Black Swan

Black Swan
Another Story Of Us (One Hundred Fifteen)


__ADS_3

            “Selamat ulang tahun, sayang.” Jessica mencium lembut pipi putih Justice yang sedang terkikik pelan karena Jessica baru saja menggelitik perutnya.


            Sebuah pesta kecil hari ini diadakan Olivia dan Sian di villa baru mereka yang letaknya seratus lima puluh kilometer jauhnya dari pusat kota Vegas. Meskipun sebenarnya ini bukan hari ulang tahun Justice yang sesungguhnya karena gadis kecil itu seharusnya berulang tahun dua bulan yang lalu. Ya, ini memang sedikit terlambat untuk merayakan ulang tahun Justice, tapi Sian dan Olivia tidak memiliki pilihan lain karena di hari ulang tahun Justice yang sesungguhnya, semua orang sedang sibuk. Sian bahkan saat itu sedang melakukan perjalanan bisnis ke Brazil bersama Aciel selama satu minggu.


            “Terimakasih sudah datang, Jess. Maaf karena aku memberitahunya mendadak.” ucap Olivia tidak enak. Jessica sama sekali tidak masalah dengan semua itu. Dengan santai ia mengibaskan tangannya, lalu meletakan hadiah untuk Olivia di atas meja yang telah dipenuhi oleh hadiah dari paman dan bibinya yang lain.


            “Marc senang sekali saat aku mengatakan padanya jika dia diundang ke pesta ulang tahun Justice. Yah... kau tahu sendiri jika anak-anak tidak jauh berbeda dengan orang dewasa, mereka menyukai pesta.”


            “Hai ladies!”


            Suara nyaring itu memisahkan Jessica dan Olivia dari obrolan sesaat mereka tentang anak-anak. Laila, si wanita yang berteriak itu terlihat begitu heboh sambil menggandeng Hyena di tangan kirinya. Sepertinya ia baru datang beberapa saat yang lalu dari perjalanannya yang panjang bersama Nathan.


            “Maaf aku terlambat. Nath memiliki satu operasi pagi ini, jadi kami harus menunggunya selesai melakukan operasi sebelum datang ke sini.”


            “Tidak apa-apa, terimakasih sudah datang. Halo Hyena.” sapa Olivia pada pria berusa tiga tahun yang sedang membawa kado di tangannya. Sekilas pria kecil itu terlihat manis seperti Nathan. Ia dengan malu-malu mengulurkan kado yang dibawanya pada Olivia yang baru saja berjongkok di depannya.


            “Terimakasih Hyena. Anakmu tidak terlihat aktif seperti yang kau katakan.” komentar Olivia sambil mendongak kearah Laila. Namun belum dua detik wanita itu mendongak, tiba-tiba Hyena telah lepas dari genggaman tangan ibunya, dan ia langsung berlari begitu saja kearah Marc yang sedang bermain mobil-mobilan di sudut ruangan.


            “Nah, kau lihat itu?” tanya Laila sambil memutar bola matanya malas. Tunggu saja hingga satu jam ke depan, villa ini pasti akan menjadi tak berbentuk karena ulah usil Hyena.


            “Ngomong-ngomong dimana wanita hamil seksi itu?” Laila terlihat menengok ke kanan dan ke kiri, namun yang ditemukannya justru Jessica yang sedang menatapnya juga dengan pandangan menelisik.


            “Hai.” sapa Laila berusaha ramah. “Kau tidak ingin mengenalkan tamu-tamumu padaku, Olive?”


            Olivia yang sebelumnya sedang mengurusi anaknya yang sedikit merengek, segera beralih pada Laila sambil menepuk keningnya sendiri lucu. “Aku lupa. Jessica, kenalkan ini Laila, temanku sekaligus dokter kandungan Eden. Dan Laila, ini Jessica, sahabat baik Sian dan Aciel.”


            Jessica yang sebelumnya memberikan tatapan menelisik, seketika berubah menjadi lebih manis dengan mengulurkan tangannya kearah Laila. Kesan pertama tentu saja harus bagus, pikir Jessica senang.


            “Senang bertemu denganmu. Ngomong-ngomong apa kau adalah Jessica, pemilik butik di Las Vegas Valley? Salah satu desainer terkanal yang sering menggelar peragaan busana itu?”


            “Tepat sekali. Ternyata kau mengenalku.”


            Dengan gaya hebohnya seperti biasa, Jessica menanggapi ucapan Laila dan tertawa puas karena ternyata dirinya semudah itu untuk dikenali karena prestasinya yang cemerlang. Dan sejak dulu ia selalu menyukai sebuah ketenaran.


            “Tentu saja, siapa yang tidak mengenalmu. Aku bahkan sangat menyukai desain coatmu untuk winter tahun lalu.” balas Laila tak kalah heboh.


            “Permisi, apa kalian sudah melupakanku?”


            “Ya ampun Eden! Kau darimana saja?”

__ADS_1


            Laila langsung memeluk Eden hangat dan mengelus pelan perut buncit Eden yang telah berusia enam bulan.


            “Besar sekali perutmu, Ed.”


            “Hmm... tentu kau tidak lupa dengan kebiasaan Aciel yang gemar menanamkan benih di perutku.” ucap Eden pada Jessica. Keempatnya lalu tertawa bersama, menikmati dunia mereka sendiri sebagai ibu-ibu muda yang merasa bebas karena suami mereka sedang sibuk memanggang daging di taman belakang bersama sang tuan rumah.


            “Lai...” panggil Eden tiba-tiba. Wanita itu dengan senyum cerianya mengerling misterius kearah karpet berbulu di tengah ruangan yang terlihat begitu nyaman untuk diduduki mereka berempat.


            “Ada apa?”


            “Ayo lanjutkan ceritamu.” jawab Eden senang. Ia telah menantikan hari ini cukup lama karena ia sudah tidak sabar untuk mendengar kelanjutan kisah cinta Laila dan Nathan di masa lalu. Baginya cerita itu seperti sebuah sinetron yang meninggalkan tanda tanya besar jika ia belum mendapatkan akhir cerita yang bahagia.


            “Sekarang? Ini bahkan masih terlalu sore untuk sebuah dongeng pengantar tidur, Ed.”


            “Tidak apa-apa. Kurasa saat ini anak-anak masih asik dengan keseruan mereka, jadi mereka tidak akan mengganggu.”


            Laila kemudian menggulirkan matanya ke seluruh penjuru villa milik Olivia yang kini tampak begitu berantakan karena anak-anak mereka sedang asik mengacau dengan imajinasi mereka sendiri. Marc dan Hyena sebentar saja telah menjadi akrab. Sekarang mereka tengah sibuk berlari-lari bersama Louise yang menjadi pria paling kecil diantara mereka bertiga. Lalu Ciara dan Justice, kedua putri itu sedang duduk dengan tenang di dekat Olivia sambil menonton video memasak yang sedang diputar Olivia dari ponselnya. Setelah melihat semua itu, akhirnya Laila menyutujui permintaan Eden untuk melanjutkan cerita kisah cintanya yang belum terselesaikan sejak berbulan-bulan yang lalu.


            “Kalian sedang membicarakan apa sih?” tanya Jessica tidak mengerti. Sejak tadi ia hanya diam memperhatikan Eden yang sedang merengek-rengek pada Laila tanpa tahu apa yang sedang direngekan oleh wanita hamil itu.


            “Kami sedang membicarakan sebuah kisah cinta paling manis dan paling fenomenal di masanya. Sebaiknya kau ikut kami untuk mendengarkan ceritanya karena kau pasti akan suka.” jawab Eden menggebu-gebu. Hal itu sontak saja membuat Olivia terkikik geli pada ekspresi wajah Eden yang begitu jahil. Ia tahu Eden sedang memanipulasi Jessica saat ini.


            “Baiklah, karena kalian begitu menginginkan episode selanjutnya dari kisah cinta yang paling fenomenal itu, maka aku akan melanjutkannya sekarang.” ucap Laila tenang dan memulai ceritanya yang panjang.


            Dua hari kemudian setelah insiden kemarahan yang terjadi di apartemen Laila, Nathan sama sekali tidak pernah datang untuk menemui Laila atau sekedar mengganggu Laila seperti dulu. Kini hidup Laila menjadi sedikit lebih tenang dan ia dapat mulai melupakan kehadiran sang mantan suami yang selama inu selalu mengganggu hidupnya. Tapi tidak bisa dipungkiri, Laila sedikit mengkhawatirkan pria itu. Ia merasa dirinya juga salah karena turut menyalahkan Nathan yang ingin membela harga dirinya dan menyelamatkan kehormatannya. Yah.. jadi sedikit banyak sekarang ia merasa turut andil dalam perceraian mereka dulu.


            “Lai, apa kau baik-baik saja? Kau memintaku untuk bertemu di sini, dan sekarang kau justru melamun seperti mayat hidup, ada apa denganmu?”


            Laila mendongakan wajahnya dan tersenyum kecil pada pria yang saat ini sedang menatapnya dengan prihatin.


            “Lucas, bagaimana kabarmu?” tanya Laila berbasa-basi. Lucas mencibir sikap Laila yang tiba-tiba menyapanya dengan mimik wajah yang ia buat-buat.


            “Ck, wajahmu tidak bisa berbohong, Lai, kau sedang memiliki masalah dengan si bodoh itu bukan?” ucap Lucas mencibir. Laila terkekeh pelan dengan reaksi Lucas yang tepat sasaran. Dua hari ini ia memang merasa bersalah dengan Nathan, namun ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk meredakan perasaan tidak enak itu, sehingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menemui Lucas. Lagipula sejak dulu Lucas adalah satu-satunya sahabat dekat Nathan dan juga satu-satunya pria yang ia percaya untuk mengetahui rahasianya.


            “Hmm, kau memang pria yang sangat peka. Sebenarnya akhir-akhir ini aku jarang melihatnya. Padahal biasanya.... kau tahu sendiri kan bagaimana sikapnya yang berisik dan suka mengacau itu. Tapi entah mengapa dua hari ini ia tiba-tiba menghilang dan tidak pernah memunculkan batang hidungnya. Sebenarnya aku sangat senang karena tidak ada lagi pria gila yang mengacaukan hidupku, hanya saja ini bertepatan dengan pertengkaran kami dua hari yang lalu. Aku takut... ia akan melakukan hal-hal bodoh karena pertengkaran kami kemarin.”


            “Kalian bertengkar? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Sebenarnya aku juga sudah lama tidak melihatnya, hari ini ia juga tidak ke kantor untuk mengurus bisnis kafenya. Memangnya apa yang menyebabkan kalian bertengkar? Kukira setelah kalian resmi bercerai kalian sudah tidak memiliki masalah yang perlu diributkan.”


            “Nathan memiliki kantor?”

__ADS_1


            “Hmm.. kantor untuk mengurus jaringan bisnis kafenya. Kau tidak tahu?”


            Laila menggelengkan kepalanya lemah sebagai jawaban. “Aku tidak pernah berusaha mencari tahu.” jawab Laila pelan.


            “Aku tidak akan menyalahkanmu karena hubungan kalian memang telah berakhir. Tapi ngomong-ngomong,apa kau tidak berusaha mendatangi ruang praktik Nathan untuk mencari pria itu?”


            Laila menghembuskan napasnya pelan sambil memandang Lucas frustrasi. “Tidak. Aku takut.”


            Apa yang terjadi padanya dan juga Nathan dua hari yang lalu menurutnya adalah karena emosi sesaat. Ia pikir Nathan tidak akan memikirkannya dan kembali bersikap gila keesokan harinya, tapi nyatanya pria itu tidak pernah muncul sama sekali setelah pertengkaran mereka. Ia takut Nathan akan salah paham dan semakin berbuat gila. Apalagi sebelum pergi, Nathan sempat berteriak keras di depan pintu kamarnya jika ia akan menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkannya. Dan itu cukup membuatnya terganggu dengan kalimat janji yang penuh kesungguhan itu.


            “Kami membahas mengenai masa lalu, dan saat aku mengeluarkan seluruh kemarahanku mengenai perbuatannya dan juga rencana yang dilakukan oleh ayah angkatku, ia menjadi marah. Ia mengatakan padaku jika semua masalah yang terjadi pada kami adalah kesalahan dari ayah dan ibu angkatku. Sepertinya ia sangat terpukul dengan fakta baru yang selama ini tidak diketahuinya. Dan setelah kupikir-pikir, aku juga salah. Aku membiarkan Nathan berpikir jika ayah dan ibu angkatku adalah orang jahat dengan kesalahpahamannya. Menurutmu apakah tindakanku selama ini salah?” tanya Laila dengan wajah frustrasi.


            Lucas tampak mengamati wajah Laila lekat-lekat sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk wanita yang sedang gundah itu. Dulu sebenarnya ia cukup terkejut dengan sikap Laila yang langsung mengambil langkah perceraian setelah Nathan menghilang cukup lama di luar negeri. Lalu saat Nathan kembali, ia sempat memukul pria itu terkait dengan sikapnya yang tidak bertanggungjawab dan juga pengecut itu. Tapi Nathan tetap saja bersikap dingin padanya dan tidak ingin mengubah keputusanya. Saat itu sebenarnya Nathan juga sangat terpukul dengan berita kegugurannya Laila, padahal sebelum-sebelumnya pria itu sangat bangga menceritakan padanya jika ia akan menjadi seorang ayah. Jadi dapat ia simpulkan jika apa yang mereka lakukan di masa lalu adalah sebuah emosi sesaat yang berujung pada masalah yang pelik ini. Meskipun mereka selama ini terlihat sudah melupakan semuanya, namun kenyataannya mereka masih berkubang di tempat yang sama sambil meratapi nasib mereka yang menyedihkan. Dan perihal sikap Laila yang selama ini mencoba untuk mencari pria lain untuk menggantikan Nathan di sisinya, ia tidak tahu apakah itu murni perasaan cinta atau hanya bagian dari cara Laila untuk mengubur cintanya yang begitu besar pada Nathan? Yang jelas selama ini ia selalu bersyukur karena Nathan selalu berhasil menggagalkan rencana pernikahan Laila, karena jika Laila sampai menikah, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada rumah tangganya. Mungkin rumah tangganya akan berakhir sama dengan rumah tangganya terdahulu karena Laila membangunnya dengan kepalsuan cinta yang sarat akan ambisi untuk segera membuang Nathan dari hati dan juga pikirannya.


            “Jadi begitu. Kupikir Nathan tidak akan marah hingga berlarut-larut seperti ini, itu sama sekali bukan sifatnya. Ini, lebih baik kau datang ke apartemen Nathan dan pastikan sendiri bagaimana keadaan pria itu.” Lucas menyodorkan secarik kertas berisi alamat apartemen Nathan pada Laila. “Mungkin saja saat ini ia sedang sibuk atau semacamnya.”


            Laila tampak ragu untuk mengambilnya hingga akhirnya Lucas sendiri yang menjejalkan kertas itu ke dalam tangannya.


            “Ck, kalian ini memang aneh. Jelas-jelas kalian berdua masih saling mencintai, kenapa kau tak berdamai saja dengan masa lalumu dan biarkan Nathan membuktikan kata-katanya, bukankan hal itu akan jauh lebih baik daripada kalian menghabiskan waktu kalian untuk bertengkar dan berteriak-teriak tidak penting di depan umum. Sebagai sahabat aku cukup malu melihatnya.”


            “Enak saja kau mengatakan hal itu padaku. Kehidupan rumah tangga itu tak semudah yang kau bayangkan. Selain itu aku juga belum yakin dengan sikapnya saat ini. Mungkin saja ia akan mengulangi kesalahan yang sama setelah aku memberikannya kesempatan untuk kembali padaku. Lagipula saat ini aku sedang dekat dengan seorang pria.” ucap Laila malu-malu.


              Lucas melebarkan matanya tak percaya sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. “Lagi? Kukira kau akan menyerah setelah Nathan selalu menggagalkan pernikahanmu. Memangnya pria mana lagi yang saat ini dekat denganmu?”


            “Namanya Charlie Whitbroke, dia adalah dokter baru dari Dallas. Sebenarnya kami belum memiliki hubungan yang terlalu jauh, hanya saja aku merasa nyaman saat berbicara dengannya. Selain itu ia juga sangat lembut pada wanita, dan kemarin malam ia rela menemaniku lembur di rumah sakit hingga pukul satu malam. Luc, menurutmu apakah aku harus memberikan kesempatan pada Charlie?”


            Lucas mengendikan bahunya tak mengerti sambil bersandar pada sandaran kursi dengan wajah acuh. Untuk yang satu ini sepertinya ia tidak mau lagi ikut campur dan ingin membiarkan Laila melakukan sendiri sesuai kata hatinya. “Itu terserah padamu, aku tidak ingin terlibat lagi dalam urusan percintaanmu yang rumit itu. Tapi jika Nathan tahu, mungkin hubunganmu dengan pria itu tidak akan bertahan lama.”


            “Kalau begitu jangan katakan apapun pada Nathan. Kau jangan sekali-kali membantunya untuk melakukan hal-hal gila padaku. Karena kali ini aku ingin hidup tenang dengan keputusanku sendiri.”


            “Sudah kubilang itu terserah padamu. Kali ini aku tidak akan ikut campur dalam masalahmu atau Nathan. Sudah saatnya kalian menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkanku.” ucap Lucas sambil mengangkat kedua tangannya di atas kepala, menandakan bahwa ia tidak akan ikut campur apapun terkait masalah dua manusia aneh itu.


            “Jangan lupa untuk datang ke apartemen Nathan, pastikan jika ia baik-baik saja dan berbaikanlah dengannya. Jika kau memang tidak ingin kembali bersama Nathan, katakan sejujurnya padanya. Jangan biarkan ia terus menerus bersikap gila dengan ambisinya untuk mendapatkanmu. Terkadang aku juga merasa kasihan dengannya yang selalu berpura-pura bersikap baik-baik saja, meskipun aku tahu ia selama ini selalu


menyembunyikan rasa sedihnya. Tapi akan jauh lebih baik jika kalian kembali bersama seperti dulu. Aku sendiri merasa kalian masih saling mencintai satu sama lain, hanya saja kau mungkin terlalu takut dengan kisah pahitmu di masa lalu, jadi kau selalu mengelak perasaanmu sendiri pada Nathan.”


            “Huh, kau seperti seorang pakar cinta. Padahal hingga setua ini kau belum mendapatkan pasangan.” cibir Laila kejam. Lucas mendengus kesal pada Laila, kemudian ia terlihat bersiap-siap untuk pergi.


            “Setelah ini aku pasti akan mendapatkan pasanganku sendiri. Oya, aku harus pergi sekarang, ada banyak pekerjaan yang menungguku di kantor. Sampai jumpa, semoga masalahmu dengan Nathan segera terselesaikan. Ah.. dan jangan sekali-kali melakukan tindakan gegabah dengan menerima perhatian dari pria tidak jelas yang sedang mendekatimu, mereka semua belum tentu lebih baik dari Nathan. Jadi saranku, lebih baik kau kembali pada Nathan." 

__ADS_1


            “Yakk, saranmu itu juga tidak jauh lebih baik dari pria-pria yang mendekatiku. Tapi, aku cukup menghargai saranmu, Luc. Semoga kau segera mendapatkan wanita yang sesuai dengan sifatmu yang aneh ini.” canda Laila sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Lucas. Kedua manusia itu pun saling memeluk satu sama lain sebagai seorang adik dan kakak. Dan setelah itu Lucas benar-benar meninggalkannya sendiri dengan kebimbangan hatinya untuk datang ke apartemen Nathan.


__ADS_2