Black Swan

Black Swan
14


__ADS_3

luna berdiri di pagar balkon kamarnya sambil menatap kosong langit malam yang hari ini dipenuhi dengan bintang-bintang. luna tahu apa yang dilakukannya sekarang adalah tindakan yang salah, seharusnya dari awal dia tidak pernah menyetujui kesepakatan ini. detik demi detik yang berjalan bagai bumerang waktu untuk luna yang siap menenggelamkannya, dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi ditempat ini, bahkan untuk sedetikpun dia tidak bisa.



luna bingung, tidak bisa dipungkiri bahwa tempat ini perlahan-lahan membuatnya merasa nyaman. tapi rasa rindu pada keluarganya membuat dada luna terasa sesak. dia ingin menemui mereka, luna merindukan ayahnya, ibunya, lili dan edward. untuk bertemu mereka luna harus melanggar janjinya dan kabur saat ini juga, tapi dia takut. luna takut, dia takut kejadian yang sama akan terulang lagi saat tyler hampir sekarat karena membahayakan dirinya hanya untuk menyelamatkan luna, terlebih lagi luna belum sempat membalas budi.


namun berada disini rasanya sangat salah apalagi luna menyadari ada sesuatu hal yang berubah di dalam lubuk hatinya. dan luna lagi-lagi mengabaikan perasaan itu. kenyataan sebenarnya yang harus dia hadapi adalah fakta bahwa tyler ternyata seorang mafia, dia tidak jauh beda dengan iblis mematikan.


kenyataan itu membuat luna hanya bisa pasrah dan berdoa setiap harinya, berharap ayahnya dan edward dapat segera menyelamatkannya dari tempat ini. karena satu kesalahan saja akan menjadi bumerang mematikan baginya, luna bisa saja langsung dibunuh.


"apa sebenarnya maumu?" ucap luna tiba-tiba yang membuat tyler sedikit terkejut. gadis ini menyadari kehadirannya.


"apa maumu?" tanya luna lagi kali ini berbalik menatap tyler, tatapan lelah dan frustasi itu membuat tyler terpaku sesaat.


"apa salahku? kenapa kau menculikku kemari?" tanya luna dengan suara bergetar menangis.


"kau yang paling tau apa yang sangat aku inginkan." balas tyler lembut berjalan mendekat.


"aku kira kau bahagia disini." katanya lagi, tangannya perlahan lahan terangkat mengusap air mata luna yang mengalir. apa selama ini tyler yang salah, beberapa hari ini semuanya tampak baik-baik saja. kesepakatan berjalan sesuai rencana dan luna juga menikmati hari harinya berada di mansion ini dengan bahagia. apa senyum yang selama ini dia perlihatkan menyimpan banyak kesedihan.


kepala luna menggeleng membuat tyler memahami jawaban itu. luna tidak bahagia bersamanya, sebesar apapun usaha yang telah tyler lakukan untuk membahagiakannya, gadis itu tidak pernah bahagia.


"lepaskan aku. aku mohon kembalikan aku pada edward." air mata semakin membanjiri wajah pucat luna membuat hati tyler mencelos merasa sangat bersalah.


"maaf aku tidak bisa." balas tyler, dia melangkah maju memeluk luna, tangannya yang semula di pipi luna berpindah membelai lembut rambut panjangnya. "aku hanya ingin bersamamu." lirihnya.


tidak ada jawaban karena hati luna juga merasakan hal yang sama. sebenarnya ini yang dia takutkan, di takut akan semakin jatuh pada tyler. luna yakin perasaan ini perlahan lahan akan mengembang dan memenuhi hatinya, meski tau bahwa laki-laki ini berbahaya, anehnya luna justru merasa sangat aman selama tyler berada disisinya, kehangatan ini, perasaan dilindung dan ketulusan, luna tidak pernah merasakannya pada edward.


"apa salahku?" kali ini tyler yang bertanya, dia melonggarkan pelukannya agar bisa menatap wajah luna.


tatapan tidak berdayanya membuat luna merasakan kesepian yang terpancar jelas di kedua matanya, "apa salahku hingga kau sangat tidak ingin tinggal disini bersamaku luna..." lirih tyler pelan seolah ada kesedihan dibalik ucapannya.

__ADS_1


"aku hanya ingin kau berada disisiku. tinggal disini bersamaku jika perlu untuk waktu yang lama."


"aku wanita yang sudah menikah tyler." balasnya, sesungguhnya luna tidak tau pasti apa penjelasannya ini akan membuat tyler menyerah dengan perasaannya. "kau menculikku. memisahkanku dengan edward dan keluargaku."


"ini perbuatan salah!" nada luna sedikit meninggi berharap tyler bisa memahami perkataannya..


"apa jatuh cinta padamu adalah kesalahan?" tanya tyler, luna terdiam. kita memang tidak bisa mengendalikan perasaan yang tumbuh didalam hati kita, luna tidak bisa mengatur ingin jatuh cinta pada siapa.


"tidak ada yang salah dalam cinta luna. karena itu aku menculikmu. membawamu kemari dan berusaha membuatmu membalas perasaanku." lanjut tyler dengan suara yang ikut meninggi, dia benci jika perasaannya dianggap sebuah kesalahan. karena dia tulus, tulus mencintai luna.


"apa kau sudah gila?"


"aku memang gila karena teramat sangat ingin memilikimu."


"jadilah istriku luna." minta tyler.


luna mematung, meski bukan kali pertamanya dia mendengar perkataan itu tetap saja dia selalu terkejut mendengarnya.


plak!!


"jaga bicaramu. aku tidak akan pernah menghianati cinta suamiku!!" entah kekuatan dari mana luna menampar tyler dengan keras, dia benar sudah kehilangan kesabaran.


"bagaimana jika dia yang mengkhianati cintamu?" tanya tyler dingin.


"edward tidak akan mungkin melakukannya."


tyler tersenyum mengejek, "bagaimana kamu bisa yakin? bagaimana kau bisa sangat percaya padanya?"


"karena aku mencintainya. aku percaya padanya." setiap kata yang luna keluarkan syarat akan rasa tegas, dan pondasi kekuatan dihatinya, dia memilih edward, mengabaikan perasaan lain yang ada dalam hatinya dan meyakini bahwa edward lah belahan jiwanya.


"ini sudah empat bulan dan dia tidak pernah datang menjemputmu apa kau yakin dia tidak akan pernah menyerah untuk menemukanmu. sadarlah luna! dia sudah tidak mencintaimu lagi!"

__ADS_1


"perkataanmu tidak akan membuatku ragu padanya. aku mempercayai edward dengan sepenuh hatiku dan aku tidak ingin menghianati cinta kita jadi percuma kau berharap padaku tyler. aku tidak akan pernah menjadi milikmu."


"aku mencintai edward!"


"bisakah kau berhenti bersembunyi dibalik edward, luna!" marah tyler, bukan karena tamparan itu, tapi tentang edward, kenyataan bahwa laki-laki yang luna cintai sebegitu besarnya telah mengkhianati dirinya, ingin sekali tyler mengatakan hal itu didepan luna saat ini.


"kalian belum menikah. kau belum resmi menjadi istrinya." kata tyler, luna pasti mengingat hari dimana tyler menculiknya. kejadian penculikan itu tepat dilakukan sebelum mereka melakukan sumpah pernikahan, luna pasti tau dia dan edward belum resmi menikah.


"aku hanya ingin kejujuran darimu tanpa melihat masa lalu atau memandang status dan keluarga. pikirkan saat ini hanya ada kau dan aku."


"apa kau mencintaiku?" tanya tyler sungguh-sungguh, matanya berbinar penuh harap, jatungnya berdegup kencang menunggu jawaban.


"tidak," geleng luna. "aku tidak pernah mencintaimu tyler." ucapnya dengan tegas sambil menatap kedua bola mata tyler.


"tidak sedikit pun?"


"ya tidak sedikit pun." luna tau ucapannya ini tidak hanya menyakiti hati tyler tapi juga hatinya. kebohongan yang harus dia lakukan karena pada dasarnya mereka takkan pernah bisa bersama. keluarganya dan orang orang disekitarnya, apakah dia bisa menerima tyler didalam kehidupannya, tentu saja tidak. apa lagi mengetahui ayahnya sangat membenci laki-laki ini, luna tidak boleh jatuh cinta pada tyler.


tyler hanya terdiam, mendengar jawaban dari luna yang sudah cukup membuat hatinya hancur lebih sakit daripada tamparan yang diberikan gadis ini beberapa saat yang lalu.


"kalau begitu kau tidak akan bisa keluar dari neraka ini." ucap tyler tiba-tiba ketika mereka lama saling terdiam.


"hah? apa maksudmu?"


"lupakan soal kesepakatan kita. aku mengingkarinya. kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini."


siapa yang mengharapkan perasaan ini tumbuh dalam dirinya? tyler juga tidak percaya bagaimana bisa dia jatuh cinta sedalam itu pada seseorang yang telah menjadi milik orang lain


tapi sungguh kali ini saja. dari semua kutukan yang terjadi didalam hidupnya. tyler hanya menginginkan satu orang. dia sungguh sungguh jatuh cinta. dia mencintai luna william


teramat mencintainya.

__ADS_1



__ADS_2