Black Swan

Black Swan
Yes I Love You (Fifthy Seven)


__ADS_3

Tokk tokk tokk


            Eden berdiri dengan gugup di depan pintu kayu hitam yang menjulang tinggi di depannya. Setelah sore ini dokter melepas jarum infus yang menusuk punggung tangannya dan mengatakan jika ia baik-baik saja, ia langsung berinisiatif untuk melihat keadaan Aciel yang berada di dalam kamar khusus di dalam mansion besar itu. Tapi entah mengapa sekarang ia justru gugup dan ingin segera melarikan diri dari tempatnya berdiri karena ia tidak tahu apa yang akan ia katakan pada Aciel nanti.


            “Mommy...”


            Eden tersentak kaget ketika tangan mungil Ciara tiba-tiba menyentuh jari-jari lentiknya sambil mendongak penuh ingin tahu pada ibunya yang terlihat sangat gugup.


            “Ssayang... bagaimana kabarmu hari ini?”


            Eden berjongkok di depan Ciara dan menyapa balita lucu itu dengan kikuk. Kedua tangan Eden tampak bergetar ketika terangkat untuk mengelus pipi chubby Ciara yang menggemaskan. Dalam beberapa menit Eden tampak terpana dengan kecantikan Ciara dan kepolosan gadis itu yang sedang menatapnya dengan kedua mata bulatnya. Dalam hati ia masih tidak percaya jika ia pernah melahirkan gadis secantik Ciara.


            “Mommy ingin melihat daddy?” tanya Ciara polos. Eden mengangguk kaku di depan putrinya sambil menatap bergantian pintu hitam yang menjulang di sampingnya.


            “Ayo masuk.”


            Seketika Eden dibuat gugup kembali ketika Ciara mulai menarik-narik tangannya untuk masuk ke dalam ruang rawat Aciel yang masih tertutup. Namun tiba-tiba pintu hitam itu terbuka lebar, menampilkan seorang pria tua berjas putih yang lantas mengangguk hormat pada Eden.


            “Silahkan nyonya jika anda ingin masuk ke dalam.”


            Eden membalas anggukan itu dengan kaku sambil berjalan menyingkir untuk membiarkan dokter itu lewat.


            “Terimakasih dokter, aku akan masuk.”


            Setelah dokter tua itu benar-benar pergi, Eden mulai berjalan pelan ke dalam ruang rawat Aciel dengan tangan yang terus ditarik Ciara dengan tidak sabar.


            “Ayo mommy!” teriak Ciara dengan suara melengking. Eden memberikan isyarat pada Ciara untuk mengecilkan suaranya dengan membungkam bibir mungil Ciara karena ia melihat Aciel sedang memejamkan mata.


            “Ssshhh... ayo kita keluar, biarkan daddy istirahat.” bisik Eden pelan di telinga Ciara sambil menggendong balita menggemaskan itu. Ciara menggelengkan kepalanya keras kepala dan tetap menginginkan berada di dalam ruang steril itu untuk menunggu ayahnya.


            “Ciara merindukan daddy, Ciara ingin melihat daddy.”


            “Tapi daddy sedang tidur. Kita kembali lagi besok pagi, oke?” ucap Eden mencoba membujuk gadis kecil itu. Tapi Ciara tetap berkeras untuk tetap berada di dalam kamar rawat ayahnya dan justru hampir menangis ketika Eden memaksakan diri untuk membawa gadis itu keluar dari kamar rawat ayahnya.


            “Ssshhh... baiklah baiklah, jangan menangis. Mommy tidak akan membawamu keluar.”


            Eden terlihat jengkel dan mulai menurunkan Ciara di atas ranjang rawat Aciel yang cukup luas. Ia kemudian menarik sebuah kursi kayu yang berada di dekatnya dan mulai duduk di sana sambil mengamati Ciara yang sedang menciumi pipi ayahnya.


            “Ciara, apa kau menyayangi daddymu?” tanya Eden sambil bertopang dagu. Ciara kemudian mengangguk lucu sebagai jawaban sambil mencium kening Aciel yang tidak tertutup masker oksigen.


           “Lalu bagaimana jika daddymu jahat, apa kau akan tetap menyayanginya?”


            Gadis kecil itu lantas menatap wajah Eden dengan mata bening yang terlihat tidak paham dengan maksud ibunya.


            “Jahat? Seperti monster?”


            “Monster?” tanya Eden seperti balik bertanya. Seketika wanita itu tampak begitu bodoh di depan anaknya karena ia belum terbiasa dengan hal-hal berbau anak kecil yang kekanakan. Termasuk pengibaratan orang jahat sebagai monster. Namun jika dipikir lebih jauh, Aciel tampak lebih buruk daripada monster.


            “Yaahh anggap saja jika daddymu adalah monster, apa kau akan tetap menyayangi daddymu?”


            “Tapi daddy tidak seperti monster, daddy tampan. Kata bibi Mary monster itu jelek, sedangkan daddy sangat tampan. Jadi daddy bukan monster.”


            Eden memutar bola matanya malas sambil mengerucutkan bibirnya sebal pada Ciara. Rasanya percuma saja menanyai Ciara mengenai Aciel jika gadis kecil itu sangat mengagumi Aciel lebih dari apapun. Bahkan Ciara sepertinya lebih menyayangi Aciel daripada dirinya.


            “Lalu bagaimana dengan mommy? Apa kau menyayangi mommy?”


            “Ciara sayang mommy!” jawab Ciara langsung sambil menubruk tubuh Eden yang berada di pinggir ranjang. Dengan sigap Eden langsung menangkap Ciara dan memberikan tatapan galak pada gadis kecil itu karena sikapnya yang ceroboh.


            “Ciara, kau bisa jatuh!”


            “Sudahlah, jangan memarahi Ciara.” ucap Aciel parau sambil mencoba melepas masker oksigen yang menghalangi bibirnya untuk bersuara lebih banyak pada Eden dan juga Ciara. Sementara itu Eden tampak menegang seketika ketika ia melihat Aciel mulai membuka masker oksigennya dan terlihat begitu kesulitan untuk mengambil nafas pertamanya tanpa bantuan masker oksigen. Ia lantas menurunkan Ciara dari dekapannya dan bersiap untuk keluar dari kamar itu.

__ADS_1


            “Maaf jika kami mengganggumu, aku akan keluar sekarang.”


Greb


            Eden menoleh ke balakang dan melihat pergelangan tangannya sedang dicekal oleh Aciel. Ia kemudian memberikan tatapan pada Aciel agar melepaskan cekalan tangannya dari pergelangan tangannya, namun pria itu justru menariknya semakin mendekat dan menyuruhnya untuk duduk di atas ranjangnya.


            “Kau mau pergi kemana? Aku lebih suka kau berada di sini.”


            “Daddy.. daddy sudah bangun!”


            Ciara memberikan kecupan singkat di pipi Aciel dan memeluk ayahnya hangat hingga membuat Aciel tergelak karena tingkah menggemaskan putrinya. Meskipun punggungnya masih terasa nyeri, namun ia mencoba tertawa untuk Ciara.


            “Ciara, jangan memeluk daddy terlalu erat nak, kau membuat daddymu kesakitan.”


            Melihat Aciel yang terlihat sedang menahan nyeri membuat Eden langsung berinisiatif untuk menyingkirkan gadis kecil itu dari atas tubuh Aciel. Lagipula ia bisa membayangkan bagaimana nyerinya punggung Aciel setelah sebuah timah panas menembus otot-ototnya kemarin, dan ia tidak setega itu untuk membiarkan Aciel kesakitan karena pelukan Ciara yang terlalu bersemangat.


            “Lebih baik kami keluar saja, beristirahatlah lagi.”


            “Aku ingin kalian tetap di sini, jadi jangan pergi kemanapun.” ucap Aciel datar dan tidak mau dibantah. Eden mendengus kesal dalam hati melihat sikap arogan Aciel yang tetap saja muncul disaat pria itu sedang sakit dan tak berdaya seperti itu.


            “Apa kau memerlukan sesuatu? Aku akan memanggilkan dokter jika kau merasa sakit.”


            Eden mencoba bersikap baik pada Aciel karena ia tidak mau berhutang budi pada pria itu.


            “Tidak perlu, dokter sudah memeriksaku beberapa waktu lalu.” jawab Aciel datar dan terkesan dingin. Kemudian tidak ada lagi percakapan diantara mereka karena Eden lebih memilih menyibukan diri dengan mengelus rambut panjang Ciara yang terasa begitu lembut di tangannya. Sedangkan Aciel memilih untuk diam karena sejak dulu ia bukanlah tipe pria yang suka bicara. Namun terlalu lama dengan atmosfer yang canggung itu membuat Aciel gerah dan akhirnya ia berinisiatif untuk sedikit memancing Eden agar mau berbicara dengannya.


            “Apa Ciara sudah makan?”


            “Belum.” jawab Eden singkat. Lalu suasana diantara mereka kembali hening karena Eden lebih memilih untuk mencari kesibukan lain daripada melakukan percakapan kecil dengan Aciel. Wanita itu terlalu naif!


            “Dulu kau juga pernah berada di posisiku.”


            “Kau pernah terbaring di sini... saat melahirkan Louise.” lanjut Aciel dengan senyuman tipis yang berhasil membuat Eden terpana. Selama ini ia belum pernah melihat senyum tulus Aciel, selain seringaian ataupun senyum kelicikan yang sering ditunjukan padanya hingga membuatnya semakin membenci pria itu. Setidaknya begitulah memorinya yang masih tertinggal di dalam otak Eden, selebihnya, Eden benar-benar tidak mengingat apapun. Bahkan kebaikan Aciel selama satu tahun hidup bersamanya, tak ada satupun yang tertinggal di dalam memori otaknya. Miris! Tapi sekarang melihat Aciel yang sedang menatapnya penuh kelembutan dan ketulusan membuatnya berhasil merubah cara pandanganya mengenai Aciel. Kini ia justru berpikir jika Aciel bukanlah pria jahat seperti yang ia bayangkan selama ini. Aciel juga memiliki sisi lembutnya sendiri yang sangat jarang ia tunjukan pada siapapun.


            “Awalnya kau marah dan mengatakan jika aku terlalu berlebihan karena menyiapkan sebuah tempat khusus untuk melahirkan Louise, tapi semua itu kulakukan karena aku sangat mencintaimu Ed. Aku terlalu merasa bersalah karena dulu tidak bisa berada di sampingmu ketika kau melahirkan Ciara dan juga membesarkan Ciara. Jadi aku berusaha melakukan banyaknya hal selama satu tahun terakhir ini untuk menebus segalanya.”


            “Aku tahu, Sian sudah menceritakannya.” ucap Eden kaku. Ia rasanya masih belum terbiasa untuk bersikap manis di hadapan Aciel. Terlalu aneh pikirnya.


            Tanpa mempedulikan sikap Eden yang belum terbiasa dengannya, Aciel kembali bercerita untuk mengenang masa-masa paling indahnya saat bersama Eden. Masa dimana mereka hidup dengan damai, tanpa umpatan kemarahan, tanpa kata-kata kasar, bahkan hanya dipenuhi cinta yang hangat. “Kau menjalankan peranmu sebagai istri dan ibu dengan sangat baik selama satu tahun terkhir ini. Tapi sayangnya kau melupakan itu semua. Aku takut kehilanganmu Ed.” Aciel berucap getir saat mengingat semua kenangan manis yang masih tertinggal di dalam memorinya. Lagi-lagi ia mendapatkan hukuman dari Tuhan atas perbuatan jahatnya di masa lalu. Sedangkan Eden tampak tak bisa berkata apa-apa, ia hanya tertegun dengan serangkaian kata-kata penuh emosi yang baru pertama kali ia dengar dari seorang Aciel Lutherford. Ia pikir Aciel adalah manusia tanpa hati.


            “Ciara.. dia gadis yang manis, siapapun pasti akan langsung menyukainya.” ucap Eden apa adanya. Ia terlihat bingung untuk menanggapi ucapan Aciel karena itu terkesan terlalu emosional untuknya.


            “Apa kau akan meninggalkanku?”


            “Aku tidak tahu.”


            “Apapun yang akan kau lakukan nanti, aku tidak  akan pernah melepaskanmu. Kau adalah milikku.” ucap Aciel tegas dan sarat akan ancaman. Eden menghela nafasnya pelan sambil mencoba untuk tidak terpancing oleh kearoganan Aciel yang sangat menyebalkan.


            “Aku tahu jika kau adalah pria penuh kuasa yang tidak akan membiarkan milikmu lepas begitu saja. Tapi bisakah kau sedikit saja menunjukan kesan yang lebih baik di hadapanku? Karena sikapmu yang arogan itu justru akan membuatku membatalkan niat untuk mencoba menerimamu sebagai suamiku dan Ciara serta Louise sebagai anak-anakku.”


            “Apakah kau melakukan ini untuk Anthony? Untuk keparat yang akan mencelakakan kita berdua?” sambar Aciel sengit dan hampir membuat kepala Eden mendidih karena pikiran negatif pria itu.


            “Apa di kepalamu itu hanya ada keburukan dan kata-kata kotor? Bagaimana bisa Ciara mengidolakan ayah yang sangat buruk sepertimu.”


            “Bagaimanapun aku adalah ayahnya, wajar jika ia mengidolakanku. Terlepas jika ayahnya adalah seorang ******** sekalipun, Ciara tetap akan menganggapku sebagai idolanya.”


            “Huh, kurasa kita tidak bisa berbicara sekarang. Aku akan keluar, dan sebaiknya kau dinginkan dulu kepalamu yang mendidih itu.”


            Eden akhirnya memilih untuk keluar dan meninggalkan Aciel bersama Ciara. Berlama-lama bersama pria itu justru membuatnya semakin sakit kepala karena sikap Aciel yang selalu memikirkan hal-hal buruk tentangnya. Ia muak dengan pria itu!


-00-

__ADS_1


            Malam harinya ketika semua orang sedang terlelap dalam dunia mereka masing-masing, Aciel terlihat sedang berjalan keluar dari ruang rawatnya dengan piyama biru garis-garis yang terlihat cukup kusut di beberapa bagian. Sejak sore tadi ia tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang tanpa sedikitpun memikirkan Eden. Wanita itu sejak dulu memang selalu mengganggu atensinya hingga ia dibuat kalang kabut dengan sikapnya yang menjadi tidak biasa setelah Eden hadir dan memporak-porandakan hatinya. Sore tadi ia sebenarnya tidak bermaksud untuk bersikap arogan padanya, ia hanya terlalu cemburu dengan Anthony dan takut jika Eden akan meninggalkannya lagi seperti dulu. Sepuluh hari tanpa Eden benar-benar membuatnya menjadi pria paling mengerikan yang pernah ada di muka bumi ini. Bahkan Sian mengaku kewalahan untuk menenangkannya yang terus dilanda kecemasan sejak Eden menghilang dari mansionnya.


Cklek


            Aciel menarik gagang pintu perlahan dan menemukan kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Namun melalui sinar bulan yang menyusup masuk dari celah-celah jendela kamarnya, ia bisa melihat siluet tubuh Eden yang sedang tertidur dengan nyaman di bawah balutan selimut tebal yang membungkus tubuh kurusnya. Ia kemudian berjalan pelan menuju ranjangnya, dan memutuskan untuk bergabung bersama Eden dan tidur. Dalam diam Aciel mengamati wajah cantik isterinya dari samping sambil menyingkirkan anak-anak rambut Eden yang menjuntai disekitar dahi indah Eden yang sangat ia sukai. Seakan tak mempedulikan punggung tangannya yang sedikit meneteskan darah akibat jarum infus yang menusuk pergelangan tangannya tadi, ia terus menyikirkan anak-anak rambut Eden yang menjuntai sambil menikmati setiap sentuhan kulitnya pada permukaan kulit Eden yang halus.


            “Apa yang kau lakukan di sini?”


            Suara penuh kecurigaan itu langsung membuat Aciel membuka matanya hingga ia dapat melihat manik madu Eden yang sedang menatapnya penuh antisipasi. Wanita itu tanpa malu-malu melemparkan tatapan menelisik padanya sambil menarik tangannya turun dari dahi indah milik wanita itu.


            “Ssshhh... kau akan membangunkan Louise? Aku tidak akan melakukan apapun padamu.” bisik Aciel kesal. Ia baru sadar jika ternyata dibalik tubuh kurus Eden tersembunyi Louise yang sedang tertidur dengan nyaman. Jagoan kecilnya yang lucu telah menemukan kehangatannya kembali. Mungkin hanya tinggal dirinya yang memerlukan usaha ekstra untuk mendapatkan kehangatannya kembali dari Eden.


            “Aku merindukanmu.” ucap Aciel santai dan terkesan biasa. Sedangkan Eden perlahan-lahan mulai menjauhkan tubuhnya dari Aciel meskipun ia tidak bisa bergerak leluasa karena ada Louise di sebelahnya. Namun Aciel langsung menahan pundaknya dan membuatnya seperti terpaku di tempat karena pria itu membuat isyarat untuk tetap diam tanpa bergerak.


            “Kau harus mulai terbiasa dengan kehadiranku di ranjangmu, jadi jangan pernah mencoba kabur kemanapun Eden.”


            Eden menelan salivanya gugup sambil mengarahkan pandangan matanya kearah lain karena ia tidak mau terpengaruh oleh wajah tampan Aciel yang menguarkan aura arogan yang pekat di depannya. Mengetahui kegugupannya itu, Aciel justru memaksanya untuk menatap manik matanya yang gelap, segelap hidupnya.


            “Apa kau tidak merindukanku, hmm?”


            “Tidak!” jawab Eden ketus. Aciel justru terkekeh di depannya dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibirnya.


            “Tapi aku merindukanmu. Sangat merindukanmu, hingga aku rela melukai punggung tanganku agar aku bisa bergabung bersama kalian di sini. Kenapa Louise ada di sini?”


            Eden kemudian melirik punggung tangan Aciel yang memang sedikit mengeluarkan darah sambil berpura-pura menunjukan sikap tak pedulinya pada pria itu. “Entahlah, malam ini ia sedikit rewel dan sulit tidur. Lalu aku mengambilnya dari kamarnya dan aku sempat memberinya ASI sebelum ia jatuh tertidur. Ia sangat lucu.” bisik


Eden pelan penuh kekaguman. Sesekali tangan kanannya mengelus rambut halus Louise yang terlihat begitu lebat untuk bayi seusianya. Tapi saat ia melihat tangan Aciel yang digunakan pria itu untuk mengusap rambutnya, Eden langsung menyingkirkan tangan itu dan mengusap darah Aciel yang masih merembes di tangannya dengan sebuah tisu yang berada di samping ranjangnya.


            “Kau tidak seharusnya melepas jarum infus itu jika kau merindukanku, kau bisa memanggilku agar aku menemanimu di sana.”


            “Aku tidak mau membangunkanmu sayang, lagipula aku juga merasa bosan berada di sana. Aku merindukan kamar kita.” bisik Aciel mesra. Tubuh Eden terlihat menegang ketika Aciel mulai mengikis jarak diantara mereka. Dengan posisi mereka yang sangat dekat seperti itu, Aciel pasti akan melakukan kontak fisik yang intim


dengannya. Entah itu hanya mencium bibirnya atau membelainya, yang pasti itu akan membuatnya tidak nyaman dan juga gugup.


            “Aaapa yang akan kau lakukan?”


            “Menurutmu?” tanya Aciel jahil. Padahal ia tidak berniat untuk melakukan apapun. Selain karena kondisinya yang masih sangat rentan, di sana juga ada Louise yang sedang tidur dengan nyaman di sebelah Eden. Aciel tidak akan segila itu untuk melakukan hal-hal mesum pada Eden. Namun melihat Eden yang tampak tegang seperti itu membuat Aciel memiliki inisiatif untuk meniupkan nafas panasnya di permukaan kulit wajah Eden yang mulai sensitif di depannya..


            “Mmenjauhlah, kau bbaru saja melakukan operasi pengeluaran peluru.” ucap Eden gugup sambil


menahan dada Aciel agar pria itu tidak semakin mendekat. Namun Aciel justru semakin memperpendek jarak diantara mereka dan menggunakan salah satu tangannya untuk menyingkirkan jari-jari lentik Eden yang terasa menggelitik di dadanya.


            “Kurasa ini tidak apa-apa, tubuh bagian depanku masih normal. Hanya punggungku yang sedikit nyeri. Aku masih bisa menggunakan bibirku untuk menciummu dan sedikit bermain.” bisik Aciel sensual. Eden menelan salivanya gugup dan mulai bergerak-gerak tidak nyaman dengan posisinya. Kedua tangannya telah bertengger manis di atas pundak kokoh Aciel, sedangkan wajah Aciel semakin lama semakin dekat dengan bibir yang terlihat mengerikan bagi Eden karena seakan-akan pria itu hendak memakannya.


            “Kkkumohon jangan, aku tidak bisa melakukan ini.”


            Eden mencoba menjauhkan kepalanya dari wajah Aciel dengan memundurkan ke belakang. Namun Aciel justru menahan tengkuknya dan membuatnya tidak berkutik dengan tekanan kuat yang menyengat di tekuknya. Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan adalah diam di tempat dan menerima ciuman yang akan diberikan oleh Aciel. Tapi ia tidak mau, ia terlalu gugup dan juga takut!


            “Bisa atau tidak, kau harus mulai terbiasa sayang. Karena pasti aku akan melakukan hal yang lebih daripada hanya mencium bibirmu yang AAAARGGHHHH!!!!”


            Eden menekan kuat punggung Aciel yang terluka dengan kedua tangannya yang menjuntai di belakang punggung tegap pria itu. Tak peduli dengan teriakan Aciel atau bekas jahitan pria itu yang akan robek, yang jelas ia hanya ingin melindungi harga dirinya dari perbuatan kurang ajar pria arogan yang telah mengaku sebagai suaminya.


            “Apa kau ingin membunuhku, hah!”


            Aciel berteriak keras di depan wajah Eden sambil melengkungkan tubuhnya karena kesakitan. Pria itu terlihat menahan sakit dan mulai mengerang lagi untuk yang ke dua kalinya karena sengatan ngilu yang menyerang punggungnya. Tak bisa ia gambarkan bagaimana rasa sakit itu menusuk punggungnya, namun ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan punggungnya.


            “Dddarah! Aciel, kau berdarah! Oh ya Tuhan, aku telah merusak luka jahitanmu.”


            Eden berteriak histeris ketika ia melihat cairan merah yang mulai merembes membasahi piyama bergaris-garis biru yang dikenakan oleh Aciel. Dengan panik ia segera berlari keluar sambil memanggil siapapun untuk menolong Aciel karena ia melihat begitu banyak darah yang tercetak jelas di punggung Aciel.


            “Ya Tuhan!!! Apa yang baru saja kulakukan?” gumam Eden gemetar sambil menggigit bibirnya panik. Ia kemudian segera meminta pengawal-pengawal Aciel untuk segera menghubungi dokter karena Aciel sepertinya harus melakukan operasi ulang untuk menjahit bekas lukanya yang kembali terbuka.

__ADS_1


__ADS_2