Black Swan

Black Swan
Lying and Divorce (One Hundred Five)


__ADS_3

           Setibanya di rumah sakit, Aciel langsung berlari menuju ruang operasi yang berada di lantai dua. Ketika pria itu sampai di sana, Sian dan Olivia tampak telah menunggunya sambil memeluknya untuk membesarkan hati pria bermata teduh itu. Aciel kemudian hendak berjalan masuk menuju ruang operasi, namun Sian segera menahannya dan menyuruhnya untuk duduk di kursi tunggu. Ia idak ingin Aciel mengganggu konsentrasi Laila yang sedang berusaha menyelamatkan Eden. Bagaimanapun dalam dunia kedokteran, perasaan tidak boleh dicampuradukan ketika melakukan tindakan pada pasien.


            “Apa yang sebenarnya terjadi pada Eden?” tanya Aciel tak sabar. Sian yang lebih tahu bagaimana detail keadaan Eden hari ini langsung menceritakan semuanya pada Aciel, semua yang ia tahu tentang Eden sebelum wanita itu jatuh pingsan di atas tangga.


            “Tadi pagi kami datang ke rumahmu pukul delapan untuk menghibur Eden dan meminta maaf pada Eden. Sejak semalam Olivia terus merengek padaku, jika ia sangat merasa bersalah karena telah mengenalkan Eden pada Laila hingga Eden menjadi memiliki akses untuk meminta obat dari Laila dengan lebih mudah. Lalu pagi tadi kami benar-benar datang ke rumahmu untuk bertemu dengan Eden, tapi saat kami tiba, Eden sudah jatuh terduduk di atas tangga dan pingsan. Menurut Olivia, sebelum Eden kehilangan kesadarannya, ia sempat merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya dan juga perutnya. Menurutku Eden sedang stres dan kalut dengan masalah pertengkaran kalian, sehingga rahimnya berkontraksi dengan hebat dan membuatnya keguguran. Apa kau tidak tahu jika Eden sedang hamil?”


            “Aku sama sekali tidak tahu. Jika aku tahu, aku pasti tidak akan memarahinya sekeras itu. Ya Tuhan, aku memang benar-benar bodoh dan brengsek! Aku telah mencelakakan Eden, Sian. Aku telah membuatnya merenggang nyawa seperti ini.” teriak Aciel frustrasi di ruang tunggu sambil mengacak rambutnya marah.


            “Jenis kehamilan seperti apa?”


            “Apa?” tanya Sian tak mengerti.


            “Bagaimana Eden bisa hamil setelah meminum pil pencegah kehamilan?” Aciel masih tak mengerti mengerti mengapa Eden tiba-tiba dikabarkan sedang hamil, sedangkan sebelumnya wanita itu mengaku telah meminum obat pencegah kehamilan.


            “Aku tidak tahu, Ace. Tapi Laila sempat menjelaskan pada kami jika calon janin itu sebenarnya telah terbentuk, lalu perkembangannya menjadi terganggu karena Eden meminum obat darinya. Lalu keadaan Eden semakin diperparah dengan stress karena pertengkaran kalian.”


            “Ck! Aku memang *****! Seharusnya aku bisa mengendalikan emosiku saat itu.”


            Aciel terus saja menyalahkan dirinya sendiri di hadapan Sian dan Olivia. Ia merasa perbuatannya kali tak termaafkan karena telah menyudutkan Eden hingga membuat wanita itu merenggang nyawa.


            Sementara itu, Cleo yang sejak tadi hanya berdiri di sebelah Aciel, kini mulai mengambil inisiatif untuk mengelus pundak Aciel lembut. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Seorang Aciel yang dulunya sangat acuh pada pada wanita, kini telah berubah menjadi sosok Aciel yang sangat berbeda setelah pria itu menikah. Ia menjadi begitu penasaran dengan sosok Eden yang sejak tadi mereka bicarakan. Ingin sekali ia menemui wanita itu dan mengetahui bagaimana kepribadiannya yang dapat mengubah sosok Aciel yang dulunya acuh menjadi sosok Aciel yang penuh kasih sayang seperti saat ini.


Cklek


            Tiba-tiba Laila keluar dari ruang operasi dengan wajah lelahnya dan juga seulas senyum tipis yang samar. Wajahnya yang tertutup oleh masker langsung dibukanya, dan ia segera menghampiri ketiga pria yang sejak tadi telah menunggunya untuk menangani Eden di ruang operasi.


            “Operasinya berjalan lancar. Kami telah berhasil menghentikan pendarahannya dan juga telah mengeluarkan janinya. Tapi saat ini kondisi Eden masih cukup kritis. Tubuhnya perlu sedikit waktu untuk memulihkan kondisinya yang sebelumnya telah kehilangan banyak darah. Jika kau ingin melihat kondisi Eden, kau bisa masuk ke dalam.” ucap Laila lembut sambil menepuk bahu Aciel pelan, berusaha untuk menenangkan kekhawatiran pria itu.


            “Terimakasih, aku akan segera masuk ke dalam. Cleo, terimakasih juga atas tumpangannya. Mungkin lain kali kau bisa bertemu Eden saat ia sudah sehat.”


            Wanita itu mengangguk pelan dan segera mendorong tubuh Aciel untuk masuk ke dalam ruang operasi. Setelah Aciel meninggalkan mereka semua, Cleo segera beralih pada ketiga rekan Aciel untuk pamit pulang. Ia merasa keberadaanya saat ini sudah tidak dibutuhkan lagi. Tapi jika Eden telah sembuh, ia ingin sekali datang untuk menjenguk wanita itu. Ia merasa jika ia dan Eden pasti akan sangat cocok satu sama lain.


            “Emm, sepertinya aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa.” pamit Cleo pelan dengan nada canggung yang kikuk. Olivia yang berdiri tepat di sebelah Cleo tampak mengernyit bingung karena wanita itu sama sekali belum memperkenalkan dirinya.


            “Maaf, kita belum berkenalan sebelumnya, aku Olivia dan ini suamiku, Sian.”


            “Aku Cleo, aku adalah sepupu jauh Aciel. Maaf, aku memang sedikit kesulitan untuk bergaul dengan orang baru.” ucap Cleo asal. Sebenarnya ia adalah wanita yang sangat berisik dan juga ceplas ceplos. Tapi, untuk saat ini ia berusaha menahan semua sifat berisiknya itu karena suasana disekitarnya sedang tidak mendukung.


            “Baiklah, senang berkenalan dengan kalian. Tapi sepertinya aku harus segera pergi. Lain kali aku akan datang lagi untuk menjenguk isteri Aciel. Lagipula kami sama sekali belum pernah bertemu, jadi aku benar-benar berharap agar Eden segera membuka matanya.”


            Olivia menganggukan kepalanya setuju sambil menggenggam tangan Cleo erat. Ia kemudian memeluk Cleo dengan hangat dan melambaikan tangannya pada Cleo yang sudah berjalan menjauh, keluar dari area rumah sakit yang sepi.


            “Hmm, dia sungguh wanita yang baik.” komentar Olivia apa adanya. Tapi Sian sepertinya sama sekali tidak berpikir demikian. Pria itu justru berprasangka jika sebenarnya Cleo adalah wanita simpanan Aciel, karena selama ini Aciel tidak pernah membahas wanita itu jika wanita itu benar-benar sepupu jauh pria bermarga Lutherfod itu.


            “Ia seperti wanita simpanan Aciel. Apa ia benar-benar sepupunya?” tanya Sian mulai curiga dengan wajah menyebalkannya. “Tapi, jika hal itu terjadi, aku tidak akan pernah mengampuni Aciel. Aku akan menghajar pria itu habis-habisan jika ia benar-benar berselingkuh.”


Plak


            Tiba-tiba Olivia memukul lengan suaminya keras sambil menatap horor pada suaminya. Sudah cukup mereka mencampuri urusan rumah tangga Aciel dan Eden hingga berakhir buruk seperti ini. Lagipula ia yakin jika Wanita tadi memang benar-benar sepupu jauh Aciel. Melihat bagaimana Aciel menatap wanita itu, mereka berdua terlihat seperti sepasang kakak dan adik, tidak lebih.


            “Berhentilah mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Aku tidak mau menjadi penyebab kekacauan hubungan rumah tangga Eden dan Aciel lagi. Lebih baik sekarang oppa pulang untuk mengganti pakaianmu yang penuh dengan darah itu. Aku merasa mual melihatnya.” dengus Olivia keras sebelum ia berjalan pergi meninggalkan Sian sendiri di depan ruang operasi.


-00-

__ADS_1


            Aciel berjalan pelan mendekati tubuh Eden yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wanita itu telihat begitu pucat tanpa rona merah di pipinya yang selalu ditunjukan oleh wanita itu selama ini ketika ia sedang tersipu atau saat ia menyambutnya yang sedang lelah setelah bekerja seharian di kantor. Aciel kemudian menggenggam tangan Eden erat dan mendekatkan jari-jari lentik istrinya di depan bibirnya untuk dikecup. Ia sungguh merasa menyesal karena telah menyebabkan istrinya menjadi seperti ini. Hatinya terasa begitu remuk dan hancur kala ia mengingat bagaimana kata-kata kasarnya kemarin malam yang jelas-jelas telah menyakiti Eden teramat buruk.


            “Eden, maafkan aku. Cepatlah sadar, aku merindukanmu. Aku... aku menyesal.” isak Aciel tertahan di sebelah Eden.


               Seorang perawat yang hendak memindahkan Eden ke kamar perawatan tampak berdiri ragu di depan pintu operasi ketika ia melihat CEO dari perusahaan otomotif paling terkenal di Amerika itu sedang menangis di samping tubuh lemah istrinya yang sangat pucat. Wanita muda itu kemudian memilih untuk pergi dan membiarkan Aciel untuk berdua bersama istrinya sejenak.


            “Ed, aku sama sekali tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanku mengenai perceraian. Itu hanya eomsi sesaatku. Tolong bangunlah.” pinta Aciel sungguh-sungguh. Ia kini tak ubahnya seperti seorang anak laki-laki yang sedang menangisi ibunya. Jelas apa yang terjadi pada Eden ini telah membuka semua luka lama yang kemarin berangsur-angsur telah membaik. Ia ingat jika dulu ia pernah menangis di samping tubuh kaku ibunya yang telah tak bernyawa. Lalu Eden juga pernah terbaring koma karena kecalakaan sialan itu. Dan sekarang Eden kembali terbaring lemah karena ketololannya. Benar-benar ia sudah seperti pembawa sial bagi seluruh orang-orang yang menyayanginya.


            “Ed, tolong maafkan aku, aku mencintaimu.” ucap Aciel penuh perasaan sambil menyingkirkan masker oksigen yang menutupi bibir istrinya, kemudian ia langsung mengecup bibir pucat itu dengan penuh perasaan dan penuh cinta, menyalurkan setiap rasa sesak dan sesal yang sejak tadi terus menohok hatinya tanpa ampun. Ia harap Eden dapat merasakan kesungguhan hatinya yang benar-benar menyesal atas semua kesalahannya selama ini.


            “Apa kau tahu Ed, kau orang pertama yang membuatku takut pada kematian. Aku takut Tuhan akan mengambilmu dariku disaat aku tidak pernah bisa tanpamu.”


-00-


            Sudah tiga hari sejak operasi itu berlangsung, tapi Eden sama sekali belum bersedia untuk membuka matanya. Setiap pagi Aciel selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Eden sebelum pria itu memulai aktivitasnya sebagai pemimpin di perusahaannya. Tapi ia hanya pergi ke kantor selama satu jam. Ia benar-benar


hanya akan menandatangani berkas-berkas yang membutuhkan tandatangannya, mengecek hal-hal krusial, lalu ia akan pergi ke rumah sakit untuk menemani Eden hingga sore. Saat malam ia justru akan berada di rumah untuk menemani anak-anaknya karena ia merasa sangat bersalah pada mereka. Setidaknya mereka masih memiliki sosok ayah di samping mereka disaat ibu mereka sedang menjalani perawatan di rumah sakit.


            “Daddy, Ciara merindukan mommy.”


            Tiba-tiba putri kecilnya itu masuk ke dalam kamarnya sambil terisak-isak kecil. Aciel tampak menghela napas sejenak sambil melambaikan tangannya pada putri sulungnya untuk mendekat. Beberapa jam yang lalu Louise juga tampak rewel karena ia merindukan Eden. Dan sekarang Ciara juga menunjukan tanda-tanda yang sama, ia kemudian memutuskan untuk memberikan pengertian pada Ciara malam ini. Ia tidak bisa terus menerus mengatakan pada Ciara jika mommynya saat ini sedang tidur di rumah sakit, karena semakin ia berbohong pada Ciara, gadis itu justru terus mengejarnya dengan berbagai macam pertanyaan, seperti kenapa mommy tidak tidur


di rumah sakit? Kenapa Ciara tidak boleh menemani mommy di rumah sakit? Dan lain sebagainya. Jujur, ia cukup pusing untuk memikirkan setiap jawaban yang dilontarkan oleh putri sulungnya yang cerdas itu.


            “Sayang, mommy sedang sakit. Mommy belum bisa pulang sekarang dan menemani Ciara.” beritahu


Aciel lembut sambil membelai surai coklat Ciara pelan. Putri kecilnya itu kemudian mendongakan kepalanya ke arah Aciel sambil menatap mata sang ayah dengan matanya yang bulat, namun tampak berkaca-kaca. Sejenak Aciel merasa ingin menangis ketika ia melihat Ciara yang sedang menatapnya dengan mata bulatnya yang cemerlang itu. Mata itu mengingatkannya pada mata bulat Eden yang selalu menatapnya dengan penuh cinta dan penuh kasih. Ia... merindukan Eden, sangat!


            “Daddy, tapi Ciara merindukan mommy. Ciara ingin tidur bersama mommy, kapan mommy akan pulang?”


            “Sshh, anak daddy tidak boleh cengeng. Mommy akan sedih jika melihat Ciara menangis. Ciara tidak ingin melihat mommy sedih, bukan?”


            Gadis itu dengan polos langsung menggelengkan kepalanya sambil mengusap bulir-bulir air matanya kasar. Ia kemudian mendongakan kepalanya lagi pada sang ayah dengan mata bulatnya yang menyiratkan pertanyaan.


            “Daddy, darimana mommy dapat melihat Ciara jika mommy saat ini sedang tidur di rumah sakit? Apa mommy melihatnya dari sebuah cctv seperti yang sering dilakukan oleh kakek Kim dulu?”


            Mendengar pertanyaan anaknya yang begitu polos itu, tiba-tiba Aciel merasa kedua matanya berair. Ia merasa Eden seperti akan meninggalkan mereka semua. Tapi tidak! Ia segera menghilangkan pikiran buruk itu dari dalam otaknya dan segera menggantinya dengan sebuah harapan, jika Eden suatu hari nanti akan segera bangun dari tidur panjangnya. Anggap saja saat ini Eden sedang beristirahat dari segala rutinitasnya yang melelahkan itu.


            “Mommy dapat melihat kita semua karena hati kita terhubung dengan mommy. Kau, daddy, Louise, paman Sian, dan yang lainnya adalah bagian dari mommy, jadi mommy dapat melihat kita dari jauh ketika mommy sedang tidur sekalipun.” jelas Aciel dengan dada sesak yang terus menusuk-nusuk rongga jantungnya. Padahal selama tiga hari ini ia mulai dapat mengendalikan hatinya dengan mengalihkannya dengan berbagai macam pekerjaanya yang padat. Tapi ketika Ciara mengungkitnya kembali, seluruh pertahanan hatinya langsung runtuh tak berbekas. Menyisakan sebuah lubang menganga yang begitu perih dan sakit untuk dirasakan. Beruntung ia memiliki Sian yang selalu menguatkannya selama ini. Jika tidak, ia pasti sudah terperosok ke dalam jurang yang sama seperti saat dulu keluarganya hancur dan ibunya meninggal.


            “Daddy, apa Ciara boleh menengok mommy besok pagi? Bersama Louise juga.” pinta Ciara penuh harap.


            “Tentu sayang. Mommy pasti akan senang jika Ciara dan Louise datang untuk menjenguk mommy. Sekarang Ciara tidur ya. Ciara ingin tidur bersama daddy?” tawar Aciel pada putrinya. Gadis kecil itu mengangguk pelan dan langsung memposisikan dirinya di sebelah Aciel yang biasanya selalu diisi oleh Eden.


            Malam ini mereka berdua saling memeluk sama lain, dengan Aciel yang terus mengelus puncak kepala gadis kecilnya agar ia hari ini tertidur dengan nyenyak.


            Sembari memeluk Ciara, mata sendunya dengan nyalang menatap foto pernikahannya dan juga foto-fotonya yang lain saat bersama Eden. Ia sangat berharap jika Eden segera membuka matanya, karena menurut Laila, Eden sudah melewati masa kritisnya dan kondisinya juga telah stabil. Tapi entah mengapa hingga saat ini Eden masih enggan untuk membuka matanya. Seperti ada yang menahan wanita itu di dalam alam bawah sadarnya dan membuat wanita itu begitu lama meninggalkannya dan juga anak-anaknya.


            “Ed cepatlah sadar, kami merindukanmu.” bisik Aciel pelan sebelum ia menutup matanya dan menyusul Ciara ke dalam alam mimpi yang damai dan tenang.


-00-


            Keesokan harinya Aciel benar-benar membawa kedua anaknya ke rumah sakit untuk menjenguk mommynya. Ia dan Ciara saling bergandengan tangan di loby rumah sakit untuk naik menuju kamar perawatan Eden yang berada di lantai Tiga. Sedangkan Louise tampak begitu tenang di dalam gendongannya sambil sesekali menatap aneh kearah lalu lalang orang-orang berbaju putih di sekitarnya. Beberapa perawat yang berpapasan dengan mereka tampak membungkuk hormat dan juga menyapa kedua anak Aciel dengan perasaan prihatin. Mereka semua cukup simpati dengan keaadaan Aciel yang tengah terpuruk itu. Apalagi setelah mereka melihat Ciara dan Louise. Mereka semua merasa iba pada dua anak kecil itu, karena mereka berdua masih sangat kecil untuk ditinggalkan oleh ibu mereka.

__ADS_1


            “Tuan Lutherford, istri anda telah sadar.”


            Seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang rawat Eden tampak begitu berbinar-binar sambil menghampirinya yang hendak masuk ke dalam ruang rawat istrinya.


            “Benarkah? Terimakasih atas informasinya. Aku akan segera masuk untuk menemui istriku.”


            Dengan langkah ringan, Aciel mulai memasuki pintu putih itu perlahan dengan detak jantungnya yang terus memukul-mukul rongga dadanya. Ia begitu gugup dan takut. Ia takut akan menyakiti Eden lagi dan membuat wanita itu kembali terluka.


            “Mommy!!” teriak Ciara dan Louise bersamaan ketika ibu mereka sedang tersenyum lembut ke arah mereka sambil melambaikan tangannya dengan penuh kerinduan.


            “Akhirnya kalian datang juga.” Olivia yang telah berada di sana langsung menyapa Aciel hangat dan melambaikan tangannya kearah dua ponakan kecilnya yang terlihat begitu tidak sabar untuk segera mendekat pada ibu mereka.


            Kini Eden sedang melepas rasa rindunya bersama dengan kedua anaknya. Tapi wanita itu sejak tadi terlihat enggan untuk melihat kearah Aciel. Entah itu hanya perasaanya atau memang pada kenyataanya Eden masih marah padanya setelah apa yang ia lakukan pada wanita itu. Tapi setidaknya saat ini Eden telah membuka matanya. Dan Aciel cukup bersyukur akan hal itu.


            “Mommy, Ciara merindukan mommy. Kenapa mommy lama sekali tidurnya?”


            “Maafkan mommy sayang, mommy tidak tahu jika mommy sudah terlalu lama meninggalkan kalian. Ciara tidak merepotkan daddy kan selama mommy berada di rumah sakit?” tanya Eden lembut. Jari-jarinya secara refleks mengelus surai lembut Louise dan Ciara secara bergantian. Saat ini suasana hatinya begitu cerah karena akhirnya ia dapat bertemu lagi dengan kedua anaknya. Selama ia tidak sadarkan diri, ia merasa sedang berada di suatu tempat yang gelap dan dingin. Namun terkadang ia juga mendengar suara teriakan Ciara dan Louise, meskipun ia tidak dapat menemukan keberadaan mereka di sana. Dan yang terakhir, ia juga sering mendengar suara isak tangis suaminya yang memintanya untuk segera membuka mata. Tapi ia tidak tahu, apakah itu nyata atau hanya halusinasinya karena ia sudah lama terbaring koma di rumah sakit.


            “Mom, Louise ingin bersama mommy. Louise tidak mau bersama bibi Jane di rumah.” adu Louise dengan aksen bayinya yang lucu. Eden lantas menggeleng-gelengkan kepalanya cepat untuk meykinkan putranya jika ia tidak akan meninggalkan mereka lagi, ia tidak akan meninggalkan kedua malaikat kecilnya dan juga pria tampan yang saat ini sedang memperhatikannya dibalik mata sendunya yang meneduhkan. Sejenak ia begitu merindukan suaminya dan pelukan hangat dari pria yang dicintainya itu. Tapi ia masih takut untuk bertemu Aciel. Apalagi perawat yang tadi memeriksanya mengatakan jika ia baru saja mengalami keguguran. Pasti Aciel sangat membencinya karena ia baru saja menghilangkan nyawa keturunan keluarga Lutherford yang sangat berharga untuk Aciel.


            “Ace, aku akan pulang sekarang. Jika kau membutuhkan bantuanku, jangan sungkan untuk menghubungiku” Olivia bangkit dari tempat duduknya dan menepuk pundak Aciel pelan.


            “Terimakasih untuk bantuanmu selama ini. Aku sudah banyak merepotkanmu.” balas Aciel dengan senyum kecil. Olivia lalu menggeleng cepat. Ia merasa baik-baik saja dengan semua itu.


            “Kalian adalah keluargaku, jadi jangan pernah ragu untuk meminta bantuan. Aku pulang. Semoga cepat sembuh, Ed. Kami menantikanmu di rumah.” pamit Olivia pada Eden yang masih sibuk dengan kedua anaknya. Eden lalu memberikan senyum lemahnya sambil menggumamkan kata terimakasih dari bibirnya yang masih memperlihatkan warna pucat yang mencolok.


            “Apa kau mau kuantar pulang?” tawar Aciel saat Olivia hampir menarik gagang pintu.


            “Tidak tidak, aku bisa pulang menggunakan taksi. Lebih baik kau disini dan menemani keluarga kecilmu.” tolak Olivia halus dan segera melangkah keluar dari ruang perawatan Eden. “Jaga Eden baik-baik, jangan sampai kau mengulangi kesalahan yang sama.” pesan Olivia yang terakhir sebelum ia benar-benar menutup pintu putih di depannya.


            Setelah Olivia pergi, Aciel segera berjalan menuju blangkah milik Eden sambil memilirkan berbagai macam hal yang ingin ia sampaikan pada wanita itu. Sejujurnya ia merasa begitu canggung untuk berhadapan dengan Eden. Ia merasa sungkan untuk bertemu dengan wanita itu setelah apa yang telah ia lakukan padanya. Namun ia segera menyingkirkan segala hal buruk yang berputar di dalam kepalanya. Ia yakin jika Eden pasti akan memaafkannya. Meskipun keyakinan itu sekarang tiba-tiba melemah setelah ia memutuskan untuk berdiri lebih dekat di sebelah Eden.


            “Eden.” panggil Aciel pelan. Kedua anaknya kini sedang bermain puzzle dari ponsel milik Aciel, sehingga Eden tampak sedang melamun sambil memandangi pemandangan musim gugur dari jendelan kamarnya. Wanita itu kemudian menoleh pelan ke arah Aciel dengan matanya yang berkaca-kaca.


            “Hey, ada apa? Apa kau merasa sakit?” tanya Aciel khawatir sambil berjalan cepat untuk menghampiri Eden. Eden menggelengkan kepalanya lemah sambil beringsut mundur dari Aciel.


            “Ace, maafkan aku, aku telah kehilangan bayi kita.” ucap Eden menyesal dan tampak ketakutan. Akhirnya tangis Eden pecah begitu saja di depan Aciel karena ia sudah tidak tahan dengan semua perasaan bersalah yang menekan hatinya.


            Melihat istrinya yang justru meminta maaf dan menangis padanya membuat Aciel langsung merasa bersalah. Padahal semua ini karena kesalahannya, tapi justru Eden yang memulai meminta maaf padanya sambil menatapnya dengan tatapan penyesalan yang begitu kental. Sebenarnya ia ini laki-laki macam apa? Ia telah menyakiti perasaan istrinya begitu dalam dan membuat Eden stres dengan berbagai macam tekanan batinnya sendiri.


        “Kau benar-benar brengsek Ace!”maki Aciel dalam hati.


         “Eden, hey, aku tidak marah padamu. Aku justru ingin meminta maaf padamu atas semua perlakuan kasarku padamu. Saat itu aku hanya sedang emosi. Aku tidak benar-benar menginginkan sebuah perceraian. Tolong maafkan aku.” ucap Aciel penuh kesungguhan sambil mengecup jari-jari lentik Eden lembut. Akhirnya ia dapat mengecup jari-jari lentik yang hangat itu lagi, setelah selama tiga hari ini ia hanya mencium jari-jari lentik Eden yang dingin dan tanpa kehidupan.


            “Aku sudah memafkanmu, Ace. Mari kita memulai semuanya dari awal. Tanpa rasa marah dan kebencian. Apa kau mau memulainya lagi?”


            “Tentu sayang, aku akan sangat senang untuk memulai semuanya dari awal. Kita tidak boleh saling


bertengkar seperti kemarin. Lagipula, Ciara dan Louise juga akan ikut tersakiti jika kita saling bertengkar. Selama kau koma, mereka berdua terus merengek sedih dan tidak mau makan. Semalam Ciara juga menangis tersedu-sedu di kamar kita karena ia sangat merindukanmu.” terang Aciel sambil memperhatikan kedua anaknya yang sedang sibuk bermain menggunakan ponselnya. Eden kemudian meringsekan kepalanya ke dalam dada bidang Aciel yang sudah lama dirindukannya. Selama ia terbaring koma, ia merasa begitu kesepian dan ingin sekali


membenamkan kepalanya di atas dada bidang Aciel untuk mencari perlindungan. Dan setelah ia bersandar di atas dada bidang suaminya yang nyaman, ia merasa begitu aman dan terlindungi. Ia merasa begitu hangat dan tidak akan pernah disakiti oleh siapapun jika Aciel berada di sampingnya, seperti saat ini.


        “Ed, aku mencintaimu. Percayalah dan jangan pernah meragukannya.”

__ADS_1


       “Aku tahu, dan aku tidak akan pernah meragukannya.” balas Eden penuh keyakinan sebelum bibir tipis Aciel mengecup bibir merah muda itu lembut untuk menyalurkan setiap kerinduan yang telah lama mereka rasakan selama Eden terbaring koma.


__ADS_2