. Ego mereka yang sama-sama kuat membuat ia dan Eden sering beradu mulut untuk meributkan masalah sepele. Tapi menurutnya semua ini masih jauh lebih baik daripada Eden pergi dari hidupnya dan membuat hidupnya menjadi kosong.
“Kita sudah sampai, kau tidak ingin turun?”
Eden yang sejak tadi melamun langsung mengerjapkan matanya dan menatap nanar kearah rumah sakit yang tampak ramai. Tadi sebelum berangkat Aciel telah menceritakan sedikit bagaimana keadaan Sian sekarang, dan ia merasa jantungnya kini telah berdetak lebih cepat karena ia takut untuk melihat kondisi Sian di dalam sana yang menurut Aciel memang cukup parah.
“Tidak apa-apa, sekarang Sian tidak terlihat mengerikan seperti dulu.”
“Apa maksudmu?” tanya Eden di sebelah Aciel sambil menggenggam tangan pria itu erat. Dilihatnya beberapa pengunjung rumah sakit menatap mereka seperti terheran-heran karena beberapa kali wajah mereka terpampang di televisi. Eden merasa sangat malu ditatap seperti itu oleh orang-orang, sehingga ia langsung
bersembunyi di balik lengan Aciel dan sedikit berbisik pelan di telinga Aciel agar lebih cepat. “Mereka memperhatikan kita sejak tadi.”
Aciel tampak mengedikan bahunya acuh sambil menekan tombol lift di depannya. “Biarkan saja, mereka hanya iri melihat kita.”
“Iri? Kau terlalu percaya diri tuan Lutherford.” balas Eden meremehkan. Tak berapa lama lift yang mereka tumpangi membawa mereka ke lantai enam, tempat dimana Sian dirawat selama ini. Eden kemudian berjalan tenang mengekori Aciel yang tampak sudah hafal dengan seluk beluk rumah sakit tempat Sian dirawat.
“Bukankah itu Sian?” Eden menahan tangan Aciel yang hendak menarik kenop pintu saat dilihatnya Sian sedang duduk di sebuah kursi roda sambil memakan makanan yang disuapkan oleh seorang wanita. Seketika Eden tersenyum kecil dan membiarkan adegan itu terus berlanjut di depan mereka tanpa ingin mengusiknya sedikitpun.
Melihat Sian yang terlihat bahagia dengan seorang wanita membuat dada Eden bergemuruh senang. Apalagi Eden melihat adanya ketulusan dari diri wanita yang saat ini sedang bersama Sian. Tanpa rasa ragu sedikitpun, Eden langsung memberikan restu di detik ini juga untuk Sian dan wanita itu.
“Itu....”
“Olivia, wanita yang kuceritakan padamu. Ia adalah wanita buta yang sekarang telah mendapatkan satu donor kornea dari Sian.”
“Kurasa mereka sangat cocok satu sama lain.” ucap Eden senang. Rasanya Eden ingin terus melihat hal manis itu, tapi Sian ternyata telah menyadari keberadaannya dan Aciel di depan pintu perawatannya, sehingga Sian memutuskan untuk menggerakan kursi rodanya kearah dua orang yang sangat ia sayangi itu.
“Sian....”
Eden tak kuasa menahan air matanya saat Sian telah berada di depannya, dan pria itu tampak begitu tegar dengan banyak hal yang terjadi pada tubuhnya. Dengan rasa haru Eden langsung memeluk Sian dan menangis di pundak pria itu sambil mengucapkan maaf berkali-kali karena telah menjadi adik yang jahat untuk pria itu.”Maaf karena aku tidak tahu kau mengalami kecelakaan, Aciel tidak memberitahuku.”
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja Ed. Tidak ada yang perlu dicemaskan.” tambah Sian menenangkan. Pria itu melirik kearah Aciel dan membisikan kata-kata umpatan pada pria itu karena telah membuat adik kesayangannya menangis lagi.
“Apa? Aku hanya ingin menjaganya. Ia akan lebih histeris jika aku memberitahunya dari dulu, di hari ketika kau baru saja mengalami kecelakaan.”
“Iya iya, aku tahu. Sekarang ayo kita masuk dan berbicara di dalam. Lagipula aku juga ingin memperkenalkan kalian pada Olivia.”
Wanita yang merasa dipanggil namanya itu tersipu malu di belakang kursi roda Sian sambil membawa piring kosong bekas Sian makan. Untuk kali pertama Olivia bertemu dengan seseorang yang selama ini sering diceritakan Sian padanya, Eden dan Aciel, satu-satunya keluarga yang dimiliki Sian saat ini.
“Hai, kau pasti Olivia.” Aciel mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan tampak mengamati wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ini kali pertama ia bertemu Olivia secara langsung untuk berkenalan. “Aku Aciel, dan itu istriku, Eden.”
Olivia memberikan senyum manisnya pada Aciel dan ia langsung menyambut uluran tangan Aciel dengan antusias. Akhirnya seseorang yang selalu diceritakan oleh Sian datang juga untuk menemuinya. “Senang bertemu denganmu tuan Aciel. Sian sering menceritakan anda dan juga nyonya Eden pada saya.”
“Kurasa kau terlalu kaku Olivia.” komentar Aciel dengan mata menyipit. Tiba-tiba saja lengannya terasa panas karena mendapatkan pukulan dari Eden yang entah sejak kapan telah berdiri di sebelahnya.
“Kau menakutinya, Ace.” ucap Eden galak. Ia lalu segera beralih pada Olivia dan menjabat tangan wanita muda itu dengan hangat. “Aku Eden, senang bertemu denganmu, Olive. Akhirnya setelah sekian lama melihat Sian yang menyedihkan tanpa seorang kekasih, sekarang aku dapat melihat Sian bahagia dengan wanita yang benar-benar ia cintai.”
Sian yang merasa namanya disebut-sebut langsung berteriak heboh karena Eden terdengar seperti mengolok-oloknya di depan Olivia.
“Hey, kau sengaja ingin mengolok-olokku ya?”
“Tidak, aku hanya mengatakan yang sebenarnya.” jawab Eden acuh tak acuh sambil menjulurkan lidahnya kearah Sian. Aciel memberikan dengusan malas di sebelah Olivia saat melihat tingkah istrinya yang sangat kekanakan setelah bertemu Sian. “Kau bukan anak kecil lagi, Ed.”
__ADS_1
“Dan aku tidak peduli tuan Lutherford.” balas Eden menyebalkan. Olivia hanya mampu terkikik kecil dengan keluarga hangat milik kekasihnya. Ia merasa beruntung karena dapat bertemu dengan keluarga Sian yang begitu hangat menyambutnya dan juga menerimanya sebagai kekasih Sian.
“Olive...” Sian memanggil Olivia dan mengisyaratkan wanita itu untuk berjalan mendekat. “Ini adalah keluargaku, sahabat baikku lebih tepatnya. Tapi mereka pada akhirnya menjadi keluargaku setelah kami melewatkan banyak waktu bersama.” cerita Sian sambil merangkul pundak Olivia. Eden merasa sangat tersentuh dengan interaksi yang terlihat begitu manis di depannya. Kondisi Sian yang sebelumnya ia pikir sangat buruk, ternyata tak seburuk itu karena Sian memiliki Olivia di sampingnya. Pria itu bahkan lebih bisa menunjukan senyum terbaiknya disaat-saat seperti ini daripada di masa lalu yang notabenenya ia sehat secara fisik.
“Kapan kau bisa pulang?”
“Mungkin lusa, tapi aku belum bisa masuk ke kantor seperti biasa.” ucap Sian dengan senyum aneh.
“Tidak perlu buru-buru, pulihkan dulu kondisimu.”
“Kau bisa tinggal di rumah kami selama kau sakit, aku khawatir kau akan kesulitan dengan keadaanmu yang seperti ini.”
“Terimakasih.” Sian sangat tersentuh dengan semua kebaikan yang diberikan oleh Eden dan Aciel, tapi akan lebih baik baginya untuk tinggal di rumahnya sendiri bersama Olivia karena ia tidak ingin merepotkan sahabatnya itu.
“Aku lebih baik tinggal di rumahku sendiri.” jeda beberapa saat karena Sian merasa tidak enak saat melihat raut kecewa yang ditunjukan Eden di depannya. “Akan lebih baik bagi kami untuk beradaptasi dengan keadaan kami di rumah. Ed, sejujurnya aku masih merasa asing dengan kondisiku saat ini. Kau tahu jika kakiku masih sakit dan sekarang aku hanya memiliki satu mata. Jika aku tinggal di rumahmu dan terlalu bergantung pada pelayanmu yang sangat banyak itu, aku tidak akan pernah bisa mandiri. Jadi kumohon terimalah keputusanku ini.” ucap Sian dengan wajah memelas.
Eden menganggukan kepalanya lemah kearah Sian, ia kemudian memberikan senyum terbaiknya untuk membuat Sian tidak lagi merasa bersalah padanya. “Tapi aku akan sering-sering datang berkunjung ke rumah kalian kalau begitu. Ciara sangat merindukan paman terbaiknya.”
“Ahh yaa, keponakanku yang manis itu pasti sangat merindukanku. Apa kau sudah memberitahu Ciara jika aku mengalami kecelakaan?”
“Belum, aku hanya memberitahunya jika kau sakit. Jadi cepatlah sembuh Sian, Ciara sangat merindukanmu.”
“Aku pasti akan segera sembuh. Kau tidak perlu khawatir Ed, sekarang aku memiliki perawat pribadi di rumah.” goda Sian sambil melirik kearah Olivia yang tampak tersipu malu.
“Kapan kau akan menikah?” pertanyaan singkat yang terlontar begitu saja dari Aciel membuat Sian dan Olivia membeku seketika. Mereka bahkan belum sempat memikirkan masalah pernikahan karena hubungan mereka saja baru saja diresmikan kemarin.
“Kenapa kau terburu-buru sekali, Ace? Biarkan saja mereka menikmati waktu-waktu manis ini sambi mengenal satu sama lain.”
“Kurasa akan lebih aman jika Sian segera menikahi Olivia.” ucap Aciel sambil melirik Sian. Pria yang dilirik langsung mengerti arti tatapan Aciel dan ia merasa jika sahabatnya itu telah memikirkan hal yang tidak tidak di kepalanya.
“Apa?”
“Kurasa kau tidak bodoh untuk mengartikan ucapanku.” balas Aciel dengan nada sakarstik. Olivia yang menjadi satu-satunya manusia yang tidak mengerti arti ucapan Aciel menjadi bingung dan tampak meminta penjelasan dari Sian. Namun pria itu seperti kebingungan untuk memberikan jawaban pada Olivia karena ia belum menceritakan bagaimana brengseknya ia selama ini.
“Aah.. Sian adalah pria yang baik, jadi kau tidak perlu khawatir, Olive. Jangan
“Apa?”
“Apa?” ulang Eden kesal. Bisa-bisanya pria itu tidak menyadari kesalahannya dan justru bersikap dingin padanya setelah apa yang dilakukan pria itu di dalam sana. “Kau hampir merusak hubungan Sian dan Olivia. Lihatlah Olivia, ia wanita yang polos dan lembut, kau tidak bisa langsung menceritakan semua fakta tentang Sian
padanya.”
“Apa aku menceritakan sesuatu pada Olivia? Aku hanya memintanya untuk segera menikahi Olivia, apa itu salah?” balas Aciel tak terima. Cepat-cepat Eden memberikan isyarat pada Aciel agar pria itu mengecilkan suaranya karena di dalam Olivia dan Sian bisa saja mendengarkan pembicaraan mereka.
“Ssshh, jangan keras-keras. Ya Tuhan Ace, aku tidak ingin bertengkar denganmu hari ini. Hanya tolong kendalikan sikapmu yang tidak bisa berbasa-basi itu, saat ini kondisi mereka belum memungkinkan untuk melangsungkan pernikahan.”
Eden mencoba bersikap lembut pada Aciel dan menjelaskan semuanya. Sejak berada di dalam ruangan ia sudah bisa merasakan kegugupan yang begitu pekat dari Olivia karena bagaimanapun wanita itu merasa minder saat bertemu dengannya dan juga Aciel. Ditambah lagi tiba-tiba Aciel menyuruh Sian untuk segera menikahi
Olivia, hal itu tentu saja akan membuat Olivia semakin tertekan.
“Kita harus membuat Olivia nyaman dengan keluarga kita yang aneh ini. Kau bisa lihat sendiri jika Sian dan Olivia hampir mirip denganmu dan aku, mereka memiliki selisih usia yang berbeda, dan kurasa Olivia harus belajar untuk memahami karakter Sian terlebihdahulu sebelum terikat oleh hubungan pernikahan.”
“Jadi seperti itulah yang terjadi padamu saat dulu aku mengajakmu untuk menikah?”
“Ya Tuhan, kenapa kau harus membahas masa lalu kita lagi? Sudahlah, jangan buat semua ini menjadi lebih sulit. Intinya kau jangan memaksa Sian untuk segera menikahi Olivia, tunggulah hingga mereka benar-benar siap terlebihdahulu.” tegas Eden sebelum ia berjalan pergi meninggalkan Aciel yang terlihat kesal.
-00-
“Mereka sudah pulang?”
Olivia mengangguk kecil, menutup pintu di belakangnya dengan pelan, lalu berjalan mendekati Sian yang sedang berselonjor di atas ranjang perawatannya. Suasana di kamar Sian kini kembali sepi setelah dua pasangan yang memiliki sifat yang sangat bertolak belakang itu pulang. Mendadak kecanggungan menyelimuti mereka
ketika akhirnya Olivia dapat mendudukan diri dengan nyaman di atas sofa di sebelah ranjang milik Sian. Ia tiba-tiba merasa bingung dan tak memiliki topik apapun yang ingin ia bahas bersama Sian. Lagipula jam makan siang juga masih satu jam lagi, jadi ia tidak bisa berbasa-basi dengan dalih menyiapkan pria itu makan siang untuk mencairkan suasana canggung yang terjadi diantara mereka.
“Hey kemarilah.” panggil Sian lembut. Keheningan panjang yang sebelumnya melingkupi keduanya sedikit tercairkan dengan suara kekehan Sian karena ia gemas dengan sikap Olivia yang sangat polos. Olivia mengingatkannya pada Eden muda sebelum ia dirusak oleh Aciel.
__ADS_1
“Kau terlihat gugup, Olive.” goda Sian menyebalkan sambil menarik tangan Olivia agar duduk di sampingnya. Sejak tadi wanita itu hanya berdiri kaku di sebelahnya dengan tatapan ragu kearah ranjang Sian yang masih menyisakan cukup ruang untuknya duduk.
“Aku baik-baik saja.” Olivia menyambut uluran tangan Sian dan memutuskan untuk duduk di sebelah pria itu.
“Bagaimana menurutmu tentang keluargaku? Yaah... meskipun bukan keluarga satu darah, tapi mereka sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri.”
“Aku menyukai mereka.” jawab Olivia dengan senyum manis yang terkembang di bibirnya. Ia menyukai semua hal yang ada pada Eden karena wanita itu berhasil membuatnya nyaman. Selain itu Eden juga sangat ramah padanya hingga ia bisa melupakan seluruh rasa mindernya akibat bukan berasal dari strata yang sama dengan mereka.
“Bagus kalau begitu karena setelah ini kau pasti akan sering bertemu dengan mereka.”
Mendengar itu Olivia mengernyitkan dahinya bingung kearah Sian. “Kenapa bisa begitu?”
“Karena Eden pasti tidak akan membiarkanmu tenang setelah ini. Kau tahu, mereka berdua sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kita. Aciel menemukan Eden dengan cara yang unik.” kekeh Sian misterius. Olivia terlihat tertarik dengan cerita Sian mengenai pasangan Eden dan Aciel yang menurutnya memang terlihat unik di matanya. “Bisa kau ceritakan padaku?”
“Hmm.. aku akan menceritakan intinya saja karena mereka memiliki perjalanan cinta yang sangat rumit.” Sian kemudian berhenti sebentar untuk berpikir. Sepertinya ia sedikit kesulitan untuk memilih salah satu kisah mereka yang paling unik untuk diceritakan pada Olivia karena kenyataannya seluruh hidup mereka dipenuhi oleh kisah-kisah yang unik. “Beri aku beberapa menit untuk berpikir.” ucap Sian lagi sambil berpikir.
“Kau lama. Beritahu padaku bagaimana mereka bisa bertemu.”
“Aaahh... mereka bertemu karena Eden adalah putri dari sahabat kami sekaligus rekan bisnis Aciel.
“Jadi berapa tepatnya selisih usia mereka? Aku yakin Eden dan Aciel memiliki selisih usia yang tidak bisa dibilang sedikit.”
“Kau benar, selisih usia mereka kira-kira enam belas tahun. Aciel memang sudah terlalu tua untuk Eden yang masih sangat muda saat itu.”
“Tapi mereka saling mencintai.” komentar Olivia singkat. Ternyata ia dan Sian bukan satu-satunya pasangan dengan selisih usia yang banyak. Masih ada Eden yang memiliki selisih usia lebih banyak dengan Aciel.
“Memang, bahkan hanya Eden yang berhasil membuat Aciel berubah mejadi orang gila ketika wanita itu pergi, tapi Eden juga berhasil menyembuhkan trauma Aciel karena masa lalunya yang kelam.”
“Wow, itu hebat. Aku akan senang bisa mengobrol lebih banyak dengan Eden setelah kita keluar dari rumah sakit. Ngomong-ngomong Sian...” Tiba-tiba saja Olivia merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya setelah pria itu menyatakan perasaannya dua hari yang lalu.
“Katakan saja, Olive.”
“Emm... menurutmu kisah seperti apa yang akan terjadi pada kita? Sebenarnya aku masih merasa takut dengan hubungan ini, aku takut kau hanya akan menjadikanku pengganti Tiffany. Padahal... padahal aku sama sekali tidak sama dengan Tiffany, aku...”
“Ssshh...” Sian membungkam bibir Olivia yang bergetar menggunakan jari telunjuknya. Akhirnya kecurigaannya pada Olivia selama ini terungkap, wanita itu ternyata memang telah berburuk sangka padanya setelah ia menyatakan perasaannya dua hari yang lalu.
“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, Olive? Aku mencintaimu tulus, dengan seluruh rasa yang kumiliki untukmu. Tidak pernah sedikitpun aku berpikir jika kau adalah pengganti Tiffany karena sampai kapanpun kalian tidak akan pernah sama.”
Mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Sian tiba-tiba saja membuat jantung Olivia merasa diremas kuat. Ia sakit, sangat sakit ketika pria itu mengatakan hal itu dengan santai padanya.
“Aak aku tahu... kami tidak akan pernah sama.” ucap Olivia kecil. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah sebanding dengan Tiffany yang hebat itu.
“Hey... lihat aku, aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu. Maksudku kau dan Tiffany adalah dua orang yang berbeda dengan keunikan yang kalian bawa. Jadi jangan pernah memandang dirimu buruk karena sekarang kau adalah satu-satunya wanita yang mengisi hatiku. Tiffany mungkin wanita pertama yang berhasil membuatku
merasakan perasaan cinta, tapi kau adalah wanita terakhir yang akan menjadi masa depanku. Jadi kumohon Olive, jangan pernah merasa kau lebih buruk dari Tiffany. Aku mencintaimu apa adanya. Aku mencintaimu dengan seluruh kelebihan dan kekurangan yang kau miliki. Begitu juga dirimu, kuharap kau juga menerimaku apa adanya. Apalagi setelah aku tidak lagi sempurna seperti ini.”
Grep
Tubuh Sian sedikit terdorong ke belakang saat Olivia tiba-tiba menubruknya untuk memberikan pelukan erat yang terasa sangat hangat untuk Sian.
“Jangan berkata seperti itu, bagiku kau adalah pria yang paling sempurna. Maafkan aku Sian, aku tidak akan membahas masalah Tiffany lagi.”
“Tidak apa-apa, ini jauh lebih baik daripada kau terus berprasangka tanpa tahu kebenarannya. Oya, mengenai pertanyaan Aciel tadi...”
Olivia terlihat sabar menunggu kata-kata yang akan dilontarkan Sian selanjutnya. Kepalanya yang terdongak tepat di depan Sian membuat pria itu tidak bisa tidak merasa gemas hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencuri satu ciuman lagi dari Olivia.
Cup
“Jangan menatapku seperti itu sayang.”
Pipi Olivia langsung bersemu merah setelah Sian mendaratkan satu kecupan lembut di bibirnya. “Jadi apa yang ingin kau katakan tadi?” tanya Olivia mengingatkan.
“Oh... tentang pertanyaan Aciel, maukah kau menikah denganku, Olive?”
“Astaga...” Olivia menutup bibirnya sendiri tak percaya dan ia langsung mengangguk sebagai jawaban atas lamaran Sian yang manis itu.
__ADS_1
“Aku mau, aku mau Sian.”
“Terimkasih Olive, terimakasih karena telah mengizinkanku untuk menjadi separuh hatimu.” bisik Sian serak dengan perasaan haru yang membuncah di hatinya.