Black Swan

Black Swan
Olivia Giving Birth Story (Ninety Eight)


__ADS_3

            “Olive, Justice lapar.” kata Sian dengan suara parau khas bangun tidur. Dengan tubuh berat, Sian mencoba duduk dan mengguncang pundak Olivia yang terlihat begitu kelelahan di sampingnya.


            Semenjak pulang dari rumah sakit lima hari yang lalu, Sian akan menjadi alarmku jika Justice bangun di tengah malam dan menginginkan ASI. Walaupun lelah tapi aku harus tetap menjalankan tugasku sebagai seorang ibu yang baik untuk Justice. Dengan langkah sempoyongan aku menghampiri box bayi Justice dan mengangkat bayiku menuju ranjang kami. Memang jika Justice bangun di tengah malam, ia akan kupindahkan ke ranjang kami. Lebih baik seperti itu, daripada aku harus meletakkannya kembali ke box bayi, karena terkadang aku akan tertidur jika tengah menyusui Justice. Dan paginya aku akan menemukan Justice masih menempel padaku. Rasanya sungguh lucu jika melihatnya, Justice terlihat seperti bayi koala.


            “Ahh, anak mommy haus ya.” bisikku sambil meletakkan Justice di atas ranjang kami. Suara tangis Justice


yang terdengar lembut membuatku tersenyum sendiri saat menatapnya. Ia persis seperti Sian jika sedang menginginkan sesuatu.


            Aku segera berbaring disampingnya dan memberikan makanannya yang telah diinginkannya sejak tadi. Justiceku terlihat sangat lapar, dan ia meminumnya dengan rakus. Padahal dua jam yang lalu aku baru saja memberinya ASI dan memindahkannya ke dalam box bayi.


            “Hey baby girl, kau sangat lapar ya.”


            Tiba-tiba Sian membuka mata dan mengelus kepala Justice lembut. Ia lalu menatapku sekilas dan mengecup keningku.


            “Tidurlah lagi. Dan ingat, jika diantara kita ada Justice. Jadi jangan bergerak sesuka hati.” peringatku padanya sebelum ia berguling ke tempatnya lagi. Aku selalu takut jika Sian akan menindih Justice. Walau pada kenyataannya Sian tidak pernah melakukannya. Ia memang tidur dengan sangat tenang, tapi terkadang ia suka langsung memelukku saat tidur, maka dari itu aku harus mengingatkannya jika sekarang diantara kami ada Justice, jadi ia tidak bisa sembarangan memelukku.


            “Aku tidak akan mungkin menindih anakku sendiri. Aku memiliki ikatan batin dengan anakku.” balas Sian sebal.


            Hmm, sepertinya aku membuat moodnya sedikit buruk. Tapi biarkan saja, dengan begitu ia tidak akan bermanja-manja padaku lagi.


            “Aku hanya khawatir, dad. Jangan ngambek, kau sudah menjadi ayah sekarang.” Aku mengelus pelan rambutnya dan sedikit gemas dengan wajah damainya yang mulai memejamkan matanya. “Selamat tidur, daddy Sian.”


-00-


            Pagi-pagi sekali saat aku membuka mataku dan melihat Sian sedang berdiri di samping ranjang sambil membawa nampan. Sekilas aku merasa tidak yakin jika itu Sian, karena ia bukan tipikal pria romantis yang akan bersikap manis seperti ini. Meskipun kenyataannya menurut Eden, Sian jauh lebih baik daripada Aciel dalam hal keromantisan.


            Masih dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, aku menatap Sian lama yang saat ini sedang menatapku dengan senyum manis andalannya. Rasanya ini seperti bukan Sian, karena ia pria yang malas untuk memasak sendiri dan lebih suka mengandalkan orang lain untuk memasakan makanannya. Jika ia lapar maka ia akan memintaku memasak untuknya, meskipun itu tengah malam sekalipun. Pernah saat usia kandunganku menginjak tujuh bulan, ia membangunkanku pukul satu dini hari untuk dibuatkan minuman hangat dan juga cemilan, saat itu ia baru saja pulang dari kantor karena harus lembur. Jadi bisa disimpulkan jika ia adalah orang yang merepotkan, dan juga tidak akan bertindak romantis seperti yang baru saja kulihat. Dan aku baru saja ingin kembali tidur sebelum suara berat Sian mengintrupsi kegiatanku.


            “Selamat pagi, sarapanmu nyonya Olivia Markle.”


            Aku mengerjapkan mataku dua kali dan berusaha mempercayai apa yang kulihat saat ini. “Sian? Kaukah itu?” tanyaku tak yakin.


            “Tentu saja ini aku, kau kira siapa? Mantan kekasihmu?” dengus Sian kesal. Ya ampun, bisa-bisanya pria ini menuduhku seperti itu. Dasar!


            “Tapi kau seperti bukan Sian. Yang aku tahu Sian adalah pria kaku yang tidak mau memasak untuk dirinya


maupun orang lain.” candaku sambil meraih nampan yang sejak tadi telah disodorkan kearahku.


            “Tidak sayang, hari ini biarkan aku yang menyuapimu.” Sian langsung merebut nampan itu dari tanganku, dan ia segera mengambil tempat di sisi kananku setelah aku memindahkan Justice ke kiri agar ia tidak menghalangi ayahnya yang sedang ingin bersikap romantis pagi ini.


            “Aku membuat ini khusus untukmu.”


            Aku tersenyum melihat pancake buatannya yang penuh dengan saus maple di atasnya. Lalu sebuah buket bunga baby breath yang lucu tak lupa diletakan Sian di samping piring yang berisi pancake untuk mempercantik kejutannya hari ini. Ya Tuhan, sungguh aku terharu.


            “Dad, kau terlihat sangat manis.” kataku sambil mengusap pipinya. Sesekali ia menyuapkan sepotong pancake ke mulutku, dan tersenyum saat aku memberikan kode jika pancake buatannya sangat enak.


            “Ini sebagai bentuk terimakasihku, karena kau telah menjadi ibu yang baik untuk Justice dan juga istri yang baik untukku selama ini. Aku tahu, kau pasti sangat lelah dengan semua kegiatan barumu ini. Mengurus anak, memasak, membereskan rumah, dan semua tugas lain yang harus kau selesaikan, aku sangat berterimakasih.” ucap Sian tulus. Ahhh, aku akan menagis lagi sepertinya. Bagaimana bisa, setelah memiliki bayi Sian berubah menjadi suami yang lebih manis. Berbeda dengan Sian saat kami baru saja menikah, ia sama sekali tidak benar-benar peduli padaku. Maksudnya sifat kakunya lebih mendominasi karena saat itu kami memang masih dalam tahap penyesuaian satu sama lain. Ditambah lagi saat itu ia masih dalam masa-masa penyesuaian dengan kondisi kaki yang patah pasca kecelakaan, mata yang hanya berfungsi satu, serta kesibukannya dalam mengikuti berbagai macam terapi agar ia dapat segera pulih.


            “Dad, akhir-akhir ini kau sering membuatku tersentuh dengan semua kejutan yang kau berikan. Padahal awalnya aku takut tidak akan bisa menjadi ibu dan istri yang baik untukmu. Apalagi aku juga tidak dibesarkan dalam keluarga yang manis seperti kebanyakan wanita pada umumnya, membuatku selalu takut jika aku akan mengecewakanmu.”

__ADS_1


            “Hey, akupun juga sama denganmu. Aku ini hanya anak jalanan yang mendapatkan belas kasihan dari Aciel. Jadi kita ini sama, sayang.” Sian mengecup punggung tanganku lembut. Bibirnya yang hangat memberikan getaran-getaran tersendiri untukku yang sedang terdiam kaku di depannya.


             “Terimakasih untuk sarapannya, nanti akan aku habiskan. Sekarang aku ingin pergi ke toilet sebentar.” ucapku sambil meringis kecil kearahnya. Aku telah menahan keinginan buang air sejak tadi karena aku tidak ingin membuat Sian kecewa dengan semua kejutan yang telah ia siapkan untukku.


             “Tunggu.” Sian mencekal pergelangan tanganku tiba-tiba saat aku hendak berdiri, membuatku langsung melayangkan tatapan bingung kearahnya.


            “Ada apa?”


            “Kau belum memberikanku...” ucapnya menggantung.


             “Memberikan ap ppffhhhhh.”


              Sian tiba-tiba membungkamku dengan bibirnya yang lembut. Ia mendorong tubuhku sedikit ke belakang hingga membentur kepala ranjang, dan ia terus saja menciumku dengan gerakan yang menuntut hingga membuatku kewalahan karena aku belum terbiasa dengan ciumannya. Namun setelah beberapa detik ia ******* bibirku, akhirnya aku mulai terbiasa dengan gerakannya dan aku mulai bisa mengimbangi gerakan ciumannya yang sangat ahli.


Ooeekkk.. ooekk


            Sian langsung melepas bibirnya dari bibirku dan memandang ke arah Justice yang sedang menangis di sebelahku. Hmmm, anak itu pasti terganggu dengan aktivitas kami.


            “Justice menangis. Mungkin ini saatnya memandikannya. Aku akan menyiapkan pakaiannya.” kata Sian sambil mengecup bibirku kilat. Ia lantas beranjak ke lemari pakaian Justice dan memilih baju yang cocok untuk Justice kenakan hari ini.


            Aku beralih menuju Justice dan mengangkat tubuhnya dengan pelan. Saat kuayun-ayunkan badannya, ia berhenti menangis dan mata bulatnya memandang ke arahku. Sungguh sangat lucu dan manis, membuatku tak dapat menahan diri untuk mengecup pipi chubbynya.


            “Dad, bisa kau gendong Justice sebentar. Aku akan menyiapkan air hangat untuknya. Dan... aku juga perlu buang air sekarang.”


            Sian segera menghampiriku dan mulai menggendong Justice setelah melihat wajah memelasku yang telah menahan hasrat buang air sejak tadi.


            “Aku akan membawanya ke halaman belakang.”


-00-


                “Daddy, air hangat untuk Justice sudah siap.” ucapku dengan aksen bayi.


                Sian kemudian memandangku dengan aneh. Sepertinya ia tidak suka dengan aksen bayiku. Padahal menurutku itu lucu.


                “Jangan katakan lagi. Sangat tidak pantas.”


                Setelah mengatakan hal itu Sian meninggalkanku berjalan menuju kamar kami. Aku sendiri masih syok


dengan kata-katanya yang terdengar sinis itu. Sepertinya ia telah kembali ke Sian yang normal.


-00-


            “Sian, sakit. Bekas jahitanku sakit.”


            Aku merengek-rengek pada Sian karena bekas jahitanku sakit. Sebenarnya ini tidak terlalu sakit, hanya sedikit nyeri seperti kram yang terasa biasa untukku. Sebenarnya bekas jahitanku telah sembuh semenjak aku pulang dari rumah sakit. Namun, hari ini aku sedang ingin bersantai dengan  Justice. Jika aku mengatakan sakit, pasti Sian yang akan mengambil alih pekerjaan rumah. sekali-sekali pria itu harus merasakan sulitnya menjadi seorang istri.


            “Bagian mana? Kau jangan merengek-rengek seperti itu. Membuatku panik.”


            “Ini sakit. Aku benar-benar tidak bisa bergerak bebas. Dad, bantu aku menyelesaikan pekerjaan rumah hari ini. Aku belum memasak, mencuci bajumu dan juga baju Justice, aku belum mencuci piring, aku belum membersihkan rumah, aku..”

__ADS_1


            Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, Sian telah lebih dulu memotong ucapanku. Hmm, spertinya rencanaku akan berhasil.


            “Ssstttt, aku akan menyelesaikan semua pekerjaanmu. Sekaranga kau istirahatlah.” ucap Sian sambil menyelimutiku. Pria itu lalu berlalu pergi dari kamar kami, dan sedikit menoleh dengan senyum menenangkan padaku sebelum ia menghilang dibalik pintu. Apa rencanaku berhasil? Apa Sian baru saja akan membersihkan rumah kami?


-00-


            Aku mengamati dari lantai dua, bagaimana Sian yang terlihat begitu kepayahan saat membersihkan rumah kami. Dimulai dengan menggunakan vakum cleaner untuk membersihkan ruang keluarga, tangannya terlihat sangat kaku dan juga ia sesekali bersin-bersin karena terlalu banyak menghirup debu. Setelah hampir satu jam ia berkutat dengan vakum cleaner, ia lalu beralih menggambil gagang pel di gudang. Ia mulai mengepel dengan sangat tenang. Kurasa untuk urusan mengepel lantai, kukira Sian tidak menemukan kendala sama sekali. Ia dapat melakukannya dengan lancar bahkan sampai ke sudut-sudut tersulit sekalipun. Tapi aku masih saja terkikik jika membayangkan wajah Sian saat menggunakan vakum cleaner, wajah cerdasnya tertutupi dengan wajah bingungnya. Dan itu sungguh lucu.


            Tugas berikutnya yang harus diselesaikan Sian adalah mencuci piring, seharusnya tugas ini juga tidak


ada masalah. Tapi sepertinya Sian tidak terbiasa mencuci piring, terlihat dari gerakan tangannya saat mencoba melumuri piring kotor dengan sabun, ia malah menjatuhkan piring itu ke lantai hingga bunyinya berhasil mengagetkan Justice yang sedang tertidur di kamar. Cepat-cepat aku berlari ke kamarku dan menepuk-nepuk paha Justice lembut agar bayi itu tertidur kembali.


                “Semuanya aman sayang. Jangan khawatir.” teriak Sian dari lantai bawah. Sepertinya ia terlalu banyak


memberikan sabun, sehingga piringnya terasa licin saat dipegang. Dasar pria! Mereka benar-benar tidak bisa diharapkan untuk tugas rumah tangga. Jika aku tetap membiarkan Sian mencuci piring, bisa-bisa kami tidak akan makan menggunakan piring lagi. Ia pasti akan memecahkan semua piring yang kami miliki.


                 Ingin sekali aku tertawa, menertawakan kebodohan Sian, namun aku tidak bisa melakukannya disaat aku sedang mencoba membuat Justice tidur kembali dengan nyaman. Setidaknya hari ini ia telah berusaha untuk menjadi suami siaga yang baik, meskipun pada kenyataannya dia tidak bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dengan benar.


                Dan tugas terakhir yang sangat kutunggu-tunggu Sian untuk melakukannya adalah mencuci popok Justice yang kotor. Oh, wajah Sian sungguh lucu saat memegang popok-popok itu. Antara jijik dan juga ingin muntah. Dia pasti sangat tidak suka dengan baunya. Mungkin setelah ini dia akan berpikir dua kali untuk cepat-cepat memiliki anak ke dua. Memang seorang pria hanya menyukai prosesnya saja, tapi setelah lahir mereka jarang mengurus bayi mereka. Dan sekarang aku sedang memberikan Sian pelajaran, agar dia tidak menjadi ayah yang hanya bisa membuat bayi, tanpa tahu bagaimana repotnya mengurus bayi.


            Aku segera berlari menuju kamar dan berpura-pura tidur saat Sian sedang berjalan menaiki tangga menuju kamar kami. Ini akan menjadi masalah jika Sian tahu aku telah membohonginya hari ini. Untung saja Justice tidak terbangun dengan suara super ribut yang baru saja kuperbuat saat melompat tiba-tiba ke atas ranjang. Justice yang sudah kenyang akan terus tidur sepanjang hari. Bukankah bayi jika belum genap satu bulan akan sering menghabiskan waktunya untuk tidur kan?


            “Sayang, mau sampai kapan kau tidur?” tanya Sian dari ambang pintu. Aku tetap memejamkan mataku dan tidak menghiraukan suaranya. Kurasa Sian tidak lagi akan meneriakiku setelah ia tahu jika aku sedang “berpura-pura” tidur di atas ranjangnya. Tapi suara langkah Sian yang terdengar mendekat membuatku merasa was-was seketika. Untuk apa ia berjalan kearahku?


            “Ahahaaa, Sian,, ahahahah.. lepaskan. Ini geli Sian.. ahahaa.”


            Dia tiba-tiba menggelitikiku tanpa ampun, membuatku beanr-benar tidak bisa berkutik karena aku tidak pernah tahan dengan gelitikan. Dengan wajah jahatnya, Sian terus menggelitiku. Meskipun aku telah memohon-mohon padanya agar melepaskanku, namun Sian tetap melakukannya hingga ia merasa puas.


            “Kau sudah berani membohongiku ya. Kau pikir aku tidak tahu jika kau cekikikan dengan semua hal yang aku lakukan. Sebagi pria yang pernah mendapatkan banyak bekas jahitan, aku tahu jika luka bekas jahitan akan sembuh dalam waktu tiga hari, apalagi kau melahirkannya dengan normal. Puas kau mengerjaiku.”


            “Iya iyaa, maafkan aku, dad. Aku hanya ingin memberimu pelatihan dasar sebagai seorang ayah.” kataku dengan wajah memelas dan juga lemas. Gelitikan Sian memang sangat dasyat, aku langsung lemas karenanya.


            “Alasan. Kau sengaja mengerjaikukan?” ucap Sian dengan tatapan kesal.


            “Maaf. Aku hanya ingin melihat sampai sejauh mana kesiapanmu untuk menjadi seorang ayah.” ucapku


dengan wajah memelas. Harapanku ia akan luluh dan tidak lagi menyerangku hingga aku merasa lemas seperti ini.


            “Seharusnya kau mengatakannya dari awal jika kau memang ingin aku yang menyelesaikan semua pekerjaan rumah itu. Tidak perlu melakukan drama yang sangat konyol seperti tadi.” cibir Sian menyebalkan. Aku langsung membuat gerakan menangkupkan kedua tangan di depan dada sebagai permintaan maaf.


            “Ide itu tiba-tiba muncul begitu saja di kepalaku. Tapi kau lucu.”


            Aku tidak bisa menyembunyikan tawaku saat wajah jijik Sian melintas di kepalaku. Pengalaman pertamanya dengan popok-popok kotor milik Justice pasti akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan untuknya.


            “Kau sepertinya sudah tertular virus jahil Eden. Kau tahu, dulu Aciel juga sering dibuat kewalahan oleh permintaan aneh-aneh Eden. Ahh... wanita bar-bar itu.”


            “Apa yang Eden lakukan?” tanyaku penuh minat. Kurasa Eden memang jauh lebih mengerikan daripada apa yang telah kulakukan pada Sian hari ini.”


            “Apa yaa... tanyakan saja pada Eden!” balas Sian menyebalkan dan segera berlalu pergi dari kamar kami.

__ADS_1


            “Kau menyebalkan Sian! Awas kau!”


__ADS_2