Black Swan

Black Swan
Yes I Love You (Fifthy Eight)


__ADS_3

            Keesekan harinya Eden terlihat cukup merasa bersalah dengan Aciel. Ia tidak tahu jika ternyata apa yang ia lakukan cukup fatal hingga dokter harus melakukan operasi ulang pada pukul dua pagi untuk menghentikan pendarahan Aciel yang cukup banyak. Menurut dokter Edward luka akibat peluru itu merobek otot punggung Aciel, sehingga akan sedikit lebih lama untuk masa pemulihannya. Dan pagi tadi, sebelum pergi dari mansion mewah milik Aciel, dokter itu sempat berpesan agar Aciel tidak terlalu banyak bergerak terlebihdulu agar bekas jahitannya tidak robek. Dan hal itu berhasil membuat Eden menunduk malu pada dokter tua itu karena ia yakin jika dokter itu pasti sudah tahu apa penyebab luka jahitan di punggung Aciel kembali menganga.


            “Hai.”


            Eden melambaikan tangannya kaku di depan Aciel yang sedang berbaring dengan tenang di atas ranjang. Pria itu terlihat menggunakan selang infus kembali setelah semalam ia berhasil melepasnya dengan paksa untuk mengunjungi Eden yang sedang terlelap nyaman di dalam kamar mereka.


            “Bagaimana kabarmu?”


            “Tidak lebih baik dari kemarin.” jawab Aciel seadanya. Pria itu kemudian meraih ponselnya dan mulai menyibukan diri dengan tugas-tugas kantornya yang terbengkalai selama dirinya sakit. Meskipun sebenarnya Sian sudah mengambil alih semuanya, tapi ia tetap tidak puas jika ia tidak mengeceknya sendiri.


            “Apa kau sudah makan?” tanya Eden mencoba perhatian. Pagi ini ia terlihat benar-benar merasa bersalah dan ingin menebus semuanya. Tapi sepertinya Aciel marah padanya dan tidak ingin melihat wajahnya.


            “Belum.”


            “Apa kau ingin aku mengambilkan makanan untukmu?”


            “Tidak perlu. Kim sudah meletakannya di sana.”


            Eden menolehkan kepalanya kearah telunjuk Aciel dan ia benar-benar menemukan sebaki makanan yang telah disiapkan oleh kepala mansion kesayangannya. Kehadirannya di dalam kamar itu memang tidak diperlukan, ia justru menghancurkan harga dirinya sendiri dengan bersikap sok peduli di depan pria arogan yang telah mengaku sebagai suaminya itu.


            “Kalau begitu aku akan pergi.”


            Putus Eden akhirnya dengan dagu terangkat. Sungguh ia merasa harga dirinya telah hancur sekarang, dan ia bersumpah tidak akan melakukan hal itu pada Aciel. Ini adalah untuk pertama dan terakhir kalinya dalam hidupnya.


            “Apa aku menyuruhmu pergi?”


            Suara bas bernada dingin itu menghentikan langkah Eden dan membuat Eden menoleh seketika. Memastikan jika ternyata Aciel sedang berbicara dengannya.


            “Kau berbicara denganku?”


            “Memangnya pada siapa aku berbicara sekarang? Kemarilah, aku belum menyuruhmu untuk pergi.”


            Aciel menyuruh Eden untuk duduk di kursi menggunakan dagunya. Sedangkan ia dengan angkuhnya kembali menenggelamkan diri pada email-email yang menumpuk di dalam kotak masuk ponselnya.


            “Yang benar saja, kau menyuruhku duduk di sini selama tiga puluh menit hanya untuk melihatmu bermain ponsel! Damn! Aku bukan ibumu yang harus mengawasimu saat bermain ponsel tuan Lutherford!” teriak Eden kehabisan kesabaran setelah selama tiga puluh menit hanya menggeram dongkol dengan perintah Aciel yang hanya menyuruhnya untuk duduk tanpa melakukan apapun.

__ADS_1


            “Kau memang harus sering-sering menatap wajahku karena itu akan membantu untuk mengembalikan ingatanmu yang hilang nyonya Lutherford.” jawab Aciel santai sambil mengusapkan ibu jarinya pada layar ponsel untuk melihat email selanjutnya yang telah menanti untuk dibaca. Sementara itu, Eden terlihat sudah mendidih dengan kemarahannya yang menumpuk hingga ke ubun-ubun kepalanya. Andai saja Aciel tidak dalam keadaan sakit, mungkin ia akan mencakar pria itu dengan brutal.


            “Cobalah untuk memujiku daripada mengumpatiku nyonya Lutherford karena aku lebih suka melihatmu menggunakan otak cantikmu untuk memikirkan kehidupan kita.”


            “Brengsek! Apa kau hanya ingin mengujiku, huh?” teriak Eden kesal sambil mengepalkan buku-buku tangannya yang terlihat memutih. Dengan santai Aciel meletakan ponselnya dan meminta Eden untuk mengambilkan makanannya yang telah disiapkan oleh tuan Kim beberapa puluh menit yang lalu.


            “Tolong ambilkan sarapanku dan suapi aku karena dokter melarangku untuk banyak melakukan gerakan.”


            Eden hampir saja berteriak di hadapan Aciel dan melemparkan baki berisi makanan itu pada wajah Aciel yang menyebalkan. Namun akhirnya ia memilih untuk diam dan menuruti pria itu agar semuanya segera selesai. Jika terus menerus mendebat pria itu, ia justru akan semakin dibuat dongkol karena nyatanya pria itu sangat licik.


            “Kenapa kau tidak mencoba untuk makan sendiri, bukankah tanganmu baik-baik saja.”


            Eden sengaja meletakan baki itu dengan keras di atas pangkuan Aciel hingga kuah sup yang masih mengepulkan asap tipis itu terciprat ke atas selimut Aciel yang bersih. Namun tanpa diduga, Aciel justru tidak marah. Pria itu hanya mengangkat alisnya sekilas sambil memaksa Eden untuk mulai menyuapinya.


            “Kau harus merawatku mulai detik ini agar aku bisa segera pulih. Aku tidak bisa terus menerus berbaring di ruangan ini seperti orang tidak berguna dan membiarkan Sian mengambil alih semua pekerjaanku. Aku tidak bisa mempercayai Sian begitu saja.”


            “Kenapa tidak bisa?” tanya Eden dengan nada menantang sambil menjejalkan sesendok penuh sup ke dalam mulut Aciel yang terbuka. Hampir saja Aciel tersedak jika ia tidak cepat-cepat mengontrol dirinya sendiri.


            “Ini peringatan untukmu nyonye Lutherford, jika kau tidak bisa bersikap baik padaku, maka aku akan membalasmu dengan lebih kejam setelah aku benar-benar pulih nanti.” peringat Aciel kesal sambil mengelap bibirnya dengan sapu tangan. Ia kemudian kembali melanjutkan ceritanya mengenai sahabat yang telah ia anggap seperti saudaranya sendiri, Sian.


            “Aku tidak mengerti dengan hubungan antara perusahaan dan status Sian yang tidak memiliki pasangan.”


            “Sian tidak pandai meloby klien, ia bekerja terlalu kaku hingga membuat beberapa klien enggan menginvestasikan uang mereka ketika Sian melakukan presentasi.”


            Eden mengangguk-anggukan kepalanya mengerti sambil memasukan sepotong daging ayam ke dalam mulut Aciel.


            “Ohh, sekarang aku mengerti. Jadi sikap playermu itu ternyata cukup berguna untuk menggaet klien-klienmu, begitu?”


            “Bahkan itu juga berguna untuk menaklukanmu.”


            Tiba-tiba Eden merasa gugup, namun ia berusaha mengalihkannya dengan melihat layar kardiograf yang menampilkan irama detak jantung Aciel yang stabil.


            “Ceritakan padaku apa yang terjadi sebelum aku lupa ingatan.”


            “Memangnya apa yang ingin kau ketahui?”

__ADS_1


            “Apapun, tapi kau mungkin bisa memulainya dari sesuatu yang mengesankan bagimu.” jawab Eden memberi usulan. Aciel tersenyum manis pada Eden dan mulai menceritakan sedikit masa lalu Eden yang paling berkesan untuknya.


            “Hal yang paling mengesankan dalam hidupku ketika aku melihatmu menari dengan liar di sebuah club. Saat itu kau terlihat paling mencolok karena kau masih bergitu segar, seperti ikan yang baru saja datang dari laut. Tapi itu benar karena kau sebenarnya bukan penghuni club, ada sesuatu yang menyebabkan kau berubah


menjadi liar. Pertama kali aku melihatmu menari aku merasa terkesan. Entah itu suatu bentuk kekagumann atau rasa suka, namun aku selalu mengingat malam itu sebagai salah satu ingatan yang paling tak terlupakan diantara yang lainnya. Aku tidak pernah menyangka jika kau dapat berubah menjadi angsa hitam yang mematikan setelah sebelumnya kau hanyalah angsa putih yang polos dan pemalu.”


            “Tapi bagaimana kau bisa menyukaiku dan menginginkanku untuk menjadi istrimu? Bukankah usia kita terpaut cukup jauh, bahkan sangat jauh? Dan kupikir kau pasti bisa menemukan banyak wanita yang lebih baik dari aku di luar sana.”


            “Tidak pernah ada yang lebih baik darimu Eden, tidak pernah ada. Dan mengenai bagaimana aku bisa menyukaimu? Aku sendiri juga tidak tahu. Tiba-tiba perasaan itu muncul hingga aku merasa bingung untuk mengatasinya. Aku tidak bisa menghilangkan perasaan itu dari hatiku. Semakin aku mencoba, aku justru semakin hancur. Dan puncaknya adalah ketika kau pergi meninggalkanku dengan harapan palsu yang terlanjur membuatku membuncah. Ed...” Aciel mendesah berat di sela-sela ceritanya yang panjang. Ia lalu menatap manik bulat Eden dalam dan kembali melanjutkan ceritanya yang terlalu banyak untuk diceritakan. “Sebelum ini kau telah melakukan banyak hal padaku. Kisah kita tentu akan sangat panjang untuk diceritakan karena di dalam cerita itu bukan hanya kita saja yang menjadi tokoh utamanya, tapi ada juga Zyan dan hama-hama sialanmu yang lain.”


            Eden mengernyitkan dahinya bingung dan tiba-tiba saja ia menjadi gusar pada dirinya sendiri karena kepalanya sama sekali tidak bisa ia gunakan untuk mengingat apapun yang pernah terjadi selama hidupnya. “Aku tidak bisa mengingat apapun Ace, aku tidak bisa! Aku tidak bisa mengingat Zyan yang menurut Anthony telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Apa yang harus aku lakukan Ace, ak aku... aku.. arrghh!” erang Eden frustrasi sambil menjambak rambutnya. Aciel dengan sigap langsung menghentikan gerakan Eden dengan memeluk wanita itu erat.


            “Perlahan Eden, perlahan. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Apa kau ingin tahu apa yang membuatmu berbeda dari wanita-wanita yang selama ini sering kutemui?” tanya Aciel lembut sambil tetap mengelus kepala Eden. Ia sekarang sedang berusaha mengalihkan atensi Eden dari kenangan masa lalunya yang telah hilang dari


memorinya. Dan kata-kata Aciel itu sepertinya berhasil, terbukti dari pertanyaan Eden selanjutnya yang membuat Aciel langsung tersenyum senang. “Apa? Katakan padaku.”


            “Itu karena aku melihat matamu.”


            “Mataku?” ulang Eden tidak mengerti. Tiba-tiba saja Aciel sudah menatap manik matanya dengan sungguh-sungguh sambil mengelus pipinya lembut.


            “Kau memiliki tatapan tulus yang tidak dimiliki oleh wanita manapun. Meskipun aku sempat kehilangannya selama beberapa tahun, tapi akhirnya aku berhasil mendapatkannya kembali dengan seluruh cinta yang kau miliki.”


            Eden menatap manik mata Aciel yang menyiratkan kesungguhan itu dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa setelah mendengar suara penuh ketulusan milik Aciel, hatinya justru bergetar dan terasa perih. Ia pikir hatinya memang telah mengenali Aciel sebagai pasangan hidupnya. Tapi otak yang menyimpan berbagai macam kenangan itu masih enggan untuk membuka diri terhadap Aciel, sehingga yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menangis tanpa sebuah alasan yang jelas. Ia hanya ingin menangis untuk pria itu.


            “Eden, apa kau mencintaiku?”


            Eden hanya menutup bibirnya rapat tanpa berniat sedikitpun untuk menjawab pertanyaan Aciel. Dan dalam dua detik berikutnya Eden merasakan bibirnya terasa dilumat lembut oleh Aciel. Pria itu menciumnya dengan penuh perasaan tanpa sedikitpun melukainya seperti hari-hari sebelumnya. Ia pun akhirnya memilih untuk memejamkan mata sambil membalas setiap lumatan Aciel dengan gerakan bibirnya yang kaku.


            Ya, aku mencintaimu Aciel....


            Aciel membuka matanya perlahan dan menemukan ruangan tempat ia dirawat tampak gelap gulita. Ia kemudian mengangkat tangannya yang kaku untuk melepaskan masker oksigen yang terasa mengganjal di wajahnya. Dengan sedikit linglung ia menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Tapi apa yang ia cari ternyata tak ada dimanapun. Ruangan tempatnya dirawat juga sangat bersih, seperti tidak pernah terjadi apapun di sana, padahal ia yakin jika sebelumnya Eden ada di sana dan mereka sempat bercanda dengan seru hingga membuat sisi-sisi sprei yang melakat di atas ranjangnya kusut.


            “Jadi apakah itu hanya mimpi?” bisik Aciel nanar pada udara kosong. Namun seakan tak mau terlarut dalam kesedihannya, Aciel memilih untuk segera melupakan segalanya dan kembali memejamkan matanya untuk menenangkan hatinya yang meronta karena Eden.


            “Meskipun itu hanya mimpi sekalipun, itu akan tetap indah untuk diingat.”

__ADS_1


__ADS_2