
“Yeayyy kita akan pergi ke rumah Summer aunty.” Ciara berteriak girang dari ruang tamu sambil sambil membawa sebungkus makanan anjing di tangannya. Gadis kecil itu berlari-lari riang ke halaman belakang untuk memberi makan anjing barunya yang baru saja diberikan Andrew kemarin sebagai kado natal. Aceil tak henti-hentinya mengomel pada Eden setelah Andrew dengan berlebihan memberikan Ciara anjing. Padahal Aciel tidak menyukai hewan peliharaan yang berkeliaran di rumahnya. Namun karena Ciara sangat menyukainya, Aciel jadi tidak bisa berbuat apapun untuk membuang anjing kecil itu ke jalanan.
“Paman, Ciara membawakan makanan untuk puppy. Hari ini Hana akan pergi ke rumah Summer aunty, kata mommy Ciara harus memberi makan puppy sebelum pergi.”
Ciara yang berpapasan dengan Sian di taman belakang langsung menyeret pamannya untuk menemaninya memberi makan puppy yang diletakan di dalam kandang. Kemarin Ciara sempat menangis karena Eden dan Aciel melarangnya untuk membawa puppy berkeliaran di dalam rumah, dan hanya mengijinkannya bermain bersama puppy di luar rumah. Aciel sedikit memiliki alergi dengan bulu anjing, sehingga mereka melarang Ciara untuk membawa puppy terlalu dekat pada ayahnya. Awalnya Eden masih membiarkan puppy bermain di dalam rumah bersama Ciara, namun saat ia melihat Aciel yang terus uring-uringan sambil bersin-bersin, barulah Eden sadar jika Aciel memiliki alergi pada bulu anjing berjenis beagle itu.
“Paman, Ciara ingin berfoto dengan puppy.”
Ciara mulai berpose bersama anjingnya yang telah dikeluarkan oleh Sian dari kandangnya. Andrew tak salah memang memberikan Ciara anjing kecil berbulu belang coklat itu pada Ciara sebagai kado natal karena pria itu berhasil membuat Ciara semakin tergila-gila padanya. Hal itu membuat Sian merasa geli tiap kali melihat ekspresi wajah Aciel yang semakin ditekuk karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuat Ciara tidak menyukai Andrew.
“Sudah. Sekarang cepat beri makan puppy dan bersiap-siap. Mommymu akan mengomel lagi jika kau terus bermain-main bersama puppy.” peringat Sian sambil menjauhkan puppy dari Ciara. Gadis kecil itu terlihat tidak rela dan masih ingin bermain bersama puppy, namun teriakan dari adiknya membuatnya segera berlari ke dalam rumah dan meninggalkan Sian sendirian bersama puppy.
“Ada apa? Kenapa Louise menangis?” tanya Ciara pada ayahnya yang sedang menggendong Louise. Sang ayah kemudian memberikan kode agar Ciara diam karena Louise sedang mengantuk.
“Kenapa daddy tidak memakai baju? Apa kita tidak jadi pergi untuk bertemu paman Andrew dan paman Tranz?”
Demi Tuhan, Aciel sekarang kesal pada Ciara yang semakin tergila-gila pada dua pria sialan itu. Apalagi setelah Andrew memberinya hadiah sebuah anjing beagle kecil pada Ciara, gadis kecilnya semakin tak bisa lepas dari pesona Andrew yang sialan menyebalkan itu.
“Daddy akan bersiap setelah ini, ambil dulu mantel pinkmu di kamar.”
Ciara segera berlari ke kamar ayah dan ibunya di lantai dua untuk mengambil mantel pinknya agar ia tidak kedinginan di tengah suhu di kota Australia yang mencapai minus lima derajat di hari ke dua setelah natal.
“Mommy mommy... dimana mantel pinkku? Aku ingin bermain bola salju di luar.”
Eden menunjuk mantel bulu pink yang terhampar di atas ranjang sambil melanjutkan memoles lipstiknya. Pagi ini ia terlihat menawan dengan coat putih yang telah membalut sempurna tubuh rampingnya. Dibalik coat putih itu ia menggunakan gaun merah di bawah lutut yang dipadukan dengan celana leging putih dan juga kaus kaki putih. Sengaja Eden memilih baju dengan nuansa putih dan merah karena ia masih merasakan suasana natal yang begitu pekat di sekitarnya. Dan untuk mempercantik penampilannya, Eden juga menambahkan topi rajut hijau tua di atas kepalanya untuk membuatnya tetap hangat di pagi yang dingin ini.
“Ace, kenapa kau masih berkeliaran dengan celana pendek seperti itu? Cepatlah sedikit, acara akan dimulai pukul sembilan.” omel Eden pada Aciel yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka. Entah darimana saja Aciel sejak tadi hingga ia terlihat belum berpakaian rapi seperti anak dan istrinya. Yang jelas ia terlalu malas untuk menghadiri acara gathering di rumah Summer bersama keluarga besar Summer lainnya karena itu berarti ia akan bertemu dengan Andrew Osborn, pria yang paling dihindarinya selama mereka berada di Australia.
“Ck, kenapa kau terlihat tidak sabar seperti itu? Apa ini karena Andrew? Aku baru saja menimang Louise yang rewel karena mengantuk. Bukankah aku pengertian karena aku membiarkanmu berdandan hingga berjam-jam tanpa memikirkan Louise?” sindir Aciel menyebalkan.
“Ace, kumohon jangan memulai perdebatan di pagi yang tenang ini. Aku hanya tidak enak pada Summer jika kita terlambat datang. Ia sudah berbaik hati padaku dengan mengundangku ke acara gathering keluarga besarnya, padahal aku bukan bagian dari keluarganya. Tapi Summer telah berbaik hati untuk mewujudkan keinginanku agar dapat berkumpul bersama teman-temanku dan mengenal keluarganya di rumahnya, jadi wajar jika aku tidak mau mengecewakan mereka dengan datang terlambat. Lagipula Andrew sekarang telah menjadi temanku. Kau tidak bisa terus menunjukan sikap cemburumu yang bodoh itu” dengus Eden terlihat sebal. Sikap cemburu Aciel yang menyusahkan itu membuat Eden merasa tidak enak pada Andrew tiap kali Aciel menunjukan wajah tidak bersahabatnya. Padahal selama ini Andrew sangat baik pada anak-anaknya, terutama Ciara.
“Aku tidak bodoh, aku hanya ingin menjaga istriku dari pandangan pria lain yang ingin menerkammu.” ucap Aciel dingin. Pria itu lantas menyambar bajunya dan segera mengenakannya di depan Eden. Celana jeans biru, kemeja lengan panjang dan sweater berwarna abu-abu menjadi pilihannya hari ini untuk menghadiri acara gathering di rumah Summer. Meskipun ia sebenarnya cukup malas, tapi ia tidak mungkin juga akan menolaknya. Alasan klise seperti tidak ingin membuat istrinya sedih atau marah-marah menjadi alasan utama mengapa Aciel rela meluangkan waktunya untuk mengikuti gathering di rumah Summer.
“Kau pikir Andrew Harimau? Ck, kau lucu sekali Ace.” komentar Eden tak habis pikir. Semakin lama Aciel semakin tak masuk akal dan juga kekanakan hanya karena seorang Andrew Osborn.
Kau tidak memakai mantelmu, Ace?” Eden menegur Aciel yang hendak berjalan keluar dari kamar mereka tanpa menggunakan mantelnya yang telah Eden siapkan di bahu sofa. Terlihat jelas jika Aciel masih dalam mode merajuk yang menyebalkan, namun Eden mencoba sabar dan menenteng mantel hitam milik Aciel untuk dipakaian pada tubuh pria itu.
“Aku tidak mau kau sakit.” Wanita cantik itu dengan telaten memasangkan mantel itu ke tubuh Aciel agar tubuh suaminya senantiasa hangat. “Ace, kurasa rambutmu sudah semakin panjang. Kau harus memotongnya setelah ini.” ucap Eden sambil menjumput sedikit rambut Aciel yang menjuntai hingga ke telinga.
“Biarkan saja, aku merasa keren dengan gaya rambut seperti ini. Mengingatkanku saat aku masih kuliah dan menjadi cassanova kampus.”
Eden memutar bola matanya malas sambil mengambil alih sisir yang dipegang oleh suaminya untuk diletakan di atas meja rias. Bertahun-tahun hidup bersama Aciel membuatnya tidak lagi terkejut dengan sikap besar kepala Aciel yang kadang membuatnya jengah.
“Kau sudah tua Aciel, ingat berapa usiamu sekarang. Kau sudah kepala empat.” dengus Eden sadis. Aciel mengernyitkan dahinya dan mulai bersiap untuk memprotes dengusan istrinya. “Meskipun aku tua, tapi kharismaku masih terpancar dengan baik dan membuat pria-pria di luar sana menatapku iri. Kau harus bersyukur memiliki
suami tampan sepertiku Ed. Bahkan karena garis ketampananku, kau bisa memiliki anak-anak yang lucu seperti Ciara dan Louise.”
Eden semakin mendengus gusar mendengar kata-kata Aciel. Semakin lama tingkat kepercayaan diri suaminya semakin meningkat di titik yang paling parah.
“Apa kau sudah selesai membanggakan dirimu sendiri Ace? Ayo kita berangkat, kau membuatku mual dengan kalimat-kalimatmu yang menjijikan itu.” dengus Eden mala
“Sayang, kenapa kau seperti itu. Akui saja jika aku ini tampan dan mempesona. Jika aku tidak mempesona dan tampan, kau pasti sudah berpaling pada Andrew.”
“Ya Tuhan, berhentilah untuk membangga-banggakan dirimu sendiri Ace, aku bosan mendengarkannya. Selama lebih dari lima tahun aku hidup bersamamu, kau selalu membanggakan hal yang sama di depanku hingga aku benar-benar mual sekarang. Ayo kita turun, Ciara dan Louise sudah menunggu di bawah. Kasihan Olivia yang harus menjaga Louise karena kau terlalu lama berdandan.”
Eden menarik lengan Aciel dan sedikit menyeret pria tampan itu untuk keluar dari kamar mereka yang hangat. Mereka tidak sadar telah menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit untuk sebuah percakapan yang benar-benar tidak penting mengenai ketampanan Aciel yang sebenarnya sudah tidak perlu diragukan lagi.
Tapi Eden sepertinya tidak mau mengakuinya di depan sang suami karena hal itu akan semakin memperparah kadar kepercayaan diri suaminya.
“Sayang, dimana anak-anak?”
Aciel tiba di lantai satu dan tidak menemukan anak-anaknya di sana. Ia justru bertemu Sian yang sedang bermain-main bersama puppy. Melihat puppy di ruang keluarga membuat Aciel langsung bersiap untuk menghindari puppy dan menutup hidungnya rapat-rapat agar tidak perlu menghirup bulu-bulu halus puppy yang terkadang rontok.
“Sian, kau melihat Ciara dan Louise?”
“Mereka bermain salju di luar. Maksudku, Ciara yang bermain salju, sedangkan Olivia dan Louise hanya menonton dari teras” beritahu Sian sambil menunjuk halaman luas rumah mereka yang dipenuhi dengan timbunan salju. Jelas Ciara pasti tidak akan melewatkan kesempatan bermain salju di Australia karena tidak setiap bulan Desember Vegas memiliki salju. Jika suhu benua Amerika benar-benar ekstrem, barulah Vegas akan memiliki salju di bulan Desember.
“Kalian akan pergi seharian?” tanya Sian ingin tahu. Eden menganggukan kepala mengiyakan dan sedikit melirik Aciel di sebelahnya.“Memangnya ada apa? Kau tidak pergi hari ini?
“Sepertinya hari ini aku hanya akan di rumah bersama Olivia dan puppy.”
“Menyedihkan sekali kau ini.” Cibir Aciel dengan mencemooh. Sian mendengus sebal di depan Aciel, namun ia terlihat tidak ingin menanggapi cibiran sahabatnya yang hanya akan berujung dengan kekalahannya.
__ADS_1
“Ajaklah Olivia berkeliling Sydney, ia pasti akan senang. Jangan membuat Olivia kebosanan hanya karena mengikuti keinginanmu yang malas ini. Aku tahu, kau sebenarnya hanya malas untuk keluar dan terterpa dinginnya angin musim salju di sini.” ejek Aciel semakin kejam.
“Ace.” peringat Eden. Ia merasa tidak enak pada Sian yang selalu menjadi bahan ejekan suaminya. Biarkan saja jika Sian tidak ingin pergi kemanapun selama natal. Toh itu justru bagus karena mereka harus menjaga kandungan Olivia dan tidak membuat Olivia terlalu kelelahan.
“Terimakasih Ed, kau memang yang terbaik. Dan selamat natal untukmu, aku senang jika kau menyukainya.” ucap Sian sambil melirik topi rajut hijau yang dikenakan oleh Eden. Seketika Eden mengelus topinya dan tersenyum manis kearah Sian atas kebaikan pria itu.
“Aku sangat menyukainya karena ini hangat. Kalau begitu kami pergi dulu. Jika kau berubah pikiran dan ingin mengajak Olivia jalan-jalan, kau bisa memakai salah satu mobil di garasi.”
“Kau tenang saja Ed, jangan khawatirkan aku dan Olive. Sampai jumpa nanti sore, selamat bersenang-senang.” Eden melambai pelan kearah Sian dan segera menyusul Aciel yang telah lebih dulu meninggalkannya berjalan menuju teras.
“Terimakasih Olivia, kau mau menjaga anak-anakku selama aku harus menunggu Aciel berdanda.” ucap Eden ringan, namu ekor matanya terus saja melirik kearah Aciel dengan sebal. Ia tahu jika Olivia telah menjaga kedua anaknya terlalu lama karena kelakuan Aciel yang seperti sengaja untuk mengulur-ulur waktu sejak tadi.
“Tidak masalah, aku senang melihat Ciara bermain salju. Ia tampak antusias sekali.” tambah Eden sambil memerhatikan Ciara yang mulai dimarahi oleh Aciel karena baru saja melempari mantelnya dengan salju.
“Ciara hanya bercanda Ace, kenapa kau galak sekali hari ini? Sayang, ayo masuk ke dalam mobil, jangan membuat ayahmu semakin marah.” panggil Eden pada Ciara. Gadis kecil itu seketika melemparkan salju-salju yang tadi bertumpuk di kedua telapak tangannya, lalu ia segera berlari kearah ibunya dan menubruk kaki Eden untuk menyembunyikan wajahnya dari tatapan galak sang ayah.
“Maaf.” cicit Ciara pelan. Aciel hanya menanggapi cicitan Ciara dengan dengusan, dan setelah itu ia segera masuk ke dalam mobil tanpa ingin berkomentar lebih jauh.
“Ssstt... daddy sedang marah, daddy jelek saat marah.” bisik Eden di telinga Ciara sambil terkekeh. Ia sengaja menggoda Aciel dan mencairkan suasana tegang diantara mereka agar Ciara tidak merasa takut dengan ayahnya. Aciel yang bad mood memang akan menyusahkan banyak orang, bahkan membuat takut orang lain karena sikap sarkasnya.
“Hmm... daddy jelek, tapi Ciara janji tidak akan mengulanginya lagi.” ucap Ciara menggemaskan sambil mengecup pipi Aciel lembut. Dalam sekejap rasa marah itu lenyap dari Aciel, digantikan rasa bersalah karena telah membentak putrinya. Ia lalu mengelus kepala putrinya lembut sambil membisikan permintaan maaf karena telah memarahi Ciara untuk sesuatu yang sebenarnya bukan masalah besar.
“Maafkan daddy juga princess.”
“Hmm... Ciara sayang daddy!”
-00-
Eden tersenyum kecil memperhatikan keramaian yang tersaji di hadapannya. Ia lalu segera membuka pintu mobilnya dan melambaikan tangan pada Summer yang juga sedang melambaikan tangan dari kejauhan ketika melihatnya datang.
“Ed, kau tidak melupakan bingkisan yang akan kau berikan pada Summer?”
Aciel mengangkat sedikit tinggi paper bag coklat yang berisi kue dan cookies coklat yang kemarin Eden buat bersama Olivia dan tentu saja Ciara yang juga ikut meracau ketika ibu dan bibinya sedang membuat kue di dapur. Eden refleks menepuk dahinya sambil meringis kecil pada Aciel. Terlalu sibuk membenarkan letak selimut Louise yang masih asik tertidur dengan hangat di pelukannya membuat Eden lupa pada bingkisannya untuk Summer.
“Terimakasih Ace, aku selalu hampir meninggalkan kado ini.” ucap Eden sambil meraih paper bag coklat itu. Mereka berjalan beriringan dengan Aciel yang mendorong stroller yang berisi Louise menuju halaman rumah besar Summer yang telah diubah menjadi arena pesta kebun dengan berbagai hidangan yang ditata di atas meja panjang. Beberapa pria terlihat sedang memanggang daging sambil mengobrol dengan asik. Sementara Summer dan beberapa wanita yang lain terlihat sibuk berceloteh di dekat perapian yang hangat.
“Eden! Akhirnya kau datang.”
Summer berteriak heboh dan langsung memeluk Eden girang. Kehebohan mulai semakin terasa setelah Eden beserta keluarga kecilnya datang. Tiffany yang sejak datang dari Vegas telah menginap di rumah Summer juga ikut menyambut kedatangan Eden dengan tak kalah heboh.
“Salahkan Aciel yang berdandan terlalu lama di rumah. Ngomong-ngomong ramai sekali hari ini, terimakasih sudah mengundang kami.” ucap Eden dengan sikap yang lebih kalem. Aciel yang berada di sampingnya mencoba tersenyum lembut pada suami Summer yang sedang berjalan kearah mereka untuk menyambut sahabat baik istrinya yang baru saja datang.
“Selamat atas pernikahanmu kemarin, aku belum sempat mengucapkannya karena kemarin terlalu ramai.” Aciel mengulurkan tangannya kearah Max dan mereka saling berjabat tangan akrab seperti mereka adalah teman lama yang sudah lama tak bertemu. Summer dan Eden kemudian memisahkan diri dari suami mereka untuk bergabung bersama para wanita di dekat perapian. Sejak tadi Louise telah diculik oleh Tiffany dan dibawa ke tengah kerumunan wanita-wanita di keluarga Osborn yang sangat gemas dengan wajah polos Louise.
“Dia bangun?” tanya Eden pada Tiffany yang telah memangku Louise yang tampak diam. Eden sedikit bersyukur karena Louise tidak rewel seperti biasanya.
“Hmm
baru saja. Mungkin karena kami berisik, dan dia terusik dengan suara kami.” kekeh Tiffany dengan senyum cantiknya. Eden rasanya sudah lama tidak melihat senyum manis Tiffany yang selalu membuat kelopak matanya terlihat melengkung seperti bulan sabit saat wanita itu mulai tersenyum.
“Apa kau tahu Ed...” Tiba-tiba Summer menepuk bahu Eden pelan, memaksa Eden untuk melihat kearahnya dan ia mulai bercerita mengenai suaminya yang baru saja menyuruhnya untuk merubah sikapnya. “Max terus menyuruhku untuk bersikap lembut sepertimu. Ia iri melihatmu karena kau bisa cepat berubah setelah menikah.” ucap Summer berapi-api dengan mimik lucu. Sedangkan Eden hanya tertawa hambar menanggapi celotehan Summer karena sebenarnya iapun juga sama, ia tidak pernah benar-benar bersikap lembut seperti apa yang dikatakan Max atau Summer. Terkadang ia juga masih menunjukan sikap bar-barnya saat sedang marah.
“Kurasa Max terlalu berlebihan menilaiku, aku sama sekali tidak lembut. Tanya saja pada Aciel.”
“Tentu saja aku tahu. Bahkan dulu kau berteriak-teriak histeris saat pertama kali mengetahui fakta tentang kehamilanmu, lalu... yeah... kau banyak melakukan sesuatu yang cukup membahayakan untuk dirimu sendiri.” Summer sama sekali tidak bermaksud untuk mengejek Eden atau menjelek-jelekan masa lalu Eden. Namun
sebagai teman, Summer hanya ingin sedikit berbagi cerita antar teman untuk mengenang masa-masa muda mereka yang aneh.
“Nah, seharusnya kau mengatakan pada Max jika aku bukan wanita lembut seperti yang ia kira. Aku sangat jauh dari itu.” ucap Eden terkikik. Summer yang berada di sebelahnya juga ikut tertawa saat membayangkan masa lalu mereka yang sebagian pernah mereka isi dengan kenangan lucu.
“Ngomong-ngomong dimana Andrew? Aku belum melihatnya sejak tadi.”
“Ohh, dia sedang mengambil wine di gudang. Itu dia datang.” tunjuk Summer kearah Andrew yang sedang membawa sekotak besar wine yang baru saja diambil dari dalam gudang penyimpanan. Dari kejauhan Andrew tersenyum lembut kearah Eden, lalu beberapa detik kemudian pria itu melambaikan tangan. Namun saat Eden melihat arah lambaian tangan Andrew, tiba-tiba Eden terkikik dan mulai menyenggol-nyenggol lengan Summer yang berada di sebelahya.
“Sejak kapan mereka terlihat dekat seperti itu.” bisik Eden Sambil menunjuk kearah Tiffany yang sedang tersipu malu. Melihat itu Summer juga langsung menggoda Tiffany karena sekarang kakaknya lebih sering terlihat mengobrol bersama Tiffany selama wanita itu tinggal di rumah Summer.
“Mereka akhir-akhir ini memang sering mengobrol di taman rumahku. Entahlah, tapi aku senang melihat mereka terlihat akrab seperti itu.”
“Aku juga. Kuharap hubungan mereka akan berkembang menjadi lebih serius.”
“Ed...”
“Apa?” Eden menoleh kearah Aciel yang tiba-tiba datang sambil menunjuk-nunjuk kearah Ciara.
__ADS_1
“Anakmu mengacau dan melempar-lempar salju di sana.”
“Biarkan saja Ace, anak-anak memang biasa seperti itu. Kau lihat Violet, ia sangat senang karena akhirnya ia memiliki teman.” komentar Summer yang merasa geli dengan sikap Aciel yang terlau kaku pada anak-anak. Eden yang berada di sebelahnya juga ikut membenarkan ucapan Summer karena dunia anak-anak memang seperti itu.
“Dia akan kedinginan dan sakit jika terus bermain salju.”
“Ace, aku tahu kau hanya ingin melindungi putri berhargamu, tapi sekali ini saja kau biarkan Ciara bersenang-senang dengan teman barunya. Ini akan menjadi pengalaman yang tak akan pernah terlupakan sampai Ciara tumbuh dewasa nanti. Percaya padaku, Ciara akan baik-baik saja.” ucap Eden mencoba menenangkan. Aciel masih saja mendengus gusar di sebelah Eden karena wanita itu sama sekali tidak mendengarkan kata-katanya. Summer lalu memberi kode pada Max yang kebetulan lewat untuk mengajak Aciel berkumpul bersama para pria yang sedang memanggang daging di tengah-tengah taman belakang milik Summer.
“Dude, sepertinya kita harus memberikan ruang bagi para wanita untuk mengobrol. Bagaimana jika memanggang daging bersama para tetua di sana.”
Max merangkul bahu Aciel santai dan segera membawa Aciel untuk bergabung bersama para pria yang sedang sibuk memanggang daging. Sedangkan Summer dan Eden sudah tidak terlalu peduli pada suami mereka. Mereka terlihat sibuk berceloteh mengenai kehamilan dan juga masalah bayi karena Summer ingin segera memiliki
anak agar ia dapat menjadi ibu yang luar biasa seperti Eden. Sementara itu Tiffany masih setia memandangi punggung tegap Andrew yang sedang sibuk memanggang daging bersama para pria dari keluarga Osborn yang lainnya. Entah mengapa hatinya terasa hangat ketika melihat Andrew berada di sana dan terlihat seperti
seorang gentel man ketika sedang melayani keinginan aneh Ciara dan juga Violet. Ia senang melihat pria itu akrab bersama anak kecil, membuat angan-angannya terbang kearah masa depannya apabila mereka ditakdirkan bersama oleh Tuhan.
“Hey, apa yang kau lihat?” Summer menyenggol lengan Tiffany pelan dan membuat wanita itu terkesiap dengan cengiran malu. “Bukan apa-apa.” Ia lalu menyempurnakan alibinya dengan berpura-pura membuat lelucon di depann Louise agar bayi itu tertawa. Sayangnya apa yang dilakukan Tiffany sebelumnya telah diketahui Eden,
dan hal itu justru membuat Tiffany terpojok karena ulah jahil teman-temannya.
“Ehem.. apa perlu kami mengatakan pada Andrew untuk segera melamarmu.” goda Eden dengan wajah sok polos. Tiffany langsung berpura-pura tak mendengarkan Eden dan hanya sibuk menepuk-nepuk paha Louise meskipun bayi itu sedang tidak rewel.
“Kau tenang saja, aku akan mempengaruhi Andrew agar segera melamarmu.” tambah Summer semangat yang berhasil membuat pipi Tiffany bersemu merah. Wanita itu langsung mengelak di hadapan teman-temannya dan mengaku jika dan Andrew hanya sebatas teman.
“Tidak apa-apa jika saat ini kalian masih berteman, tapi suatu saat kami berdoa supaya kalian akan menjadi sepasang suami istri yang manis.” ucap Eden semakin membuat pipi Tiffany panas. Wanita itu lalu berlari masuk ke dalam rumah Summer dengan alasan ingin mengambil minum di dapur. Padahal jelas-jelas minuman itu telah disediakan di depan mereka dan Tiffany tidak perlu repot-repot melangkahkan kakinya terlalu jauh ke dalam rumah. Sontak saja hal itu membuat Eden dan Summer saling beradu tos karena berhasil membuat Tiffany tak berkutik dengan godaan mereka.
-00-
Acara gathering yang diadakan di kediaman keluarga besar Osborn berakhir pukul empat sore. Semua orang yang sejak pagi telah berkumpul di sana perlahan-lahan mulai membubarkan diri untuk pulang. Ciara yang mendapatkan teman baru di sana mulai nyaman dan tidak mau pulang. Berkali-kali Eden harus merayunya dengan berbagai macam bujukan agar Ciara mau pulang ke rumah peristirahatan Aciel karena Louise sudah tertidur pulas di dalam gendongan Aciel.
“Ace, putri kesayanganmu tidak mau pulang.” keluh Eden sambil memandang cemberut kearah Ciara, pasalnya ia sudah cukup lelah dan ingin segera bertemu dengan ranjang nyamannya di rumah. Jika Ciara terus menerus keras kepala seperti itu, ia tidak menjamin akan tetap bersikap kalem seperti apa yang dikatakan Summer beberapa saat yang lalu.
“Biar aku yang membujuknya. Kau tunggulah di mobil.”
Aciel menyerahkan Louise pada Eden dan segera berjalan menghampiri Ciara yang sedang duduk di ayunan bersama teman barunya, Violet.
“Ciara, ayo kita pulang. Lihatlah Louise yang sudah tertidur dan mommymu yang kelelahan.”
“Tapi dad...”
Ciara mulai mengeluarkan protesnya dengan merengek-rengek di depan Aciel.
“Kau ingat, tidak ada tangisan, tidak ada rengekan.” peringat Aciel tegas. Sedikit banyak ia meniru pada Eden yang selama ini lebih banyak bersikap tegas pada Ciara ketimbang dirinya. Ciara langsung terlihat cemberut dan perlahan-lahan turun dari ayunan meninggalkan teman barunya dengan wajah lasu. Ia lalu mengekor di belakang ayahnya untuk masuk ke dalam mobil dan bertemu dengan ibunya yang sudah menunggunya sejak tadi.
“Nah, kau baru menurut setelah daddymu yang turun tangan. Ace, kau sudah memasukan stroller milik Louise ke dalam bagasi? Aku lupa.” tambah Eden sambil mengusap rambut halus Louise perlahan.
Aciel menganggukan kepalanya kecil dan segera memakaikan Ciara sabuk pengaman yang tersedia di samping kursi khususnya. Eden lantas mendekap Louise lebih erat ke dalam pelukannya dan mengelus puncak kepala Louise berkali-kali agar putra bungsunya itu tidak terbangun. Ia pasti sangat lelah, setelah hampir sepanjang
hari ia menjadi santapan aunty-aunty Summer dan juga Tiffany yang sangat gemas dengan wajah polosnya. Tunggu saja hingga Louise sedikit dewasa, pria kecil itu pasti akan mewarisi sifat player milik ayahnya.
“Gathering hari ini sangat menyenangkan, semua keluarga Summer ternyata sangat ramah.” komentar Aciel ketika mereka mulai keluar dari pekarangan luas rumah keluarga Osborn. Eden mengangguk mengiyakan dan menambahkan. “Mereka semua sangat ramah dan menyambut kehadiran kita dengan baik. Aunty-aunty Summer sangat lucu. Mereka sempat terpesona saat melihatmu.” ucap Eden terkikik. Aciel mengernyitkan dahinya dan menoleh penuh ingin tahu kearah Eden. Ia benar-benar tak habis pikir dengan kharismanya yang sugguh luar biasa. Tidak hanya wanita polos seperti Eden, ia bahkan mampu mengikat wanita-wanita tua dari keluarga Summer
“Apa saja yang mereka katakan padamu?”
“Hmm... kau akan besar kepala jika aku mengatakannya. Lebih baik kau tidak perlu tahu.” ejek Eden penuh kemenangan yang membuat wajah Aciel seketika terlihat gusar.
“Ck, apa kau tahu jika kau menyebalkan Ed?” Aciel yang telah membelokan setir kemudinya kearah rumah mereka sedikit kesal pada Eden yang masih saja tertawa di sebelahnya. Ia yakin jika wanita itu pasti sedang menyimpan sesuatu yang konyol di dalam kepalanya tentang dirinya.
“Waah.. apa kau marah, Ace? Wajahmu merah.” Goda Eden dengan seringaian jahil. Aciel mengumpat dalam hati dan meninggalkan Eden begitu saja setelah ia berhasil memarkirkan mobilnya dengan mulus di halaman rumahnya yang semakin tertutupi oleh salju yang kian menggunung.
“Akhirnya kalian pulang juga.” Olivia yang pertama kali membukakan pintu terlihat begitu bahagia ketika Eden masuk ke dalam rumah bersama Ciara dan Louise. Wanita berambut panjang itu segera menarik Eden masuk karena di luar cuaca berubah menjadi semakin dingin.
“Aku hampir mati kebosanan karena Sian hanya tidur sejak tadi.”
“Sekarang kau sudah tahu jika Sian memang raja tidur.” komentar Aciel yang baru saja bergabung dengan mereka setelah ia keluar untuk mengambil stroller milik Louise di dalam bagasi.
“Kau benar, sejak tadi ia hanya bermalas-malasan di atas karpet, lalu ia berpindah
ke atas dan tidur hingga berjam-jam lamanya. Sekarang ia bahkan belum bangun.” Dengan lucu Olivia mengadukan kelakuan Sian pada Aciel seperti Aciel adalah ibunya sendiri. Eden yang melihat itu hanya tertawa terbahak-bahak sambil membayangkan bagaimana kesalnya Olivia hari ini yang harus terjebak bersama si
malas Sian.
“Biarkan saja jika Sian memang seperti itu, mungkin ia memang kelelahan. Terkadang hormon ibu hamil bisa menular pada suaminya. Yeah, setidaknya seperti itulah yang kubaca dari majalah langgananku.” ucap Eden berusaha menghibur Olivia yang kesal.
__ADS_1
“Ckckck... Aku tidak menyangka jika kau bisa menanggapinya sebijak itu. Kupikir kau masihlah istriku yang kekanakan dan bahkan masih suka mengamuk jika keinginanmu tidak dikabulkan.” goda Aciel menyebalkan. Eden mendengus kesal dalam diam dan mulai membawa Louise naik ke kamarnya. Ia cukup sebal digoda seperti itu oleh Aciel. Meskipun ia tahu jika Aciel baru saja melakukan balas dendam karena sejak tadi pria itu yang menjadi bahan ejekannya bersama teman-temannya. Melihat istrinya yang mulai ngambek, Aciel segera menyusul Eden ke kamar mereka untuk meredakan kemarahan istrinya yang menggemaskan itu. Ia tahu jika Eden tidak akan pernah bisa marah terlalu lama dengannya. Karena apapun masalah mereka, besar atau kecil, Eden pasti akan selalu berakhir bersamanya, lagi dan lagi.