Black Swan

Black Swan
Another Story Of Us (One Hundred Sixteen)


__ADS_3

            Nathan membuka matanya perlahan sambil mengerang pelan. Dua hari ini ia terserang demam dan juga flu parah karena ia kehujanan saat mengantar Laila pulang. Dengan langkah berat Nathan beranjak dari ranjangnya untuk mencuci muka di kamar mandi. Sudah dua hari ini ia hanya berbaring di atas ranjang karena kepalanya yang terasa berputar-putar. Meskipun rasanya ia malas, tapi ia merasa perlu mencuci mukanya agar setidaknya ia merasa lebih segar. Sungguh rasanya ia hanya ingin tidur, tidur dan tidur. Tapi jika ia terlalu lama sakit, semua


pekerjaannya tidak akan selesai. Apalagi ia belum mengecek laporan keuangan bulan ini. Mengingat hal itu kepalanya justru semakin berputar hingga ia harus berpegangan pada pinggiran wastafel agar tubuhnya tidak limbung.


            “Hah, ini sangat menyiksa.” desah Nathan lemah. Diputarnya keran air yang berada di depanya, dan tanpa pikir panjang ia langsung membasuh wajahnya dengan air dingin. Untuk sesaat Nathan terlihat menggigil karena dinginnya air yang mengalir di wajahnya. Tapi sedetik kemudian ia kembali memantapkan hatinya untuk membasuh wajahnya lagi. Setidaknya hari ini ia ingin mengerjakan sedikit tugas kantornya, sehingga ia harus lebih segar dari sebelumnya.


            “Hoshh hosh hosh.... Ya Tuhan, ini sangat dingin. Andai saja aku memiliki seseorang yang akan merawatku saat aku sakit.” gumam Nathan menyedihkan. Ia kemudian meraih handuk yang berada di sebelahnya untuk mengeringkan wajahnya yang basah. Setelah itu ia langsung melangkah keluar dari kamar mandinya dengan keadaan yang tidak lebih baik dari sebelumnya. Ia kemudian memutuskan untuk berbaring sebentar sebelum mengerjakan tugas-tugasnya yang terbengkalai belakangan ini.


Ting


tong


            Baru saja ia akan menyelimuti tubuhnya dengan selimut, tiba-tiba suara bel pintu apartemennya berbunyi


nyaring dan mengangganggu pendengarannya. Dengan enggan Nathan menyingkap selimut yang digunakannya dan segera melangkah keluar untuk membukakan pintu sang tamu. Namun dalam hati Nathan sungguh meruntuki tamunya yang menyebalkan itu. Bahkan ia bertekad akan langsung mengusir tamunya itu jika sekiranya mereka hanya ingin mengganggunya.


Cklek


            Nathan membuka pintu apartemennya lebar-lebar sambil mengernyitkan dahinya bingung. “Ada perlu apa?”


            “Maaf tuan, kami hanya ingin mengantarkan bukti pembayaran listrik pada anda.” ucap petugas apartemen itu sopan. Nathan menggangguk pelan dan segera mengambil kertas kuning itu dari tangan sang petugas apartemen. Setelah itu ia langsung menutup pintu apartemennya tanpa mengatakan sepatah katapun karena kepalanya tubuhnya sungguh tidak bisa diajak kompromi sekarang.


            “Arghh.. benar-benar mengganggu.” erang Nathan sambil memegang kepalanya yang semakin berputar. Namun ketika ia akan memasuki kamarnya, tiba-tiba bel apartemennya berbunyi nyaring, membuat Nathan mengeluh kesal sambil berjalan gontai menuju pintu depan.


            “Ada apa lagi? Apa masih ada kuitansi lain yang perlu kau antar?” teriak Nathan gusar. Namun sedetik kemudian pria itu langsung menutup bibirnya rapat-rapat sambil menatap tak percaya pada tamunya.

__ADS_1


            “Ada apa denganmu? Aku datang ke sini bukan untuk mengantar kuitansi apapun.” jawab Laila galak. Nathan yang masih tidak percaya dengan kehadiran Laila hanya  mampu terpaku di tempat sambil mengucek-ucek matanya tidak yakin.


            “Lla Laila, apa yang kau lakukan di sini?”


            “Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja, tapi sepertinya kau sedang tidak baik-baik saja.”


            Tiba-tiba Laila mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Nathan yang panas. Dan ketika ia merasakan suhu tubuh Nathan yang sangat tinggi, Laila langsung mendorong Nathan untuk masuk dan menutup pintu apartemen Nathan rapat-rapat.


            “Kau harus segera minum obat dan beristirahat. Apa kau sudah makan?”


            Nathan menggeleng pelan seperti seorang anak umur lima tahun dengan wajah polos. Laila menghembuskan napas kasar dan segera mendorong Nathan untuk berbaring di kamarnya.


            “Selagi aku menyiapkan makanan untukmu, kau berbaringlah terlebihdahulu. Aku akan membangunkanmu jika masakanku sudah matang.”


            Dengan patuh Nathan langsung berbaring di atas ranjangnya sambil menaikan selimut tinggi-tinggi hingga sebatas dada. Laila yang melihat hal itu tampak tersenyum puas sambil memuji Nathan yang hari ini terlihat lebih penurut.


            Dan setelah itu Nathan langsung memejamkan matanya dengan senyum manis yang terkembang di wajahnya. Ia yakin, siang ini tidurnya pasti akan sangat nyenyak.


-00-


            Laila memandangi foto-foto yang dipajang Nathan di dalam kamarnya dengan sedih. Ternyata meskipun sudah lama mereka bercerai, Nathan masih saja menyimpan foto kenangan milik mereka. Laila menatap sendu pada Nathan yang sedang tertidur pulas di atas ranjang. Ia kemudian berjalan menuju ranjang bersar yang ditempati Nathan sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala pria itu.


            “Kenapa kau tidak mencari wanita lain? Kenapa kau masih mengharapkanku? Nath, aku bukan wanita yang baik untukmu, aku bukan wanita yang sempurna. Meskipun kita sudah bercerai, tapi aku memang tidak bisa melupakanmu. Ada sesuatu dalam dirimu yang tidak bisa kutemukan pada pria lain. Nath, maafkan aku.”


            Laila mencondongkan tubuhnya dan mencium kening Nathan lama dan lembut. Setetes air mata tanpa sadar jatuh di atas kelopak mata Nathan.

__ADS_1


            Sembari memejamkan mata, Laila berdoa dalam hati agar Nathan segera mendapatkan seorang wanita yang cocok untuknya. Ia tidak mau menjadi bayang-bayang Nathan dan membuat pria itu membuang-buang waktu hanya untuk wanita sepertinya.


            “Cepatlah sembuh, aku sudah menyiapkan obat dan makan siangmu di meja makan.” bisik Laila lembut sebelum ia bangkit dari ranjang dan meninggalkan Nathan sendiri untuk beristirahat.


            Setelah Laila menutup pintu kamarnya, Nathan langsung membuka matanya sambil menatap nyalang pada


langit-langit kamarnya. Sebelah tangannya terangkat untuk mengusap kelopak matanya yang basah karena air mata Laila. Tak menyangka jika sebenarnya Laila juga memiliki perasaan yang sama untuknya, tapi sayangnya wanita itu terlalu naif untuk menerimanya. Sekarang ia merasa yakin jika tindakannya selama ini benar, ia harus segera membawa Laila kembali ke dalam pelukannya sebelum wanita itu semakin bertindak bodoh dengan ambisinya untuk melupakannya.


-00-


            “Hei, apa kau menungguku cukup lama?”


            “Dokter Stanford, oh tidak. Aku baru saja datang. Jadi kau menerima tawaranku untuk makan siang bersama?”


            “Kupikir tidak ada salahnya menerima niatan baik dari seorang dokter tampan sepertimu, jadi sampai kapan kau akan berdiri di sana dokter, Whitbroke?” tanya Laila sambil mengerling nakal pada Charlie. Pria itu terkekeh pelan dan langsung menarik tangan Laila untuk masuk ke dalam mobilnya. 


            “Baiklah, jadi apa yang ingin kau makan hari ini?” tanya Charlie dari balik setir kemudinya. Laila tampak


berpikir sejenak sambil menimbang-nimbang makanan apa yang hari ini ingin ia makan. Sejujurnya ia masih sedikit kenyang karena ia baru saja memasakan makanan untuk Nathan, dan itu berarti ia sudah terlalu banyak mencicipi masakan buatannya.


            “Apa saja, kurasa aku bukan wanita yang suka memilih-milih makanan.” jawab Laila sambil mengendikan bahu ringan. Charlie tersenyum riang sambil menolehkan wajahnya sekilas.


            “Dokter Stanford, apa temanmu sudah benar-benar sembuh? Maksudku kau mengatakan padaku jika beberapa saat yang lalu kau sedang merawat temanmu yang sakit, lalu sedetik kemudian kau berubah pikiran dengan menerima ajakan makan siangku, apa temanmu tidak apa-apa?”


            “Oh.. dia baik-baik saja. Dia hanya terserang demam biasa, aku sudah memberikan obat dan juga memasakannya makan siang, jadi ia akan baik-baik saja.” jawab Laila sedikit kikuk. Charlie mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan hanya tersenyum sekilas pada Laila.          

__ADS_1


            Setelah itu tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Laila lebih memilih untuk melihat kepadatan kota Vegas di siang hari yang panas. Di dalam kepalanya saat ini terus menerus muncul wajah Nathan yang sedang menatapnya dengan tatapan sendu. Tapi ia tidak bisa membiarkan perasaan itu menang. Ia harus melawannya dan mencoba membuka hatinya lagi untuk pria lain, meskipun ia tidak tahu apakah Nathan akan membiarkannya bersama dengan pria lain atau ia akan bersikap seperti biasanya dan mengacaukan kebahagiaannya.


            ‘Kuharap aku bisa segera melupakanmu Nath....’


__ADS_2