Black Swan

Black Swan
19


__ADS_3

"apa yang kau pikirkan?" tanya tyler menggenggam tangan luna yang sedari tadi melamun. sepanjang perjalanan mereka melewati ribuan pohon-pohon di hutan luna hanya diam, sibuk dengan pikirannya sendiri.


"aku kira kau akan senang. berjalan- jalan keluar dari mansion untuk pertama kali nya."


"apa aku harus senang? aku yakin kau tidak akan membiarkanku lolos dari pandanganmu sedetik pun. entah berapa banyak pengawal yang kau bawa untuk mengawasiku." sindir luna sambil melihat spion mobil, terdapat tiga mobil chrysler jeep srt 300 black mengikuti mereka di belakang sedang mengawal.


tyler terkekeh kecil mengikuti arah pandang luna, "aku hanya berjaga-jaga. karena saat ini banyak musuh yang mengincar kita."


"bukankah lebih aman jika kita berada di dalam mansion. kenapa kau tiba-tiba mengajakku keluar?"


"aku hanya ingin membuatmu bahagia." jawaban tyler membuat luna menoleh cepat kearahnya.


luna mendapat senyum tipis dari laki-laki itu. "berbulan bulan berada di sana bukankah membuatmu bosan?" tanya tyler menoleh ke arah luna setelah memelankan laju mobilnya.


"karena itu aku ingin mengajakmu ke tempat-tempat indah yang ada disini. aku harap kau suka." lanjutnya mengangkat tangan luna yang masih dia genggam ke arah bibirnya dan menciumnya.


luna menarik tangannya, lagi dan lagi perlakuan tyler membuat pipinya memanas, "sebenarnya kau akan membawaku kemana?" tanya luna mengalihkan topik.


tau gadis ini sedang salah tingkah, tyler kembali menggoda dengan memberikan jawaban yang membuat luna penasaran, "kau akan tahu saat kita sampai nanti."


pipi luna terangkat tinggi tak henti hentinya tersenyum dari awal sampai di dermaga dan mengetahui tyler akan membawanya menaiki yacht untuk mengelilingi danau baikal, luna tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


seperti sekarang dari pada mengikuti kepala petugas kapal yang mengajaknya untuk berkeliling melihat lihat fasilitas yang ada. luna lebih memilih berdiri di depan ujung kapal dengan kedua tangannya berpegangan pada pagar pembatas sambil menikmati semilir angin yang menerbangkan helaian rambutnya,



luna menutup mata merasakan hawa dingin dari musim semi yang hampir berakhir, sejuk dan menenangkan. luna menyukainya hingga tanpa dia sadari tyler tengah berjalan ke arahnya dan berdiri disamping luna.

__ADS_1


tyler mengabaikan pemandangan disekitarnya karena bagi dia melihat luna tersenyum seperti ini adalah pemandangan yang paling indah untuknya, tyler tidak bisa mengalihkan tatapannya pada luna. apalagi ketika gadis ini tidak menyadari kehadirannya, itu membuat tyler lebih puas menatapnya dari jarak sedekat ini.


matahari yang perlahan lahan tenggelam menggantikan sore menjadi malam justru membuat luna semakin cantik di mata tyler. rambut yang berterbangan, mata hazel yang saat ini sedang tertutup dan bibi manis yang sedang tersenyum. tyler tidak tahan, dia seolah kehilangan seluruh kewarasannya karena tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium bibir luna.


lina terpekik kaget merasakan sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya. tyler menciumnya, keadaan yang membuat luna meronta dengan mendorong dada tyler begitu membuka mata.


namun tyler tetap menciumnya, satu tangannya menelusup ke helaian rambut belakang kepala luna untuk memperdalam ciuman mereka dan satu tangannya lagi membawa tangan luna yang berusaha meronta menuju pinggangnya lalu menarik luna agar semakin mendekat padanya.


kepala luna mendongak saat tyler semakin memperdalam ciuman mereka membuat pertahan luna runtuh lalu akhirnya menyerah dan membalas ciuman tyler.


"tylerhh." desah luna mencengkram pinggang tyler.


kini mereka saling bertatapan dengan nafas yang saling bersahutan. luna menatap pria yang masih memeluknya dengan erat dan baru sadar apa yang baru saja telah dilakukannya. ketakutan yang selama ini menghantui luna akhirnya terjadi.


mungkin luna sudah gila saat mata biru tyler menatapnya dalam-dalam dan membuat luna semakin yakin ada ketertarikan besar yang luna rasakan pada tyler. cukup untuk membuatnya menginginkan ciuman dari laki-laki ini lagi.



seperti sebuah keajaiban yang terjadi dalam hidupnya, tyler membalas ciuman luna sama intensnya. mengangkup wajah luna, mengambil alih dengan lebih dominan seakan mencoba menyampaikan segala perasaannya melalui ciuman betapa tyler berharap ada sedikit harapan bahwa luna membalas perasaanya.


selang beberapa lama tyler melepas ciuman mereka. keduanya saling bertatapan dalam diam dengan nafas memburu. sementara wajah luna sudah memerah menahan malu, udara yang tadinya dingin tiba tiba terasa panas baginya.


tyler menghela nafas, memilih beranjak dari sana takut jika dia terus melanjutkan nya dia akan benar benar melewati batas di antara mereka.


"tyler."panggil luna, ada sesuatu hal yang menarik perhatian luna.


mata memicik menatap pelipis tyler hingga tanpa sadar tangan luna terangkat mengusapnya, "kau punya tanda lahir?" tanya luna yang baru menyadarinya juga ingin memastikan dan mengetahui kebenaran, anak kecil yang menolongnya juga memiliki tanda lahir yang sama.

__ADS_1


kepala tyler mengangguk, "apa kau baru menyadarinya?" tanyanya.


"kau baru mengingatnya?" tanyanya lagi


hah? alis luna mengeryit, "maksudmu?"


"kejadian dua puluh tahun yang lalu. saat kau hampir tenggelam. apa kau pernah sedikit saja mengingat anak laki-laki yang pernah menolongmu ini?" katanya membuat tubuh luna mematung.


jadi memang benar. kau adalah dia dan dia adalah kau. firasat luna memang benar. tapi kenapa mengetahui kebenaran ini tetap saja membuatnya sangat terkejut.


itu berarti tidak ada lagi yang bisa membuat luna ragu akan perasaannya. jika benar anak laki-laki itu adalah tyler dan tyler adalah malaikat penolongnya maka sejak dulu luna sudah mencintai laki-laki ini. dia sudah mencintainya.


"jadi kau—"


byur!!


luna dan tyler menoleh bersamaaan mendengar suara seseorang tercebur yang memotong pembicaraan. mereka. baru saja ingin menghampiri asal sumber suara itu karena penasaran tyler justru menarik tangan luna cepat menuju ke dalam kabin kapal.


insting tyler menyadari ada sesuatu yang tidak beres disini. apalagi dia tidak membawa seluruh pasukannya terutama victor yang ia tugaskan mengurus hal lain. sangat sedikit orang yang bisa tyler handalakan saat ini, bukan untuknya tapi  untuk keselamatan luna yang tyler khawatirkan.


"apa yang terjadi tyler?" tanya luna bingung dengan keadaan sekarang melihat tyler sibuk mengobrak abrik seluruh lemari di dalam kabin utama entah sedang mencari apa.


tyler menarik sebuah koper besar dari bawah ranjang dan membukanya, didalamnya terisi shotgun, pistol, pisau lipat dan granat.


"pegang ini untuk berjaga-jaga." tyler memberikan pistol kepada luna "lakukan seperti saat kita sedang latihan." ucapnya sambil mengenakan rompi, dengan senjata yang menempel di sana.


luna memegang pistol itu dengan bingung. "tyler apa yang sebenarnya terjadi?"

__ADS_1


ucapan luna barusan disusul dengan sebuah suara ledakan. tyler mengeram. sial, mereka sudah mengatur semua ini, dia masuk ke dalam jebakan mereka.


__ADS_2