
Nathan mengusap wajahnya gusar sambil mengamati jarum jam dinding yang sejak tadi teras lambat untuknya. Satu jam yang lalu Laila sudah mendapatkan penanganan dari dokter, dan saat ini Laila sedang menjalankan operasi untuk mengeluarkan janin yang ada di perutnya. Tapi ia tidak tahu bagaimana keadaan Laila sekarang. Apakah Laila merasa sakit, dan apakah Laila akan bertahan dengan banyaknya darah yang dikeluarkan wanita itu sejak tadi?
“Nathan.”
Seketika Nathan langsung bangkit dari tempat duduknya ketika seorang dokter tua keluar dari ruang operasi sambil melepas pelindung kepala dan sarung tangan yang terdapat beberapa bercak darah di atasnya.
“Apa semuanya berjalan lancar, dokter Wilblood?” tanya Nathan dengan raut cemas. Dokter tua yang merupakan dokter senior di rumah sakit itu menepuk bahu Nathan sebentar untuk menguatkan Nathan sebelum ia mulai berbicara.
“Aku sudah mengeluarkan bayi Laila dan saat ini bayinya sedang berada di dalam inkubator, tapi aku belum bisa memastikan kondisi Laila karena kami harus memantau keadaanya selama dua puluh empat jam untuk melihat bagaimana perkembangan Laila setelah aku melakukan tindakan pembedahan. Semoga saja Tuhan memberikan yang terbaik untuk Laila, dan juga putramu yang lucu. Dia terlihat tampan sepertimu.” ucap dokter Wilblood dengan senyuman.
Sepeninggal dokter tua itu, Nathan langsung terduduk di atas kursi tunggu dengan tubuh lemas. Saat ini Laila sedang dalam masa kritis dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya jika Laila tidak berhasil untuk bertahan.
“Arghhhhh!”
Bug!
Nathan memukul tembok yang berada di sebelahnya dengan perasaan kacau dan putus asa. Segerombolan perawat yang keluar dari ruang operasi sambil membawa anaknya sama sekali tak dipedulikan Nathan. Saat ini yang ada di dalam kepalanya hanyalah Laila, Laila, dan Laila! Hanya nama itu yang sejak tadi terus berputar-putar disana tanpa henti hingga membuatnya pening.
“Dokter Nathan, apakah anda ingin melihat bayi anda?”
“Tidak, bawa saja ia ke ruang bayi. Aku akan melihatnya setelah aku merasa lebih baik.” tolak Nathan halus dengan wajah sedih dan frustrasi. Perawat itu menganggukan kepalanya kecil dan langsung berlalu pergi dengan perasaan sedih. Ia merasa prihatin dengan keadaan Nathan dan anaknya yang saat ini terlihat seperti diabaikan oleh orangtuanya. Namun perawat itu cepat-cepat menyingkirkan pikiran negatifnya dari dalam kepalanya karena ia tahu bagaimana terpukulnya Nathan ketika mengetahui jika kondisi Laila sedang dalam keadaan kritis.
“Kita pernah berada di kondisi yang sama.” komentar Eden disela-sela cerita Laila. Wanita yang suka menyela, namun tidak suka jika orang lain menyela itu mendapatkan tatapan tajam dari Laila yang baru akan melanjutkan ceritanya lagi.
“Sepertinya dia tidak suka kau menyela ceritanya.” komentar Olivia geli saat melihat raut kesal yang tercetak di wajah lelah Laila. Maklum saja wanita itu merasa lelah, anaknya yang sangat aktif itu telah mengacaukan seisi villa dengan sikapnya yang sangat bar-bar. Bahkan setelah makan malam usai, ia kembali membuat ulah dengan menjahili Justice hingga gadis kecil itu menangis karena botol susunya direbut paksa oleh Hyena.
“Maaf, kau bisa lanjutkan ceritamu lagi.” ucap Eden meringis kecil. Dielusnya perut buncitnya beberapa kali untuk menyembunyikan kegugupannya. Aciel yang melihat itu segera menghampiri Eden dan membawa kepala wanita itu agar bersandar ke pundaknya.
“Aku tahu kau mulai lelah.” bisik Aciel penuh pengertian.
“Ehem... sepertinya lain kali kami harus mendengarkan dongeng kisah cinta versimu, Ed.”
Eden menatap Laila dengan dahi mengernyit, lalu ia segera menggelengkan kepalanya keras sambil menggerak-gerakan telunjuknya ke kanan dan ke kiri. “Semua orang di sini bahkan sudah menjadi saksi hidup bagaimana rumitnya kisahku dan Aciel, jadi aku tidak perlu bercerita lagi sepertimu.” balas Eden penuh kemenangan. “Sudah, lanjutkan saja ceritamu. Kali ini aku tidak akan menyela lagi.” ucap Eden penuh janji.
Nathan mengelus pelan pipi chubby putra kecilnya yang saat ini sedang meminun susu dengan rakus di dalam box bayinya. Kini kondisi putranya sudah jauh lebih baik dan tidak perlu lagi berada di dalam inkubator. Namun sayangnya kondisi Laila masih tetap sama. Sejak sepuluh hari yang lalu Laila masih terbaring kaku di atas ranjangnya dengan wajah pucat yang sangat menyedihkan. Beberapa kali Lucas juga datang untuk menghibur Nathan dan menguatkan Nathan agar pria itu tidak putus asa dengan kondisi Laila yang tidak terprediksi itu.
“Sayang, kapan kau akan membuka mata dan bertemu dengan putra kita yang tampan? Kami merindukanmu.” bisik Nathan parau sambil menggendong Hyena di dalam dekapannya. Hyena menggeliat pelan di dalam dekapan ayahnya sambil menguap lebar setelah menghabiskan sebotol susunya. Nathan pun memutuskan untuk meletakan Hyena ke dalam box bayinya lagi karena putra kecilnya itu sepertinya akan tertidur kembali.
“Laila, kapan kau akan membuka matamu. Aku benar-benar merasa frustrasi dan selalu was-was setiap memikirkan keadaanmu di rumah sakit. Aku takut kau akan meninggalkanku dan Hyena.”
__ADS_1
Nathan mengelus tangan pucat Laila dan menciumnya lembut penuh perasaan. Selama sepuluh hari ini ia selalu menghabiskan hari-harinya untuk menangisi keadaan Laila dan mendoakan Laila untuk kesembuhan wanita itu. Tapi entah mengapa ia merasa Tuhan terlalu lama untuk mengabulkan doanya. Padahal ia sudah menghabiskan hari-harinya hanya untuk memanjatkan doa agar Laila segera sembuh dan sadar.
“Lai, hari ini ak..ku menemukan ini di dalam saku celanaku. Terlalu lama memikirkan keadaanmu membuatku lupa.. jika aku sudah menyiapkan ini untukmu sejak lama. Laila, aku tahu jika aku bukan pria yang baik untukmu. Aku brengsek, aku jahat, dan aku ***** karena dulu aku pernah menyia-nyiakanmu sebagai istriku. Tapi sekarang aku tidak bisa menunggu lagi lebih lama, aku ingin kau memakai cincin ini dan menikah denganku. Akkkku bersungguh-sungguh dengan... ucapanku untuk membahagiakanmu dan menebus semua kesalahanku padamu. Aku ingin memperbaiki semuanya Lai, aku ingin memulainya dari awal. Laila... cepatlah bangun dan menikah denganku. Meskipun kau sudah menolak lamaranku berkali-kali, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja.
Bagiku penolakanmu adalah sumber semangat untukku. Dan aku sangat berterimakasih dengan kebaikan hatimu yang membiarkanku berperan sebagai seorang calon ayah yang baik selama kau hamil, meskipun aku ternyata tidak bisa melakukannya dengan baik. Aku lagi-lagi justru menyeretmu ke dalam sebuah penderitaan tak berujung dan menyakitkan seperti ini. Maafkan aku karena saat itu aku mengabaikan permintaanmu untuk mengabaikan Charlie, dan maafkan aku karena aku selalu menorehkan luka yang begitu dalam di hatimu.” ucap Nathan dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Pria itu mengecup punggung tangan Laila sekali lagi dan menyelipkan sebuah cincin berlian kecil pada jari manis Laila yang kurus.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttt
Bunyi kardiograf yang nyaring membuat Nathan mendongak panik sambil menatap layar monitor itu tak percaya.
“Tidak tidak tidak! Kau tidak boleh pergi Laila! Atau aku akan membencimu seumur hidup karena telah meninggalkanku dan anak kita!” racau Nathan pada dirinya sendiri seperti orang kesetanan. Nathan hendak keluar untuk meminta perawat membantunya memasang alat kejut jantung, namun tiba-tiba langkah kakinya terhenti ketika ia merasakan pergelangan tangannya dicekal oleh seseorang.
“Nathan, jangan pergi.”
Suara lembut yang sangat dirindukannya itu membuat Nathan tidak mampu bergerak kemanapun dan hanya terpaku di tempat tanpa berani membalikan tubuhnya. Ia takut jika suara itu hanya bagian dari ilusinya saja yang menyesatkan.
“Nathan, apa kau tidak merindukanku?”
“La Laila...” gumam Nathan pelan. Seketika Nathan langsung berbalik dan memeluk Laila erat ketika ia melihat Laila yang sedang tersenyum padanya dengan nyata.
“Laila.. kkau... kkau baik-baik saja?” tanya Nathan terbata-bata. Laila menganggukan kepalanya dan merentangkan tangannya untuk memeluk Nathan.
Duarr!!
“Selamat Nath, kau telah berhasil membuktikan pada Laila jika kau pria yang pantas untuk mendampinginya hingga akhir.”
“Kalian? Aku tidak mengerti.” ucap Nathan seperti orang bodoh. Laila dan Lucas saling tertawa satu sama lain dengan ekspresi wajah jahil yang sangat menyebalkan.
“Sebenarnya Laila selama ini tidak koma, setelah operasinya selesai, Laila langsung sadar satu jam kemudian. Tapi saat itu kau sedang keluar untuk membeli kopi. Lalu kami memiliki ide untuk mengujimu.” terang Lucas santai dan tanpa dosa. Sementara itu Nathan tampak seperti orang linglung yang bodoh. Ia merasa sudah ditipu mentah-mentah oleh sahabatnya dan juga wanita yang sangat dicintainya.
“Jadi... selama ini aku hanya korban penipuan atas ulah jahil kalian?” tanya Nathan tak percaya dengan suaranya yang meningkat beberapa oktaf. Laila pun segera memperingatkan Nathan untuk mengecilkan suaranya karena saat ini Hyena sedang tidur.
“Nathan! Kecilkan suaramu.”
“Lai... jadi selama ini kau menipuku? Hebat! Kalian benar-benar pemain drama yang hebat.”
Nathan tampak tak menghiraukan peringatan Laila dan terlihat akan meledak karena ia merasa begitu kesal dengan sandiwara palsu yang dimainkan oleh Laila dan Lucas. Padahal selama sepuluh hari terakhir ini ia selalu menangisi kondisi Laila dan mengkhawatirkan keselamatan Laila karena wanita itu tak kunjung sadar dari komanya. Tapi ia dapat sekarang justru fakta menjengkelkan jika sekarang ia telah ditipu oleh dua makhluk sialan itu.
“Nath, ini semua ideku. Aku yang meminta Lucas melakukannya karena aku ingin mengetahui kesungguhanmu.”
__ADS_1
“Apa perhatianku selama ini kurang menunjukan kesungguhanku padamu? Bahkan berkali-kali aku rela mempermalukan harga diriku hanya untuk menggagalkan pernikahanmu. Apa semua itu tidak cukup untuk membuktikan kesungguhanku?” tanya Nathan marah. Laila menghembuskan napasnya pelan dan berusaha untuk merangkai kata-kata agar Nathan tidak semakin marah padanya, karena apa yang ia lakukan memang benar-benar sudah keterlaluan. Tak seharusnya ia menggunakan lelucon kematian untuk membuktikan kesungguhan Nathan apakah pria itu benar benar mencintainya atau tidak.
“Nathan, sekali lagi aku minta maaf jika ini semua memang keterlaluan, tapi aku hanya ingin melihat kesungguhan hatimu lebih jelas. Selama aku berpura-pura koma aku melihat dirimu yang sesungguhnya. Dan sekarang aku benar-benar yakin jika kau bukan Nathan yang dulu, yang selalu sibuk bekerja siang dan malam hanya untuk membuktikan pada ayah dan ibu angkatku jika kau adalah pria yang pantas untuk bersanding denganku. Nathan, aku bersedia menjadi istrimu kembali.” Akhir Laila dengan senyuman manis di wajahnya.
Grep
Nathan langsung memeluk Laila erat dengan wajah ceria dan penuh kelegaan. Akhirnya penantiannya selama ini terbayar sudah. Akhirnya kebahagiaan yang dijanjikan oleh Tuhan terpampang nyata di depan matanya.
“Segera setelah kau sembuh, kita akan menikah.”
“Hmm, aku sudah tidak sabar untuk mengenakan gaun yang indah dan mahal.” ucap Laila jahil sambil mengerling nakal pada Nathan. Pria itu perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke arah Laila untuk mencium bibir merah muda yang selama ini selalu tertutup rapat dalam kesunyian.
Bugh
Tiba-tiba sebuah bantal sofa melayang tinggi dan mendarat tepat di atas kepala Nathan.
“Lucas!!” teriak Nathan kesal disertai dengan suara tawa yang menggelegar dari bibir Laila.
“Kalian belum boleh melakukannya sekarang.” ucap Lucas keras dan segera berlari pergi menghindari kejaran Nathan yang akan memukul wajahnya.
Setelah Lucas benar-benar pergi, Nathan langsung berjalan cepat ke arah Laila dan tanpa aba-aba pria itu langsung meraup bibir Laila dengan rakus.
“Setelah kita menikah, jangan harap kau akan lolos dari hukumanku.” seringai Nathan licik ditengah-tengah ciuman mereka yang membuat Laila bergidik ngeri.
Prok prok prok
“Hoaamm... aku suka akhir ceritanya.” Eden berseru pelan dengan suara serak karena kantuk yang telah menguasainya. Wanita itu berkali-kali mengusap matanya yang berair akibat kantuk yang telah menguasainya. Bahkan kedua teman squadnya, Jessica dan Olivia, sudah tertidur dengan damai di atas pundak suami mereka masing-masing.
“Ayo tidur. Bangunkan mereka.” ucap Aciel memberikan kode pada Sian dan Kriss. “Dan kau ibu hamil, bisakah kau berdiri?” tanya Aciel saat merasakan Eden yang tak kunjung berdiri dari duduknya.
“Kakiku kesemutan.” rengek Eden manja. Laila yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas, dan ia selanjutnya memilih untuk masuk terlebihdahulu ke dalam rumah karena ia hendak mengambil air untuk membasahi kerongkongannya yang super kering sehabis bercerita.
“Nath, aku suka sikap heroikmu saat itu. Kau manis.” puji Eden sebelum Nathan berjalan masuk mengikuti istrinya. Pria itu kemudian tersenyum kikuk, mengusap tengkuknya yang tidak gatal, lalu memberikan kode pada Eden untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
“Apa ia baru saja merasa malu di depanku?” kekeh Eden geli. “Ace, gendong aku! Sungguh aku tidak bisa berjalan.”
“Ck, menyusahkan.”
Tapi pada akhirnya Aciel tetap menggendong istrinya juga ke kamar mereka, meskipun pria itu tak henti-hentinya menggerutu karena Eden semakin berat.
__ADS_1
“Diam Ace! Aku seperti ini juga karena membawa anak-anakmu.” balas Eden sengit d