Black Swan

Black Swan
Affair (One Hundred Thirty One)


__ADS_3

            Sian meninju keras setir mobilnya sambil berteriak sekeras yang ia bisa dengan nada yang memilukan. Hatinya teramat sakit mengetahui fakta kehamilan istrinya. Jelas janin itu bukan miliknya. Mereka sudah berbulan-bulan tidak saling menyentuh untuk menyalurkan hasrat mereka yang membara. Lalu tiba-tiba saja Olivia hamil seperti sebuah sihir. Tidak mungkin seorang peri datang di tengah malam, seperti dalam dongeng anak-anak untuk memberikan sebuah bayi di dalam perut istrinya.


            “Aahh ya...” Sian bergumam getir pada udara kosong. Olivia baru saja memberitahunya jika ia bertemu dengan seorang pria di Miami. Jelas pria itu yang telah menanamkan benih di rahim istrinya. Tapi siapa? Pertanyaan itu yang masih mengganggu batin Sian sejak tadi. Ia sangat yakin jika Olivia sebenarnya tahu siapa pria itu. Apa seseorang dari Ford Company? Bawahannya? batin Sian getir. Tak bisa ia bayangkan bagaimana puasnya wajah pria itu karena selama ini berhasil mengelabuhinya dengan mudah. Pria itu bermain api bersama istrinya di belakangnya. Lalu mereka bersama-sama menertawakan ketololannya.


            “Sial!” umpat Sian marah. Ia lalu segera keluar dari halaman rumah sakit dan menginjak pedal gasnya kuat membelah jalanan sepi Las Vegas. Sekarang ia tahu kemana ia akan pergi, menemui Leticia. Hanya wanita itu yang bisa membuatnya tenang disaat ia kalut dengan kemelut rumah tangganya yang mengerikan.


            “Aku akan datang.”


            “Wah wah wah... setelah sekian lama kau mengabaikanku, akhirnya kau mendatangiku juga.” ucap wanita itu girang. Cepat-cepat ia bangun dari posisi tidurnya dan memoleskan lipstik merah di bibirnya yang pucat. Setelah itu ia segera memilih gaun malam yang paling seksi dari lemari kayu tua di sudut kamarnya.


            “Kau ****** sialan, siapkan brendi untukku. Aku ingin semuanya siap saat aku datang.”


            “Aye aye captain. Apa kau ingin yang lainnya? Caramel popcorn mungkin untuk teman menonton  film dewasa.” tawar Leticia dengan aksen menggodanya. Diliriknya tumpukan kaset-kaset miliknya yang sangat berantakan di atas meja riasnya. Sudah lama ia tidak menyentuh mereka karena tidak ada teman menonton yang datang ke rumahnya.


            “Terserah. Lakukan apapun sesukamu!”


            Dan pip, sambungan terputus. Sian segera melajukan mobilnya dengan kencang ke arah apartemen Leticia yang telah ia hafal di luar kepala alamatnya. Tidak ada yang akan mencarinya di sana. Sekalipun Aciel, ia tidak akan tahu kemana ia pergi malam ini.


-00-


            “Ace, bisakah kau tinggal hari ini?”


            Eden mengambil alih dasi yang baru saja dikeluarkan Aciel dari laci lemarinya, lalu ia melingkarkan tangannya dengan manja di pundak Aciel.


            “Hari kelahiranmu masih tiga minggu lagi, Ed. Jangan gunakan alasan itu untuk menahanku di rumah.”


            Eden mengerutkan bibirnya cemberut di hadapan Aciel. Dilepaskannya kedua tangan yang sebelumnya mengalun di leher Aciel, kemudian ditariknya paksa tangan kanan Aciel dan ditempelkannya tangan itu di perutnya. “Si kembar sedang bertengkar di dalam sana, berebut untuk keluar lebih dulu dari perut ibunya.


            “Aku tidak merasakan apa-apa.” seru Aciel jahil, tapi kemudian ia segera mengecup bibir Eden sekilas dan mengusap lembut perut buncit istrinya. “Apa ini tandanya kau akan segera melahirkan?”


            “Entahlah. Bisa iya, bisa juga tidak. Tapi hari ini aku ingin kau di rumah bersamaku. Bisakah, Aciel sayang?” rayu Eden dengan wajah menggoda. Senyum genitnya ia tunjukan terang-terangan pada Aciel. Dan tangan nakalnya mulai terangkat untuk membelai dada bidang Aciel agar pria itu memilih untuk tinggal di rumah bersamanya.


            “Ya ampun, ibu hamil ini.” kekeh Aciel Aciel geli. “Sisa-sisa jiwa nakalmu ternyata masih berada di dalam sana.” ucap Aciel sambil mengecup jari-jari Eden bergantian. Wanita itu langsung saja bersorak girang karena siasatnya untuk menahan Aciel berhasil. Pria itu langsung melemparkan jasnya asal ke atas ranjang dan segera mencium bibir Eden penuh hasrat.


            “Apakah aku akan segera dapat menyentuhmu lagi.”


            “Uhum... setelah si kembar ini keluar dari perutku yang hangat ini, kau akan segera bisa memilikiku lagi.”


            “Kutunggu segera, nyonya Lutherford.”


            “Hmm... dan ngomong-ngomong, aku memiliki sesuatu yang ingin kuberitahu padamu.”


            Eden tiba-tiba saja melepaskan diri dari Aciel dan bergerak gelisah ke arah meja. Ia mengambil gelas berisi susu hamilnya dengan dahi berkerut, lalu ia segera berbalik ke arah Aciel yang masih setia berdiri di tempatnya.


            “Kau terlihat sangat khawatir.”

__ADS_1


            “Laila baru saja menghubungiku, katanya semalam Olivia pendarahan.”


            “Kehamilannya itu? Apa janinnya selamat?”


            “Selamat. Nathan menanganinya dengan baik saat kebetulan melihat Sian berlari-lari ke dalam ruang gawat darurat.”


            “Pasti Olivia sangat kecewa dengan hal itu.”


            Eden langsung memberikan tatapan tajam ke arah Aciel dan dibalas pria itu dengan cengiran. “ Aku tahu apa yang kau pikirkan, tuan Lutherford.”


            “Apa? Bukankah itu benar? Lebih baik bagi Olivia untuk membiarkan janin itu tidak selamat.”


            “Untungnya selama ini Olivia berbicara denganku, bukan denganmu.”


            “Memangnya kenapa?” Aciel tampak begitu santai berjalan ke arah sofa dan merenggangkan kakinya yang kaku agar ia dapat duduk dengan lebih rileks.


            “Kau pasti akan menyarankannya untuk menggugurkan janinnya jika Olivia berbicara padamu.”


            “Tepat sekali. Daripada ia harus kesulitan menanggung beban psikisnya.” jawab Aciel acuh tak acuh. Sekarang pikirannya langsung saja tertuju pada Sian. Bagaimana perasaan pria itu? Apa yang akan ia lakukan setelah ini? Mampukah ia menerima bayi itu sebagai anaknya sendiri? Aciel tak bisa berhenti memikirkan Sian. Ia lalu segera meraih ponselnya di dalam saku celannya dan menghubungi pria itu secepat yang ia bisa.


            “Sudah kuduga.” gumam Aciel sambil memandangi layar ponselnya.


            “Ada apa?”


            “Sian tidak bisa dihubungi.” jawab Aciel sambil melambai-lambaikan ponselnya ke arah Eden.


            “Dia dikhianati.”


            “Tapi Olivia dijebak.”


            “Itu bukan alasan, Ed. Tetap saja Sian merasa dikhianati oleh Olivia. Apalagi kondisi pria itu sedang tidak stabil. Ia tertekan dengan keadaannya yang sakit-sakitan.”


            “Apa Sian memiliki penyakit lain selain yang kau beritahu padaku?” tanya Eden penuh selidik. Ia benar-benar akan meledak jika sampai itu benar, tapi ia tidak pernah diberitahu sama sekali tentang hal itu.


            “Bagi seorang pria, kehilangan kejantanannya adalah sesuatu yang sangat fatal. Sian pasti hidup sangat menderita selama berbulan-bulan. Perasaan rendah diri, dan juga marah karena tidak bisa mejadi pria sejati di hadapan istrinya.”


            “Aku tidak berpikir begitu.”


             “Tapi kebanyakan pria berpikiran seperti itu. Akupun akan memilih menyendiri atau menjauh dari rumah ini jika hal itu terjadi padaku. Terlalu memalukan.”


            “Kenapa para pria bisa berpikiran sedangkal itu.” ucap Eden tak mengerti. Ia bahkan tidak sampai berpikir akan marah pada suaminya jika suaminya sakit dan tidak jantan. Sungguh ia justru akan merawat suaminya dengan sebaik mungkin. Bukan malah menjauhinya seperti sebuah wabah.


            “Pria memiliki harga diri yang tinggi, Ed.”


            “Yeah, harga diri setinggi langit. Oke, kita lanjutkan pembicaraan mengenai Olivia dan Sian.” ucap Eden mencoba mengembalikan arah pembicaraan mereka yang jadi kacau hanya karena topik aneh mengenai kejantanan pria. “Mereka semalam bertengkar hebat...”

__ADS_1


            “Itu sudah pasti.” potong Aciel tiba-tiba yang berhasil membuat Eden melirk tajam. “Baik baik, young lady. Lanjutkan ceritamu.” ucap Aciel tergelak geli.


            “Singkat cerita, mereka saling berteriak di dalam ruang gawat darurat. Lalu Sian pergi meninggalkan Olivia dengan kamarahan yang meluap-luap dan tidak pulang ke rumahnya. Saat tadi pagi Olivia mengecek ke rumah dengan menghubungi pengasuh Justice, dia mendapatkan laporan jika Sian tidak pulang sejak semalam. Menurutmu kemana perginya Sian?”


            “Mari kita tebak, dimana Sian saat ini dalam keadaan kacau?”


            “Ace, kau membuatku takut.” gerutu Eden yang langsung berjalan dengan napas pendek-pendek ke arah Aciel untuk duduk di sebelah pria itu. “Kau tidak akan mengatakan jika ia pergi ke kelab dan tidur dengan wanita lain sebagai pelampiasan kan?”


            “Tepat sekali! Kau cerdas, istriku sayang.” Aciel menjentikan jarinya semangat di depan wajah istrinya dan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Eden yang konyol.


            “Kau kira ini lelucon? Rumah tangga sahabatmu diambang kehancuran, Ace!” teriak Eden kesal. Bisa-bisanya pria itu masih menganggap lucu pertengkaran yang terjadi diantara Olivia dan Sian.


            “Aku tahu, Ed. Tapi apa yang harus kulakukan dalam keadaan seperti ini?”


            “Tentu saja mencari Sian.”


            “Dia sudah dewasa. Sian bukan anak kecil yang harus diingatkan benar dan salah.”


            “Tapi dulu dia mencarimu saat kau pergi dari rumah.” seru Eden mengingakan. Setidaknya saat ini Eden ingin Aciel juga melakukan hal yang sama untuk membuat Olivia lebih tenang di rumah sakit.


            “Karena itulah aku tahu bagaimana rasanya.”


            “Rasa apa?”


            “Rasa tidak nyaman karena privasimu diusik oleh orang lain. Dengarkan aku.” Aciel menarik tangan Eden perlahan agar wanita itu bersandar pada dadanya. “Sejak awal aku sudah memperingatkan hal ini akan terjadi. Kemarahan Sian itu hanya bom waktu. Saat waktunya tiba, ia akan meledak dan menyakiti orang-orang di sekitarnya dengan sikap menjengkelkan karena terkhianati. Lebih baik kita biarkan Sian berpikir jernih sampai ia memutuskan untuk kembali pada Olivia.”


            “Sampai kapan?”


            “Aku tidak tahu. Jika aku pergi untuk menyeret pulang Sian, kami hanya akan saling menyakiti satu sama lain.”


            “Kau dulu juga memukul Sian?”


            “Hampir. Tapi untungnya aku hanya berhasil mengumpatinya.” ucap Aciel terkekeh. Terkadang lucu membayangkan saat-saat ia bersikap kekanakan, padahal usianya sudah jauh dari kata anak-anak. Ia pria dewasa, pria matang yang seharusnya dapat berpikir jernih untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi saat semua badai itu datang, otaknya seperti lumpuh mendadak. Yang terbersit di hatinya hanya kemarahan dan perasaan ingin melukai orang lain karena kemarahannya.


            “Kalau begitu dimana Sian sekarang menurutmu?”


            “Bisa dimana saja. Bisa juga di rumah Leticia.”


            “Siapa itu Leticia? Ya Tuhan Ace, jangan membuatku takut seperti ini. Apa Sian akan semudah itu berpaling dari Olivia?”


            “Mungkin.” jawab Aciel misterius. Sebenarnya ia belum benar-benar mencari keberadaan Sian sekarang. Itu semua masih dugaannya. Disaat seperti ini Sian pasti memilih untuk bersembunyi di tempat-tempat yang pria itu pikir tidak terendus olehnya. Tapi bodohnya Sian jika meragukan kecerdikan otaknya. Ia tidak mungkin tidak mengawasi Sian selama ini. Jauh sebelum ia meletakan kepercayaan pada Sian, ia sudah lebih dulu menyelidiki seluk beluk pria itu.


            “Kau tenang saja. Sian tidak akan semudah itu berpaling dari Olivia. Ia hanya membutuhkan hiburan sekarang.” ucap Aciel santai. Menurutnya tak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai Leticia. Sian jelas akan kebal pada godaan wanita itu. Hanya saja, wanita itu mungkin dapat meraba-raba Sian sedikit selama pria itu bersamanya.


            “Kuharap kata-katamu ini bukan bualan belaka. Aduh...” Eden tiba-tiba mengaduh dan memegangi perutnya yang mulai merasakan kontraksi. Ia refleks mencengkeram lengan Aciel sebagai tumpuan untuk rasa sakit yang saat ini sedang dirasakannya.

__ADS_1


            “Kau harusnya masih tiga minggu lagi. Apa si kembar sudah tidak sabar untuk melihat daddynya yang tampan?”


            “Sepertinya begitu. Antar aku ke rumah sakit sekarang!” perintah Eden telak saat ia mulai merasakan cairan ketubannya merembes dari dress yang ia gunakan. Oh baiklah, sepertinya ia memang harus melahirkan disaat keluarga Olivia sedang berduka atas masalah mereka.


__ADS_2