
Tanpa mereka duga, malam itu adalah awal dimana hubungan mereka akan dimulai. Hubungan yang awalnya sebatas karena rasa iba, kini terus berkembang menjadi hubungan saling peduli antara satu sama lain. Sudah satu bulan lebih Olivia tinggal di rumah Sian. Selama itu Olivia tetap bekerja sebagai perangkai bunga di toko milik nyonya Han dan juga bekerja sebegai tukang cuci piring di kedai hotdog. Awalnya Sian sempat berpikir untuk melarang Olivia bekerja, tapi kemudian ia sadar akan statusnya yang bukan siapa-siapa Olivia, sehingga ia tidak berhak untuk melarang wanita itu bekerja. Selain itu Olivia juga bersikeras akan membayar semua kebaikan Sian selama ini dengan uang yang ia kumpulkan dari hasil bekerja di toko bunga dan di kedai hotdog. Meskipun ia sendiri tidak tahu kapan uang itu benar-benar akan terkumpul untuk membayar Sian, mengingat pekerjaanya itu tidak bisa membuatnya menghasilkan banyak uang, sebanyak yang sering dikeluarkan Sian untuknya.
“Sian, aku sudah selesai memasak makan malam. Kau ingin makan malam sekarang?” tanya Olivia di suatu malam ketika Sian sedang sibuk mengerjakan tugas-tugas kantornya. Melihat wajah Olivia yang sedang menyembul dari balik pintu ruangannya, Sian segera bangkit sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal dan kaku.
“Apa yang kau masak hari ini?”
“Hanya sebuah makanan sederhana. Ayo, kau harus melihatnya sendiri.” ucap Olivia antusias. Wanita itu kemudian segera berjalan mendahului Sian dengan bantuan tongkat alumuniumnya seperti biasa. Dulu saat Olivia baru saja tinggal di rumahnya, Sian merasa terganggu dan begitu risih dengan suara ketukan tongkat Olivia yang cukup nyaring itu, tapi seiring dengan berjalannya waktu, ia dapat beradaptasi dengan itu semua dan mulai dapat memahami keadaan Olivia. Satu hal yang membuat Sian sangat nyaman berada di samping Olivia, wanita itu selalu bisa menempatkan dirinya dalam situasi apapun. Jika ia merasa sedih dan sedang merindukan Tiffany, maka Olivia akan datang padanya sambil menguatkan dirinya dengan cerita-cerita sedih masa lalunya yang berhasil membuatnya melupakan semua kesedihannya, dan justru membuat dirinya menjadi lebih bersyukur dengan apa
yang dimiliknya saat ini. Meskipun Olivia buta secara fisik, tapi ia memiliki mata hati yang tajam. Ia dapat memahami perasaan orang-orang disekitarnya dan juga membuat orang-orang merasa lebih berarti di dunia ini. Dan karena hal itu, Sian merasa selalu membutuhkan Olivia di sisinya dan tidak ingin Olivia pergi dari hidupnya.
“Sian, aku memasak semua ini untukmu, sekaligus sebagai pesta perpisahan karena besok aku akan pindah dari rumahmu. Bibi Han menawariku untuk tinggal bersamanya, jadi aku memutuskan untuk mengambil tawaran itu.”
Seketika Sian merasa tidak bisa berdiri dengan benar. Baru saja ia ingin meminta Olivia agar terus tinggal di rumahnya, tapi wanita itu justru telah mendahuluinya seperti ini. Ia tidak mau kehilangan Olivia.
“Kenapa mendadak? Kau tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya?” tanya Sian terkesan datar. Olivia menggigit bibir baawahnya gugup sambil mendudukan dirinya di depan meja makan. Sebenarnya ia telah memikirkan hal ini jauh-jauh hari, tapi ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengatakannya pada Sian karena Sian selalu sibuk, dan juga selalu meratapi kesedihannya sendiri sambil melihat video-video tentang Tiffany. Selama ini, Olivia selalu mendengar suara-suara berisik dari kamar Sian disertai aura kesedihan pekat disekitar
pria itu. Ia kemudian menjadi merasa tidak enak, karena ia merasa seperti orang baru yang dengan seenaknya masuk ke dalam kehidupan Sian dan bertingkah seakan-akan ia adalah pemilik rumah ini. Ia tidak ingin merepotkan Sian terlalu jauh. Olivia lantas berjalan gontai menuju kamarnya dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Entah mengapa malam ini hatinya begitu sesak dan terluka. Ia tidak suka melihat Sian yang berubah dingin kepadanya. Ia hanya ingin Sian tetap bersikap biasa padanya, sama seperti dulu ketika mereka baru saja bertemu.
-00-
Keesokan harinya Olivia merasa suasana diantara dirinya dan Sian terasa canggung. Ia yang sudah bangun sejak pagi-pagi buta untuk menyiapkan menu sarapan di dapur terlihat kikuk ketika Sian mulai berjalan mendekat kearah dapur. Berkali-kali ia meremas tangannya dan mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan membasahi kerongkongannya dengan air. Namun hal itu sama sekali tidak berguna untuknya karena ia tetap saja merasa gugup ketika ia merasakan kehadiran Sian di sebelahnya.
“Selamat pagi.” Sapa Sian santai sambil menuangkan air putih ke dalam gelasnya.
“Sse selamat pagi.” jawab Olivia terbata-bata sambil berjalan menjauh menuju meja makan. Sian yang menyadari tingkah aneh Olivia hanya menatap Olivia datar dan memilih untuk tidak membahasnya. Ia tahu jika wanita itu masih merasa bersalah padanya karena percakapan mereka kemarin. Tapi hal itu memang benar adanya karena ia tidak suka saat wanita itu mulai membahas tentang kepergiaanya dari rumah ini. Entah kenapa ia tidak rela jika Olivia harus pergi, harus meninggalkannya lagi dengan kehampaan yang sudah lama tidak ia rasakan. Sejak Tiffany pergi meninggalkannya, ia tidak bisa lagi merasakan indahnya dunia. Namun setelah Olivia datang, ia merasa semuanya mulai berubah. Ia merasa perasaanya tidak lagi hampa dan ia merasa hidupnya lebih berarti karena ia memiliki seseorang yang ingin ia lindungi.
Krieett
Olivia refleks mendongakan kepalanya ketika ia mendengar suara kursi di depannya yang
terdorong pelan. Wanita itu dengan wajah kaku mencoba tersenyum kearah Sian yang sebenarnya sudah tidak bisa ia lihat lagi wajahnya. Kedua matanya kini sudah mengalami kebutaan sempurna. Ia tidak bisa lagi melihat wajah samar Sian seperti dulu karena ia terlambat untuk datang ke rumah sakit sesuai janjinya dengan dokter Hermes beberapa hari yang lalu dan membuat donor kornea yang telah disiapkan untuknya digunakan oleh orang lain.
“Apa yang kau masak hari ini?”
__ADS_1
“Sup ayam dan nasi. Sian.. maafkan aku.” ucap Olivia lirih. Sian menatap Olivia datar dan menyendok makannya dalam diam. Ia sebenarnya tidak butuh kata maaf dari wanita itu, ia hanya butuh wanita itu berada di sisinya.
“Sian, kenapa kau hanya diam?” tanya Olivia lirih dengan air mata yang mulai menggenang di dalam mata beningnya. Namun lagi-lagi Sian hanya diam. Ia tidak mengeluarkan suara sedikipun dan hanya memakan makanan yang telah dimasak Olivia secara perlahan.
“Sian aku... aku tidak akan pergi dari sini. Maafkan aku. Tapi tolong jangan mendiamiku seperti ini.” isak Olivia terdengar parau. Perlahan-lahan Sian berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah tubuh rapuh Olivia yang bergetar. Pria itu tiba-tiba memeluk Olivia dari belakang hingga membuat Olivia tersentak kaget dan hampir mendorong tubuh Sian ke belakang. Namun dengan gigih Sian tetap mempertahankan posisi mereka dan terdiam cukup lama dalam posisi itu.
“Jangan pergi. Aku membutuhkanmu di sini Olive.”
“Aa aku tidak akan pergi. Tolong lepaskan aku.” ucap Olivia gugup. Sian lantas melepaskan dekapannya dari tubuh Olivia dan kembali ke tempat duduknya. Setelah memeluk Olivia entah kenapa perasaanya menjadi ringan. Dan seketika ia teringat pada Tiffany. Dulu ia juga merasakan hal yang sama ketika bersama Tiffany. Mungkinkah aku mulai menyukainya?
Sian menatap Olivia dalam sambil memikirkan semua perasaanya yang mulai terasa berubah sejak kedatangan Olivia. Namun ia tidak mau terlalu cepat mengambil kesimpulan karena rasanya hal itu sangat mustahil. Sejak awal melihat Olivia, ia merasa sangat iba pada wanita itu. Dalam keadaan buta ia harus berjuang mencari uang demi bertahan hidup dan berobat untuk mengoperasi matanya. Belum lagi keadaan rumahnya yang sangat memperihatinkan membuat Sian tidak tega dan memutuskan untuk membawa Olivia ke rumahnya, menganggap Olivia sebagai adiknya dan membuat wanita itu menjadi temannya yang bisa menjauhkannya dari kehampaan yang terus membelenggunya sejak kepergian Tiffany.
“Bagaimana kondisi matamu sekarang?”
Tiba-tiba Sian menanyakan topik yang sedikit mengganggu Olivia akhir-akhir ini.
“Buruk. Aku mengalami kebutaan total.”
“Apa kau tidak pergi ke rumah sakit untuk memeriksanya?” tanya Sian datar. Sedetik kemudian Sian meruntuki nada bicaranya karena hal itu membuat wajah Olivia semakin mendung di depannya. Ia tidak bermaksud menyakiti wanita itu. Ia hanya... entahlah, ia tidak tahu dengan perasaanya sendiri. Ia jelas-jelas
merasa sedih pada kondisi wanita itu, tapi ia hanya tidak bisa mengungkapkannya.
“Aku terlambat memeriksakan mataku ke rumah sakit, dan donor kornea yang seharusnya digunakan untukku telah digunakan oleh orang lain.”
“Tidak apa-apa, kau bisa menunggu donor kornea yang lain nanti.” ucap Sian lembut sambil mengelus punggung tangan Olivia. Olivia mengangguk kecil dan mencoba tersenyum di depan Sian dengan senyuman manisnya.
“Sian, apa kau... merindukan Tiffany?”
Olivia bertanya dengan ragu sambil menunjukan wajah tidak enaknya di depan Sian. Sepanjang malam ia mendengar suara berisik dari kamar Sian yang ditimbulkan dari video-video masa lalu pria itu bersama kekasihnya. Melihat hal itu membuat Olivia sedih karena pria itu masih menyimpan kesedihannya pada sang kekasih yang telah pergi, namun ia tidak pernah membagi kesedihan itu padanya.
“Itu bukan urusanmu.” jawab Sian datar. Lagi-lagi Sian berubah menjadi sosok pria dingin yang sangat kasar. Seketika Olivia menundukan wajahnya dan menekuni kembali sarapannya yang sempat tertunda. Ia pikir selama ini Sian telah menganggapnya bagian dari keluarganya. Tapi ternyata ia salah. Ia tetaplah orang asing dalam kehidupan Sian yang tidak akan pernah mendapatkan kedudukan istimewa di mata Sian. Sayangnya terkadang ia tak tahu diri dan menginginkan hal lebih dari sekedar hubungan ini. Ia ingin menjadi bagian dari diri Sian dan membuat pria itu melupakan kesedihannya pada sang kekasih yang sudah lama pergi.
“Jangan terlalu memikirkanku. Pikirkan saja kesehatanmu sendiri. Jangan memaksakan diri untuk bekerja, pergilah ke rumah sakit hari ini.”
__ADS_1
Setelah mengucapkan hal itu Sian segera pergi ke kamarnya dan meninggalkan Olivia sendiri dengan berbagai macam perasaan yang berkecamuk di hatinya. Wanita itu merasa sangat bersalah karena telah mengorek kembali luka lama yang sudah ditutup Sian rapat-rapat. Ia lalu menghembuskan napasnya kecil dan beranjak berdiri untuk membereskan piring-piring kotor di meja makan.
-00-
Malam semakin larut. Sian terhenyak sendiri di kantor sambil memikirkan perasaanya yang aneh dan juga Olivia. Pagi ini sebelum ia berangkat ke kantor, ia sempat melihat Olivia sedang mengusap air matanya di ruang tengah. Entah karena apa wanita itu menangis, namun perasaanya dengan kuat mengatakan jika penyebab dari kesedihan wanita itu adalah dirinya. Pagi ini ia jelas bersikap tidak ramah pada wanita itu seperti pagi-pagi sebelumnya. Semenjak Olivia mengatakan akan pergi, ia menjadi uring-uringan dan hatinya dilanda kewaspadaan yang sangat mengerikan. Ia masih takut Olivia akan meninggalkannya meskipun wanita itu berjanji akan tetap berada di sisinya. Tapi siapa yang bisa menjamin jika suatu saat Olivia tidak akan pergi meninggalkannya? Mereka berdua hanyalah sepasang orang asing yang dipertemukan karena ketidaksengajaan. Tetap saja suatu saat Olivia akan menjalankan kehidupannya sendiri bersama orang yang dicintainya dan memiliki keluarga yang bahagia.
Keluarga...
Satu kalimat itu tiba-tiba melintas di benak Sian dan membuat hatinya sesak. Bahkan sejak kepergian Tiffany ia tidak lagi memikirkan sebuah ikatan yang dinamakan keluarga karena baginya kesempatan itu sudah lama pupus semenjak Tiffanya meninggal. Tapi ia tidak rela jika Olivia suatu saat akan pergi dan membentuk keluarganya sendiri.
Sian lalu beranjak dari duduknya dan segera menyambar jas yang tersampir di kursi keberasarannya. Malam ini ia akan mengatakan pada Olivia jika ia ingin wanita itu menjadi bagian dari keluarganya. Keluarga yang tidak akan pernah pergi kemanapun dan hanya terus berada di sisinya hingga ia tidak lagi bernapas di dunia.
“Hey, kau akan pulang?”
Aciel yang baru saja keluar dari ruangannya langsung menyapa Sian yang telah rapi dengan seluruh barang-barangnya. Aura senang yang dipancarkan oleh Sian berhasil membuat Aciel merasa tertarik untuk menahan pria itu sebentar.
“Hmm... aku akan pulang, aku lelah.” tambah Sian beralasan.
“Kau yakin? Biasanya kau yang lebih suka berada di kantor hingga larut. Apa ini berhubungan dengan Olivia?” tanya Aciel mencoba menggoda namun justru tertutupi oleh wajah datarnya seperti biasa.
“Anggap saja seperti itu. Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Eden sekarang?” tanya Sian mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Untuk saat ini sejujurnya ia sedang malas membahas masalah Olivia pada Aciel karena ini seperti bukan kebiasaannya. Membicarakan masalah wanita, itu selalu menjadi kesukaan Aciel karena pria itu yang selama ini selalu buta pada hal-hal yang berkaitan dengan wanita.
“Baik, Eden akan selalu baik-baik saja selama bersamaku. Aku tahu kau sedang tidak ingin membicarakan Olivia padaku. Baiklah, tidak masalah. Tapi aku melihat kau akhir-akhir ini sedikit berbeda. Mungkin kau menyukai Olivia.” ucap Aciel acuh tak acuh sambil berjalan masuk ke dalam ruangannya. Ia tidak akan menahan Sian terlalu lama lagi di kantornya karena ia sadar jika Sian sudah tak ingin lagi berlama-lama berada di sana. Sementara itu setelah Aciel pergi, Sian tampak masih berdiri di tempatnya sambil tersenyum kecil memikirkan ucapan Aciel yang sepertinya memang benar adanya.
“Kurasa aku memang mulai menyukai Olivia.” Sian bergumam sendiri dengan wajah sumringah ketika mobil yang dikendarainya mulai berjalan meninggalkan halaman kantor Aciel yang luas. Pemikirannya sejak tadi membuatnya mengambil kesimpulan jika ia memang menyukai Olivia. Tidak mungkin hatinya akan terus merasa terganggu jika ia tidak menyukai Olivia. Sudah jelas selama ini ia memang menyukai Olivia, hanya saja ia tidak pernah menghiraukannya. Selama ini ia terlalu larut dalam kesedihannya karena ditinggalkan Tiffany hingga ia tidak menyadari perasaanya sendiri yang mulai berubah menyukai Olivia. Lagipula Olivia adalah wanita yang cantik. Sisi lembutnya berhasil membuatnya selalu nyaman setiap berada di dekat wanita itu. Belum lagi wajah polosnya yang sangat menggemaskan, membuatnya selalu betah memandangi wajah Olivia dari kejauhan. Ahh.. sekarang ia benar-benar tidak sabar untuk segera pulang ke rumah dan memberikan pelukan yang sangat erat pada Olivia. Ia akan mengatakan pada wanita itu jika ia menyukainya dan ia ingin menjadikan wanita itu sebagai keluarganya.
Tiiinnnn
Sian menginjak pedal remnya terkejut dan langsung menghentikan mobilnya mendadak ketika tiba-tiba sebuah bus melintas di depannya dengan kecepatan tinggi. Dengan gusar ia mengumpat pelan pada pengemudi bus ceroboh yang hampir membuatnya celaka. Hampir saja nyawanya melayang karena sebuah kesalahan yang
tidak diperbuatnya. Ia pun kembali menginjak pedal gasnya untuk melanjutkan perjalananya, namun tiba-tiba sebuah hantaman keras menghantam bagian belakang mobilnya. Ia yang terkejut karena hantaman itu refleks menginjak pedal gasnya kuat-kuat dan membuatnya kehilangan kendali atas mobilnya. Mobil yang dikemudikannya melesat maju dengan kecepatan penuh, menabrak apapun yang menjadi penghalang jalannya hingga pada akhirnya mobil itu ringsek di atas trotoar dengan keadaan miring yang cukup mengenaskan. Sang penumpang yang masih terjepit diantara badan mobil dan setir kemudi mencoba berteriak, meminta tolong pada siapapun untuk menyelamatkan nyawanya yang berada di ujung tanduk. Sayangnya setelah itu ia merasa kesadarannya mulai menipis. Rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya membuatnya tidak bisa lagi mempertahankan kesadarannya dan perlahan-lahan membuatnya menutup kedua matanya dengan damai.
Suasana malam yang sebelumnya sepi, tiba-tiba berubah mencekam setelah terjadi sebuah kecelakaan yang tak pernah diduga sebelumnya. Kecelakaan beruntun yang terjadi akibat sebuah mobil yang berhenti mendadak membuat sebagian pengguna jalan langsung berlari untuk menyelamatkan sang pengemudi yang masih terjebak di dalam mobil. Suara sirine polisi dan ambulans semakin terdengar dramatis meramaikan aksi penyelamatan yang diwarnai dengan kericuhan karena tubuh sang pengemudi yang terlihat sudah koyak di dalam mobil.
__ADS_1