Black Swan

Black Swan
Olivia Pregnant Story (Ninety Five)


__ADS_3

            Di dalam mobil Olivia maupun Sian sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Olivia saat ini


memiliki hobi baru, yaitu mendengarkan musik klasik dari ipod yang dulu pernah dihadiahkan Sian padanya. Jadi dimanapun Olivia berada, maka Olivia akan selalu membawa ipodnya untuk mendengarkan lagu klasik. Karena hobi barunya, kini Olivia menjadi lebih betah saat perjalanan jauh karena kebosonanya akan teralihkan oleh musik klasik yang didengarnya melalui ipod yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.


            “Olive.” panggil Sian sedikit keras. Olivia sama sekali tidak menggubris panggilan Sian, dan justru terhanyut dengan musik klasiknya. Bahkan jari-jari lentiknya telah menari-nari di udara dengan gemulai.


            “Olivia Markle.” teriak Sian sekali lagi. Tapi Olivia masih saja tidak bergeming. Dengan geram Sian menarik eraphone Olivia kasar hingga membuat Olivia berjengit kaget.


             “Dad, kau kasar sekali.” marah Olivia tak terima. Ia lalu membenarkan letak earphonenya dan kembali terhanyut dengan musik klasiknya.


               “Olivia, lepaskan earphonemu. Aku ingin bicara.” kata Sian lagi sambil menarik earphone Olivia. Olivia sedikit mendengus kesal dan melemparkan ipodnya ke jok belakang dengan kasar.


            “Dad, kau ini kenapa? Membuatku menjadi kesal.” marah Olivia. Wanita itu sudah melakukan ancang-ancang untuk cemberut dan melipat tangannya di depan dada.


            “Kekanakan.” cibir Sian.


            “Sian, kau menyebalkan.” teriak Olivia masih dengan mode cemberutnya. Tidak ada lagi panggilan dad yang biasanya dilayangkan oleh Olivia untuk pria itu. Ya, Olivia sedang marah pada Sian sekarang.


            “Siapa George Smith?” tanya Sian tiba-tiba. Pikirannya tiba-tiba terganggu dengan kemunculan seorang pria yang terlihat begitu akrab dengan Olivia. Sungguh, Sian tidak pernah menyangka jika Olivia akan memiliki teman yang berhasil membuatnya terganggu seperti ini.


            “Temanku.” jawab Olivia singkat.


            “Kalian berdua terlihat sangat dekat satu sama lain.” komentar Sian masih dengan menatap jalan raya.


            “Tentu saja. Kami dulu


pernah menjalin hubungan.” jawab Olivia asal. Ia sama sekali tidak menyadari


perubahan raut wajah Sian yang berubah menjadi mendung.


            “Oh, begitu rupanya.” ucap Sian singkat.


-00-


            Setibanya di rumah Eden, Olivia langsung pergi begitu saja meninggalkan Sian yang terlihat bercakap-cakap bersama Eden di pintu depan.


            “Hai princess.” sapa Olivia renyah pada Ciara yang sedang memegang semagkuk es krim di tangannya. Dengan jahil, Olivia mencolek es krim itu dari mangkuk Ciara dan mendaratkan telunjuknya yang telah berlumuran es krim ke hidung Ciara yang mungil. Sontak saja hal itu membuat Ciara memprotes kesal kearah bibinya yang jahil.


            “Aunty!”


            Eden mendengar suara teriakan Ciara dari dalam, namun ia hanya menoleh sebentar dan ia segera berbicara lagi pada Sian yang kali ini hanya sekedar mengantarkan Olivia. “Kau akan langsung ke kantor?”


            “Hmm... ada rapat dengan suamimu.”


            “Baiklah, sampai jumpa nanti malam. Kau tidak ingin berpamitan dengan istrimu?” tanya Eden heran. Tak biasanya Sian kehilangan sisi romantisnya pada Olivia. Padahal biasanya pria itu selalu mengubar kemesraan mereka dimanapun mereka berada hingga ia muak melihatnya. Seakan-akan Sian sekarang ingin balas dendam padanya yang dulu sering memamerkan kemesraan di depan pria kesepian itu.


            “Katakan saja padanya jika nanti aku akan menjemputnya. Sampai jumpa, Ed.” pamit Sian sambil mengecup pipi chubby Louise yang sedang asik bermain dengan boneka bebeknya di dalam gendongan Eden. Eden lalu mengendikan bahunya ringan dan hanya memberikan senyum jenaka kearah Sian yang telah masuk ke dalam mobilnya. Baik Sian maupun Olivia masih sama-sama tidak mau mengalah. Mereka benar-benar keras kepala. Sian juga mendiami Olivia, lantaran kesal dengan kelakuakn istrinya yang kekanakan. Sedangkan Olivia marah pada sikap kasar Sian yang terlalu kekanakan hanya karena ia bertemu dengan George siang ini.


            “Bagaimana acara belanjamu hari ini?” tanya Eden membuka obrolan diantara dirinya dan juga Olivia yang saat ini sedang mengistirahatkan tubuh lelahnya di ruang tamu. Mendengar suara Eden yang mengalun lembut di sebelahnya, membuat Olivia segera membuka matanya dan tersenyum kecil kearah Eden yang sedang menyuapi Ciara di atas karpet.


            “Menyenangkan. Aku baru saja bertemu dengan temanku.” cerita Olivia lebih antusias. Eden tampak menaikan alisnya, dan ia segera bersuara dengan nada menggoda, “Apa itu seorang pria?”


            “Kau tahu?” tanya Olivia heran.


            “Pantas saja Sian menjadi seperti itu.” Eden bergumam sendiri sambil memasukan sesendok kari ke dalam mulut Ciara yang telah terbuka sejak tadi. Ohh... gadis kecilnya sedang kelaparan sekarang.

__ADS_1


            “Tapi aku tidak mengerti mengapa Sian menjadi sangat kasar setelah bertemu dengan George.”


            “Jadi namanya George.”


            “Hmm.. kami dulu berasal dari panti asuhan yang sama. Yeah, tapi sejak dulu aku tidak menarik, sehingga tidak ada satupun yang ingin mengadopsiku saat itu. Sedangkan George, ia diadopsi oleh keluarga kaya raya dari Texas karena wajahnya yang tampan.”


            Olivia ingat bagaimana sulitnya hidup di panti asuhan dengan seluruh keterbatasan yang ia miliki. Kesialan demi kesialan seperti terus mengikutinya selama ia berada di panti asuhan hingga ia memutuskan untuk keluar dari panti itu setelah umurnya telah lebih dari cukup untuk hidup mandiri.


            “Sepertinya itu cerita yang menarik. Bagaimana bisa George membuat Sian cemburu?” Eden terkekeh dengan reaksi Olivia yang terlihat kaget dengan ucapannya.


            “Cemburu? Sian cemburu?” tanya Olivia takjub. Wanita itu kemudian terbahak keras dengan kaki yang telah dihentak-hentakan di atas karpet karena terlalu geli dengan sikap suaminya yang konyol. Ia pikir hanya dirinya saja yang mampu merasakan cemburu karena Sian memiliki terlalu banyak teman kencan sebelum menikah dengannya.


            “Hal konyol macam apa itu?” Olivia terus saja terbahak di atas sofa hingga membuat Louise yang sedang tengkurap di atas karpet memandang heran kearahnya.


            “Hey baby boy, apa bibimu ini terlihat aneh?” tanya Olivia sambil mengangkat Louise dari atas karpet. Bayi mungil itu langsung saja memukul-mukul wajah Olivia dengan tangan mungilnya karena terlalu girang dengan perlakuan Olivia padanya.


            “Kau benar-benar tidak peka pada suamimu, Olive.” komentar Eden pendek. “Seharusnya kau sadar jika seorang Sian yang merupakan sahabat baik dari Aciel Lutherford, pasti juga akan memiliki sikap posesif yang sama buruknya dengan Aciel. Rasanya apapun yang akan kita lakukan akan terlihat salah di mata mereka. Sedangkan


mereka seakan-akan bebas melakukan apapun di luar sana.” dengus Eden tanpa sadar. Olivia hanya meringis kecil dari tempatnya dan kembali bermain-main bersama Louise yang begitu menggemaskan. Urusan kecemburuan Sian akan ia selesaikan nanti. Sekarang ia hanya ingin menciumi pipi chubby Louise sebanyak yang ia mau!


-00-


            Pukul tujuh tepat Sian datang ke rumah Aciel untuk menjemput istrinya yang hari ini lebih memilih menghabiskan waktunya bersama Eden untuk bergosip.


            Saat pertama melewati ruang tamu, Sian langsung disambut oleh Eden yang sedang menggendong Louise yang sedang terkantuk-kantuk di dalam dekapan hangat ibunya.


            “Aciel tidak ikut pulang bersamamu?” tanya Eden sambil melongokan kepalanya ke luar pintu utama. Meskipun ia tahu jika Aciel jarang pulang di jam sore seperti ini, tapi terkadang Eden masih mengharapkan pria itu pulang lebih awal untuk makan malam bersamanya.


            “Masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantor. Sebenarnya ia juga menahanku untuk pulang, tapi aku beralasan sedang pusing padanya.” ucap Sian ringan dengan kekehan. Eden hanya berdecak pelan menanggapi ucapan Sian. Memang Sian selalu berhasil menggunakan seribu satu cara untuk mengelabuhi Aciel agar ia tidak harus melakukan lembur di kantor seperti pria itu.


            “Dia sedang memasak bubur abalon.”


            “Aku akan menyusulnya ke dapur.” balas Sian yang langsung pergi begitu saja menuju dapur. Namun saat ia hampir melewati pintu pembatas antara dapur dan ruang makan, ia tiba-tiba teringat pada tuan Kim yang biasanya selalu memberikan sapaan padanya ketika ia hendak berjalan menuju dapur. Pria itu lantas tersenyum kecil, dan memilih untuk segera pergi ke dapur dan menemui istrinya. Sampai kapanpun kenangan tentang tuan Kim memang tidak akan pernah terlupakan dari otaknya.


            “Hai.” sapa Sian canggung. Olivia terlihat sama sekali tidak membalikan tubuhnya meskipun ia tahu jika Sian baru saja datang dan sedang memerhatikannya dari meja bar.


            “Kau datang disaat bubur ini sudah siap.”


            Sambil menyangga pinggangnya yang terasa berat karena janinnya yang telah tumbuh semakin besar, Olivia berjalan pelan kearah Sian sambil membawa semangkuk bubur abalon yang masih mengepulkan asap tipis yang begitu menggiurkan.


            “Kelihatannya enak.” ucap Sian tanpa ekspresi. Olivia lantas menggerutu dari kejauhan setelah mendengar ucapan Sian yang terdengar begitu datar untuk sebuah pujian. Hari ini ia benar-benar tidak paham dengan perubahan sikap Sian yang menjadi lebih kekanakan. Biasanya pria itu memang acuh pada Olivia, tapi hari ini Sian lebih acuh dan juga menyebalkan. Tanpa terasa, Olivia mengepalkan tangannya pada sendok sayur yang sedang ia genggam. Ia merasa sangat kesal dan ingin mengaduk-aduk wajah tampan suaminya saat ini juga.


            “Makanlah selagi hangat, semoga kau suka.”


               Sian segera mengambil sendok yang tergeletak di samping piringnya, lalu menyendoknya kuah bubur itu sedikit sebelum ia menyesapnya dengan sruputan pelan. “Olive, kenapa bubur abalonnya terlalu asin?” protes Sian setelah pria itu berhasil menyesap rasa bubur abalon buatan istrinya. Olivia sedikit mengernyit bingung dan mencoba mencicipi sedikit bubur abalon dari mangkuk Sian.


            “Tidak, rasanya pas. Kau jangan aneh-aneh, dad.” geram Olivia sedikit kesal. Ia tahu jika Sian hanya sedang dilingkupi kecemburuan konyol terhadap George, sehingga apapun yang dilakukan Olivia saat ini selalu terasa salah di mata Sian.


            “Ambilkan aku minum! Aku sedang ingin minum jus melon.”


            Olivia dengan mata memejam menahan amarah segera melekatak panci yang baru saja ia angkat dari kompor ke atas meja dan beranjak menuju kulkas untuk mengambil melon dan gula. Ia harap kali ini Sian tidak lagi berkomentar yang tidak tidak pada jus buatannya.


            “Habiskan makananmu, aku akan menunggu di depan,”


            “Olive, kenapa jus melonnya terlalu encer?” cecar Sian sebelum Olivia benar-benar meninggalkan dapur.

__ADS_1


            “Oh, maaf.” ucap Olivia singkat di ujung pintu. Sama sekali tidak ada niatan di hati Olivia untuk mengganti jus melon itu dengan yang baru karena ia terlalu malas untuk meladeni sikap kekanakan Sian hari ini.


            “Kenapa hanya maaf? Buatkan yang baru.” balas Sian setengah memerintah. Olivia sudah akan mendebat Sian, sebelum suara Ciara yang sedang memanggil-manggilnya dari ruang makan membuatnya harus berjalan pergi sambil menyunggingkan senyum kemenangan.


            “Kurasa aku akan menemani Ciara makan.” ucap Olivia sedikit keras dan berhasil membuat wajah cemberut Sian semakin tertekuk karena ia telah diabaikan oleh Olivia. Pria itu terus saja menggerutu dengan jus buatan Olivia, dan pada akhirnya jus itu tidak disentuh sama seakali oleh Sian karena ia telah kehilangan seluruh selera makannya karena sikap acuh Olivia.


-00-


            “Aku dan Sian akan pulang.”


            Eden yang baru saja menemani Ciara tidur langsung menoleh ke arah pintu kamar Ciara yang sedikit terbuka karena Olivia. Wanita itu cepat-cepat merapikan selimut berantakan yang digunakan Ciara, lalu segera berjalan ke arah pintu untuk menemui Olivia.


            “Kukira kalian akan menginap.” Eden melirik jam dinding yang telah menunjukan pukul sepuluh. Biasanya pasangan itu akan menginap jika lebih dari pukul sembilan belum pergi meninggalkan mansion Aciel.


            “Kurasa lebih baik kami pulang. Kau tahu Ed, selama ini aku merasa kami terlalu bergantung pada kalian. Terutama Aciel.” tambah Olivia dengan wajah malu. Kening Eden seketika saling bertaut, merasa aneh dengan kata-kata Olivia yang tiba-tiba membahas masalah kebaikannya dan juga Aciel selama ini.


            “Kurasa itu bukan sesuatu yang istimewa. Kau keluarga kami, Olive. Jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan jika kau membutuhkan sesuatu. Dimana Sian?” Olivia mencari-cari keberadaan Sian di lantai yang sama tempat mereka berdiri, namun ia sama sekali tak mendapati Sian dimanapun. Perang dingin antara Sian dan Olivia sepertinya masih berlanjut, pikir Eden geli.


            “Sian menunggu di bawah.”


            Setelah menutup pintu kamar Ciara di belakangnya, Eden segera berjalan beriringan bersama Olivia untuk mengantar wanita itu ke depan. “Kalian belum berbaikan?” tanya Eden di ujung tangga. Melihat raut kesal yang tiba-tiba tercetak jelas di wajah Olivia membuat Eden langsung berkesimpulan jika tebakannya sejak tadi memang benar.


            “Bagaimana kami akan berbaikan jika ia terus saja bersikap seperti itu.” dengus Olivia kesal. Samar-samar mereka mendengar suara seseorang yang sedang bercakap-cakap ketika mereka melewati ruang tamu yang sunyi.


            “Kurasa suamimu baru saja pulang.”


            Saat mereka melewati pintu utama untuk berjalan menuju teras, Eden melihat suaminya sedang berbicara dengan Sian di dekat mobil milik pria itu.


            “Halo Ace.” sapa Olivia singkat saat melewati Aciel. Pria itu refleks memutar tubuhnya dan memberikan sapaan balasan untuk Olivia yang telah menyapanya.


            “Halo, bagaimana kabarmu, Olive? Semuanya sehat?” Aciel melirik kearah perut buncit Olivia sambil merangkul bahu Sian yang terlihat begitu kaku di sebelahnya. Sayangnya Aciel tidak menyadari adanya kejanggalan yang terjadi diantara temannya dan juga istrinya itu, sehingga Eden langsung memberikan kode pada


Aciel untuk tidak memberikan terlalu banyak pertanyaan pada Olivia dan Sian yang sedang dilanda perang dingin.


            “Semuanya baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir.” balas Olivia tak bersemangat sambil mengelus perut buncitnya. Wanita itu kemudiann segera berpamitan pada Eden dan masuk ke dalam mobil karena tubuhnya merasa sudah sangat kelelahan. Dan Sian yang sebelumnya masih berdiri di sebelah Aciel segera mengikuti sang istri untuk masuk ke dalam mobil dan pulang. Ia tahu jika Olivia kelelahan, dan ia tidak ingin membuat istrinya menjadi sakit karena terlalu lelah dengan seluruh aktivitasnya hari ini.


            “Ada apa dengan mereka?”


            Segera setelah mobil milik Sian pergi meninggalkan halaman mansion Aciel yang luas, pria itu langsung menyusul Eden masuk ke dalam mansionnya dan menanyakan pertanyaan pada Eden terkait sikap aneh Sian yang cukup dingin malam ini.


            “Mereka bertengkar.” jawab Eden geli. Membayangkan jika Sian sedang cemburu membuat Eden mau tidak mau tergelak lagi di samping Aciel yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.


            “Kenapa kau tertawa sayang?”


            “Temanmu itu lucu.” balas Eden dengan tawa. “Sian cemburu karena hari ini Olive bertemu dengan teman masa kecilnya di supermarket. Bukankah itu kekanakan?” tanya Eden geli. Aciel hanya mengendikan bahunya sekilas sambil berjalan kearah lemari untuk mengambil piyama di sana.


            “Kurasa itu bukan sesuatu yang kekanakan.”


            “Itu konyol, Ace. Kupikir kau satu-satunya pria pecemburu di sini, ternyata Sian juga telah tertular oleh virus cemburumu.”


            “Huh, pria itu.” kekeh Aciel sambil mengenakan piyamanya dengan gerakan cepat. Ia lalu melihat kearah Eden yang sedang menepuk-nepuk paha Louise di atas ranjang mereka setelah ia baru saja mendengar suara rengekan jagoan kecilnya.


            “Aku lelah, Ed.” bisik Aciel parau. Rasa kantuk telah melingkupi pria itu sepenuhnya, dan ia hanya ingin beristirahat dengan tenang di samping wanita yang ia cintai.


            “Itu terlihat di wajahmu. Tidurlah, dan jangan lupa berdoa.” Eden memperlakukan Aciel seperti seorang balita dengan mengecup kening pria itu lembut dan memasangkan selimut hingga sebatas dagu. Namun hal itu sama sekali tidak mengganggu Aciel. Ia justru senang mendapatkan perlakuan yang kekanakan dari Eden, karena itu seperti mengingatkannya pada ibunya.

__ADS_1


            “Selamat malam, Ed.”


__ADS_2