Black Swan

Black Swan
Unexpected Feeling (One Hundred Thirty Eight)


__ADS_3

            “Hai...”


            Sambil menggendong Justice yang menangis, Eden menyambut Jessica yang baru saja masuk ke dalam ruang tamu rumahnya. Seperti biasa, wanita itu datang sambil membawa berbagai macam hadiah untuk keponakan barunya. Dan karena Eden memiliki anak kembar, praktis Jessica membawa masing-masing dua untuk setiap hadiahnya.


            “Hai sayang, maaf karena baru menjengukmu. Dua hari yang lalu aku baru kembali dari Australi untuk peragaan buasana.”


            Yeah, Eden sangat bersyukur karena Jessica memiliki agenda ke luar negeri, sehingga wanita itu belum tahu sama sekali mengenai kondisi Sian dan Olivia.


            “Aku tahu kau sangat sibuk, Sica. Mana Marc?”


            “Dia sudah mulai sekolah, jadi tentu saja ia di sekolahnya. Oh ya ampun, di sini kau rupanya.” Jessica mencoba menggendong Justice yang sedang merengek untuk membantu Eden yang kepayahan, namun dengan penuh penolakan gadis kecil itu menyentak tangan Jessica dan semakin keras menangis.


            “Ada apa dengannya?” tanya Jessica heran. Tidak biasanya Justice menjadi anak yang tidak manis seperti ini. Padahal ia yakin jika ibunya yang sangat lembut itu pasti juga mengajarkan kelembutan pada Justice.


            “Hanya merindukan ibunya. Dia sering rewel akhir-akhir ini dan tidak mau diurus oleh pengasuhnya.”


            “Dimana ibunya?” tanya Jessica heran. Eden mendesah kecil mendapatkan pertanyaan itu. Ceritanya tentu saja akan sangat panjang.


            “Bagaimana jika kita pergi ke kamar si kembar dan melihat keponakan barumu dulu.” tawar Eden yang langsung diangguki Jessica dengan semangat. Eden menghembuskan napas sedikit lega melihat Jessica yang sangat mudah untuk dialihkan. Setidaknya ia memerlukan waktu untuk menyusun cerita yang akan dikatakan pada Jessica. Terlebih lagi saat ini Justice sedang rewel. Sebenarnya gadis kecil ini bisa ditenangkan lebih mudah bila ada Ciara atau Louise, tapi mereka saat ini sedang pergi. Ciara tentu saja pergi ke sekolah dan baru akan pulang dua jam lagi. Sedangkan Louise pergi ke tempat kursus sepak bola untuk menyalurkan tenaganya


yang berlebihan. Jadi memang hanya tersisa Eden bersama bayi kembarnya di rumah. Tidak ada pilihan yang menurut Justice bagus untuk diajak bermain. Pun dengan para babysitter yang sekarang beralih untuk menjaga si kembar karena Eden sendiri yang akan turun tangan untuk menenangkan Justice yang rewel.


            “Cantik sekali kamar mereka, Ed. Kau mendekorasinya sendiri?” tanya Jessica takjub. Di dalam kamar besar itu terdapat dua box bayi dengan warna pink dan biru yang ukurannya tidak bisa dikatakan kecil. Box bayi itu bahkan terlalu besar untuk dipakai satu bayi mungil di dalamnya. Tapi tentu saja hal itu atas ide Aciel, dan Eden sama sekali tidak bisa membantah keinginan suaminya. Lalu di setiap dinding kamar si kembar, Eden meminta tukang cat untuk menggambar banyak figur hewan-hewan dengan wajah lucu. Jessica sendiri merasa gemas melihat penampakan kamar bayi-bayi Eden. Jika ia dibiarkan berada di sana seharian, ia akan sangat betah berada di dalam kamar hanya untuk mengagumi setiap dekorasi yang dipilih Eden.


            “Stroller klasik, rak sepatu bayi, baju-baju bayi yang lucu. Aku jadi rindu masa-masa memiliki bayi.” desah Jessica gemas. Eden memiliki berlusin-lusin pakaian di lemari si kembar yang bertingkat empat. Kebanyakan baju-baju itu Eden dapatkan dari kolega Aciel yang sering mengirimkan banyak paket ke rumahnya. Aciel tentu saja tidak akan menahan diri untuk mengumumkan pada seluruh koleganya jika ia memiliki sepasang bayi kembar laki-laki dan perempuan yang sangat lucu di rumah.


            “Kalau begitu kau harus membuat bayi lagi. Adik Marc.” goda Eden jenaka. Hal itu langsung mendapatkan lirikan tajam dari Jessica. Wanita itu adalah wanita karir sejati yang pernah dikenal Eden. Memiliki satu anak lagi sepertinya tidak akan menjadi keinginan Jessica saat ini.


            “Aku bukan jenis wanita keibuan sepertimu, Ed. Lihat saja Marc, mungkin dia hanya memiliki dua hari bertemu denganku selama dua minggu kemarin. Tak bisa kubayangkan jika aku memiliki bayi lagi. Aku harus mengambil resign lagi dari dunia desain seperti dulu.” cerita Jessica dengan gaya heboh seperti biasa. Sebentar saja suara berisiknya mampu membuat Theo terbangun dan merengek kecil meminta diangkat dan diberi susu.


            “Sebentar ya sayang, aunty harus memberikan susu untuk baby Theo.”


            Justice menunjukan keengganan yang sangat menyebalkan saat Eden akan menurunkannya di atas karpet. Balita kecil itu langsung merengek keras, melempar mainan yang bercecer di atas karpet ke sana kemari, hingga salah satunya membentur box bayi Lean, dan membuat bayi kecil itu menangis.


            “Kenapa dia, Ed?” tanya Jessica saat melihat Justice meronta-ronta saat digendong keluar oleh salah satu pelayan. Wanita itu menatap terheran-heran pada Justice yang telah berubah drastis dari terakhir kali mereka bertemu. Dulu seingatnya Justice adalah bayi yang tenang dan ramah. Ia biasanya lebih mudah untuk digendong siapapun dan tidak pernah mengamuk.


            “Ia merindukan ibunya.”


            Setelah berhasil menenangkan Lean dengan menepuk-nepuk paha kecilnya beberapa kali, bayi mungil itu kembali tidur sambil memasukan satu tangannya ke dalam mulut. Ia kemudian beralih pada Theo yang masih merengek-rengek untuk diangkat dan disusui. Sedangkan Jessica yang sedang berdiri di sebelah Eden, memutuskan untuk menyingkirkan tangan Lean dari mulutnya.


            “Dimana Olivia? Sebelum ke sini aku pergi ke rumahnya untuk mengantarkan oleh-oleh dari Australi, tapi rumahnya kosong. Apa sesuatu terjadi selama aku pergi?” tanya Jessica penuh selidik. Eden sedikit mendengus dengan kepekaan yang dimiliki Jessica, padahal tadinya ia ingin memberikan sedikit cerita fiktif agar Jessica nantinya tidak heboh.


            “Hilang.” desah Eden kecil. Matanya tidak bisa tidak berkaca-kaca jika mengingat Olivia yang belum ditemukan. Padahal ini sudah berhari-hari berlalu, tapi anak buah Aciel sama sekali belum berhasil menemukan Olivia.


            “Apa? Ed, kau tidak bercanda kan?” tanya Jessica terguncang.


            “Olivia diculik.” beritahu Eden nyaris seperti bisikan. Dadanya sesak, dan Jessica langsung tahu jika sekarang ia sedang menangis sambil mendekap Theo yang sedang menyusu.

__ADS_1


            “Bagaimana bisa? Sudah berapa lama? Demi Tuhan! Tidak ada yang memberitahuku sejak kemarin?” balas Jessica kesal. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Eden untuk itu. Ia yakin jika Eden pasti memiliki penjelasan untuk berita penculikan yang terjadi pada Olivia.


            “Ceritanya rumit, Jess. Aku bahkan bingung harus memulainya darimana. Akhir-akhir ini kondisi kami buruk. Aciel dan Sian sedang berseteru karena Aciel menganggap Sian terlalu lambat dalam mencari Olivia. Karena kondisi Sian yang kacau, akhirnya aku menawarkan diri untuk menjaga Justice selagi ia berkonsentrasi untuk mencari Olivia.” Eden menghentikan ceritanya saat dirasa Theo sedang bergerak untuk menyudahi acara menyusunya. Bayi itu menggeliat lucu seperti kepompong di dalam dekapan Eden. Ia lalu membuka matanya lebar dan membuat Eden sedikit terhibur di tengah kesedihan yang sedang melandanya.


            “Aku masih menunggu ceritamu, Ed.” peringat Jessica saat Eden tak kunjung melanjutkan ceritanya.


            “Yah... jadi begitulah. Olivia diculik oleh seorang pria gila bernama Scout Voyage.” ucap Eden memulai ceritanya. Ia lalu menceritakan semua masalah yang sedang menerpa keluarga Sian pada Jessica. Dimulai dari saat Olivia sedang menghadiri pesta di Florida sampai di hari menghilangnya Olivia dari rumah sakit. Mendengar semua itu, Jessica benar-benar terkejut hingga hanya mampu menutup mulutnya dengan jari-jarinya yang berkutek pink.


            “Pria itu jelas sakit jiwa. Jika aku menjadi Aciel, aku pasti sudah menghajar Sian berkali-kali atas tindakannya yang lambat.”


            “Kita tidak bisa menyalahkan Sian atas kondisinya. Ia menghadapi hari-hari yang berat setiap hari. Sebelum ia menemukan Olivia, ia harus berdamai dengan egonya yang terluka. Sian merasa dikhianati oleh Olivia, dan itu bukan sesuatu yang mudah untuk diterima. Kau jelas masih ingat bagaimana kondisi Aciel saat mengalami hal yang sama seperti Sian.” ujar Eden mengingatkan.


            “Ya, aku ingat. Itu memang tidak mudah.” komentar Jessica dengan pandangan kosong. Tak menyangka jika kepulangannya ke Vegas akan disambut dengan setumpuk masalah seperti ini.


            “Lalu bagaimana perkembangan pencarian Olivia?”


            “Belum ada kabar. Aciel masih terus berusaha, sementara Sian bersikap acuh dengan merusak dirinya sendiri dengan minuman beralkohol.” jawab Eden prihatin.


-00-


            “Kalian semua memang tidak becus! Bagaimana mungkin kalian tidak bisa menemukan Olivia? Ini sudah satu bulan lebih sejak Olivia dibawa pergi oleh pria sialan itu. Pokoknya kalian harus segera menemukan Olivia dan membawanya kembali dalam keadaan utuh padaku.”


            Sian berteriak murka pada seluruh anak buahnya yang belum berhasil menemukan Olivia hingga saat ini. Padahal selama ini mereka telah melacak seluruh tempat-tempat yang telah didatangi oleh Scout dan Olivia, tapi saat mereka tiba di sana, dua orang manusia itu telah lenyap dan hanya meninggalkan sebuah putunjuk semu yang akan terasa sia-sia jika ditelusuri lebih lanjut. Hari ini pun mereka kembali menuai kegagalan, setelah kemarin salah satu intel mereka mengatakan jika ia melihat Olivia sedang berbelanja di sebuah pasar di Austin, Texas, tapi saat


mereka tiba di lokasi itu, Olivia dan Scout telah pergi dari desa itu. Entah dimana keberadaan mereka sekarang, rasanya Sian merasa jengah pada seluruh anak buahnya yang selalu melaporkan berita yang sama setiap mereka kembali dari pencarian mereka terhadap Olivia.


Brakk


            Sian menggebrak meja di depannya dengan murka. Ia paling tidak suka jika salah satu anak buahnya memberikan alasan yang sangat tidak masuk akal seperti itu. Tidak mungkin Sian menempatkan seorang mata-mata di sekitarnya karena semua orang yang bekerja padanya telah diseleksi dengan sangat ketat olehnya. Pria itu jelas tidak akan bisa menyusupkan salah satu anak buahnya untuk mengawasinya.


            “Aku tidak menerima alasan ***** seperti itu. Sekarang lacak keberadaan Olivia lagi. Jika minggu ini kalian tidak bisa menemukan Olivia, maka kepalamu yang akan menjadi taruhannya.” bentak Sian penuh ancaman pada salah satu anak buahnya yang bernama Rico, anak buahnya yang telah memberikannya alasan yang tidak masuk akal kepadanya.


            Sementara itu di ruang keluarga, Aciel sedang menyesap kopinya dengan nikmat. Rutinitasnya setelah pulang dari kantor sekarang adalah datang ke rumah Sian. Mendengarkan Sian memaki anak buahnya sudah menjadi kebiasaan Aciel sejak sebulan ini. Terkadang ia hanya tertawa mengejek melihat wajah kusut Sian saat keluar dari ruang kerjanya karena lagi-lagi anak buahnya tidak mendapatkan hasil dari pencarin mereka. Mereka bodoh, pikir Aciel mencemooh. Seharusnya mereka dapat menemukan Olivia dengan mudah. Sengaja ia tidak ikut turun tangan dalam masalah ini karena Sian melarangnya. Dan atas saran Eden, ia kemudian memutuskan untuk


tidak ikut campur. Ini masalah keluarga Sian, dan ia hanya bertugas sebagai supporter di sini.


            “Sial,


mereka semua benar-benar tidak bisa diandalkan.” gerutu Sian kesal sambil mengacak rambutnya lelah. Hal-hal seperti ini adalah yang selalu dilihat Aciel. Dan setelah itu Sian pasti akan mendudukan dirinya dengan frustrasi di salah satu sofa di ruang tamunya. Aciel yang melihat sahabatnya sedang kelabakan mencari wanita pujaannya hanya mampu tersenyum kecil sambil menyesap kopi hitamnya sekali lagi.


            “Olivia pasti sudah hidup nyaman dengan Scout. Sudah lebih dari satu bulan.” komentar Aciel menyebalkan. Jika saja pria itu tidak fokus pada kopinya, ia sudah bisa melihat asap hitam membumbung tinggi dari kepala Sian. Pria itu jelas memiliki emosi yang sedang meluap-luap.


            “Sialan kau, Ace! Walaupun Olivia telah nyaman bersama pria itu, aku tetap akan menyeretnya pulang!”


            “Lalu anaknya?”


            “Aku tidak peduli!” balas Sian kasar. Bayi itu bukan miliknya. Untuk apa ia merepotkan diri untuk memikirkan anak orang lain. Bahkan anaknya sendiri telah menjadi telantar karena ia tidak bisa membagi fokusnya antara mencari Olivia dan mengurus Justice.

__ADS_1


            Aciel mengernyit tidak suka pada sahabatnya yang menjadi lalai pada perasaan lembut Olivia. “Olivia pasti tidak suka jika mendengar jawabanmu yang seperti ini.” komentar Aciel mencoba tenang. Sian terlihat bergerak-gerak tidak nyaman di tempatnya karena jawaban Aciel. Sudah berkali-kali Aciel menamparnya dengan kata-katanya yang kasar, tapi ia tidak pernah merasa seterganggu ini dengan komentar yang dilontarkan Aciel. Mungkin karena kali ini Aciel menyinggung bayi yang sedang dikandung Olivia.


            “Lalu aku harus bersikap seperti apa? Dia bukan anakku.”


            “Kau harus berkompromi.” jawab Aciel santai. Ia meletakan cangkir kopinya di atas meja, lalu menyandarkan punggung lelahnya sambil menghela napas panjang. “Sesulit apapun itu, kau harus melakukannya. Jika tidak, kau akan kehilangan Olivia untuk selamanya.”


            “Aku tidak tahu. Tidak ingin memikirkan apapun yang belum tentu terjadi di depan mata. Mungkin saja Olivia sekarang telah kehilangan bayinya karena usaha pelarian yang dilakukan Scout. Bukankah kandungan Olivia dalam kondisi lemah?” Sian seperti sedang mengipasi dirinya sendiri yang sedang panas terbakar oleh amarah. Ia mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang menyenangkan untuknya, namun Aciel selalu berhasil mematahkannya.


            “Kandungan Olivia tentu saja sudah semakin kuat karena usianya sudah semakin besar. Dan jika bayi itu sudah tidak ada, Scout pasti tidak akan menahan Olivia semakin lama di dekatnya. Bagaimanapun juga pria itu sebenarnya hanya membutuhkan anaknya.”


            “Pria sialan itu! Ingin sekali aku membunuhnya.” geram Sian berapi-api.


            “Membunuh memang cara yang bagus untuk melampiaskan seluruh emosimu, tapi akan lebih baik jika kau membiarkannya membusuk di penjara.”


            “Huh, kau sedang menasihatiku sekarang?” tanya Sian setengah mengejek. Ia sudah muak mendengar sekumpulan saran-saran yang diberikan Aciel. Meskipun pria itu lebih berpengalaman darinya, tapi sekali saja ia ingin mengikuti kata hatinya.


            “Hanya sekedar memberitahu. Agar kau tidak menyesal nantinya.” lanjut Aciel sambil beranjak dari duduknya. “Aku pulang. Semoga berhasil dengan pencarian berikutnya.”


-00-


            “Aku lelah.”


            Olivia berucap dengan acuh sambil berguling-guling di atas ranjang. Sedangkan Scout tampak sedang mengetatkan rahangnya kesal karena tingkah Olivia yang lagi-lagi menguji kesabarannya. Semenjak dokter mengecek kandungannya tiga hari yang lalu, Olivia semakin bertingkah menyebalkan dan kekanakan. Terkadang ia harus menahan amarahnya sepanjang hari karena sikap keras kepala yang ditunjukan Olivia padanya.


            Pagi ini pun Olivia kembali berbuat ulah dan sengaja bermalas-malasan di atas ranjang padahal mereka harus segera pergi dari tempat itu secepatnya karena anak buah Sian telah berhasil mengendus jejak mereka. Meskipun ia sendiri merasa lelah dan kerepotan, tapi ia tetap harus berpindah-pindah tempat setiap tiga atau empat hari sekali untuk mempermainkan anak buah Sian. Selain itu ia juga tengah menyiapkan rencana besar untuk kelahiran anaknya kelak. Setidaknya sekarang Olivia harus bisa lebih bersyukur karena sikapnya akhir-akhir menjadi lebih lunak karena ia cukup terkesima dengan perkembangan anaknya.


            “Scout, bisakah kita tetap berada di sini? Aku menyukai tempat ini, dan kurasa anakmu juga menyukainya.”


            “Jangan bawa-bawa bayi itu dalam keegoisanmu, Olivia. Ia bahkan belum terbentuk sempurna di rahimmu. Hanya makhluk dengan kepala besar dan tubuh seukuran bola pingpong. Sebaiknya kau cepat berdiri atau aku yang akan memaksamu.” desis Scout tak sabar di ujung pintu.


            Olivia mendengus kesal pada Scout dan segera beranjak berdiri dari ranjang empuk dan nyaman di belakangnya. Padahal ia benar-benar sangat menyukai desa ini. Tapi sayangnya anak buah Sian telah lebih dulu menemukan keberadaanya karena kemarin ia dengan nekat pergi keluar dari rumah singgah ini untuk berbelanja di pasar. Tapi mau bagaimana lagi. Ia bosan jika hanya bermalas-malasan di rumah, sedangkan Scout selalu pergi entah kemana dan hanya meninggalkannya di rumah sendiri bersama Wills, asisten rumah tangga yang selalu mengikuti Scout kemanapun ia pergi.


           “Ini, cepat habiskan susumu. Aku tidak ingin anakku kekurangan nutrisi.”


            Scout meletakan segelas susu coklat untuk ibu hamil tepat di depan Olivia dan langsung meninggalkan Olivia begitu saja di dapur. Sejenak Olivia merasa tersentuh dengan setiap perhatian yang diberikan oleh Scout padanya. Meskipun pria itu memang dingin dan kaku, tapi selama ia bersama pria itu, ia merasa lebih manusiawi dan diperhatikan. Berbeda saat berada di rumah. Bisa dikatakan Sian adalah pria yang sangat sibuk. Saat kehamilan Justice, pria itu jarang berada di rumah untuk menemaninya. Sian jarang membuatkannya susu untuk ibu hamil seperti Scout.


            “Hmm, susu ini enak.” gumam Olivia pelan sambil meneguk susu itu hingga tandas. Saat meletakan gelas kosong itu di atas meja, Olivia berhenti sejenak. Ia mulai menyadari adanya banyak kesalahan dalam penculikan ini. Tidak! Ia tidak mencintai Scout. Hatinya masih menjadi milik Sian, tapi ia khawatir hal itu dapat berubah seiring dengan kebersamaan mereka dan sikap hangat Scout yang jarang dilakukan oleh Sian padanya.


                Olivia menggelengkan kepalanya cepat, mengenyahkan semua pikiran buruk itu dari otaknya dan segera berjalan ke depan untuk menyusul Scout yang telah menunggunya di dalam mobil.


            Malam itu saat ia menangis tersedu-sedu di depan ruang kerja Scout, ia telah bertekad akan membiarkan takdir Tuhan yang membawa hidupnya. Ia tidak peduli lagi akan apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan jika ia akan mati dengan sangat tragis nantinya, ia tidak peduli. Lagipula ia tidak memiliki siapapun untuk menangisi jasadnya saat ia mati, jadi ia tidak akan peduli.


            “Cepat masuk, perjalanan kita masih panjang.”


            “Hmm, dasar tidak sabar!” cibir Olivia cepat namun disertai dengan nada candaan di dalamnya.


            Perlahan-lahan mobil putih itu segera pergi meninggalkan halaman luas rumah singgah yang telah ditempatinya selama tiga hari ini. Entah kemana lagi mereka akan pergi setelah ini, yang jelas mereka akan terus bergerak selama Scout masih menunggu kelahiran bayinya, dan Sian masih berkerja keras untuk menemukan Olivia.

__ADS_1


__ADS_2