
sejak kecil setiap libur musim panas luna selalu berkunjung ke villa grandmanya yang berada di dekat hotel la palma, hotel milik keluarga william yang khusus mereka kelolah secara pribadi. berada tepat di tengah jantung kota stressa dan terletak di tepi danau membuat hotelnini menjadi daya tarik wisatawan karena menyajikan pemandangan indah dan menawan danau maggiore secara langsung.
dengan dekorasi klasik khas italia, dan beberapa fasilitas seperti sky bar yang berada di lantai enam, area kebugaran termasuk sauna, pemandian hangat, terapis dan area relaksasi. juga kolam renang yang berada tepat di tepi danau, dikelilingi taman yang juga menjadi pekarangan villa william.
luna kecil yang berumur tujuh tahun bermain di taman dengan boneka beruang kesayangannya, karena keasyikan bermain luna sampai tidak menyadari jika dirinya sudah berjalan jauh mendekati tepi danau. namun luna malah menyukainya, dia kembali berjalan duduk di salah satu tempat untuk bermain air. lalu kejadian tidak terduga terjadi, luna terjatuh ke dalam danau. tangan mungilnya berusaha meraih tepian batu atau ranting-ranting sembari berteriak meminta tolong.
tidak ada yang bisa dilakukan anak berumur tujuh tahun yang tidak bisa berenang saat itu hingga ranting pohong yang luna raih terputus. luna termengap-mengap mencoba meraih udara beberapa kali sampai kehabisan tenaga, berteriak pun terasa sulit baginya
pasrah. luna berhenti bergerak. tidak ada yang bisa dia lakukan lagi, tenaganya sudah terkuras habis. air perlahan lahan mulai memenuhi paru-paru luna dan tubuhnya mulai tenggelam.
dingin, gelap dan sunyi. itu yang luna rasakan. apakah dia harus mati dengan cara seperti ini? luna ketakutan, siapapun tolong selamatkan dia.
ditengah tengah kesadarannya yang hampir menghilang, luna akhirnya melihat seseorang yang berenang ke arahnya, "tolong aku.." lirihnya tanpa suara menatap anak laki-laki yang meraihnya lalu berenang ke atas sebelum kesadaran luna benar-benar menghilang.
bayangan kejadian masa lalu mengisi pikiran luna di tengah-tengah doanya pada tuhan. dia menyatukan jemari tangannya sambil menunduk, berharap mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di benaknya sebelum sebuah suara memecah keheningan tempat ini.
"kau sudah selesai?" luna membuka matanya tatkala mendengar suara yang sangat familiar untuknya.
apa tuhan baru saja menjawab doanya? kenapa saat mengingat anak laki-laki itu luna juga teringat pada tyler? anak laki-laki yang tidak pernah luna lupakan. apalagi setelah mengetahui tentang masa lalu tyler, memori luna langsung menyatukan potongan-potongan peristiwa yang terjadi di masa kecilnya.
luna berbalik menatap tyler yang berdiri tak jauh darinya, sedang menunggunya selesai berdoa. apa itu kau tyler? anak laki-laki itu? malaikat penolongku? ini aneh kenapa luna berpikir sejauh itu hanya karna mengetahui tyler memang pernah tinggal di stressa. tapi kenapa luna seyakin ini, meski hanya pernah bertemu sekali, kau pasti bisa mengenali seseorang yang telah menyelamatkan hidupmu, bukan? dan luna menyadari satu hal, ada sebuah kemiripan dari bocah laki-laki yang menolongnya dengan tyler, kemiripan yang luna sendiri tidak bisa mengerti.
"kau sudah selesai?"
"aku ingin mengajakmu jalan-jalan." kata tyler lagi karena perkataannya tadi sama sekali tidak ditanggapi.
siapa sebenarnya dirimu tyler? kenapa aku terus memikirkanmu? kenapa aku merasakan debar jantung yang memuncak ini saat bersamamu? dan kenapa aku selalu ingin berada disampingmu dan memelukmu? tyler... tahukah kau bahwa dirimu sudah membuatku ragu pada hatiku sendiri? apa karena aku memang benar-benar sudah jatuh cinta padamu?
⚔️⚔️⚔️
"maaf aku terlambat." ucap edward yang baru saja datang setelah membuat livia menunggu lebih dari setengah jam.
__ADS_1
mereka berdua saat ini sedang berada di ruang vvip salah satu restoran bintang lima di kota milan. edward memesannya khusus untuk makan malam mereka hari ini.
"kau sepertinya sangat sibuk?"
"hmm. aku sangat lelah menghadapi banyak nya masalah kantor beberapa hari ini. maafkan aku karena mengabaikanmu ya?" sesalnya, mereka mulai makan tak lama setelah hidangan tersaji di meja mereka.
"tidak aku mengerti posisimu." balas livia setelah menelan potong daging beef pesanannya. dia menatap edward dari sudut mata, ada yang ingin livia katakan tapi dia ragu, tidak yakin apakah edward akan senang mendengar hal ini atau tidak.
"edward.." panggil livia pelan yang dibalas deheman dari pria itu, "bisakah aku bertanya sesuatu?"
edward mendongak, merasa aneh. tidak biasanya livia bertanya seperti ini dulu ketika ingin mengatakan sesuatu, "ada apa? tanyakan saja?!"
"apa kau mencintaiku?"
edward tertawa kecil, dia meneguk winenya sambil menatap livia yang sedikit aneh hari ini. "tentu saja."
"kalau begitu bisakah kau menghentikan segala ambisimu dan menerima kami." kali ini livia berujar dengan nada tinggi, tangannya menggenggam tangan edward dengan tatapan permohonan.
"apa maksudmu? aku melakukan ini semua untuk kita." balas edward.
"anak kita? apa maksudmu anak kita?!" tanyanya dengan suara berat.
"aku hamil. aku sedang mengandung bayimu." ungkap livia. refleks edward langsung menghempaskan tangannya.
"livia! jangan bercanda?"
"aku tidak bercanda ed." tawa edward berhenti ketika melihat wajah serius livia menatapnya, gadis ini sama sekali tidak terlihat sedang bercanda. apa lagi saat dia merogoh ke dalam tasnya mencari sesuatu lalu memberikan kepada edward. sebuah testpack dengan dua garis biru, livia sungguh benar-benar hamil.
edward menatap tespack itu dengan tatapan tidak percaya, "benar aku sedang mengandung. mengandung bayimu. anak kita."
rahang edward mengeras, dia menggeram marah, dicengkramnya erat test pack itu lalu dilempar ke sembarang arah. "bukankah aku sudah pernah bilang padamu. tidak akan ada anak diantara kita sebelum aku berhasil mendapatkan perusahaan. dan dengan itu aku harus menikahi luna terlebih dahulu."
"kenapa kau mengacaukan semua rencanaku? aku melakukan ini semua untuk kita berdua! aku melakukannya untukmu."
__ADS_1
livia mantap test pack yang kini tergeletak di lantai dengan tatapan nanar. "kau pikir aku percaya dengan perkataanmu? disaat aku tahu kau sudah jatuh hati pada luna." balas livia berkaca kaca, berusaha menahan tangisnya.
"oh jadi karena itu. karena itu kau menjebakku dengan anak itu."
"menjebak. kau lah yang datang padaku dan menyentuhku–"
"aku selalu berhati hati. kau juga selalu meminum pil anti kehamilan itu kan?"
tidak. beberapa minggu ini livia tidak menyentuh pil itu, dia sengaja membiarkan buah hati ini hadir ditengah-tengah mereka. karena ini adalah salah satu cara yang bisa dia lakukan agar edward kembali mencintainya. "apakah menurutmu pil itu bisa memastikan bahwa aku tidak akan hamil?"
livia mengusap perutnya yang belum membuncit, "kita saling mencintai ed, wajar kalau dia ada. ini hasil dari buah cinta kita."
"tapi aku tidak menginkannya!" bentak edward sengit, sebelum menatap livia dengan air mata yang mengalir di pipinya membuat edward sadar perkataannya barusan telah kelewatan.
"tidak sekarang livia. aku tidak siap untuk saat ini." suara edward melembut. "mengertilah posisiku."
"kapan aku tidak mengerti dirimu ed?" tanya livia menangis. "aku selalu berusaha mengerti dirimu? tak bisakah kali ini kau yang mengerti aku." kata livia penuh permohonan. dialah yang selama ini lebih banyak berkorban dalam hubungan mereka, livia yang selalu mengerti posis edward. dia yang selalu merasa sakit hati tapi tetap mendukung keinginan, bahkan membuatnya sahabatnya sendiri menjadi korban.
"sudah cukup permainan ini." ujar livia lelah, dia ingin menghentikan semua kepura-puraan ini. "lupakah luna dan segala ambisimu. cukup hidup denganku dan anak kita, ed." ujarnya mantap.
edward mengusap wajahnya frustasi. dia benar-benar bingung sekarang, pikirannya sangat kacau. dia tidak bisa berpikir jernih sekarang.
suara deringan ponsem tiba-tiba memecah ketegangan diantara mereka. edward melirik melihat nama panggilan yang tertera. sean william, ayah luna. buru buru edward langsung menjawab panggilan itu mengabaikan livia yang menatapnya tak percaya. dalam situasi saat ini, apakah dia tidak bisa memprioritaskan masalah mereka.
"hallo ada apa paman?" wajah edward tiba-tiba menjadi tegang, bola matanya menunjukkan keterkejutan.
"baiklah aku akan segera kesana." setelah sambungan terputus, edward menutup matanya sambil menarik nafas dalam dalam. berusaha berpikir jernih apa yang harus dia lakukan saat ini.
setelah beberapa saat tyler menyadari apa yang menjadi pilihannya, "tidak livia. maafkan aku. aku menginginkan keduanya, luna dan juga perusahaan." ucap edward dengan wajah yang penuh penyesalan, dia sadar dia mencintai luna lebih dari yang dia banyakan selama ini. dan betapa bersyukur nya edward mendengar kabar bahwa dia sudah ditemukan.
"dasar besengek." livia berdiri mengampiri edward untuk menamparnya. "lalu bagaimana dengan aku? apa kau akan membuangku begitu saja? bagaimana dengan semua janjimu ed? kau berjanji akan menikahiku dan kita akan hidup bahagia." kesal livia tersi memukuli edward membabi buta.
"aku memang egois liv." edward mencekal tangan kivia, menghela nafas frustasi, "aku laki-laki bajingan yang tidak pantas mendapatkan cinta tulus darimu."
__ADS_1
"jangan membuat alasan edward. kau tidak bisa membuangku begitu saja?! ada bayi kita di dalam perutku." sentak livia.
"aku membuat kesalahan liv. tidak bisakah kita gugurkan saja kandunganmu itu?"