Black Swan

Black Swan
Reunion (Eighty Six)


__ADS_3

        Sungguh Aciel tidak pernah menyangka jika festival di alun-alun kota akan sangat penuh dan padat seperti ini. Bahkan natal masih lima belas hari lagi, tapi setiap orang seperti sudah tidak sabar untuk menyambut natal dan meminta hadiah pada santa. Aciel yang sedang menggandeng Ciara di tangan kanannya dan tangan kiri yang sedang memegang gagang stroller merasa cukup bingung dengan idenya sendiri yang ternyata tak berjalan sesuai rencana. Ia pikir orang-orang tidak akan memadati festival ini selain di hari weekend.


            “Daddy, dimana santanya?” tanya Ciara mulai gusar. Sejak tadi mereka hanya berdiri di sana tanpa sedikitpun bergerak untuk mendekati santa yang telah dikerumuni oleh banyak anak. Melihat itu rasanya Aciel sudah menyerah dan berencana untuk tidak membawa anaknya ke sana karena jelas ia tidak akan bisa membuat kedua anaknya berada lebih dekat dengan santa palsu itu.


            “Ada di sana, princess. Tapi sepertinya kita tidak bisa mendekat.”


            “Kenapa?” tanya Ciara mulai cemberut. Ia sudah terlalu kesal dengan ayahnya yang sejak kemarin terus saja membohonginya dalam rencana liburan mereka. Ditambah lagi sekarang ibunya juga tidak ada, membuat Ciara semakin kesal dan ingin menangis saja.


            “Bagaimana kalau kita pergi ke toko es krim?” bujuk Aciel sambil berjongkok di depan wajah putrinya yang jelas cemberut.


            “Ciara mau santa!” gadis itu mulai terlihat marah dan menghentak-hentakan kakinya di depan sang ayah. Lagipula es krim di bulan sedingin ini? Aciel sungguh bodoh! Kedai es krim pasti tidak banyak yang buka di bulan desember, dan mereka akan berubah haluan menjadi penjual minuman hangat.


            “Tapi disana terlalu ramai.” Aciel masih bertahan pada usahanya untuk membujuk Ciara. Tapi semakin lama ia sadar jika semua ini hanya akan berakhir sia-sia karena Ciara itu memiliki sifat keras kepala sepertinya.


            “Pokoknya kita pergi untuk bertemu santa.”


            Skak mat! Tidak ada yang bisa dilakukan Aciel selain menggandeng tangan Ciara erat-erat sambil mendorong stroller milik Louise dengan hati-hati untuk menerobos kerumunan orang-orang yang memadati festival di hari rabu ini. Rasanya setiap langkah yang diambil Aciel terasa berat karena ia sama sekali tidak menyukai keramaian. CEO sepertinya lebih senang memesan tempat khusus agar ia terbebas dari keramaian orang-orang yang kini sedang sibuk menatapnya. Ya ia tahu ini aneh. Seorang pria tampan, dengan kacamata hitam yang membingkai mata tajamnya sedang menggandeng seorang gadis berusia lima tahun dan seorang bayi yang sedang bergerak-gerak heboh di dalam stroller tanpa seorang ibu. Miris. Aciel tahu jika Louise juga sama bahagianya dengan Ciara karena mereka akhirnya mendapatkan liburan bersama ayahnya.


Dug!


            “Shit!” Aciel mengumpat keras saat stroller milik Louise tak sengaja tersangkut kaki meja kayu yang disediakan oleh penyelenggara untuk bersantai sambil menikmati festival. Suara beberapa orang yang menghuni meja itu langsung terdengar bersahut-sahutan, memprotes Aciel yang menyebabkan minuman mereka bergetar


hingga isinya nyaris tumpah. Tapi Aciel tak peduli, dengan wajah datarnya ia tetap mendorong stroller milik Louise mendekati santa tanpa peduli orang-orang yang masih saja mengoceh di belakangnya.


            “Daddy daddy! Itu santa!” tunjuk Ciara girang. Mereka sudah hampir dekat dengan santa, dan Aciel sadar jika mereka tidak bisa lebih dekat jika Aciel masih memaksakan stroller milik Louise tetap maju. Akhirnya ia memutuskan untuk menggendong Louise sambil menggandeng tangan Ciara untuk mendekati santa mereka. Yeah, ia berharap santa itu benar-benar bisa membuat kedua anaknya bahagia, sehingga perjuangannya hingga sampai ke titik ini tidak berakhir sia-sia.


            “Bisa kau memberi jalan untuk putriku?” Sikap arogan Aciel mulai terlihat lagi di sini. Ia dengan gaya angkuhnya mengusir seorang pria bertubuh besar yang terasa sangat mengganggu untuk Aciel karena pria itu membuat putri kesayangannya tidak bisa berdiri lebih dekat dengan santa. Bahkan Aciel pikir pria itu sedikit menjijkan karena masih saja bermain bersama santa disaat ia telah tumbuh setua itu.


            “Kau bisa menggunakan jalan lain.” jawab pria gendut itu acuh. Ia sendiri juga tidak suka jika kesenangannya diusik. Dan seorang Aciel yang tidak terlalu dikenal di sana merasa seperti tak memiliki power untuk bertindak lebih jauh


            “Sayang, kita tidak bisa lebih dekat dari ini.”

__ADS_1


            “Tidak! Ciara ingin menyentuh santa dan meminta hadiah dari santa.” Tiba-tiba saja Ciara melepaskan genggaman tangannya dari sang ayah dan nekat menerobos kerumunan itu sendirian, meninggalkan Aciel di belakangnya yang hanya mampu menggeram dengan wajah panik. Sungguh ini pengalaman pertamanya membawa kedua anaknya pergi ke tempat umum yang dinilainya terlalu berbahaya untuk kedua anaknya. Dan jika sampai hal buruk terjadi pada anak-anaknya, Aciel tidak tahu lagi apa yang akan ia lakukan karena di sini ia memiliki tanggungjawab penuh atas kedua anaknya. Mungkin jika di rumah ia bisa saja memarahi para pelayannya


jika kedua anaknya mendapatkan masalah, tapi di sini? ia tidak mungkin akan mengumpati dirinya sendiri untuk kesalahan yang kali ini dirinyalah pemicunya.


            Akhinya Aciel juga ikut menerobos kerumunan itu demi mendapatkan putrinya kembali sambil melindungi Louise yang teramat kecil di dekapannya. Demi Tuhan, Aciel sangat takut sekarang. Tubuh orang-orang itu bisa saja meremukan tubuh mungil Louise dalam sekali sikutan, dan ia harus ekstra ketat menjaga putra kecilnya yang menggemaskan ini dari tubuh orang-orang yang mulai bergerak tak beraturan di kerumunan ini.


            “Ciara!” Aciel langsung saja mencekal tangan Ciara ketika gadis kecil itu hampir menggapai tujuan akhirnya, bertemu dengan santa. Dengan geram Aciel menarik Ciara agar mendekat padanya dan tidak lagi memberi kelonggaran agar gadis kecil itu tidak kabur.


            “Jangan pernah pergi tanpa seizin daddy!” bentak Aciel murka. Semua orang tampak tak peduli dengan kemarahan Aciel pada Ciara, mereka tengah sibuk dengan kebahagiaan mereka masing-masing, dan mereka sama sekali tidak peduli pada isak tangis seorang anak yang baru saja dibentak oleh ayahnya.


            “Daddy jahat!” Cukup! Ini menjengkelkan sekaligus menyedihkan untuk Aciel. Hatinya berdenyut sakit saat Ciara menyebutnya jahat dengan seluruh emosi yang ia miliki. Jadi seperti inikah rasanya ketika seorang anak membentak ayahnya? Sangat sakit! Aciel merasa bersalah pada Ciara. Ia menyesal telah membentak Ciara dan ia telah bertekad pada dirinya jika ia akan membawa Ciara untuk menemui santa. Aciel kemudian segera menggendong tubuh mungil Ciara menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri masih ia gunakan untuk mendekap Louise dengan erat. Untung saja bayi mungil itu tidak rewel di tengah lautan manusia yang sibuk berdesak-desakan untuk meminta kado pada santa.


            “Itu santamu, apa kau senang?” tanya Aciel lembut pada gadis kecilnya yang mulai tersenyum bahagia. Akhirnya Aciel dapat mendekatkan Ciara pada santa dan membuat anak itu dapat duduk di pangkuan santa.


            “Ciara sayang daddy!” Tidak ada kata yang bisa diucapkan oleh Aciel untuk menggambarkan rasa bahagianya saat sang putri dengan begitu tulus dan wajah berseri-seri sedang meneriakan kalimat penuh cinta padanya. Baginya itu adalah kado terindah dari Ciara yang tak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun.


Kasih sayang yang begitu murni dari seorang anak untuk ayahnya. Damn! Aciel merasa hatinya bergetar karena terlalu bahagia sekarang.


            “Tolong hati-hati, anakku baru berusia empat bulan.”


            Aciel berhasil meletakan Louise dengan aman di  dekapan sang santa. Tapi saat Aciel baru lima detik meninggalkan bayi itu bersama sang santa, suara tangisnya langsung pecah dan membuat santa palsu itu berteriak panik memanggil Aciel yang akhirnya membuat Louise semakin histeris di dalam dekapan santa palsu itu.


            “Shit!” Aciel langsung mengambil alih Louise dan berusaha menenangkan bayi itu, namun tidak berhasil. Louise terus saja menangis histeris hingga wajahnya memerah dan membuat orang-orang mulai menyalahkan Aciel sambil mempertanyakan dimana keberadaan ibu dari anak-anaknya. Merasa kesal karena terus dihakimi, Aciel


kemudian menarik tangan Ciara agar pergi dari kerumunan itu agar ia bisa menenangkan Louise dengan damai tanpa harus mendengarkan bisikan-bisikan menyebalkan dari semua orang yang terus saja menyalahkannya karena dinilai tidak bisa menjaga anak dengan baik.


            “Daddy, Ciara belum meminta hadiah pada santa.”


            “Adikmu sedang menangis, dan jangan pernah menyuruh daddy untuk pergi ke tempat ini lagi.” jawab Aciel emosi. Ia tidak lagi memperhatikan kesedihan yang tercetak di wajah Ciara. Saat ini  fokusnyahanya pada Louise yang masih saja menangis hingga seluruh wajahnya memerah. Ia pun akhirnya membawa kedua anaknya ke dalam mobil dan memberikan Louise susu dengan harapan jika bayi itu akan tenang setelah mendapatkan makanannya. Dan seperti mengerti dengan kefrustrasian yang dihadapi oleh ayahnya, Louise langsung tenang setelah mendapatkan makanannya dan duduk dengan tenang di atas kursi bayi miliknya.


            “Baiklah anak-anak, cukup untuk hari ini. Sekarang saatnya kembali pada mommy."

__ADS_1


-00-


            Eden duduk di dalam mobil milik Andrew dengan perasaa gelisah. Sejak tadi ia sudah merasa tidak setuju dengan ide Summer untuk mengikuti Andrew mengecek ballroom hotel dan juga catering untuk pesta pernikahannya. Ditambah lagi dengan ponselnya yang sekarang lowbatt, membuat Eden ingin segera pulang dan menemui kedua anaknya. Ia merasa sangat khawatir sekarang, karena ini adalah kali pertamanya ia meninggalkan Ciara dan Louise bersama Aciel. Walaupun seharusnya itu tidak jadi masalah, tapi tetap saja ia merasa khawatir. Ia takut Aciel tidak bisa menjaga kedua anaknya dengan benar dan justru akan membuat anak-anaknya celaka. Ow yeah, Eden memang terlalu berlebihan soal itu.


            “Ed, kau kenapa? Kau sedang mencemaskan anak-anakmu?” tanya Andrew di sebelah Eden. Sejak mereka berada di restoran, ia sudah menyadari adanya gelagat aneh dari Eden. Tapi ia lebih memilih untuk mengabaikannya dan tetap pada egonya untuk mengajak Eden pergi bersamanya. Ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki, jadi ia tidak mungkin akan menyia-nyiakan hal ini begitu saja. Setelah ini ia benar-benar harus berterimakasih pada adiknya, Summer Osborn.


            “Hmm, begitulah. Ini adalah kali pertama aku meninggalkan Ciara dan Louise di rumah bersama Aciel. Aku takut Aciel tidak bisa menjaga kedua anaknya dengan baik dan justru melakukan sesuatu yang membahayakan di rumah.” ucap Eden khawatir sambil meremas-remas ponselnya dengan gugup. Ia ingin segera pulang sekarang.


            “Tenanglah. Aciel tidak mungkin mencelakakan anaknya sendiri. Mereka pasti akan baik-baik saja bersama ayah mereka.” ucap Andrew berusaha menenangkan Eden. Tanpa diduga, tangan kanan Andrew terulur dan mengusap kedua tangan Eden dengan lembut. Cepat-cepat Eden mengangkat tangannya untuk memasukan ponselnya ke dalam clutch bag miliknya. Ia merasa Andrew sangat kurang ajar sekali padanya. Andai saja Andrew bukan seniornya dan kakak dari temannya, ia pasti sudah memukul tangan nakal itu dan menendang Andrew sekarang juga karena perbuatan tidak sopannya barusan.


           “Kau telah berubah ternyata.” gumam Andrew santai dengan wajah meremehkan.


            “Berapa lama lagi kita akan sampai ke hotel itu?” tanya Eden dingin mencoba untuk mengabaikan gumaman Andrew. Menyadari perubahan nada suara Eden, membuat Andrew merasa bersalah dan ia benar-benar meruntuki kebodohannya sendiri sekarang.


            “Sebentar lagi. Nah, itu hotelnya.”


            Andrew  segera memasukan mobilnya ke dalam hotel itu dan ia menghentikan mobilnya di sebuah tempat parkir vvip yang berada di depan pintu utama hotel. Seorang petugas hotel yang bertugas sebagai vallet segera membawa mobil itu untuk diparkirkan dengan posisi yang lebih teratur. Lalu Andrew dan Eden segera masuk ke dalam hotel itu dengan berjalan secara beriringan. Sesekali Andrew berusaha memegang lengan Eden untuk membimbing wanita itu masuk ke dalam ballroom hotel. Tapi Eden selalu menepis tangan kekar itu dengan pelan dan berusah menjaga jarak dengan Andrew.


            “Selamat siang tuan Osborn. Selamat datang di hotel kami. Apa tuan ingin mengecek kesiapan ballroom yang akan digunakan untuk acara pesta pernikahan nona Summer Osborn?” tanya seorang manager hotel yang saat ini sedang menyambut kedatangan Andrew dengan ramah. Pria berjas itu membimbing Eden dan Andrew ke dalam sebuah ballroom yang sangat megah yang terletak di lantai dua. Di sana manager itu menjelaskan jika kesiapan pesta pernikahan Summer telah berjalan tujuh puluh lima persen, dan hampir mendekati selesai.


            “Jadi kalian hanya tinggal memasang meja-meja dan juga hiasan lampu di sudut-sudut ruangan?” tanya Andrew pada manager itu. Sang manager menganggukan kepalanya bangga sambil memberikan beberapa foto tentang desain dekorasi yang mereka gunakan.


            “Hasilnya akan tampak seperti ini tuan. Wah, nyonya sangat cantik. Mungkin jika nyonya Osborn ingin mengadakan acara gathering dengan rekan-rekan bisnis nyonya, nyonya dapat mengatakannya pada kami. Kami siap melayani nyonya dengan pelayanan kelas satu yang sangat terjamin. Lagipula, tuan Osborn adalah salah satu invetor di hotel ini, jadi kami sama sekali tidak akan mengecewakan nyonya dan juga tuan Osbosrn.”


            Eden tersenyum masam di hadapan manager itu. Untung saja Aciel tidak ada di sini, jika saja suaminya itu berada di sini, pasti manager ini akan langsung dimakinya hingga ia puas. Dan yang paling membuat Eden kesal, Andrew sama sekali tidak berniat untuk meralat ucapan manager itu. Andrew hanya memberikan senyuman manisnya pada manager itu dan selebihnya, ia kembali memusatkan perhatiannya pada dekorasi ruangan yang akan digunakan untuk acara pesta pernikahan adiknya. Benar-benar sangat menyebalkan.


            “Apakah kita sudah selesai? Mm, ini sudah sore, dan aku harus segera pulang.” ucap Eden menginterupsi pembicaraan Andrew dan manager hotel. Pria itu menoleh ke arah Eden dan tersenyum lembut padanya.


            “Mmm, sebentar lagi. Maksudku, setelah kita selesai memilih menu catering yang akan dihidangakan ketika acara resepsi pernikahan berlangsung.” ucap Andrew terlihat memohon. Eden mencoba tersenyum manis di hadapan Andrew untuk menunjukan jika dirinya baik-baik saja. Walau sebenarnya, hatinya terus meronta-ronta dan ia ingin segera pulang sekarang.


            “Kalau begitu, mari saya antar menuju restoran kami yang berada di lantai tiga.”

__ADS_1


            Ketiga manusia itu kemudian berjalan pergi meninggalkan ballroom itu dengan Eden yang hanya diam mengekori di belakang Andrew. Andai saja ia bisa berteriak sekarang, maka ia akan berteriak pada dua manusia itu untuk cepat menyelesaikan urusan mereka dan ia ingin pulang sekarang juga. Ya, sekarang juga! Ia sudah merindukan kedua anaknya dan juga suaminya yang walaupun terkadang menyebalkan dan juga kekanakan, namun mampu membuat hati Eden bergetar gugup ketika berada di dekatnya. Karena memang hanya Aciel yang mampu membuat Eden merasa nyaman dan juga merasa gugup disaat yang bersamaan.


__ADS_2