Black Swan

Black Swan
"Voice" Sian Story (Sixty Nine)


__ADS_3

        Seorang wanita muda dengan rambut coklatnya yang berkibar tampak berjalan tersendat-sendat sambil meraba udara kosong dengan tongkatnya. Sesekali langkah kakinya terhenti karena tongkat almuniumnya menabrak sesuatu benda padat dan mengharuskannya untuk bergeser beberapa meter ke arah kanan. Sambil menghela napas pelan, wanita itu berdiri di tepi jalan bersama dengan para pejalan kaki lain yang akan menyeberang. Meskipun kedua matanya belum buta sepenuhnya, tapi ia tidak bisa melihat benda-benda di depannya dengan jelas, Olivia hanya mampu melihat benda-benda itu samar-samar sambil merabanya untuk memperjelas bentuk dari benda tersebut.


            Dua puluh detik kemudian, lampu merah yang berada tepat di atas kepalanya berganti menjadi hijau. Semua pejalan kaki yang berada di sampingnya langsung berdesak-desakan untuk menyeberang tanpa mempedulikan kondisi Olivia yang tak bisa melihat. Bagi mereka hidup di kota besar seperti ini tidak ada perlakuan


khusus. Dan hal itu juga terjadi pada Olivia. Meskipun ia buta, ia tetap saja terlihat sama dimata orang lain. Tidak ada yang peduli padanya, hanya segelintir orang yang terkadang merasa iba padanya dan akhirnya memutuskan untuk membantunya berjalan atau menyeberang di tengah hiruk pikuk kota Las Vegas seperti ini. Olivia terus menunggu dengan sabar sambil mencoba untuk melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit ke depan. Hari ini ia harus bekerja di toko bunga agar ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Hidup sebatang kara sejak ia memutuskan untuk keluar dari panti asuhan benar-benar sulit. Dulu ketika ia belum mendapatkan pekerjaan, setiap hari harus ia berjalan kesana kemari tak tentu arah hanya untuk mencari sebuah lowongan pekerjaan yang mau menerima orang buta sepertinya. Tak jarang orang-orang yang ditemuinya justru membentaknya karena ia buta dan mereka sama sekali tidak mau mempekerjakan orang buta. Padahal meskipun ia buta, ia dapat melakukan semua pekerjaan dengan baik. Ia memiliki insting yang kuat, sehingga ia tidak pernah melakukan kesalahan atau bertindak ceroboh karena kekurangannya itu. Lalu, hari-hari panjang penuh kesedihan itu akhirnya berlalu. Ketika suatu hari ia tengah berjalan sendiri di tengah terik matahari yang begitu panas, seorang wanita paruh baya tiba-tiba menghampirinya sambil memberikan sebuah roti isi padanya. Merasa bingung, Olivia pun tetap menerima roti isi itu sambil menahan lengan wanita paruh baya itu. Lalu, Olivia memberanikan diri untuk bertanya apakah wanita itu memiliki sebuah pekerjaan untuknya, karena saat itu ia benar-benar membutuhkan sebuah pekerjaan untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari. Selama ini ia tinggal di sebuah rumah petak kecil yang berada di perkampungan kumuh. Rumah itu ia beli dari hasil tabungan yang ia kumpulkan sejak ia tinggal di panti asuhan. Tapi, semakin lama uang tabungan itu semakin menipis karena Olivia harus membeli berbagai macam barang untuk menopang kehidupannya sehari-hari. Belum lagi jika ia jatuh sakit, ia harus mengambil uang tabungan itu untuk pergi ke dokter dan membeli obat. Sebenarnya keputusan untuk hidup mandiri di luar panti asuhan memang sulit, tapi ia tidak mau terus menerus menyusahkan ibu panti karena semua teman-teman sebayanya telah diadopsi oleh keluarga-keluarga kaya, sedangkan dirinya tidak akan pernah diadopsi oleh siapapun karena ia buta. Lalu dengan sedikit memohon-mohon pada wanita paruh baya itu, akhirnya Olivia medapatkan pekerjaan sebagai perangkai bunga di tokonya. Meskipun saat itu nyonya Han, panggilan akrab wanita baya itu, merasa ragu dengan hasil kinerja Olivia, tapi setelah melihat sebuah buket yang begitu cantik hasil rangkaian tangan Olivia, akhirnya nyonya Han benar-benar mengijinkan Olivia untuk bekerja di toko bunganya. Kini setelah satu tahun bekerja dengan nyonya Han, perlahan-lahan kehidupan Olivia mulai membaik. Kini ia dapat menabung sedikit demi sedikit


untuk biaya operasi matanya. Meskipun ia tidak tahu, kapan uang itu akan benar-benar terkumpul untuk biaya operasinya, tapi setidaknya ia telah berusaha untuk mengumpulkan pundi-pundi uang itu sedikit demi sedikit agar ia dapat mengoperasikan kedua matanya dan melihat indahnya dunia lagi.


Tring


            Olivia mendorong pintu kaca di depannya sambil tetap meraba-raba udara kosong di depannya. Wangi aneka bunga yang harum langsung menyeruak ke dalam indera penciuman wanita itu ketika ia telah berada di dalam toko bunga milik nyonya Han. Suara nyonya Han yang memanggilnya dari halaman belakang terdengar begitu nyaring dan membuat Olivia segera melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa untuk menemui wanita paruh baya itu. Ia yakin, pasti nyonya Han sedang membutuhkan bantuannya, karena nyonya Han tidak biasanya memanggil-manggil dengan nada keras seperti itu jika ia tidak sedang membutuhkan bantuan..


            “Bibi, ada apa? Apa bibi membutuhkan sesuatu?” tanya Olivia sambil berjalan mendekat ke arah nyonya Han. Wanita paruh baya itu dengan cepat langsung menarik tangan Olivia dan mendudukan Olivia dengan paksa di sebelahnya. Raut wajahnya tampak begitu serius dan juga panik. Entah apa yang saat ini sedang nyonya Han pikirkan, yang jelas ia terlihat begitu panik dan juga gugup.


            “Olivia, kita harus cepat. Aku mendapatkan pesanan sepuluh buket bunga untuk acara pembukaan sebuah butik, tapi aku baru menyelesaikan lima. Kau harus membantuku untuk merangkai bunga-bunga ini Olivia, dan setelah ini kau juga harus mengantarkannya ke alamat yang sudah dituliskan wanita tadi di buku alamat. Apa kau bisa membantuku?” tanya nyonya Han tergesa-gesa. Olivia mengangguk mantap sambil tersenyum gembira di sebelah nyonya Han. Biasanya jika ia dapat melakukan semua tugas-tugasnya dengan baik, nyonya Han akan memberinya bonus yang jumlahnya cukup lumayan untuk ia masukan ke dalam tabungannya. Oleh karena


itu ia selalu merasa bersemangat saat nyonya Han mendapatkan banyak pesanan bunga seperti ini. Selain itu, terkadang orang-orang yang memesan buket bunga juga akan memberikannya tambahan uang sebagai bayaran atas jasa Olivia yang telah mengantarkan pesanan bunga mereka dengan selamat. Olivia kemudian segera meraih bunga-bunga yang berserakan di depannya untuk dirangkai. Sesekali Olivia harus mendekatkan bunga itu tepat di depan matanya untuk melihat kondisi bunga yang saat ini dipegangnya. Ia tidak mau membuat buket dengan bunga yang cacat, karena itu akan mengecewakan pelanggannya, sehingga Olivia selalu mengamatinya dengan teliti sebelum ia memulai merangkai bunga-bunga itu menjadi sebuah buket yang begitu indah dan juga cantik.


            “Olivia, jangan lupa tancapkan bungan lili berwarna merah muda di bagian tengah buket karena wanita itu sangat menyukai bunga lili.”


            Olivia mengangguk pelan sambil tetap fokus pada kegiatan merangkai bunganya. Tangan-tangan lentiknya yang terampil tampak begitu luwes merangkai setiap tangkai bunga itu agar dapat membentuk sebuah buket bunga yang cantik.


            Kira-kira satu jam kemudian, Olivia telah berhasil menyelesaikan buket-buket bunganya dengan indah. Nyonya Han kemudian memanggilkan taksi untuk Olivia dan membantu Olivia untuk menata buket-buket itu ke dalam taksi.


            “Olivia, jangan lupa untuk meminta sisa dari pembayaran bunga-bunga itu, dan ini uang untuk membayar taksi.” pesan nyonya Han pada Olivia. Olivia menganggukan kepalanya mengerti, dan setelah itu nyonya Han segera menutup pintu taksi itu dengan keras sambil melambaikan tangannya pada Olivia.


            “Hati-hati di jalan.” teriak nyonya Han nyaring saat taksi itu mulai melaju pelan, membawa Olivia ke alamat tujuan yang telah disebutkan oleh nyonya Han sebelumnya.


-00-

__ADS_1


            “Halo, sudah kukatakan jika hari ini aku tidak bisa memimpin rapat karena aku harus menghadiri cara pembukaan butik milik kekasihku. Atur kembali jadwalku dan minta para investor itu untuk mengundurkannya hingga besok. Atau mereka bisa menunggu Aciel kembali dari Belanda jika mereka mau.” marah seorang pria dengan jas mahal sambil berjalan tergesa-gesa menuju ke dalam sebuah gedung yang begitu ramai. Beberapa pria berpakaian bodyguard langsung membungkukan tubuhnya hormat ketika Sian dengan berjalan melewati mereka sambil tetap menjepit ponselnya dengan gusar.


            “Bbaik tuan, saya akan membicarakannya lagi dengan para investor.” ucap asistennya takut-takut sebelum Sian memutuskan sambungan telepon itu dengan gusar sambil menyelipkan benda persegi itu ke dalam saku celananya.


            “Sian....”


            Suara teriakan sang kekasih yang begitu nyaring terdengar dari balik panggung yang membentang di sepanjang loby. Wanita canti ber-eyes smile itu kemudian menghampiri sang kekasih sambil bergelung manja di dalam pelukan hangat pria tampan itu.


            “Akhirnya kau datang, kukira kau tidak akan datang karena kau sangat sibuk akhir-akhir ini.” ucap Tiffany gembira. Sian tersenyum lembut pada kekasihnya sambil mencium ringan pipi Tiffany yang tampak semakin merona setelah pria itu mendaratkan sebuah kecupan di sana. Kerlap kerlip lampu blitz yang begitu menyilaukan mata langsung membanjiri pasangan serasi itu ketika mereka dengan terang-terangan menunjukan kemesraan mereka di depan umum. Tiffany kemudian menarik tangan Sian menuju ke belakang panggung untuk melihat gaun-gaun hasil rancangannya yang hari ini akan dikenakan oleh model-model terkenal untuk berjalan di atas catwalk mini siang hari ini.


            “Sian, aku sangat bahagia, akhirnya aku dapat mewujudkan cita-cita terbesarku. Tidak sia-sia selama ini aku belajar ilmu design di Paris karena sekarang aku dapat menerapkan semua ilmu itu dalam membuat gaun.” ucap Tiffany bangga. Sian tersenyum hangat pada kekasihnya dan memberikan usapan lembut di atas kepala


sang kekasih sebagai rasa sayang dan bangganya pada kekasihnya yang cantik. Sudah lebih dari lima bulan ia menjalin kasih dengan Tiffany, dan semua itu tidak dilaluinya dengan mudah. Awal pertemuan mereka terjadi saat mereka sama-sama menempuh jenjang pendidikan di sebuah senior high school yang sama. Dulu Sian belum memiliki perasaan apapun pada Tiffany dan tidak pernah berpikir akan menjadikan Tiffany kekasihnya. Tapi saat mereka dipertemukan dalam sebuah acara amal yang tidak bisa dihadiri oleh Aciel hingga Sian yang harus menghadirinya, keajaiban terjadi di sana. Tiffany yang saat itu lebih dulu menyapanya dan terlihat cerwet membuat Sian akhirnya memutuskan untuk menyerah pada wanita itu. Ia memberikan nomor ponselnya pada Tiffany dan memutuskan untuk menjadi lebih dekat dengan wanita itu. Lalu hubungan mereka terus berlanjut, namun


dengan konsekuensi mereka hanya dapat berhubungan melalui ponsel atau skype karena Sian saat itu sangat sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Tiffany sibuk mengikuti berbagai acara peragaan busana di berbagai negara. Liku-liku selama mereka menjalin hubungan jarak jauh juga cukup pelik, dan tak jarang hal itu sempat membuat hubungan yang mereka jalin hampir hancur karena sifat player Sian belum sepenuhnya. Terkadang apa yang Sian anggap sebagai hal biasa, belum tentu bisa menjadi sesuatu yang biasa untuk Tiffany. Seperti saat Sian menanggapi godaan seorang wanita di sebuah pusat perbelanjaan, Tiffany pasti akan langsung mengamuk padanya dan menolak berbicara dengan Sian. Namun, dengan sikap dewasa yang mereka miliki, mereka dapat menyelesaikan semua permasalahan tersebut sedikit demi sedikit dan pada akhirnya permasalahan tersebut justru membuat mereka semakin dewasa untuk menyikapi berbagai permasalahan yang akan silih berganti menyapa kehidupan mereka.


            “Kau adalah wanita berbakat, butik ini pasti akan semakin berkembang dan menjadi butik yang terkenal suatu saat nanti. Apa setelah ini kau akan memberikan sambutan?”


Tiffany dengan tawa geli. Sian tersenyum kecil menanggapi ucapan kekasihnya, dan setelah itu ia langsung bergegas keluar untuk melihat bunga-bunga yang telah dipesan Tiffany. Dengan senyum misterius, Sian kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari dalam saku jasnya. Hari ini selain sebagai hari pembukaan butik baru milik Tiffany, Sian juga akan melamar Tiffany di depan seluruh tamu undangan yang hadir. Rasanya usia mereka telah cukup matang untuk melangkah ke jenjang hubungan yang lebih serius. Apalagi selama ini kedua orangtua Tiffany juga memberikan dukungan untuk hubungan mereka dan mereka juga sangat menerima Sian sebagai kekasih yang sangat dicintai putri mereka. Jadi tak ada lagi keraguan di hati Sian untuk segera melamar Tiffany karena ia juga sudah bosan hidup sendiri dengan berbagai wanita yang hanya akan menjadi penghangat ranjangnya.


            Ditengah hiruk pikuk orang-orang yang sedang berjejal-jejalan di pintu masuk, Sian melihat seorang gadis dengan dress sederhana yang tengah membawa sebuket bunga sambil membawa sebuah tongkat untuk membantunya berjalan. Dengan heran, Sian terus mengamati wanita itu sambil memandang tak habis pikir pada orang-orang yang begitu acuh terhadap wanita buta itu.


            “Hey, siapa wanita buta itu? Kenapa ia hanya berdiri di sana?” tanya Sian pada salah satu bodyguard yang kebetulan berjalan melewatinya. Mendengar suara Sian yang sedang memanggilnya, bodyguard tersebut refleks segera menghentikan langkahnya dan memberikan hormat pada Sian yang sedang berdiri di depannya.


            “Wanita itu adalah pengantar bunga, ia mengantarkan bunga-bunga pesanan nona Tiffany dan saat ini ia sedang menunggu nona Tiffany untuk melunasi sisa pembayaran bunga.” ucap bodyguard itu menjelaskan. Hampir saja bodyguard itu akan berjalan pergi untuk menghampiri Tiffany, tapi langkahnya segera terhenti setelah Sian menahannya dan mengatakan jika ia yang akan mengurus bunga-bunga itu.


            “Baiklah, aku yang akan menangani bunga-bunga itu. Kau, lanjutkan pekerjaanmu.” perintah Sian tegas. Setelah itu Sian segera berjalan tenang menghampiri Olivia yang tampak terlihat gelisah sambil mengetuk-etukan kakinya ke atas lantai dengan bosan. Beberapa wanita yang melewatinya beberapa kali memberikan tatapan mencemooh secara terang-terangan karena melihat penampilan Olivia yang begitu sederhana di tengah-tengah suasana glamour yang tersaji di hadapan mereka.


            “Permisi, apa kau pengantar bunga?”

__ADS_1


            Mendengar suara seorang pria di sebelahnya, Olivia segera menggerakan tongkatnya untuk mencari tahu dimana keberadaan sang lawan bicara. Akan sangat tidak sopan baginya jika ia berbicara pada pria itu tanpa menghadapkan tubuhnya pada pria itu, meskipun ia memang buta dan orang tersebut kemungkinan akan memakluminya.


            “Ya, saya ke sini untuk mengantarkan bunga-bunga pesanan nona Tiffany. Maaf, apakah saya telah menghadap ke arah yang benar?” tanya Olivia tanpa sungkan sambil tetap menggerakan tongkatnya. Merasa iba, akhirnya Sian berinisiatif untuk menarik tangan wanita itu agar sedikit membalikan tubuhnya ke arah kiri karena


saat ini ia tengah berdiri tepat di samping kiri wanita itu.


            “Maaf, aku berada di sini.” ucap Sian sopan. Olivia tersenyum malu pada Sian sambil menyodorkan sebuket bunga yang dipesan oleh Tiffany. Bunga yang dipegang oleh Olivia saat ini adalah bunga khusus yang akan dibawa oleh Sian nanti, sedangkan bunga-bunga yang lain masih berada di dalam taksi untuk nanti dibawakan oleh sang supir taksi.


            “Ini adalah bunga khusus yang dipesan oleh nona Tiffany. Bunga yang lainnya masih berada di dalam taksi dan sebentar lagi akan dibawa masuk oleh supir taksi. Dan ini tanda terima bunganya serta nota kekurangan pembayaran bunga.” ucap Olivia sambil memberikan beberapa lembar kertas pada Sian. Ia kemudian menandatangi tanda terima itu, dan mengeluaran beberapa lembar uang untuk membayar kekurangan pesanan bunga. Tak lupa, Sian juga memberikan bonus pada Olivia sebagai tanda terimakasih karena wanita itu telah mengantarkan bunga-bunga milik kekasihnya dengan selamat. Selain itu, ia juga merasa puas dengan buket bunga yang dikirimkan oleh Olivia, karena semua bunga-bunga yang dirangkai di sana begitu cantik dan juga sangat sesuai dengan Tiffany.


            “Ini uang untuk membayar buket-buket bunga itu. Dan ini adalah bonus untukmu karena kau telah mengantarkan bunga-bunga ini tepat waktu.”


            “Oh, terimakasih banyak tuan. Semoga anda menyukai buket-buket bunga kami dan kami berharap tuan akan menjadi langganan toko bunga kami nantinya.” ucap Olivia senang sambil menyelipkan uang-uang itu ke dalam saku bajunya. Dalam hati Olivia bersyukur karena hari ini ia dapat menambah jumlah tabungannya dengan uang pemberian dari pelanggannya hari ini. Jika ia terus menerus mendapat pesanan bunga, maka tidak menutup kemungkinan jika ia dapat segera melakukan operasi untuk kedua matanya yang hampir mengalami kebutaan penuh.


            “Aku pasti akan memesan bunga lagi saat pesta pernikahanku. Kalau begitu aku permisi.”


            “Tuan, tunggu sebentar.”


            Sian mengurungkan niatnya untuk segera pergi sambil menatap Olivia penuh tanda tanya. Ia pikir urusannya dengan wanita itu telah selesai, tapi kenapa tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.


            “Apa masih ada hal lain?”


             “Oh tidak, saya hanya ingin bertanya, apakah ini acara peragaan busana? Aku mendengar orang-orang terus membicarakan hal itu, sehingga saya merasa penasaran, karena saya ingin sekali melihatnya.” ucap Olivia tampak antusias. Mendengar hal itu, Sian hanya mampu mengernyit bingung sambil menatap wanita di depannya dengan heran. Bukankah dia buta? Bagaimana mungkin....


            “Saya menderita low vission, jadi saya masih bisa melihat sedikit. Yah, meskipun itu hanya terlihat seperti bayangan.” ucap Olivia ringan seakan-akan ia dapat membaca pikiran Sian.


            “Oh, kukira kau sepenuhnya... buta.” ucap Sian sedikit tidak enak. Ia kemudian menjelaskan pada Olivia jika butik ini adalah milik kekasihnya dan hari ini kekasihnya memang akan menampilkan peragaan busana untuk koleksi busana rancangannya musim ini. Lalu, Sian mengantar Olivia untuk mendapatkan tempat duduk. Hati kecilnya merasa iba melihat Olivia yang begitu ceria di tengah keterbatasan yang ia miliki. Padahal sejak tadi orang-orang disekitarnya sibuk mencemooh penampilan Olivia yang sangat biasa, bahkan bisa dibilang jika Olivia sangat tidak pantas untuk hadir di acara berkelas seperti ini.


            “Nah, kau bisa duduk di sini. Semoga kau menikmati acaranya.”

__ADS_1


            Olivia menganggukan kepalanya ringan sambil menggumamkan terimakasih pada pria baik hati yang hari ini begitu banyak menolongnya. Tapi sayangnya ia lupa untuk menanyakan siapa nama pria baik hati, karena sejak tadi pria itu sama sekali tidak menyebutkan namanya dan hanya menyebutkan jika ia adalah kekasih dari Tiffany, pemilik butik ini.


__ADS_2