
Olivia Pov
Aku berjalan dengan susah payah memasuki lobi rumah sakit di pusat kota Vegas. Pagi ini cuaca cukup
cerah, mungkin karena sudah masuk musim semi. Bulan berlalu begitu cepat, dan usia kandunganku sudah menginjak bulan ke sembilan. Dan hari ini aku akan memeriksakan kandunganku untuk menanyakan seputar persiapan kelahiran. Aku begitu gugup menantinya, ini adalah kehamilan pertamaku. Dan aku ingin yang terbaik untuk anakku. Sayang sekali suamiku tidak bisa menemaniku. Kuharap saat melahirkan nanti suamiku berada disampingku. Namun, sepertinya itu adalah hal yang mustahil. Sebenarnya aku juga tidak begitu mengerti dengan apa saja yang ia lakukan selama ini di luar rumah. Tapi sebagai istri yang baik, aku akan selalu mempercayai suamiku dan menjaga pernikahan ini agar tetap berjalan dengan baik.
Aku menunggu di depan pintu lift dengan bosan. Pagi ini suasana di rumah sakit tampak ramai. Suara roda blangkar yang baru saja melintas di depanku sedikit membuatku merinding, entah karena apa. Mungkin karena aku sempat memikirkan hal-hal buruk di dalam kepalaku, meskipun kenyataannya blangkar itu kosong dan seorang suster hanya ingin memindahkannya ke ruang gawat darurat yang berada di dekat pintu utama.
Musim ini begitu hangat dan indah, dan kupikir di musim ini tidak akan ada banyak orang yang jatuh sakit.
Tapi pasti Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah untuk mereka yang sedang sakit. Saat lift berdenting, aku melihat segerombolan orang keluar berdesakan dari dalam lift. Ku geserkan sedikit tubuhku menyingkir dari pintu lift, aku cukup tahu diri jika saat ini bentuk tubuhku tidak lagi ramping seperti dulu. Seorang pria melintas di depanku begitu saja dan tidak sengaja menyenggol tubuhku. Hampir saja aku akan menabrak tembok, namun sebuah tangan tiba-tiba menahan tubuhku agar perutku tidak membentur tembok di sampingku dengan keras. Aku lalu mendongak dan ingin mengucapkan terimakasih kepada seorang pria baik hati yang telah menolongku, namun aku justru dibuat terkejut dengan tatapan sendu yang pria itu tunjukan padaku.
Nathan...
Flashback
Dug!
“Aw!”
“Mma maaf.” aku berseru gugup pada seseorang yang baru saja kutabrak, bahkan orang itu juga terkena pukulan dari tongkatku saat aku mengayunkannya pelan untuk memastikan jika jalanan di depanku kosong. Dengan penuh rasa bersalah aku mencoba mendekati pria itu sambil mengulurkan tanganku ke depan agar aku dapat meraba wajahnya.
“Apa kau terluka tuan? Sekali lagi maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu.”
Kurasakan pria itu tidak membalas permintaan maafku. Namun aku dapat merasakan hembusan napas hangatnya di tanganku yang masih setia bertengger di wajahnya.
“Lain kali tolong hati-hati.”
Pria itu menurunkan tanganku yang tidak benar-benar menempel dari wajahnya dan berseru dingin. Tiba-tiba perasaan sesak itu menghampiriku dan membuat air mataku menetes begitu saja dari pelupuk mataku. Kebutaan ini membuatku memiliki hati yang terlalu rapuh, dan rasa tidak percaya diri yang sangat mengganggu.
Aku selalu merasa menjadi wanita paling menderita di dunia ini setiap kali orang lain menyalahkanku atas kesalahan yang sebenarnya kulakukan karena keterbatasan pada penglihatanku.
“Kenapa menangis, apa kau salah satu pasien di sini?”
Aku mengangguk samar masih dengan air mata yang belum bisa sepenuhnya berhenti dari mataku. Ya Tuhan, sampai kapan aku akan menangis di hadapan pria ini?
“Sudahlah jangan menangis. Maaf jika aku terlalu kasar. Siapa namamu?”
“Olivia.”
“Namaku Nathan, senang bertemu denganmu.”
Flashback end
Aku mengingat saat pertama kali aku bertemu dengan Nathan di rumah sakit ini bertahun-tahun yang lalu. Sebenarnya peristiwa itu tidak bisa disebut sebagai sebuah pertemuan, karena pada kenyataannya saat itu aku tidak sengaja memukul kakinya dengan tongkat almunium yang kugunakan untuk membantuku berjalan di tengah kegelapan yang selalu melingkupiku. Tapi karena peristiwa itu kami menjadi dekat, dan kemudian kami memutuskan untuk menjalin persahabatan.
“Hey, kau ini masih saja ceroboh. Ubahlah sedikit kebiasaan burukmu itu.”
Omelan Nathan membuatku tersadar kembali ke dunia nyata. Sepertinya aku terlalu asik mengenang masa lalu kami yang lucu.
“Maafkan aku.” bisikku pelan. Aku tahu aku salah, jadi aku tidak akan membantah ataupun membela diri di hadapannya.
“Ayo! Aku akan mengantarkanmu menuju ruangan dokter Laila. Aku khawatir dengan sifat cerobohmu itu. Aku harap anakmu akan baik-baik saja walaupun memiliki ibu seceroboh dirimu.”
Huft. Inilah sikap yang paling kubenci dari Nathan. Dia suka sekali memarahiku, walaupun aku tahu
tujuannya memang baik. Tapi kenapa pula dia harus membawa-bawa calon bayiku ke dalam pembicaraan ini. Dan kali ini aku akan berusaha untuk mengabaikannya, walaupun mulutku rasanya sudah gatal untuk membalas semua ucapan pedas yang keluar dari mulutnya.
“Hey, kenapa diam saja? Kau marah?” Nathan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku. Tapi aku masih bungkam dan tetap tidak ingin membuka suara. Biarlah dia bicara dengan tembok, aku tidak peduli! Kulihat dia akan membuka mulutnya lagi, tapi seseorang memanggilnya dari belakang dan terlihat tergesa-gesa.
“Dokter Nathan, ada seorang pasien yang membutuhkan anda segera di ruang operasi.” kata perawat itu dengan tergesa.
Perawat itu mengatakannya sambil berlari. Kulihat name tagnya, dia bernama Alice. Nama yang cantik, sesuai dengan parasnya yang seperti dewi. Kemudian Nathan mengatakan sampai jumpa padaku dan berlalu pergi bersama perawat itu. Ada perasaan aneh yang menyusup ke dalam hatiku. Dan aku mulai bertanya-tanya, apakah perawat itu adalah kekasih baru Nathan? Mereka tampak serasi, menurutku. Tapi sudahlah, itu bukan urusanku. Aku harus segera menemui dokter Laila untuk menanyakan hal-hal apa yang harus kupersiapkan saat melahirkan nanti.
Kuketuk perlahan sebuah pintu yang terdapat papan nama yang bertuliskan dokter Laila. Setelah mendengar jawaban dari dalam, aku segera membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam. Hal pertama yang kulihat saat aku memasuki ruangan ini adalah sosok dokter Laila yang telah merentangkan tangannya di depanku. Sejak kapan dia berdiri di sana?
“Olive apa kabar, lama tidak berjumpa denganmu!” sambutnya girang. Laila memelukku dengan sangat erat,
membuatku sesak napas dan sedikit terbatuk-batuk di dalam dekapannya. Apakah ia tidak sadar jika perutku tidak dalam mode mengempis, sehingga membuatku semakin kesulitan untuk bernapas.
“Laila aku tidak bisa bernapas.” gerutuku sebal. Kemudian dia segera melepas pelukannya dan menggiringku menuju sofa untuk tamu.
__ADS_1
“Bagaimana kondisimu? Apa kau sudah merasa ada tanda-tanda?” tanyannya sambil memberiku segelas jus jeruk.
“Terimakasih. Belum, aku belum merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Aku hanya merasa selalu pegal dan memang posisi bayiku sudah semakin turun.” jelasku sambil meminum jus jeruk pemberiannya.
“Oh itu adalah hal yang wajar. Jadi kau tenang saja. Ngomong-ngomong apa kau bertemu dengan Nathan?”
“Ya, dan ia justru mengomeliku saat berada di depan lift.” jawabku sebal. Sepertinya moodku langsung berubah buruk saat mengingat hal itu.
“Ada apa? Apa kalian masih sering bertengkar hanya karena sebuah masalah kecil?” tanya Laila dengan penuh semangat.
Bertengkar? Kata-kata Laila membuatku mengingat sesuatu.
Flashback
Hari ini aku mendapatkan pesanan bunga dari seorang pria yang akan melamar kekasihnya. Sejak pagi-pagi nyonya Han telah sibuk mempersiapkan desain rangkaian yang akan ia buat bersamaku. Katanya pelanggan kali ini sangat istimewa karena pria itu adalah seorang aktor yang sedang naik daun. Aktor? Mendengar sebutan itu membuatku hanya mampu terkekeh sendiri. Semenjak kedua mataku mengalami kerusakan, aku tidak pernah menonton televisi. Aku hanya sekedar mendengar dari orang-orang di sekitarku mengenai aktor-aktor yang tampan atau aktris yang cantik.
“Kau bisa mengantarnya ke gedung Teater David Copperfield di MGM grand hotel?”
“Kurasa aku bisa, jangan pernah sungkan untuk memintaku mengantar semua pesanan bunga-bungamu, nyonya Han.” ucapku lembut kearahnya. Lalu kami kembali sibuk merangkai bunga-bunga itu dengan cepat karena waktu yang tersisa tidak lagi banyak. Dan setelah lebih dari empat puluh menit kami berkutat dengan bunga-bunga itu, akhirnya kami dapat menyelesaikan sebuah rangkaian besar bunga dengan tulisan will you marry me. Rasanya itu benar-benar romantis, dan suatu saat aku ingin sekali mendapatkan sebuah lamaran seromantis itu.
“Cepat kau antar bunga ini ke gedung Teater David Copperfield! Ini uang untuk membayar taksinya.” Nyonya Han meletakan selembar uang seratus dollar ke atas telapak tanganku, dan setelah itu ia meninggalkanku untuk mengerjakan rangkaian bunga yang lain.
“Apa hanya ini yang akan dibawa?”
Supir taksi itu bertanya padaku sambil mengangkat buket bunga lili yang berukuran besar itu. Aku lalu mengangguk sekilas dan segera mengikuti supir taksi itu menuju mobilnya.
“Teater David Copperfield, please.”
Samar-samar aku melihat supir taksi itu mengangguk dan ia segera mengemudikan mobilnya ke tempat tujuanku.
Hmm... dari sekian banyak tempat kerja yang pernah kucoba, hanya rumah bunga milik nyonya Han yang
benar-benar membuatku betah. Di sana nyonya Han memperlakukanku dengan baik, memperlakukanku layaknya manusia, dan bukanya pekerja dengan derajat rendah. Setiap siang nyonya Han juga selalu memberiku makan siang dengan makanan yang layak, sehingga aku bisa menghemat uangku untuk melakukan operasi mata yang seharusnya kulakukan dalam waktu dekat. Sungguh aku merasa tidak enak setiap kali datang pada dokter Hermes, ia terus saja memintaku untuk segera melakukan operasi, bahkan dokter itu bersedia meminjamkan uangnya agar aku dapat melakukan operasi. Tapi aku tentu saja tidak ingin merepotkannya. Dengan kebaikannya selama ini yang sudah tak terhitung, aku tidak mau lagi merepotkan dokter baik hati itu. Dokter Hermes tidak pernah memungut biaya sepeserpun saat aku berobat padanya. Terkadang ia juga memberikan obat gratis padaku meskipun aku telah mencoba untuk membayar obat itu berkali-kali.
“Sudah sampai nona.”
Aku mengangguk pelan dan meminta supir taksi itu untuk membantuku mengangkat buket bungan itu ke dalam. Seharusnya pria yang memesan buket itu telah menunggu di loby karena nyonya Han mengatakan hal itu padaku sebelum aku berangkat ke sini.
di depanku terlihat naik dan berbentuk undakan. Suara tongkat almuniumku yang berbenturan dengan lantai keramik terdengar cukup berisik di tengah-tengah suasana hening yang kurasakan. Seharusnya gedung ini ramai karena gedung teater di sini adalah salah satu gedung elit yang biasanya hanya diperuntukan bagi orang-orang kelas atas.
Dug
“Aw!” Aku meringis pelan sambil mengepalkan telapak tanganku yang terasa berdenyut. Baru saja kakiku tersandung tongkatku sendiri saat tongkat itu terayun ke belakang karena ulah tangan cerobohku. Lalu sekarang aku tengah terduduk diantara undakan tangga dengan rasa sakit yang terasa begitu buruk di kedua tanganku. Ngilu ini benar-benar membuat kepalaku pening karena aku jatuh dengan cukup keras tanpa ada seorangpun yang menolongku.
“Kau tidak apa-apa?”
“Ee... aku baik. Hanya sedikit sakit.” ucapku pada seseorang yang wajahnya tidak bisa kulihat dengan jelas karena pria itu menundukan kepalanya di depanku. Ia sepertinya sedang mencoba mengecek telapak tanganku yang katanya sedikit memerah setelah kejadian memalukan tadi.
“Kau seharusnya berhati-hati, nona.”
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Aku mencoba menyipitkan mataku kearah penolongku yang baru saja membantuku untuk berdiri, karena aku merasa tidak asing dengan suaranya. Bahkan pria baik hati itu juga membantu mengambilkan tongkatku yang sebelumnya telah terlempar jauh entah kemana.
“Tentu saja. Aku Nathan, apa kau ingat?”
Nathan? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu.
“Dokter Nathan?” tanyaku tidak yakin. Tidak lucu jika ternyata aku salah dan justru terkesan sok kenal.
“Hmm... kau pikir Nathan yang mana lagi? Kenapa kau selalu saja terjatuh? Dasar ceroboh!”
Aku menggerutkan dahiku kesal dan merampas tongkatku dari tangannya sedikit kasar karena aku kesal padanya. “Terimakasih. Tapi aku juga tidak pernah menginginkan hal ini! Salahkan orang-orang jahat itu yang telah membuat kedua mataku rusak.” ucapku setengah berteriak sebelum berlalu meninggalkannya dengan langkah yang tertatih-tatih.
Flashback end
“Olive, kau melamun?”
Aku merasakan goncangan yang sangat keras menerpa tubuhku. Lalu aku menoleh dan menemukan wajah Laila yang tampak khawatir di sebelahku.
“Aku baik-baik saja. Hanya teringat kejadian lama.” ucapku sambil tersenyum. Dulu aku memang sering bertemu dokter Nathan karena pria itu sering kali memergokiku melakukan kecerobohan atau jatuh. Namun setelah kejadian itu ia tidak lagi mengataiku dengan nada sinis. Ia merasa bersalah padaku, dan ia sempat meminta maaf padaku saat aku pergi ke rumah sakit untuk bertemu dokter Hermes.
__ADS_1
“Benarkah? Jika kau merasakan sesuatu, katakan padaku. Karena perasaanku mengatakan kau akan
melahirkan hari ini. Tapi itu hanya perasaanku, jadi jangan terlalu dipikirkan.” kata Laila sambil mengibaskan tangannya didepan wajah.
“Tidak, aku rasa belum. Dan lagi, hari ini ayahnya akan pergi ke Texas. Siapa yang akan menemaniku jika
aku akan melahirkan. Apa kau tidak merasa kasihan padaku jika setiap saat aku selalu diabaikan oleh suamiku. Dia hanya sibuk dengan kertas-kertasnya jika berada dirumah.” Sungutku sebal.
“Mau bagaimana lagi, dia seorang pria yang sangat penting di kantornya. Kau kira gampang mengatur sistem keuangan di perusahaan raksasa seperti itu? Tanggungjawabnya sangat besar. Tapi aku yakin dia itu sangat-sangat mencintaimu.”
Laila mengatakan hal itu dengan berapi-api, seakan-akan ia sangat mengetahui suamiku. Padahal aku sama sekali tidak merasa demikian. Bagaimana mungkin seorang suami hanya pernah mengantarkan istrinya memeriksakan kandungan sebanyak tiga kali, itu pun ia tidak mengantarkanku pulang. ia hanya menitipkanku kepada supir pribadi kami yang sengaja ia panggil untuk menjemputku pulang.
Sekarang kami memang memiliki supir pribadi karena Sian sedang sangat sibuk di kantornya, sedangkan aku tidak bisa menyetir sendiri. Jadilah sekarang aku selalu pergi kemanapun bersama tuan Zack. Untung saja tuan Zack adalah pria paruh baya dengan kepribadian menyenangkan yang sangat asik untuk diajak mengobrol. Tuan Zack selalu menceritakan kehidupan putra putrinya yang begitu sejahtera di desanya karena mereka memiliki perkebunan strawberry dan perkebunan apel yang sangat subur. Suatu saat mungkin aku akan mengajak Eden ke sana karena Eden dan Ciara sangat menyukai strawberry.
“Hey, kurasa kau lebih banyak melamun hari ini.” Laila menyenggol lenganku dan aku mendengar ada nada kesal dari suaranya.
“Maaf, aku memang sedang memikirkan banyak hal.”
“Apa? Kau memikirkan suamimu?”
“Bukan, aku memikirkan dokter Nathan.” ucapku tenang sambil menatap wajah Laila yang sedikit terkejut di depanku.
“Nathan? Ck, kenapa harus Nathan?”
“Karena aku ingin.”
“Ngomong-ngomong bagaimana dengan kehidupan pernikahanmu? Kau bahagia kan?” tanyaku tergelak. Sejak dulu aku suka sekali menggoda Laila tentang kehidupan pernikahannya karena ia dan suaminya adalah pasangan paling konyol sepanjang masa. Laila yang begitu serius dan senang mengomel memiliki seorang suami yang begitu santai, bahkan terkadang pria itu meremehkan hal-hal penting di sekitarnya. Tentu saja hal itu membuat Laila gemas pada suaminya hingga membuatnya sering mengomel tidak jelas saat menghubungiku.
“Sangat bahagia! Ck, kenapa kau justru menanyakan hal itu padaku, sedangkan tadi pagi kami baru saja bertengkar.”
“Ada apa lagi? Masalah kucing?” Aku tidak bisa menyembunyikan tawaku saat mengingat pertengkaran konyolnya minggu lalu yang membuat Laila tidak mau pulang ke rumah. Pasalnya suami Laila sedang menyukai kucing. Dan pria itu menjadi lebih maniak dengan kucing hingga memutuskan untuk mengadopsi tiga kucing sekaligus dari rumah penangkaran. Sedangkan Laila sendiri sejak dulu sangat membenci kucing karena ia pernah mendapatkan cakaran kucing saat berada di panti asuhan.
“Demi Tuhan, Olive! Aku telah membuang kucing-kucing itu kemarin.”
“Apa kau gila? Kau membuangnya?”
“Ya, aku membuangnya.” jawab Laila bangga. Aku hanya menggelengkan kepalaku tak habis pikir pada perbuatannya yang nekat itu. Bisa kubayangkan bagaimana kesalnya wajah suami Laila saat menghadapi kelakuan istrinya yang ajaib ini.
“Aku sudah mengatakan padanya jika aku akan membuang keucing-kucingnya saat kucing itu berulah. Dan benar saja, kemarin ia merusak sofa kesayanganku. Jadi aku langsung meminta tukang masak di rumahku untuk membuangnya.” ceritanya bangga. Baiklah, aku tidak akan terlalu banyak berkomentar dengan ceritanya karena kurasa aku harus segera pulang untuk menyiapkan menu makan siang Sian.
“Aku pamit pulang ya, terimakasih atas waktumu. Aku merasa lega setelah mengunjungimu.”
“Hati-hati di jalan, ibu hamil.” ucap Laila sambil memelukku.
-00-
Aku kembali berjalan menuju lift. Untung saja lift sudah tidak terlalu penuh seperti saat aku datang. Jadi aku tidak perlu berdesak-desakan seperti tadi hingga harus ekstra hati-hati agar perut buncitku tidak terhimpit. Namun kurang selangkah lagi aku melangkah masuk, aku merasakan perutku sakit dan sedang melakukan kontraksi. Apa ini saatnya? Aku benar-benar dilanda kepanikan. Aku hanya bisa menunduk dan memegangi perutku. Seorang petugas kebersihan dan beberapa perawat membantuku berjalan menuju ruang bersalin. Saat aku sedang merasakan kesakitan yang amat dasyat, aku melihat dia. Datang dengan wajah panik dan segera menggendongku menuju ruang bersalin.
“Olive, bertahanlah! Berjuanglah untuk bayimu.” ucap Nathan dengan wajah panik.
“Nath, ini sakit.”
Tanpa sadar aku telah mencengkram lengan Nathan yang sedang mengendongku menuju ruang bersalin. Ia lalu berlari ke ruangan Laila setelah meletakanku dengan hati-hati ke atas blangkar yang baru saja disiapkan oleh seorang suster.
“Pasang infus dan siapkan semuanya, aku akan segera memanggil istriku ke sini.”
Di tengah rasa sakit yang kurasakan, aku masih bisa tertawa geli melihat Nathan yang begitu panik. Padahal ia bukan suamiku, dan kami awalnya mengenal karena ia merasa kasihan padaku. Tapi ternyata dunia ini memang terlalu sempit. Aku yang akhirnya berteman dengan Nathan barulah mengetahui jika Nathan adalah suami dari Laila, teman masa kecilku saat di panti asuhan.
“Ya Tuhan, Olive! Baru saja aku berpikir jika kau akan melahirkan hari ini.”
“Sudahlah, cepat tolong Olivia! Jangan terlalu banyak berbicara.” ucap Nathan galak di sebelahnya. Aku lantas kembali tertawa melihat pasangan konyol itu sambil memberikan kode pada Nathan untuk mendekat.
“Ada apa, Olive?”
“Pertama aku ingin mengucapkan terimakasih karena kau telah mengkhawatirkanku.” ringisku pelan.
Kontraksi ini perlahan-lahan menghasilakn rasa sakit yang luar biasa hingga napasku terasa begitu pendek-pendek karena harus menahan rasa sakit ini lebih lama. “Ke dua, tolong beritahu Sian jika aku akan melahirkan sebelum dia pergi ke Texas pukul satu nanti.”
“Kau tenang saja, aku akan menyeret suamimu ke sini sekarang juga. Berjuanglah untuk bayimu, Olive.” Aku tersenyum kecil dan mengangguk samar di tengah rasa sakit yang masih menghujam perutku. Jadi seperti inilah rasanya melahirkan dan akan menjadi seorang ibu? Ya Tuhan, ini sungguh sakit dan menyiksa.
“Olive, sudah saatnya mengejan sayang. Bersiaplah untuk menyambut bayi cantikmu” ucap Laila penuh semangat di depanku.
__ADS_1