
“Kopi.”
“Terimakasih, kau baik sekali, Ed.”
Eden meletakan nampan putih yang dibawanya sambil tersenyum simpul kearah Kriss. Dari sekian banyak pria yang sedang duduk melingkar itu, hanya Kriss yang menghargai kedatangannya dengan empat cangkir kopi yang telah ia bawa dengan susah payah dalam keadaan perut buncit. Bahkan suaminya sendiri tak sedikitpun melihat kearahnya dan hanya sibuk mengobrol bersama Nathan dan Sian.
“Berapa usia kandunganmu, Ed?” tanya Kriss sambil memperhatikan perut buncit Eden yang tersembunyi dibalik gaun tidur sutranya.
“Enam bulan. Kenapa? Apa terlihat seperti sedang memeluk sebuah balon?” tanya Eden jenaka. Ia tahu jika kandungannya kali ini lebih besar dari biasanya karena orang-orang terus terheran-heran dengan perut super buncitnya yang baru memasuki bulan ke enam.
“Tidak juga. Tapi itu bagus, keluarga kalian akan semakin ramai setelah ini.”
“Tentu saja, dia membawa dua anak sekaligus.” cletuk Nathan yang tiba-tiba menoleh kearah Eden.
“Bayi kalian kembar?” tanya Sian tak percaya. Ia lalu menatap Aciel tajam dan mendengus gusar setelahnya. “Kau tidak pernah memberitahuku.” keluh Sian kesal.
“Kau tidak pernah bertanya.” jawab Aciel sekenanya. Tangan kanannya kemudian terjulur untuk mengambil kopi yang disediakan Eden, dan seketika wanita itu mengarahkannya pada gelas berwarna hitam dengan garis emas yang berada di pojok paling kanan.
“Kopi spesial untukmu, dengan hanya satu sendok teh gula.” ucap Eden memberitahu. Aciel hanya mengangkat alisnya sekilas, lalu mengambil cangkir miliknya dan meminumnya.
“Kau
yang terbaik.” puji Aciel setelah ia merasakan cairan hangat kopi mulai
membasahi kerongkongannya.
“Jadi apa jenis kelaminnya?”
“Apa, Nath?” tanya Aciel pada Nathan yang duduk tepat di sebelah kanannya.
“Bukankah kau ayahnya, kenapa bertanya padaku?” dengus Nathan begitu saja. Sepertinya Aciel kini memiliki teman baru yang seimbang. Mereka berdua sama-sama pria dingin tengil yang lebih senang bersikap semaunya tanpa peduli pada image mereka. Setidaknya hal itulah yang berhasil ditangkap Eden dari interaksi antara Aciel dan Nathan sejauh ini. Mereka cocok.
“Kau dokter, jadi aku menyerahkan pertanyaan itu untuk kau jawab.” ucap Aciel santai.
“Ck, jawaban macam apa itu.” Nathan melirik malas kearah Aciel, lalu ia mengambil cangkir kopinya dan menoleh dengan wajah menyebalkan kearah Sian. “Kau bisa menanyakannya pada istriku. Dia dokternya.” tambah Nathan cepat dengan senyum lebar di wajahnya. Ia tahu jika ia baru saja membuat Sian kesal setengah mati dengan sikapnya.
“Sialan kalian!” maki Sian keras. Hal itu membuat tiga orang wanita secara bersamaann keluar dari dalam rumah sambil memberikan tatapan horornya kearah Sian karena suara teriakan Sian dapat membangunkan anak-anak mereka yang sudah susah payah mereka seret ke tempat tidur agar segera tertidur.
“Baiklah, sekarang girls squad sudah datang. Bagaimana menurut kalian?” tanya Aciel sambil bersiul menggoda. Sejenak pembicaraan mengenai calon anak Eden dan Aciel terlupakan oleh mereka, digantikan dengan suara heboh dari Jessica dan Laila yang mulai mengobrol mengenai kesibukan mereka sebagai dokter dan desainer.
“Lai...” panggil Eden lembut dengan wajah yang dibuat semanis mungkin. Seketika Laila merasa was-was, dan ia mulai menghindari tatapan memohon milik Eden yang terlihat menjijikan di matanya.
__ADS_1
“Ace, istrimu sudah gila.”
“Yah memang.” jawab Aciel santai. Ia terlihat begitu menikmati kebersamaan Eden dengan teman-teman girls squadnya. Menurutnya ini jauh lebih baik daripada Eden berkumpul bersama teman-teman lamanya yang tidak jelas itu.
“Lanjutkan lagi cerita kisah cintamu yang menginspirasi itu.”
“Ck, kenapa kau seperti terobsesi pada cerita masa laluku? Kenapa kau tidak terobsesi pada kisah cintamu sendiri?” decak Laila kesal. Ia bukanya tidak mau melanjutkan, tapi rasanya ini sedikit aneh saat ia harus menceritakan masa lalunya yang cukup berantakan bersama Nathan.
“Ya sebenarnya aku ingin, tapi aku sudah melupakan sebagian ceritanya karena kecelakaan yang terjadi padaku waktu itu. Ayolah lanjutkan lagi.” mohon Eden dengan wajah yang dibuat semanis mungkin. Semakin lama Laila berkelit, semakin mual juga perutnya karena harus melihat wajah Eden yang terlihat begitu dibuat-buat di depannya.
“Baiklah baiklah, sekarang duduk dan dengarkan cerita selanjutnya.” ucap Laila luluh. Nathan yang melihat tingkah laku istrinya dan juga ketiga temannya itu menjadi ingin tahu dan mulai memasang telinganya kuat-kuat untuk menyimak cerita yang dimaksudkan oleh Eden.
“Apa sih yang mereka bicarakan sejak tadi?” tanya Sian tak mengerti. Nathan yang berada di sebelahnya langsung menyuruh pria itu diam dan mendengarkan cerita milik Laila yang baru saja dimulai.
“Diam dan dengarkan!”
Laila mengernyitkan dahinya gusar sambil berguling kesana kemari di atas ranjangnya. Samar-samar ia mendengar suara tawa khas pria yang sangat berisik dari ruang depan. Dengan malas Laila mulai menyingkap selimutnya dan berjalan turun untuk memarahi siapapun yang telah membangunkannya dari dunia mimpi.
“Woww... Good morning pregnant mom.”
Laila menatap tajam pada Lucas sambil menggulung asal rambutnya ke atas. Wanita itu berjalan malas menujudapur untuk mengambil susu yang biasanya selalu disiapkan Nathan untuknya pagi-pagi.
“Lai, aku sudah menyiapkan susu untukmu.”
“Apakah ia selalu terlihat seksi saat bangun tidur ?”
Nathan memukul kepala Lucas keras dan membuat sang pemilik kepala mengaduh kesakitan.
“Aku tahu apa yang ada di otakmu, cepat bersihkan otak kotormu itu dari pikiran tentang Laila, karena aku tidak akan segan-segan memukulmu lagi jika kau masih berpikir tentang Laila.” ucap Nathan kesal yang berhasil membuat Laila sedikit terganggu dengan teriakan pria itu.
“Ck, bisakah kalian tenang? Kalian sudah mengganggu tidur nyenyakku dengan suara tawa kalian yang berisik. Lagipula apa yang kau lakukan di sini? Tidak biasanya kau datang sepagi ini.” sindir Laila sakarstik pada Lucas. Wanita itu mendudukan dirinya di salah satu sofa sambil mengelus perut buncitnya yang terlihat semakin menonjol dibalik kaus kebasaran yang ia gunakan. Sesekali Laila memijit punggungnya yang terasa pegal semenjak usia kandungannya semakin besar. Nathan yang melihat Laila tampak kepayahan langsung berdiri sigap untuk membantu ibu dari anaknya itu untuk mengurangi sedikit pegal yang dirasakan Laila akhir-akhir ini.
“Kenapa kalian tidak segera menikah? Lihat, kalian sudah terlihat seperti pasangan suami istri sungguhan.”
“Luc, kau semakin berisik!” peringat Laila galak. Sedangkan Nathan yang sedang membantu memijit punggung Laila hanya mengendikan bahu ringan dengan komentar Lucas. Ia sendiri seperti sudah tidak memikirkan pernikahannya lagi dengan Laila semenjak lamarannya selalu ditolak oleh Laila berkali-kali. Padahal ia sudah mengusahakan berbagai macam cara agar Laila bersedia untuk menerima lamarannya. Tapi berbagai macam cara romantis yang ditempuhnya sama sekali tak meluluhkan hati Laila dan justru membuat Laila semakin sadis ketika menolaknya. Lalu pada akhirnya ia memilih untuk menyerah dan membiarkan hubungan mereka mengalir seperti air. Baginya melihat Laila berada di sisinya dan sedang mengandung anaknya dengan sehat, itu sudah cukup. Ia sekarang tidak ingin terlalu meminta hal lebih pada Tuhan setelah semua kebaikan yang diberikan Tuhan padanya hingga kini hubungannya dengan Laila sudah semakin membaik.
“Jadi kau akan membiarkan bayi itu terlahir tanpa ayah?”
“Aku tidak pernah menginginkannya, aku hanya belum siap untuk menikah.” sangkal Laila cepat. Ia sedikit meluruskan kakinya ke depan dan meminta Nathan untuk berhenti memijitnya karena ia sudah merasa lebih baik.
“Tapi kau sudah mengandung sebesar itu Lai! Apa yang akan dipikirkan orang-orang di luar sana jika sebenarnya kalian sama sekali belum menikah.”
__ADS_1
“Maaf, tapi aku sudah pernah menikah, jadi jangan terlalu mendramatisir kata-kata.” koreksi Laila cepat. Lucas mendengus kesal dan terlihat tidak ingin melanjutkan konfrontasinya. Ia sekarang justru merasa gusar dan jengkel pada Nathan yang dinilai terlalu santai dengan nasib rumah tangganya. Rasanya ia ingin mencekik dua orang yang sedang duduk santai di depannya saat ini.
“Nath, kenapa kau diam saja. Apa kau ingin digantungkan seperti ini oleh Laila? Kau harus memaksanya atau mungkin menyeretnya ke gereja untuk menikah denganmu. Sebagai seorang sahabat aku merasa prihatin denganmu.” racau Lucas gemas namun hanya ditanggapi Nathan dengan kedikan bahu.
“Kau tenang saja Luc, suatu saat kami pasti akan membuatmu terkejut dengan berita pernikahan kami.”
“Atau mungkin kau akan terkejut dengan hubungan kami yang berakhir.” sambar Laila tiba-tiba sambil berjalan pergi meninggalkan Lucas yang tampak syok di ruang tamu, tak menyangka dengan ucapan wanita hamil yang saat ini sedang berjalan menuju kamar mandi.
“Nath, kau memang pria yang tangguh.” komentar Lucas pelan sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
“Jadi ini yang sejak tadi kalian bicarakan? Masa laluku?”
“Ssshhhh!!”
Nathan langsung mendapatkan serangan dari Eden ketika tiba-tiba pria itu menginterupsi cerita Laila yang sedang seru.
“Kau mengumbar aib kita?” tanya Nathan sangsi. Tak dipedulikan tatapan protes milik Eden yang saat ini melayang kearahnya. Kini fokus Nathan hanya pada Laila yang sedang meringis kecil kearahnya sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada.
“Katanya kisah cinta kita menginspirasi.” jawab Laila polos.
“Ya Tuhan...” desah Nathan dengan hembusan napas berat. Disugarnya rambut hitam dengan semburat pirang itu sekali sambil menatap tak percaya kearah girl squad yang kini terlihat seperti seorang balita yang sangat menginginkan dongeng pengantar tidur dari ibunya.
“Tenanglah bung, kau bukan satu-satunya yang memiliki banyak aib. Percayalah jika kita berdua hampir memiliki kisah cinta yang sama rumitnya.” hibur Aciel ringan sambil merangkul bahu Nathan di sebelahnya. Eden seketika melemparkan sebuah love sign pada suaminya karena pria itu telah membuatnya dapat mendengarkan cerita Laila yang sempat terpotong karena ulah Nathan.
“Jadi mari kita lanjutkan ceritanya!” teriak Eden semangat.
Bonus Pic Ciara ^^
Baby Louise ^^
Baby Justice ^^
Si Kriting Marc & Si Usil Hyena
__ADS_1
Thanks for reading my story, all ^^