Black Swan

Black Swan
Maybe I Love You (Fifty Two)


__ADS_3

        Ditengah pekatnya malam, wanita itu terus berlari dan berlari demi menghindari kejaran para pria berjas hitam yang beberapa saat yang lalu berhasil menemukan keberadaanya karena ia terlalu sulit untuk berlari dengan gaun berat yang membungkus tubuh kurusnya. Selain itu perihnya telapak kaki yang menderanya juga semakin membuat laju lari Eden melemah, sehingga ia memutuskan untuk pasrah dengan nafas memburu yang tidak beraturan.


            “Hosh hoshh hosshh... Pria itu cepat sekali menyadari kepergianku hoshh hoshh... aku sudah tidak kuat untuk berlari lagi.”


            Eden berjalan tertatih-tatih diantara beberapa pejalan kaki yang saat ini sedang menatapnya aneh. Sebuah kursi halte yang tampak begitu menarik langsung menjadi sasaran Eden untuk mengistirahatkan kakinya sejenak karena kini kedua kakinya sudah benar-benar lecet akibat terus bergesekan dengan aspal.


            “Apa kau baik-baik saja?”


            Seorang wanita tua yang sedang menunggu bus tampak begitu prihatin melihat kondisi Eden yang menyedihkan. Wanita baik hati itu kemudian memberikan tempat untuk Eden disampingnya sambil mengelus punggung Eden yang masih naik turun tak beraturan karena terlalu lama berlari.


            “Sayang sekali aku tidak membawa minum.” gumam wanita tua itu menyesal. Eden memaksakan senyum tipisnya pada wanita itu sambil mengibaskan tangannya beberapa kali karena ia merasa baik-baik saja tanpa minuman sekalipun.


            “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Hanya sedikit kelelahan karena aku baru saja kabur dari cengkeraman orang-orang jahat.”


            “Orang-orang jahat? Berapa banyak orang-orang jahat yang mengejarmu, memangnya apa yang kau lakukan?”


            “Ceritanya panjang.”


            Eden berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya sambil memikirkan inti dari masalah yang menimpanya karena ia tidak mungkin menceritakan semua kesialannya hingga ia harus berakhir terengah-engah di dalam sebuah halte seperti ini.


            “Aku diperkosa oleh ayah angkatku sendiri. Bertahun-tahun yang lalu ayah kandungku menitipkanku pada pria itu agar aku diasuh dan dididik menjadi wanita terhormat, tapi pria jahat itu justru merusak hidupku. Dan sekarang aku ingin pergi mencari kebebasan agar aku dapat hidup sesuai dengan apa yang kuinginkan.”


            “Kasihan sekali nasibmu nak, semoga Tuhan memberikan jalan keluar untuk masalahmu yang rumit itu. Lalu kemana kau akan pergi?” tanya wanita tua itu ingin tahu. Eden tertegun sejenak sambil menggelengkan kepalanya tidak yakin pada wanita tua itu. Ia bahkan baru saja bangun dari komanya dan ia sendiri juga tidak tahu kemana ia harus pergi sekarang karena kini ia sebatang kara. Namun tiba-tiba ia teringat pada Tranz, Zyan, dan Anthony, mereka pasti mau menolongnya untuk lepas dari belenggu Aciel. Tapi sayangnya kini ia tidak tahu dimana mereka berada, ia hanya mengingat nomor ponsel milik Zyan dan Anthony yang ia hafal di luar kepala.


            “Nyonya, bolehkah aku meminjam ponselmu? Aku ingin menghubungi temanku.”


            Tiba-tiba saja ia mendapatkan ide untuk menghubungi Zyan dan Anthony. Meskipun sebenarnya ia tidak yakin apakah Zyan dan Anthony masih menggunakan nomor ponsel yang sama setelah empat tahun berlalu, tapi setidaknya ia harus mencobanya terlebihdulu.


            “Tentu saja kau boleh meminjamnya.”


            Wanita itu memberikan ponsel hitamnya pada Eden dan menunggu dengan sabar ketika Eden mulai menempelkan benda persegi itu ke samping telinganya sambil berharap-harap cemas pada seseorang yang diteleponnya. Pertama Eden menghubungi Zyan terlebihdahulu karena sejak dulu pria itu selalu baik padanya dan ia yakin jika Zyan pasti akan segera menolongnya ketika ia berada di saat-saat yang terdesak seperti ini. Namun hingga ia mencoba sebanyak tiga kali, nomor ponsel Zyan sudah tidak aktif lagi dan hanya suara operator yang selalu menjawab panggilannya. Ia kemudian mencoba menghubungi Anthony dengan jantung berdebar dan kalimat permohonan yang terus ia rapalkan pada Tuhan agar Anthony menjawab panggilan teleponnya, karena hanya pria itu saat ini satu-satunya harapan yang ia miliki.


            “Halo!”


            Eden hampir saja terlonjak girang ketika sambungan teleponnya diangakat oleh seseorang di seberang sana. Setidaknya dengan diangkatnya panggilan itu ia masih memiliki sedikit harapan jika yang menjawab panggilannya adalah kekasihnya, Anthony.


            “Anthony? Apa ini benar Anthony?”


            “Ya ini aku, ada yang bisa kubantu?”


            “Anthony!! Apa kau masih mengingatku, aku Eden, kekasihmu.” ucap Eden girang sambil memukul-mukulkan tangannya pada pahanya. Wanita yang duduk di sebelahnya terlihat ikut lega ketika wanita malang disebelahnya telah menemukan temannya yang mungkin dapat menolongnya karena ia sendiri merasa tidak mampu untuk menolong wanita malang itu selain menolong untuk meminjamkan ponselnya.

__ADS_1


            “Anthony, kau dimana? Anak buah Aciel mengejarku, mereka ingin menangkapku lagi. Bisakah kau menjemputku sekarang? Aku sedang berada di halte di sekitar Boullevard.”


            Hening beberapa saat hingga membuat Eden sedikit panik. Ia takut kekasihnya itu tidak mau menjemputnya karena mungkin saat ini kekasihnya itu telah memiliki wanita lain setelah empat tahun berlalu. Tapi kemudian senyum cerah itu kembali terukir di wajahnya kala Anthony mengiyakan permintaannya dan berjanji akan menjemputnya di halte bus yang telah disebutkan oleh Eden sebelumnya.


            “Terimakasih Anthony, aku akan menunggumu.” ucap Eden penuh kelegaan dan langsung mengembalikan ponsel itu pada sang pemilik. Tak berapa lama bus yang ditunggu oleh wanita tua itu datang, dan dengan berat hati wanita itu berpamitan pada Eden untu pergi terlebihdulu.


            “Busku sudah datang, semoga kau lekas mendapatkan jalan keluar untuk masalahmu.”


            “Terimakasih, aku tidak akan melupakan kebaikan hati anda.”


            Setelah berpamitan wanita tua itu segera masuk ke dalam bus sambil melambaikan tangan pada Eden yang juga sedang melambaikan tangan kearahnya. Di dalam bus wanita tua itu memilih untuk duduk di sebuah kursi yang berada di deret paling depan, dekat pintu keluar agar ia tidak perlu berjalan terlalu jauh sebelum turun di


halte bus berikutnya. Sembari menunggu bus yang membawanya tiba di halte berikutnya, wanita tua itu ikut menyimak siaran berita yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi yang sedang mengumumkan berita kehilangan.


            “Selamat malam pemirsa, baru saja kami mendapatkan kabar bahwa istri dari salah seorang pengusaha paling berpengaruh di Las Vegas menghilang. Oleh karena itu apabila pemirsa melihat wanita ini berada disekitar anda, kami harap anda segera menghubungi nomor berikut untuk melaporkan keberadaan wanita itu. Sekian berita yang dapat kami sampaikan, selamat malam.”


            Wanita itu terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat karena di dalam televisi itu ia dapat melihat wajah wanita yang baru saja ia temui sedang tersenyum manis sambil menggandeng seorang gadis kecil yang terlihat menggemaskan di sebelahnya.


            “Huh, pasti masalah keluarga. Orang-orang kaya memang suka mencari sensasi.” komentar pengemudi bus itu sambil lalu. Tapi wanita itu memilih untuk tidak berkomentar apapun sambil menerka-nerka di dalam kepalanya apa yang sebenarnya terjadi pada wanita malang yang baru saja ia temui beberapa saat yang lalu.


-00-


            Eden masih menunggu dengan setia di dalam halte sepi itu sambil menggosok-gosokan tangannya pada lengannya yang terbuka. Udara Vegas yang sangat dingin membuatnya menggigil beberapa kali sambil terus berdoa agar kekasihnya segera muncul untuk menjemputnya karena ia sudah tidak kuat dengan hawa dingin yang mulai menusuk tulangnya dengan ganas.


            Suara klakson mobil yang tiba-tiba dibunyikan di depannya membuat Eden terkejut sekaligus waspada. Dengan penuh perhitungan Eden mulai mengamati mobil itu untuk memastikan jika si pemilik mobil bukanlah Aciel atau salah satu anak buahnya. Dan setelah cukup lama Eden memperhatikan mobil itu, ia dapat bernafas


lega karena mobil itu jelas bukan milik Aciel karena mobil itu terlihat seperti mobil biasa yang tidak mungkin dimiliki oleh pria super kaya seperti Aciel. Meskipun ia belum pernah melihat bagaimana bentuk mobil milik Aciel semenjak ia bangun dari koma, namun ia yakin jika pria itu pasti memiliki selera yang sangat tinggi untuk kriteria mobilnya.


            “Eden..”


            Eden langsung bangkit dan memeluk Anthony dengan erat ketika pria itu turun dari mobil sambil menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Pria itu lantas membalas pelukannya dengan kikuk dan kemudian menelisik tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


            “Ada apa denganmu Ed?”


            “Anthony untung saja kau datang, aku dikejar oleh anak buah pria brengsek itu. Aciel mengejarku dan ingin mengurungku lagi di dalam rumah sialannya yang mewah itu.”


            Anthony terlihat cukup bingung dengan penjelasan yang diberikan oleh Eden. Namun ia memilih untuk membawa Eden masuk ke dalam mobilnya terlebihdulu karena cuaca yang semakin dingin disekitar mereka.


            “Masuklah, kita bicarakan di jalan.”


            Kedua manusia berbeda jenis itu lantas segera pergi meninggalkan area halte bus yang terlihat sangat sepi itu. Di sisi lain mereka juga khawatir dengan kemunculan anak buah Aciel yang bisa saja muncul tiba-tiba di sana untuk menangkap Eden, sehingga mereka memilih cara aman dengan segera pergi dari halte bus itu tanpa

__ADS_1


menimbulkan kecurigaan dari segelintir pejalan kaki yang berlalu-lalang di sana.


            “Apa aku merindukanmu.”


            Satu kalimat pertama akhirnya lolos dari bibir Eden sejak ia menginjakan kaki di dalam mobil milik Anthony. Wanita itu terlihat begitu sumringah ketika mengucapkan hal itu pada Anthony sambil menggenggam tangan kanan Anthony yang bebas. Berbeda dengan Eden yang terlihat begitu bahagia saat bertemu dengannya, Anthony justru merasa aneh dengan keadaan Eden karena terakhir kali mereka bertemu, Eden terlihat sangat membencinya. Bahkan wanita itu tidak pernah terlihat benar-benar seramah ini padanya. Ia masih mengingat dengan jelas


bagaimana sikap angkuh Eden ketika dulu mereka masih bersama. Meskipun terkadang Eden bersikap manis, namun ia tahu jika terkadang wanita itu tidak tulus ketika bersamanya.


            “Aku juga, apa kau baik-baik saja?”


            Anthony masih terlihat tak percaya dengan perubahan sikap Eden yang begitu tiba-tiba padanya. Ia kemudian memikirkan berbagai macam pikiran buruk di dalam kepalanya mengenai Eden. Mungkin saja ini jebakan. Eden tidak mungkin berubah begitu cepat dan terlihat baik-baik saja setelah apa yang kulakukan padanya. Atau jangan-jangan kecelakaan itu yang membuat Eden menjadi seperti ini?


            “Aku tidak baik-baik saja Anthony. Aku terbangun dalam keadaan bingung dan aku seperti kehilangan orang-orang yang selama ini selalu peduli padaku. Apa kau tahu bagaimana kabar Zyan dan Tranz sekarang?”


            Eden terlihat lesu sambil menatap kosong pada jalanan gelap di luar jendela. Sejujurnya saat ini ia tengah kebingungan. Ia bingung dengan apa yang terjadi selama ini dan ia tidak tahu pada siapa ia harus percaya. Tapi karena Anthony adalah kekasihnya, maka ia memilih untuk menanyakan semua fakta-fakta mengerikan yang baru saja didapatkannya dari Aciel, karena ia yakin kekasihnya tidak akan menipunya.


            “Zyan? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan Zyan? Dan apa Aciel menyakitimu?” tanya Anthony bingung sambil tetap berkonsentrasi pada jalanan yang cukup lenggang di depannya. Sekilas ia merasa aneh dengan Eden, dan sepertinya kecelakaan itu benar-benar telah merubah Eden menjadi sosok yang sangat berbeda dari Eden yang ia kenal selama ini. Bahkan Eden dengan polos menanyakan mengenai Zyan yang jelas-jelas telah meninggal bertahun-tahun yang lalu.


            “Entahlah, tapi aku bingung. Beberapa saat yang lalu aku terbangun di rumah pria sialan itu dengan berbagai fakta mengejutkan yang baru saja kuketahui. Anthony, apakah benar aku sudah menikah dengan Aciel dan memiliki dua orang anak bernama Ciara dan Louise?” tanya Eden terlihat frustasi. Anthony tampak berpikir cukup lama untuk mencerna setiap kata yang dikeluarkan oleh Eden. Saat ini ia sedang menelaah kondisi Eden yang sesungguhnya untuk memanipulasi wanita itu.


            “Ya, kalian sudah menikah satu tahun yang lalu. Tapi kau mengandung Ciara sejak empat tahun yang lalu, sebelum kalian resmi menikah.” jawab Anthony datar. Eden langsung mendesah kecewa sambil mengacak rambutnya frustrasi. Akhirnya apa yang ditakutkannya terjadi, ia menikah dengan musuh terbesarnya dan memiliki anak dari pria brengsek itu. Tak pernah terbayang sedikitpun di dalam benaknya bahwa ia akan menikah dengan pria yang telah menghancurkan masa depannya dan membuatnya mengalami keguguran hingga membuatnya nyaris mati karena ia merasa sudah benar-benar tidak tahan hidup dengan aib besar seperti itu. Rasanya ia lebih baik mati daripada harus menerima fakta mengerikan itu.


            “Bagaimana bisa aku menikah dengan pria brengsek itu? Aku pasti sedang dalam pengaruh obat ketika melakukannya karena aku sama sekali tidak mengingat apapun tentang kejadian satu tahun yang lalu. Pikiranku rasanya seperti kosong dan hanya diisi dengan kenangan tentang kita.”


            “Maafkan aku Eden, dulu aku tidak bisa menolongmu dari cengkeraman pria itu. Ia telah menghancurkan hidupku. Pria keparat itu menghancurkan karirku dan membuatku menjadi pria miskin yang menyedihkan. Kemudian ia mengambilmu dariku dan menikahimu dengan paksa. Lalu setelah kau menikah, hidupku menjadi benar-benar hancur. Namun aku berusaha untuk bangkit dengan bekerja sebagai model dengan gaji yang tidak terlalu besar karena perusahaan-perusahaan besar yang akan menggunakanku sebagai bintang dari produk mereka akan dimanipulasi oleh Aciel. Aku berusaha mengumpulkan sisa-sisa harga diriku untuk membalas si keparat itu Ed.”


            Eden menutup mulutnya tak percaya dengan semua cerita penuh emosi yang dikatakan Anthony padanya. Betapa pria itu selama ini menderita karenanya, dan mungkin selama pria itu menderita, ia justru sedang bersukacita bersama pria yang telah menghancurkan kehidupan kekasihnya.


            “Anthony maafkanku.” ucap Eden lirih dengan mata berkaca-kaca dan air mata yang hampir terjatuh bebas dari pelupuk matanya. Namun Anthony langsung menenangkannya dengan menggenggam telapak tangannya kuat, meremasnya dengan lembut untuk mengatakan jika semuanya baik-baik saja karena ia berhasil melewatinya dengan baik.


            “Tidak apa-apa Eden, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, yang terpenting sekarang kau telah kembali padaku.”


            “Terimakasih karena kau telah bertahan untukku. Tapi, bolehkah aku bertanya mengenai kehidupanku selama ini? Apakah aku hidup bahagia bersama Aciel? Lalu Tranz dan Zyan, apakah mereka sekarang baik-baik saja? Aku takut Aciel juga menghancurkan kehidupan mereka karenaku.”


            “Eden maafkan aku, tapi Zyan telah meninggal empat tahun yang lalu. Aciel mensabotase mobilnya hingga ia mengalami kecelakaan saat hendak pergi bekerja.”


            Anthony dengan lancar membual cerita di hadapan Eden dengan wajah meyakinkan yang berhasil membuat Eden mempercayai semua cerita itu sepenuhnya. Anthony bahkan juga menunjukan raut bersalahanya di hadapan wanita itu karena di masa lalu ia memang tidak dapat berbuat apapun untuk menyelamatkan kehidupan teman-teman Eden yang malang akibat ulah licik Aciel. Bahkan untuk menyelematkan kehidupannya sendiri saja ia nyaris tidak mampu karena pria itu benar-benar telah mengambil segalanya, harta, jabatan, dan cintanya. Andai ia bukan pria dengan sifat pantang menyerah, mungkin ia sudah bunuh diri saat itu juga. Tapi ia memilih untuk tidak melakukannya. Ia memilih untuk kembali berjuang agar suatu saat ia dapat mengambil miliknya yang telah diambil oleh Aciel, terutama Eden. Namun sebelum kecelakaan itu menimpa Eden, wanita itu sudah sepenuhnya berubah. Eden perlahan-lahan mulai melupakannya dan berpaling pada suaminya. Ia memilih untuk menerima Aciel dan membesarkan anaknya bersama pria itu. Eden yang ia temui sebelumnya terlihat bukan seperti Eden yang ia kenal dulu. Namun kini Tuhan seperti berpihak padanya. Akibat dari kecelakaan itu Eden sepertinya mendapatkan lupa ingatan, sehingga ia tidak bisa mengingat semua kenangan bahagianya bersama keluarga kecilnya. Dan hal itu akan dimanfaatkan oleh Anthony untuk membalaskan dendamnya pada Aciel. Ia akan menggunakan Eden untuk menghancurkan pria itu hingga ia tidak bisa bangkit lagi untuk selamanya.


            “Anthony tolong ceritakan padaku apa yang telah terjadi selama ini.” pinta Eden dengan wajah memohon yang terlihat begitu terpukul di sebelahnya. Anthonypun memutuskan untuk menepikan mobilnya sejenak agar ia bisa menguatkan separuh hati Eden yang terkoyak karena beberapa cerita karangannya.


            “Eden, aku pasti akan menceritakan padamu semua hal yang telah kau lewatkan selama empat tahun ini. Dan mulai sekarang kita harus berjuang bersama-sama jika kita ingin menghancurkan Aciel. Saat ini hanya kaulah yang kumiliki Ed, tolong jangan pergi lagi.”

__ADS_1


            Mendengar permintaan Anthony yang terdengar bersungguh-sungguh dan menyiratkan kesakitan itu membuat Eden tak kuasa membendung air matanya di depan kekasihnya. Kemudian Anthony segera membawanya ke dalam pelukannya sambil tersenyum licik penuh kemenangan.


            Kali ini kau akan mati di tanganku Aciel!


__ADS_2