
Aciel mengacak rambutnya frustasi setibanya ia di dalam ruang kerja miliknya yang berada di lantai satu. Menghadapi sikap Eden yang sangat keras seperti empat tahun lalu benar-benar akan menguras tenaganya. Apalagi saat ini ia sedang disibukan dengan proyek baru, sikap Eden yang keras itu tentu akan semakin merepotkannya dan juga memusingkannya.
“Hei, minumlah dulu. Kau terlihat sangat frustasi bung.”
Sian yang kebetulan sedang berkunjung untuk melihat kondisi keponakan-keponakan kecilnya dan juga kondisi sahabatnya yang menyedihkan itu segera menyodorkan segelas vodka padanya sambil menepuk pundak Aciel pelan. Sebagai salah satu orang yang paling dekat dengan Aciel, Sian tahu bagaimana peningnya Aciel dengan masalah ini. Apalagi perjuangan sepupunya itu untuk mendapatkan istrinya bisa dikatakan tidak mudah. Ada banyak perngorbanan yang harus dilakukan oleh Aciel untuk bisa sampai ditahap ini.
“Eden benar-benar berubah menjadi Eden empat tahun yang lalu. Ia kasar, pemarah, dan tak mudah dikendalikan. Amnesia sialan mengacaukan semua ingatan Eden tentangku Ciara, bahkan Louise. Ia sama sekali tidak mengingat kami, bahkan kehidupan pernikahan kami yang berangsur-angsur membaik sejak satu tahun yang lalu.” dengus Aciel gusar sambil mengepalkan tangannya di atas meja.
“Dude, kuyakin kau bisa membawa ingatan Eden kembali. Bukankah dulu kau berhasil menjinakannya, saat ini pun kuyakin kau juga bisa melakukannya. Ngomong-ngomong apa kau sudah membawa Eden untuk bertemu Louise?”
“Dengan keadaannya yang seperti itu? Yang benar saja, ia justru akan melukai Louise jika aku membawanya ke bertemu Louise. Aku tidak ingin ia menyakiti anakku.” ucap Aciel datar. Ia lantas memejamkan matanya sejenak, memutar kembali ingatannya saat tadi pagi untuk pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar Louise dan menggendong bayi mungil itu. Rasanya ia ingin menangis saat melihat Louise yang begitu lemah, kecil, dan rapuh harus mengalami kondisi yang sangat buruk seperti ini.
“Ace, kau seharusnya membawa Eden untuk bertemu Louise, mungkin saja ikatan batin diantara mereka akan membawa ingatan Eden kembali. Yaah... setidaknya film-film selalu mengisahkan jalan cerita seperti itu.”
“Kau pikir kehidupanku adalah drama picisan seperti yang sering kau tonton? Sialan kau!” maki Aciel kesal, sedangkan Sian hanya mampu tertawa kecil dari tempatnya duduk. Setidaknya ia dapat sedikit membuat lelucon untuk Aciel, meskipun ia tahu jika leluconnya sama sekali tidak lucu.
“Tentu saja, aku pasti akan membawa ingatan Eden kembali. Tapi kurasa kali ini Eden akan lebih merepotkanku daripada empat tahun yang lalu. Dan selain Louise, aku juga takut Eden akan menyakiti Ciara karena ia belum bisa menerima Ciara sebagai anaknya. Bahkan ketika Ciara memeluknya, Eden justru tampak sangat kaku dan juga tegang.”
“Yah.. ingatannya terperangkap di masa lima tahun yang lalu, jadi pantas saja jika ia belum bisa menerima kehadiran Ciara karena dirinya lima tahun yang lalu masih begitu naif dan sering menjadi wanita nakal untuk menggoda banyak pria, termasuk Anthony. Tapi kau juga harus bersyukur karena dengan begitu ia melupakan ingatannya ketika menjalani pernikahan bersama Zyan.” ucap Sian sambil mengangkat gelas vodkanya tinggi-tinggi sebelum menegak habis isi cairan pekat itu hingga tandas. Sedangkan Aciel hanya menatap Sian tajam tanpa berniat untuk membalas ucapan sahabatnya itu lebih jauh. Apa yang dikatakan oleh sahabatnya benar, ia memang sedikit diuntungkan dengan kondisi Eden saat ini, namun selain menghilangkan ingatannya tentang Zyan, Eden juga melupakan kehidupan bahagia mereka selama ini. Dulu ia sering sering meniduri wanita manapun yang menarik perhatiannya, tapi setelah bertemu dengan Eden, karma seperti berlaku padanya. Ia rasanya seperti tokoh
dalam drama picisan yang justru harus mengemis-ngemis cinta pada wanita yang ia sukai. Dan sialnya, wanita yang ia sukai bukan tipe wanita yang mudah. Berkali-kali Eden memberontak padanya dan hampir mempermalukannya beberapa kali di hadapan rekan-rekan bisnisnya yang saat itu datang ke rumah untuk acara
perjamuan bisnis. Namun pada akhirnya ia berhasil menaklukan Eden. Rasanya mengingat masa lalu membuat Aciel takjub akan kesabarannya untuk menjaga Eden agar tetap hidup bersamanya. Tapi sekarang, ia tidak tahu apakah ia bisa melakukannya. Ia takut Eden akan meninggalkannya, entah meninggalkannya karena kematian atau karena pria lain yang merupakan kekasih isterinya itu. Yang jelas ia harus bergerak cepat untuk mencari dimana keberadaan Anthony sekarang karena pria itu bukan pria sembarangan yang bisa diremehkan.
“Apa kau tahu dimana keberadaan Anthony sekarang?”
“Entahlah, tapi aku pernah melihatnya di daerah Boullevard. Ia saat itu sedang menandatangani kontrak kerjasama dengan salah satu perusahaan milik kolega bisnis kita.”
“Perusahaan hiburan milik Ferdinand? Kurasa ia pria yang sangat gigih karena ia tetap berusaha untuk
membangun kehidupannya lagi setelah aku pernah menjegal beberapa kariernya karena aku menghasut rekan-rekanku untuk jangan menggunakan pria itu sebagai brand ambassador di perusahaan mereka.” jelas Aciel dengan dahi berkerut. Jujur akhir-akhir ini ia sedikit terlena dengan kehidupan bahagianya dengan Eden hingga ia melupakan Anthony yang selama ini telah ia sakiti. Bagaimana keadaan pria itu sekarang? Apakah ia tahu jika Eden sedang mengalami amnesia?
“Kau tenang saja, aku akan mencari informasi mengenai keberadaan pria itu. Sekarang yang harus kau pikirkan adalah kondisi Eden, Louise dan Ciara. Bukankah mereka adalah harta berhargamu saat ini?” tanya Sian dengan senyum simpul yang terukir tipis di wajahnya.
“Segera beritahu aku jika kau menemukan Anthony karena aku harus memastikan ia tidak sedang membuat rencana untuk menghancurkanku.”
-00-
Sore yang kelabu setelah hujan deras yang mengguyur Vegas siang tadi. Eden tampak melamun di atas ranjangnya sambil memikirkan berbagai cara untuk kelur dari mansion mewah yang sudah seperti neraka baginya itu. Sejak kemarin otaknya terus berpkir agar ia dapat segera kabur dari cengkeraman Aciel, tapi sayangnya pria itu jauh lebih cerdik dengan menyiapkan banyak penjaga terlatih di sekitar kamarnya. Dan lagi, semenjak ia sadar ia tidak pernah mendapatkan peralatan makan yang terbuat dari keramik atau benda-benda tajam yang berpotensi akan menyakitinya. Semua peralatan makan yang ia terima berbahan dasar plastik, hingga terkadang ia merasa seperti balita berumur empat tahun yang tidak bisa makan dengan benar.
Tokk tok tok
__ADS_1
Eden menoleh kearah sumber suara sambil mengernyitkan dahinya bingung. Diliriknya jam masih menunjukan pukul lima sore, itu berarti seseorang yang mengetuk pintu kamarnya bukan Aciel, karena Aciel hanya akan datang saat pagi hari dan juga malam hari. Sedangkan pelayan pengantar makanan juga tidak mungkin mengetuk pintu kamarnya sesore ini karena pelayan itu hanya akan mengantarkan makan malam pukul tujuh. Siapa yang telah mengetuk pintu kamarku?
Ckrek
Perlahan-lahan pintu kayu itu terbuka, memunculkan sosok wanita muda dengan seorang gadis kecil digendongannya. Ketika masuk ke dalam ruangan itu, sang wanita langsung tersenyum ramah pada Eden sambil menganggukan kepalanya sopan pada Eden yang masih setia memandanginya dengan tatapan menelisik yang tidak sopan.
“Selamat sore nyonya, saya Mary, pengasuh nona Ciara.”
“Mommy!”
Gadis kecil berusia empat tahun itu langsung meluncur turun dari gendongan Mary dan segera berlari ke
atas ranjang untuk memeluk ibunya yang masih terdiam kaku tanpan bergerak sedikitpun. Eden menatap Ciara ketakutan seperti ia sedang bertatapan dengan virus. Ketika Ciara mendekat, Eden segera memundurkan tubuhnya untuk menghindari Ciara. Namun ketika ia sudah bernar-benar terpojok dan tak bisa bergerak mundur, Ciara langsung melompat kearahnya dan memeluknya dengan sangat erat hingga membuatnya ingin muntah karena Ciara menekan perutnya terlalu kuat.
“Ciara merindukan mommy.”
“Tttolong jauhkan ddia dari pperutku, aaku ingin muntah.” ucap Eden terbata-bata pada Mary. Marypun dengan sigap menarik Ciara ke belakang agar Ciara tidak membuat Eden tidak nyaman.
“Maaf nyonya, Ciara terlalu senang karena nyonya sudah sadar. Ciara sangat merindukan nyonya.”
Eden menatap wajah Ciara lekat-lekat sambil membandingkan wajahnya dan juga wajah Ciara melalui cermin. Jika dilihat-lihat, ia dan Ciara memiliki kemiripan dalam hal mata dan juga kening, tapi ia masih terlalu takut untuk menyimpulkan jika Ciara adalah anaknya karena pria itu mengatakan jika Ciara anak mereka, sedangkan ia tidak pernah sudi mengandung anak dari pria itu.
“Nyonya, apa anda baik-baik saja?”
“Apa Ciara, anakku?” tanya Eden ragu pada Mary.
“Tentu saja, Ciara adalah anak nyonya dan tuan Aciel. Anda melahirkan Ciara empat tahun yang lalu. Dan selain Ciara, anda juga melahirkan Luoise satu minggu yang lalu. Bayi anda sangat menggemaskan nyonya, apa nyonya tidak ingin melihat bayi nyonya?”
Eden terdiam cukup lama dengan informasi yang diterimanya dari Mary. Ia tidak tahu jika ia telah memiliki kehidupan yang terlalu jauh dengan pria itu.
“Aku tidak mengingatnya, sama sekali.” tambah Eden dengan wajah datar tak terbaca. Entah saat ini Eden sedang sedih atau bingung, Mary tidak dapat membaca hal itu. Tapi sudut bibir Mary tiba-tiba membentuk lengkungan ketika ia melihat tangan Eden secara naluriah membelai rambut hitam lebat Ciara.
“Anda baru saja sadar dari masa kritis anda. Perlahan-lahan anda pasti akan mengingat semuanya.”
“Aku tidak yakin, bahkan aku justru tidak ingin mengingatnya karena aku sangat membenci Aciel. Dia adalah iblis yang telah merusak kehidupanku, dan juga teman-temanku.”
“Mommy, apa itu iblis?”
Tiba-tiba Ciara mendongak dan berseru dengan polos. Cepat-cepat Mary meralat ucapan Eden agar gadis sekecil Ciara tidak terseret ke dalam masalah antara kedua orangtuanya yang cukup rumit itu.
“Bukan apa-apa sayang, lupakan saja. Bermainlah lagi bersama boneka rillakumamu.” perintah Mary lembut. Eden menatap interaksi yang tercipta antara Mary dan Ciara dengan perasaan aneh. Tiba-tiba saja ia merasa kesal karena Mary mampu menunjukan sikap lembutnya, sedangkan ia tidak bisa. Jika ia benar adalah ibu kandung Ciara, seharusnya ia memiliki ikatan batin dengan putrinya. Namun hingga sejauh ini ia tidak bisa merasakan apapun, hanya perasaan kesal yang terus melingkupi hatinya karena Aciel sama sekali tidak mau membiarkannya bebas.
__ADS_1
“Kau terlihat sangat dekat dengan Ciara. Sepertinya kau lebih cocok untuk menjadi ibunya, bukan aku.”
“Nyonya tidak boleh berkata seperti itu, sampai kapanpun nyonya adalah ibu Ciara. Dulu bahkan saya iri pada nyonya karena nyonya adalah gambaran seorang ibu yang sempurna. Seiring berjalannya waktu nyonya pasti akan mengingat semuanya. Tuan pasti tidak akan membiarkan nyonya kehilangan ingatan nyonya terlalu lama, karena jika nyonya mengingatnya nyonya pasti tidak akan pernah menyesali pernikahan nyonya dengan tuan Aciel.”
Setelah mengucapkan hal itu Mary pamit undur diri pada Eden karena hari sudah semakin petang dan sudah saatnya bagi Ciara untuk makan malam.
Sementara itu setelah Mary keluar dari kamarnya, hati Eden semakin dibuat tidak menentu karena wanita itu mengatakan jika seolah-olah kehidupan pernikahannya sangat sempurna. Penuh dengan kebahagiaan dan sangat jauh berbeda dengan apa yangdipikirkannya saat ini.
“Bagaimana kabarmu hari ini?”
Eden mengabaikan suara sapaan yang kaku itu tanpa berniat untuk menolehkan kepalanya sedikitpun kearah pintu. Lagipula tanpa ia melihatnya pun ia sudah tahu siapa yang sedang berdiri di sana dengan tatapan mata tajam menusuk kearahnya.
“Jika aku bertanya kau harus menjawabku Ed.” geram Aciel tertahan. Eden tetap mempertahankan sikap diamnya. Dan dengan penuh keangkuhan ia justru berbaring sambil memasang posisi miring ke kiri, membelakangi posisi Aciel yang masih setia berdiri di ambang pintu dengan tangan terkepal di dalam saku celananya.
“Kau menantangku, heh.”
Tanpa diduga Aciel langsung menarik pundak Eden kasar hingga saat ini Eden dalam posisi terlentang di bawah kuasa pria arogan itu. Sekuat tenaga Eden segera mendorong tubuh kokoh itu agar menyingkir dari atas tubuhnya. Pada saat dorongan pertama Eden berhasil membuat tubuh tegap Aciel terdorong ke belakang. Namun pada dorongan kedua Eden tak berhasil melakukannya karena kali ini Aciel lebih mengeraskan tubuhnya di depan Eden.
“Aku hampir kehabisan kesabaran untuk menghadapimu. Tak biasakah kau bersikap lebih manis dan penurut. Jika kau bisa melakukannya, aku tidak akan memperlakukanmu seperti seorang tahanan. Aku akan membiarkanmu bebas seperti sebelumnya.”
Tawaran yang diberikan oleh Aciel terasa begitu menarik untuknya. Lagipula bersikap penurut di depan Aciel tidak akan pernah sulit, apalagi pria itu sangat jarang berada di rumah. Dan jika ia berhasil menuruti perintah pria itu, ia bisa mendapatkan kebebasannya. Ia bebas berkeliaran di rumah ini sambil memikirkan cara untuk kabur dari pria kejam yang saat ini sedang menyeringai di atas tubuhnya sambil mengendus puncak kepalanya. Menjijikan!
“Apa kau benar-benar akan membebaskanku jika aku menjadi lebih manis dan penurut?”
“Tentu saja, aku bukan seorang pembual sayang. Aku pasti akan menepati setiap janji yang kubuat. Jadi kau tenang saja.”
“Aku ingin bebas, aku tidak mau dikurung di kamar ini.” ucap Eden menyuarakan permintaanya. Aciel menanggapi permintaan Eden dengan senyum simpul, lalu ia mendaratkan satu kecupan singkat di dahi Eden sebelum ia berseru lagi pada wanitanya.
“Aku tidak mungkin mengurungmu jika kau bersikap baik Eden, jadi mulai sekarang bersikaplah baik di depanku. Jadilah Edenku yang manis dan juga penurut, karena sejujurnya aku tidak suka melihatmu terkurung di sini tanpa melakukan apapun. Aku lebih suka melihatmu berkeliaran di dapur dan... menjadi teman tidurku yang luar biasa.”
“Brengsek!”
Eden mendorong tubuh Aciel kuat ketika dirasanya pria itu mulai tidak sopan lagi padanya. Namun dorongan kuat yang dilakukan Eden pada dada bidang Aciel justru membangkitkan hal lain yang membuat Aciel semakin bergairah saat melihat Eden. Terlebih lagi sudah lebih dari satu minggu ia tidak menyentuh Eden. Tubuhnya saat ini begitu mendambakan Eden, hingga setiap sentuhan yang diberikan Eden di tubuhnya membuat seluruh permukaan kulitnya meremang. Sikap defensif yang diberikan Eden benar-benar sangat tidak tepat untuk dilakukan saat ini.
“Menjauh dariku sekarang juga! Jangan pernah sentuh aku.”
“Sayangnya aku sudah pernah menyentuhmu sayang. Kita tidak akan pernah mendapatkan Ciara dan Louise jika aku tidak pernah menyentuhmu bukan?” bisik Aciel penuh manipulasi di telinga Eden. Rasanya saat ini Eden benar-benar jijik pada dirinya. Ia jijik dengan sikapnya di masa lalu yang entah bagaimana bisa menghasilkan Ciara. Ia yakin pasti saat itu ia telah diberi obat hingga ia bisa bersikap sangat murahan di hadapan pria itu.
Cup
“Jangan terlalu banyak berpikir sayang, aku tidak suka melihat kerutan di dahimu.”
__ADS_1
Aciel lantas mencium bibir Eden dalam hingga Eden tak bisa berkutik sedikitpun. Bahkan pria itu dengan kurangajarnya menggigit sudut bibirnya hingga berdarah dan membuatnya mau tidak mau membuka bibir untuk pria itu.
Pukulan dan tendangan didapatkan Aciel berkali-kali ketika ia mencoba membangunkan masa lalu istrinya yang terkubur rapat mengenai dirinya. Ia sudah bertekad pada dirinya sendiri bahwa ia akan melakukan apapun untuk membawa Eden kembali ke dalam pelukannya. Jadi meskipun ini menyakitkan untuk fisiknya dan menyakitkan untuk jiwa Eden, ia tidak peduli! Bahkan sejak awalpun mereka sudah memulainya dengan kesakitan, jadi sedikit sakit sekali lagi, baginya itu tidak masalah.