Black Swan

Black Swan
PERCERAIAN SIAN DAN OLIVIA


__ADS_3

Pukul sepuluh pesta ulang tahun si kembar sudah benar-benar usai. Semua anak-anak terlihat kelelahan dan sudah jatuh tertidur sejak satu jam yang lalu. Hanya para orang dewasa yang masih tinggal untuk acara terakhir— minum-minum sampai mabuk, sebelum akhirnya Aciel membubarkan mereka semua dan menutup pintu rumahnya dengan rapat.


“Semua sudah tidur?”


Eden yang sedang berjalan menuruni tangga langsung mengangguk pada Aciel. Wajahnya terlihat sangat mengantuk saat ini, namun ia memaksakan diri untuk turun setelah menidurkan si kembar serta dua anak-anaknya yang sangat kelelahan karena pesta ini.


“Awalnya Louise sangat sulit untuk ditidurkan. Dia merengek ingin pergi ke kamar Hyena dan Mark.”


“Anak itu, si pembuat onar. Aku heran kenapa dia menjadi berandal kecil seperti itu. Semoga Lean tidak semerepotkan Louise nantinya.”


“Ck, siapa yang menyumbangkan gen berandal dalam dirinya?” Eden mencebik cemberut.


Aciel segera meraih pinggang istrinya untuk dipeluk dan dicium pipinya dengan gemas. Eden yang sedang ngambek memang menyenangkan untuk digoda.


“Ingin minum anggur?”


“Hmm.. kenapa tidak. Kau sudah makan?”


“Tentu saja. Hidangannya sangat enak. Kau memilih menu katering yang sangat sesuai denganku.”


“Tentu saja. Bukankah kau yang paling rewel soal makanan diantara kami? Jika kau menyukainya, aku pikir orang lain tidak akan bermasalah dengan makanan itu. Ngomong-ngomong mana Sian dan yang lainnya?”


“Mereka sedang minum anggur. Ada Olivia dan Laila juga.”


“Ahh... kutebak Jessica tidak ikut bergabung karena ia masih berjuang untuk menidurkan Mark. Anak itu mulai menunjukan pemberontakan pada ibunya.”


Eden tertawa mengingat kejengkelan Jessica saat memaksa Mark untuk tidur. Wanita itu sampai sudah mengeluarkan tanduk dan mengeluarkan berbagai macam ancaman pada Mark agar ia segera tidur. Karena jika Mark belum tidur, Jessica tidak bisa bebas berkeliaran seperti yang lainnya.


“Malam ini mereka semua menginap di sini kan?”


“Kurasa begitu. Anak-anak mereka sudah tertidur, mereka pasti tidak akan tega untuk membangunkannya.”


“Aku sudah menyiapkan kamar untuk mereka. Kuharap mereka akan suka.”


“Pasti suka,” ucap Aciel sambil mengecup bibir Eden sekilas.


Di dalam booth yang menjadi satu-satunya tempat yang paling bersih diantara tempat yang lainnya di taman itu, Sian, Nathan, Laila, dan Olivia sedang duduk melingkar di meja bundar yang diletakan di sana dengan gelas anggur di depan mereka masing-masing. Dua kursi yang tersedia di sebelah Nathan dan Sian segera diisi oleh Eden dan Aciel yang baru saja muncul dari dalam rumah sambil berpelukan dengan mesra.


“Lihatlah pasangan lovey-dovey kita hari ini. Sepertinya mereka yang paling berbahagia diantara kita.”


“Tidak ada yang lebih bahagia dari Eden dan Aciel. Ya ampun, kalian membuatku iri!” seru Laila heboh.


Eden yang digoda habis-habisan oleh teman-temannya hanya mampu tersenyum. Rasa kantuk yang menggelayuti matanya membuatnya tidak bisa bereaksi lebih antusias untuk membalas godaan Laila dan Nathan.


“Jangan menggodaku guys, aku sangat lelah. Apa kalian tidak mengantuk?” Dia menguap bersamaan dengan kata terakhir yang ia ucapkan pada teman-temannya. Ia tampaknya tidak akan bertahan lama di meja itu dengan segelas anggur.


“Ya ampun Ed, ini pesta! Kau seharusnya tidak tidur sepanjang malam saat pesta.”


“Yeah, itu adalah aku bertahun-tahun yang lalu, bukan aku yang sekarang dengan empat orang anak.”


Aciel meringis menanggapi ucapan Eden yang terdengar seperti gumaman karena wanita itu sudah terlalu mengantuk untuk berbicara.

__ADS_1


“Dulu kelakuannya sangat parah. Tanyakan saja pada Sian, iya kan?”


Sian yang lengannya tiba-tiba disenggol oleh Aciel mendadak menjadi linglung. Sejak tadi pikirannya tidak berada di sana, ia sedang memikirkan hal lain yang lebih urgent untuk dilakukannya besok. Sidang perceraiannya.


“Apa?”


“Kau pasti terlalu banyak melamun. Lihat wajahmu, kau tampak jelek dengan lingkaran hitam di bawah matamu.”


Sian sama sekali tak menanggapi ejekan Aciel. Suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Tapi hubungannya dengan Aciel saat ini sudah membaik. Itu yang perlu disyukuri untuk saat ini. Meskipun tadi Aciel sempat memojokannya di sudut yang sepi di rumahnya ketika ia baru saja datang ke pesta si kembar menjelang pukul setengah tujuh, alih-alih pukul tiga sore seperti yang lainnya. Ia kemudian mendapatkan cercaan pertanyaan yang sangat banyak dari Aciel. Pria itu menuduhnya berbohong karena telah memberikan alasan pekerjaan pada Olivia hingga terlambat datang ke pesta sedangkan kenyataannya ia tidak pernah memberikan pekerjaan apapun hari ini.


Itu benar. Aciel sama sekali tidak memberinya pekerjaan apapun. Dia sengaja ingin datang terlambat dan memilih berdiam diri di kantor yang sepi karena ia tahu semua karyawan pergi ke rumah Aciel untuk menghadiri pesta ulang tahun si kembar.


Sebelumnya ia mendapatkan telepon dari kuasa hukumnya yang mengingatkan bahwa besok pukul sepuluh akan diadakan sidang perceraian di pengadilan. Sejujurnya ia tidak perlu diingatkan tentang hari itu. Rasanya hari itu bagaikan hari kematian baginya yang akan selalu ia ingat sampai kapanpun. Dan karena telepon dari kuasa hukumnya itu, ia menjadi gelisah dan tak bersemangat untuk pergi ke pesta ulang tahun si kembar. Ia mulai mempertanyakan keputusannya sendiri untuk bercerai sambil mengingat pesan Eden padanya seminggu yang lalu.


Akhirnya ia menghabiskan waktu sepanjang sore di kantor tanpa melakukan apapun dan hanya berbaring di atas sofa sambil berpikir. Ia mungkin bisa menyelamatkan kehidupannya di detik-detik terakhir sebelum palu dari hakim diketuk besok pagi.


“Sudahlah Ace, jangan ganggu Sian. Suasana hatinya sedang buruk.”


“Sebaiknya aku naik ke kamarku. Selamat malam semuanya.”


Tatapan semua orang tak lepas dari Sian yang mulai menjauh dari booth tempat mereka berkumpul. Setelah itu tatapan mata semua orang beralih ke Olivia yang kini mulai menundukan wajahnya menghadap ke meja.


“Ada apa dengan Sian?”


Laila adalah orang pertama yang memberikan pertanyaan pada Olivia. Sejak tadi ia sudah merasakan adanya keanehan dari Sian namun ia tak sempat bertanya sampai saat ini ketika semuanya telah terlihat semakin jelas.


“Mungkin dia hanya lelah. Masalah pekerjaan,” jawab Olivia dengan senyum hambar. Dia sendiri bahkan belum berbicara apapun dengan Sian hari ini selain pembicaraan mereka di telepon. Selama pesta berlangsung Sian lebih banyak diam atau berinteraksi dengan Justice yang terlihat sangat antusias dengan pesta ini.


Setelah Nathan pergi, tak ada alasan bagi Laila untuk berlama-lama di meja itu. Ia juga harus segera tidur karena ia memiliki pekerjaan yang harus dilakukannya di rumah sakit besok pagi. Jadi pada akhirnya di meja itu hanya menyisakan Olivia, Aciel, serta Eden yang sebenarnya sudah sangat mengantuk, tapi suaminya sepertinya masih ingin berada di meja itu lebih lama.


“Katakan ada apa. Sekarang semua orang telah pergi.”


“Ace, jangan terlalu keras pada Olivia.” Eden menegur dengan mimik wajah khawatir. Untuk membuat Olivia lebih rileks, ia sengaja mengusapkan tangannya di atas punggung tangan Olivia yang tergeletak begitu saja di atas meja.


“Tidak apa-apa Ed. Ini sudah saatnya aku memberitahu kalian. Besok pagi kami akan bercerai. Sidang perceraiannya akan dimulai pukul sepuluh.”


“Fuck! Apa kalian sudah gila?”


“Ace!” Eden langsung berseru marah. Ia terang-terangan memelototi Aciel karena sudah bersikap terlalu keras pada Olivia.


“Jangan memojokan Olivia. Mereka memiliki alasan tersendiri mengapa mereka mengambil jalan itu. Lagipula itu bukan salah Olivia, Sian yang melakukannya.”


“Jadi kau sudah tahu? Sejak kapan? Kenapa kau tak memberitahuku?”


“Ingat saat aku datang ke kantor untuk menyerahkan undangan pada Sian? Saat itulah Sian memberitahuku tentang perceraiannya. Dan alasanku tidak memberitahumu karena aku tahu kau pasti akan melakukan tindakan impulsif yang bisa merugikan banyak pihak.”


“Tindakan impulsif katamu? Demi Tuhan Ed, apa yang kau pikir akan kulakukan?”


“Kau bisa melakukan apapun. Itu yang kutakutkan. Seperti apa yang kau lakukan saat Olivia diculik.”


“Apa yang kau lakukan?”

__ADS_1


Suara Olivia segera membuat ketegangan diantara Eden dan Aciel menguap. Mereka lupa jika Olivia masih berada disana dan tidak seharusnya mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.


“Itu adalah misi penyelamatan.” Eden berkata lebih cepat dari yang bisa otaknya sadari. Tiba-tiba saja bibirnya sudah bergerak lebih dulu untuk menyelamatkan keadaan. Ia tidak ingin masalah mereka menjadi lebih buruk dari ini.


Tapi sepertinya Olivia tidak mudah percaya dengan kata-katanya yang terlalu terburu-buru serta mengandung kegugupan di dalamnya. Ia dengan terang-terangan menelisik wajah Eden, mencari kebohongan yang mungkin disembunyikan Eden di sana.


“Apa yang telah terjadi selama aku diculik? Bukankah Sian tidak benar-benar mencariku? Dia menghentikan pencariannya padaku, itu yang dikatakan Scout.”


“Itu benar.” Aciel menjawab lebih tenang. Kontrol dirinya telah kembali utuh, dan sekarang ia siap  merangkai kebohongan lain untuk Olivia.


“Dia depresi. Stress berat karena kau menghilang dari hidupnya dengan cara yang tak pernah ia duga. Lalu dalam perang batin itu dia menjadi sangat kacau. Ia memarahi anak buahnya habis-habisan lalu memutuskan untuk menghentikan pencarian karena ia pikir itu tidak ada gunanya. Kau terus bersembunyi bersama Scout. Kalian berpindah-pindah tempat setiap kali Sian berhasil menemukan keberadaanmu.”


“Begitulah Olive. Aku memarahi Aciel agar tidak ikut campur. Maaf, bukan berarti aku tidak peduli padamu atau tidak menyayangimu. Aku hanya merasa jika itu tanggungjawab Sian dan masalah pribadi kalian. Jadi sudah sepantasnya kami tidak ikut campur terlalu banyak.”


Eden memberikan kode pada Aciel agar diam. Mulai detik ini dia yang akan mengambil alih untuk masalah kebohongannya pada Olivia. Lagipula ia meragukan kata-kata Aciel. Bisa saja pria itu keceplosan tentang rencananya yang sangat licik untuk menyingkirkan Scout.


“Terimakasih telah mengkhawatirkanku. Aku sangat bersyukur mengenal kalian dan pernah menjadi bagian dari kalian. Setelah kami bercerai, mungkin aku tidak akan bisa bertemu kalian seperti dulu.”


“Kenapa tidak bisa? Kau masih tetap menjadi keluarga kami sampai kapanpun. Jangan berpikir karena kau


dan Sian bercerai, hubunganmu dengan kami juga ikut berakhir. Tidak sama sekali, Olive. Kau sudah kuanggap sebagai keluargaku. Saudariku. Aku sangat berharap kau tetap sering datang ke rumah ini untuk bergosip bersamaku.”


Air mata menggenang di pelupuk mata Olivia. Ketulusan yang ditawarkan oleh Eden membuatnya benar-benar tersentuh. Ia belum pernah memiliki saudari sebelumnya. Dan Eden adalah wanita pertama sejak ia meninggalkan panti asuhan yang memberikan ketulusan murni.


“Terimakasih banyak Ed. Aku juga telah menggapmu sebagai saudariku.”


“Nah karena ini sudah larut malam, sebaiknya kita segera beristirahat. Kau akan membutuhkan lebih banyak tenaga besok pagi.”


“Kau benar. Aku akan pergi ke kamar sekarang. Kau...”


“Oh aku akan menyusul bersama Aciel. Sebelum tidur aku ingin memastikan semua sisa pesta ini dibersihkan dan dihandle dengan baik.”


“Kalau begitu selamat malam.”


Eden langsung mencubit rusuk Aciel keras setelah ia memastikan Olivia sudah benar-benar masuk ke dalam rumahnya dan tidak mungkin mendengarkan teriakan kesakitan Aciel saat kulit di dekat perutnya dicubit dengan keras.


“Kau hampir saja membuat situasinya semakin rumit.”


“Kenapa kau memarahiku, Ed!” balas Aciel kesal. Tangannya langsung mengusap bekas cubitan Eden yang sangat menyakitkan dan meninggalkan rasa panas yang membakar di sepanjang kulit rusuknya.


“Tentu saja aku memarahimu. Apa jadinya jika Olivia tahu jika kau memiliki peran penting dalam kematian Scout? Kau lihat, Olivia mencintai Scout. Tapi di sisi lain ia juga mencintai Sian.”


“Itu keserakahan. Bagaimanapun aku tetap tidak suka dengan caranya memperlakukan Sian.”


“Aku juga tidak. Tapi sekarang Scout sudah mati, sudah sepantasnya hal itu hanya dijadikan sebagai kenangan buruk di masa lalu. Ia harus belajar untuk mencintai Sian lagi dan melupakan segalanya.”


“Sudah terlambat untuk itu. Pernikahan mereka tidak akan selamat. Kau mau tidur? Sebaiknya kita pergi tidur juga. Aku khawatir kau akan semakin galak jika dibiarkan mengoceh terus dalam keadaan lelah.”


“Apa kau bilang? Aciel!” jerit Eden geram melihat tingkah konyol Aciel yang langsung berlari meninggalkannya ke dalam rumah untuk menghindari amukannya.


“Ck, dasar pria itu. Aku pasti akan memberinya hukuman!” gumam Eden kesal.

__ADS_1


__ADS_2