
“Eden.”
“Ya, ada apa?” tanya Eden pada Andrew. Setelah sejak tadi ia terus memalingkan wajahnya ke arah jendela, kini ia dengan berat hati harus berhadapan lagi dengan Andrew karena pria itu baru saja memanggilnya. Ia tidak mungkin berbicara dengan wajah yang dipalingkan seperti itu. Walaupun ia merasa sangat kesal dengan Andrew, namun tidak sepantasnya ia melakukan hal itu. Ia tetap harus menghormati Andrew seperti dulu, saat Andrew menjadi seniornya di universitas.
“Aku sungguh minta maaf karena telah menyita banyak waktumu yang seharusnya kau gunakan untuk mengurus anak dan juga suamimu. Aku benar-benar merasa tidak enak hati padamu.” ucap Andrew terdengar sangat menyesal, walaupun sebenarnya ia cukup merasa senang karena dapat pergi bersama dengan Eden tanpa adanya gangguan dari Aciel. Ah, pria itu dari dulu hingga sekarang memang selalu mengganggu kehidupan percintaan Andrew. Bahkan Andrew masih mengingatnya dengan jelas, perbuatan Aciel di masa lalu yang sangat menyebalkan dan cukup membuat harga dirinya jatuh di hadapan Eden.
Flashback
Pagi itu, musim salju pertama di kota Vegas. Ini adalah momen langka di Las Vegas, dimana salju biasanya hanya turun ketika suhu ekstrim sedang melanda wilayah Amerika. Banyak anak muda yang terlihat antusias dengan kejadian langkah ini hingga membuat kebanyakan orang memilih untuk bermain-main bersama pasangan mereka di tanah bersalju yang jarang terjadi di Vegas. Eden terlihat berdiri dengan gusar di halaman luas universitas tempat ia menimba ilmu. Pasalnya ia tidak membawa payung dan tidak membawa mantel. Jika ia nekat pulang dan mencari halte bus terdekat yang berjarak sekitar tiga blok dari kampusnya, ia pasti akan tetap basah kuyup karena salju yang turun hari itu cukup deras.
“Ah, seharusnya universitas tidak menetapkan hari ini menjadi hari terakhir masuk sebelum liburan musim dingin.” gerutu Eden sebal sambil menendang beberapa kerikil yang ada di dekat kakinya. Padahal seharusnya hari ini ia tidak perlu pergi ke kampus karena kemarin ia telah mengumpulkan tugas mata kuliah manajemen bisnisnya. Tapi, karena Summer menghubunginya dan meminta bantuannya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya, akhirnya Eden terpaksa datang ke kampus untuk menemui Summer. Namun sialnya wanita yang menyuruhnya untuk datang justru tidak dapat masuk hari ini karena sedang terserang demam. Eden kemudian hanya dapat menggerutu sebal pada sahabatnya itu tanpa mampu melakukan apapun. Lagipula Summer memang tidak sengaja melakukannya. Dan ia tidak boleh terlalu menyalahkan Summer atas kesialannya pagi ini.
“Hai, kau tidak pulang?”
Seorang pria asing tiba-tiba datang dan menyapa Eden. Eden pun dengan malas mendongakan wajahnya untuk melihat siapa pria asing yang telah menyapanya. Namun sedetik kemudian Eden merubah mimik wajahnya yang awalnya kesal menjadi tersenyum hangat dan manis. Eden juga terlihat tidak segan untuk membalas sapaan pria asing itu.
“Hai. Kenapa senior ada di sini?” tanya Eden ramah pada Andrew. Pria itu terlihat tersenyum ke arah Eden dan menunjukan setumpuk kertas-kertas yang sejak tadi berada di dalam dekapannya.
“Aku sedang mengumpulkan tugas-tugas temanku, dan setelah ini aku harus mengantarkannya ke rumah dosen Wilder.” terang Andrew pada Eden. Wanita itu terlihat ber-oh ria sebagai tanda bahwa ia sangat paham dengan maksud kedatangan Andrew ke kampus.
“Lalu, apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku ke sini untuk membantu Summer mengerjakan tugas-tugas dari dosen kami. Tapi ia justru membatalkan janjinya karena sakit. Dan sekarang aku tidak membawa payung ataupun mantel yang cukup tebal untuk menghalau salju-salju ini agar mereka tidak membasahi sekujur tubuhku.” cerita Eden dengan wajah kesal.
“Summer? Ah, ia memang sedang demam sekarang. Pagi tadi suhu tubuhnya sangat panas dan ia memintaku untuk mengumpulkan tugas kuliahnya pada professor Smith.”
Sekarang Eden merasa bodoh pada dirinya sendiri. Untuk apa ia datang ke kampus dan berniat membantu Summer untuk mengerjakan tugas jika wanita itu memiliki seorang kakak yang pintar seperti Andrew. Eden tanpa sadar telah mendengus di depan Andrew. “Ya, dia juga sudah mengatakan hal itu padaku. Dan sekarang aku
harus sedikit bersabar untuk menunggu hujan salju ini reda. Setidaknya hingga angin ini tidak bertiup cukup kencang seperti sekarang.” ucap Eden sambil mengulurkan tangannya ke depan. Butiran-butiran salju itu langsung turun dan mengumpul di atas telapak tangannya, menciptakan sensasi dingin tersendiri dan juga sensasi menenangkan yang tiba-tiba melingkupi hatinya. Eden memejamkan matanya sejenak untuk merasakan sensasi itu sambil menikmati udara dingin yang semakin lama semakin menusuk hingga ke dalam tulang-tulangnya. Andrew begitu terpana dengan kecantikan alami yang dipancarkan oleh Eden. Selama ia hidup dan tumbuh dewasa seperti ini, ia belum pernah merasakan perasaan aneh yang selalu ia rasakan ketika ia berada di dekat Eden. Berada di dekat Eden, membuatnya merasa aliran darahnya akan mengalir dengan cepat dan membuat suhu tubuhnya meningkat. Eden Morel memang wanita yang luar biasa bagi seorang Andrew Osborn.
“Eden.” panggil Andrew mengalihkan perhatian Eden dari kegiatannya yang sedang menikmati dinginnya butiran salju di telapak tangannya. Wanita itu cepat-cepat menoleh ke arah Andrew dan membuang tumpukan salju itu secara asal di depannya.
“Ya, ada apa?”
“Kenapa kau tidak membawa mobilmu hari ini?”
“Aku malas. Hari ini aku sedikit bertengkar dengan ayahku.” jawab Eden getir.
“Apa kau ingin pulang bersamaku? Kebetulan mobilku tidak terparkir terlalu jauh dari sini. Jadi kita bisa berjalan bersama-sama ke sana dan aku akan mengantarkanmu pulang ke rumah, bagaimana?” tawar Andrew terlihat bersungguh-sungguh. Eden tampak memikirkan sebentar tawaran Andrew yang sangat menggiurkan itu. Jika ia menerima tawaran itu, ia tidak perlu merasa kedinginan dan bajunya tidak akan basah. Lagipula ia bisa menghangatkan tubuhnya menggunakan pemanas ruangan yang berada di dalam mobil milik Andrew. Sepertinya Eden benar-benar akan menerima tawaran itu. Namun sebelum ia menganggukan kepalanya dan menjawab ya, sebuah mobil bugatti berwarna merah tiba-tiba berhenti di depan Eden dan pengemudi mobil itu langsung membukakan pintu mobilnya untuk Eden. Pria yang berada di depan kursi kemudi itu tampak menatap Eden dengan galak dan menyuruh Eden untuk segera masuk ke dalam mobil.
“Aciel? Untuk apa kau berada di sini?” tanya Eden tidak mengerti dan juga kesal. Lagi-lagi pria itu datang dan membuat suasana hatinya menjadi mendung.
“Seharusnya aku yang bertanya padamu, untuk apa kau berada di sini? Baru saja aku melihat Summer dan Tiffany sedang meminum coklat panas bersama di kafe di depan kampus. Kau tidak bergabung dengan mereka?” tanya Aciel dengan wajah datar. Namun tanpa diketahui oleh Eden, Aciel sedang menyunggingkan seringaian liciknya pada Andrew.
“Summer dan Tiffany? Bukankah Summer sedang sakit? Benarkan senior?” tanya Eden memastikan pada Andrew. Pria itu terlihat sedikit gugup untuk menjawab pertanyaan dari Eden karena sebenarnya adiknya hari ini tidak sedang sakit. Summer hanya berpura-pura sakit agar kakaknya dapat mendekati Eden dan mengajak Eden untuk pergi berkencan. Namun sepertinya rencana itu tidak akan pernah terwujud karena tiba-tiba Aciel datang dan mengacaukan semua rencanannya. Ya, Aciel memang sangat menyebalkan bukan? Bagi Andrew Osborn.
“I iya. Tadi pagi Summer mengeluh padaku jika tubuhnya terasa meriang dan ia sangat pusing. Mungkin ia merasa sudah lebih baik dan sekarang ia sedang meminum coklat panas bersama Tiffany.” ucap Andrew terbata-bata karena ia sama sekali tidak terbiasa untuk berbohong. Apalagi di hadapan wanita yang ia cintai.
“Oh, benarkah? Tapi, ia terlihat sangat sehat.” komentar Aciel dengan mimik wajahnya yang sangat menyebalkan.
“Ya, mungkin saja Summer memang sudah merasa lebih baik. Aku turut senang jika Summer sudah sembuh sekarang.” ucap Eden tulus pada Andrew sambil tersenyum pada pria itu. Rasanya Andrew akan melayang sekarang juga karena ia begitu bahagia mendapatkan senyuman dari Eden di awal musim salju seperti saat ini. Ah, benar-benar sangat membahagiakan. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena Aciel kembali memaksa Eden untuk masuk ke dalam mobilnya dan berusaha untuk menjauhkan Eden dari Andrew. Padahal sejak tadi Andrew sudah berusaha mati-matian untuk mengajak Eden pulang bersama, tapi justru Aciel yang berhasil menyeret Eden untuk pulang bersamanya. Benar-benar hari yang sial untuk Andrew.
“Masuk sekarang Ed, aku masih memiliki banyak urusan.”
“Senior, sepertinya aku harus pulang sekarang. Terimakasih karena telah menemaniku di sini sejak tadi. Sampai jumpa.”
__ADS_1
Eden memasuki mobil milik Aciel dengan anggun dan setelah itu ia melambaikan tangannya ke arah Andrew. Namun sedetik kemudian Aciel langsung menutup kaca jendela milik Eden dengan tombol otomatis yang berada di sebelah kursi kemudinya dengan alasan jika cuaca di luar sangat dingin. Andrew bersungut-sungut marah setelah mobil sport merah itu berjalan pergi meninggalkannya dan hanya menyisakan asap tipis yang membuat matanya perih. Benar-benar Aciel sangat kurang ajar padanya. Ia bersumpah akan membalas perbuatan menyebalkan Aciel itu suatu saat nanti. Namun hingga sekarang, hingga Aciel menikah dengan Eden dan memiliki dua orang anak, Andrew sama sekali tidak dapat membalas perbuatan Aciel yang sangat menyebalkan itu. Bahkan ia tidak mampu menyaingi pesona yang dimiliki oleh Aciel dan membuat Eden jatuh hati padanya. Hmm, mereka berdua memang tidak pernah ditakdirkan untuk berjodoh, bukan?
Flashback end
“Terimakasih telah mengantarkanku pulang.” ucap Eden pada Andrew sambil melepas sabuk pengamannya. Eden tersenyum tulus pada Andrew dan bersiap untuk membuka pintu mobil miliknya. Tapi Andrew dengan cepat menahan lengannya dan membuat Eden harus kembali menoleh ke arah pria itu.
“Ada apa?” tanya Eden bingung. Demi Tuhan, ia benar-benar tidak menyukai saat-saat seperti ini, terlalu beresiko dan aneh. Di detik ini Eden merasa menyesal karena ia tidak pernah mendengarkan kata-kata Aciel sebelumnya. Ia memang tidak seharusnya di sini karena semuanya hanya masa lalu. Semua teman-temannya, mereka adalah masa lalunya yang tidak perlu Eden ingat lagi. Cukup tahu saja, dan ia tidak perlu melangkah terlalu jauh seperti ini. Jika Andrew menganggap semua ini berlebihan, maka memang dirinyalah yang salah karena telah melanggar semua aturan yang ditetapkan oleh Aciel.
“Kau takut pada Aciel.”
“Takut? Kenapa?” tanya Eden tak mengerti. Pembicaraan mereka semakin lama semakin menyinggung satu sama lain, dan Eden merasa ini sudah terlalu jauh.
“Sejak dulu kau takut pada Aciel, tapi kau selalu menutupinya dengan sikap angkuhmu.”
“Yah.. mungkin. Tidak salah kau mengatakan hal itu karena memang sejak awal Aciel telah mengendalikanku. Jadi pantas saja jika aku takut padanya. Lepaskan tanganku, karena aku harus masuk sekarang.”
“Ed..” Andrew lagi-lagi menghentikan langkah Eden yang hampir saja melangkah keluar dari mobil pria itu. Tanpa bebalik, Eden berhenti untuk mendengarkan kata-kata berikutnya yang akan Andrew katakan padanya. “Aku sungguh minta maaf karena telah menyita waktumu hari ini.”
“Tidak masalah. Sampai jumpa. Semoga harimu menyenangkan.” ucap Eden dingin dan segera masuk ke dalam rumah dengan terlebih dulu membanting pintu mobil Andrew keras-keras.
“Kau tidak bisa bersikap seperti itu padaku, Ed.” batin Andrew sambil menyeringai ke arah Eden. Namun wanita itu sudah terlanjur keluar dari dalam mobilnya dan menutup pintu mobil itu dengan sekali hentakan keras. Andrew kemudian menolehkan kepalanya ke kanan, ke kursi yang sebelumnya diduduki oleh Eden. Sebuah senyum sinis kemudian muncul di wajahnya. Wanita itu tanpa sadar telah meninggalkan tas tangannya di mobilnya karena terlalu terburu-buru untuk kembali pada pria sialan itu.
“Huh, kita lihat apa yang akan terjadi setelah kau mendapatkan kejutan kecil dariku, Aciel Lutherford.”
-00-
Aciel menggandeng tangan Ciara sambil menggendong Louise untuk masuk ke dalam mobil. Setelah insiden yang memusingkan di festival, Aciel tak langsung membawa Ciara pulang karena gadis itu mulai merengek untuk membeli es krim. Akhirnya Aciel harus berputar-putar mengelilingi kota hanya untuk mendapatkan satu cup es krim untuk Ciara. Dan Aciel merasa benar benar lelah sekarang. Ia hanya ingin segera merebahkan tubuhnya di atas empuknya ranjang king size miliknya. Terbayang di benak Aciel ketika ia pulang nanti, istrinya itu sedang menyambut kedatangan mereka di depan pintu dengan senyum manisnya, yang biasa ia tunjukan padanya. Hmm, pasti akan sangat menyenangkan sekali. Lalu ia juga akan disambut dengan aroma masakan Eden yang sangat menggoda itu. Huh, membayangkannya saja mampu membuat air liurnya menetes karena lapar. Tadi ia belum sempat makan siang dan hanya memakan roti panggang untuk sarapan. Sekarang ia mulai merasa perutnya sedang melilit-lilit karena lapar.
“Daddy, kenapa daddy lama?” tanya Ciara memprotes di sebelah Aciel. Setelah mendapatkan es krimnya, Ciara menjadi lebih menyebalkan dan seolah-olah lupa dengan tangisnya yang berisik beberapa menit yang lalu. Pria itu kini sedang memakaikan Ciara sabuk pengaman dan membenarkan letak duduk Ciara di kursi khususnya. Mendengar sang putri sedang bertanya padanya, Aciel buru-buru mendongakkan kepalanya dan mengecup pipi putrinya sekilas. Ciara memang selalu membuat Aciel gemas ketika sedang memandang wajahnya yang sangat mirip dengan Eden.
“Hmm, tapi Ciara ingin es krim.” ucap Ciara merasa bersalah pada ayahnya. Aciel lalu mengacak rambut Ciara sekilas dan segera menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah. Ia benar-benar sudah merindukan rumah dan Eden, begitu pula dengan kedua anaknya. Mereka pasti sangat merindukan Eden, mengingat mereka berdua belum pernah pergi jauh tanpa Eden.
“Daddy, Ciara merindukan mommy. Apa mommy sudah pulang?”
“Daddy juga tidak tahu. Semoga saja mommymu sudah pulang. Ini sudah pukul lima sore, pasti mommymu sudah pulang dan sekarang sedang menunggumu dan Louise di rumah.” jawab Aciel sambil berkonsentrasi pada kemudinya. Di depan sana, jalanan tampak sangat ramai dan padat. Ia harus selalu berhati-hati ketika menginjak pedal gas, karena ia tidak ingin Ciara terlalu terdorong ke depan ketika ia harus mengerem secara mendadak.
“Jadi mommy hanya merindukan Ciara dan Louise? Mommy tidak merindukan daddy?” tanya Ciara dengan wajah polos. Rasanya Aciel ingin menggigit pipi chubby itu sekarang juga, karena ia terlalu gemas dengan tingkah polos Ciara yang sangat lucu itu.
“Tentu saja mommy sangat merindukan daddy. Mommymu itu sama sekali tida bisa hidup tanpa daddy. Mommymu itu sangat mencintai daddy.” terang Aciel dengan percaya diri. Tapi, sepertinya hal itu memang benar dan tidak perlu diragukan lagi. Aciel kembali menfokuskan dirinya pada jalan raya. Dilihatnya Ciara sedang asyik bermain dengan boneka barbienya. Sesekali Ciara juga berbicara sendiri pada boneka barbie itu, seakan-akan bonekanya itu dapat mengetahui semua hal yang ia bicarakan. Tak terasa mobil hitam yang dikendarainya telah memasuki kawasan Piper Point, dimana rumah peristirahatan miliknya berada. Dari kejauhan Aciel bisa melihat rumah bercat putih miliknya yang terlihat paling menonjol diantara rumah-rumah yang lain. Dan hal itu membuat Aciel semakin bersemangat untuk memacukan mobilnya lebih kencang agar mereka bertiga dapat segera beristirahat di rumah.
“Daddy, bukankah itu mommy?” tanya Ciara sambil menunjuk Eden yang sedang berada di dalam sebuah mobil yang terparkir di depan rumah miliknya. Aciel hanya mengamati mobil itu secara sekilas dan ia lebih memilih untuk fokus menyetir dan memarkirkan mobilnya masuk ke dalam garasi seteah Mike membukakan pintu
rumahnya lebar-lebar. Ia sendiri cukup sadar, dengan siapa Eden sekarang. Namun ia sedang tidak dalam mood yang bagus untuk menjawabnya.
“Daddy, apa itu teman mommy?” tanya Ciara lagi.
“Bukan, itu bukan teman mommymu. Sudahlah, jangan bertanya lagi. Daddy lelah menjawab semua pertanyaanmu.” ucap Aciel kesal dan terdengar marah. Ciara menatap cemberut pada Aciel karena pria itu baru saja memarahinya. Padahal ia sama sekali tidak berniat untuk mengganggu daddynya.
“Mommy.”
Tiba-tiba Ciara berteriak heboh ketika Eden menghampiri mobil mereka dan langsung membukakan pintu mobil itu untuk Ciara. Gadis kecil itu terlihat sangat merindukan ibunya. Ketika Eden sudah selesai membuka sabuk pengaman yang melilit tubuh kecil Ciara, gadis cantik itu segera melompat ke dalam pelukan Eden dan mendekap Eden dengan sangat erat, seakan-akan Eden sudah pergi selama belasan tahun. Padahal, Eden hanya pergi selama beberapa jam saja.
“Ahh, anak mommy yang cantik. Bagaimana pengalaman bersama daddy hari ini? Ciara nakal?” tanya Eden sambil mengelus rambut panjang Ciara yang berantakan dan juga kusut. Ciara menggelengkan kepalanya pada Eden dan mengatakan pada mommynya, jika ia hari ini telah menjadi gadis yang baik untuk daddynya.
“Ciara tidak nakal. Bahkan, Ciara juga membantu daddy untuk menjaga Louise selama daddy pergi membeli es krim untuk Ciara.”
__ADS_1
Eden kemudian menoleh ke arah suaminya yang sejak tadi hanya diam di atas kursi kemudi. Sepertinya ia sedang ngambek pada Eden.
“Kau darimana saja, Ace? Kenapa membawa Louise seperti itu?” tanya Eden penasaran.
“Hari ini aku pergi ke festival untuk mengajak mereka bersenang-senang. Ciara terlalu bosan berada di rumah, dan ibunya sibuk bersenang-senang dengan teman-temannya tanpa memikirkan keluarganya” sindir Aciel dengan nada tajam. Eden menghembuskan napasnya kasar sambil berjalan pelan menuju kursi penumpang untuk mengambil tas perlengkapan milik Ciara dan Louise. Jika sekarang ia menjawab pertanyaan suaminya dan terpancing emosi, maka mereka akan bertengkar lagi. Lebih baik ia diam dan bersikap biasa, seperti tidak pernah terjadi apapun. Nanti, setelah suaminya merasa lebih baik, ia akan berbicara secara perlahan dan menjelaskan
semuanya pada sang suami tercinta.
“Lebih baik kau segera masuk dan meletakan Louise di kamar. Setelah ini aku akan memandikannya dan memberikannya ASI.” ucap Eden pada Aciel sebelum ia berjalan masuk dengan Ciara sambil menenteng tas perlengkapan milik kedua anaknya. Wanita itu benar-benar terlihat tenang, seakan-akan mereka berdua sedang baik-baik saja. Padahal sebenarnya diantara keduanya sedang terjadi perang dingin yang tak kasat mata. Hmm, benar-benar keluarga yang unik.
“Tadi kau pulang bersama siapa?” Aciel menghentikan langkahnya di depan pintu utama rumahnya ketika Eden juga sedang berjalan di belakangnya dengan seluruh barang-barang milik anaknya. Seketika wanita itu berhenti, menatap Aciel ragu untuk sesaat, namun ia berhasil menguasai dirinya lagi hingga ia dapat memasang wajah tenang di hadapan Aciel.
“Tentu saja Summer, memangnya siapa lagi? Dia tidak mungkin tidak bertanggungjawab dengan tidak membawaku pulang ke rumah ini.”
“Begitukah? Lalu kenapa tasmu bisa berada bersama Andrew?”
“Eden...”
Bersamaan dengan itu, Eden mendengar suara Andrew yang sedang memanggilnya dari belakang. Sambil membawa tas hitamnya, pria itu berjalan mendekat kearah Eden tanpa menghiraukan keberadaan Aciel yang terlihat sangat berbahaya saat ini.
“Tasmu tertinggal di mobilku.”
“Oo oh, terimakasih.” Eden segera menerima tas itu dengan gugup sambil melirik kearah Aciel yang seperti ingin memakannya hidup-hidup. Ia benar-benar bodoh karena lupa mengambil tasnya saat ia merasa terlalu emosi pada Andrew. Ia baru saja melakukan sebuah kesalahan fatal dengan membohongi seorang Aciel Lutherford. Dan sialnya kebohongan itu langsung ketahuan dalam hitungan detik sebelum Eden berhasil menenangkan jantungnya yang masih berdetak gugup, efek dari kebohongannya yang sebelumnya.
“Sekali lagi terimakasih untuk hari ini, kau telah menemaniku sepanjang hari untuk mengurus pesta pernikahan Summer.”
Eden hanya diam, bibirnya membisu, dan ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan sekarang. Mulut sialan Andrew berhasil membuat Aciel mengetatkan rahangnya karena marah. Dan Eden merasa benar-benar tak habis pikir dengan sikap Andrew yang seolah-olah sedang memancing emosi Aciel agar pria itu terbakar cemburu.
“Kau bisa pergi sekarang jika urusanmu dengan istriku telah selesai. Ed, masuk ke dalam sekarang.” perintah Aciel dengan wajah mengeras yang hanya menatap lurus pada Andrew. Tanpa mengucapkan apapun pada Andrew atau Aciel, Eden segera masuk ke dalam rumah, tak menghiraukan Andrew yang masih berdiri hanya untuk melihtanya menghilang dibalik pintu kayu yang menjulang tinggi di belakang Aciel.
-00-
Andrew berjalan dengan langkah puas memasuki rumahnya. Sejak tadi senyum manisnya itu tak pernah luntur dari wajahnya. Bahkan senyum itu tidak pernah lepas dari wajahnya sejak ia melangkahkan kakinya keluar dari kediaman keluarga Lutherford. Rasanya hari ini Andrew merasa sangat bahagia. Ia berhasil mendapatkan perhatian dari Eden dan membuat Aciel marah karena terbakar api cemburu. Pria itu bersiul pelan ketika memasuki rumahnya dan ia langsung disambut dengan tatapan menggoda dari Summer, adik perempuan satu-satunya.
“Hmm, kau terlihat sangat bahagia.” goda Summer dengan senyum penuh arti. Andrew berjalan menghampiri adiknya dan memutuskan untuk mendudukan dirinya sejenak di sebelah adiknya. Ia merasa, ia perlu menceritakan pengalamannya hari ini dengan Summer. Lagipula keberhasilan rencananya hari ini juga berkat Summer. Tadi pagi-pagi sekali, Summer sudah menyempatkan diri untuk menghubungi Eden dan menanyakan kegiatan wanita itu pagi ini. Kemudian dengan semangat empat lima, Summer berlari ke arah kamar Andrew dan memberitahukan semuanya pada kakaknya.
“Aciel terlihat marah sekali tadi.” cerita Andrew memulai pembicaraan. Summer mengangguk-anggukan kepalanya paham sambil meraih sebungkus keripik kentang di atas meja. Tentu saja ia sudah menduga hal itu akan terjadi. Aciel adalah pria tampan dengan tingkat keposesifan yang sangat tinggi. Pria itu jelas tidak akan suka jika apa yang menjadi miliknya diusik oleh orang lain.
“Lalu bagaimana dengan tanggapan Eden? Ia menyambutmu dengan baik bukan?”
“Tentu saja, meskipun ia memang sedikit tidak nyaman karena suaminya berada di sana, tapi Eden adalah wanita yang anggun dan berhati lembut. Ia tidak mungkin mengusirku begitu saja hanya karena suaminya yang merasa kesal padaku. Entah mengapa, aku benar-benar menyukai aura keibuannya yang sekarang. Ia menjadi lebih... Akh, bagaimana aku menjelaskannya padamu. Eden yang sekarang benar-benar jauh lebih manis dari Eden yang dulu.” ucap Andrew dengan wajah berbinar-binar. Summer tersenyum simpul menanggapi ucapan kakaknya. Tak menyangka jika kakaknya akan sebahagia ini hanya karena bertemu dengan Eden. Meskipun begitu, ia juga tampak merasa bersalah pada Eden. Secara tidak langsung ia telah menyebabkan rumah tangga sahabatnya itu sedikit retak. Tapi lagi-lagi ia tak mempunyai pilihan lain. Ia hanya ingin melihat kakaknya merasa bahagia dan tersenyum cerah seperti saat ini. Walaupun Summer tahu, hal ini tidak akan berlangsung lama. Setidaknya ia dapat membuat Andrew senang dalam waktu beberapa hari sebelum Eden dan keluarganya kembali ke Vegas.
“Eden memang sudah banyak berubah sekarang. Aura keibuannya menjadi lebih kuat dengan adanya Ciara, Louise, dan juga Aciel.” komentar Summer membenarkan. Andrew menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan ia tampak menerawang jauh ke langit-langit ruang keluarganya yang kosong. Ia merasa semua yang ia harapkan memang tidak akan pernah terjadi. Sekeras apapun ia mencoba mendekati Eden dan mengambil simpati dari anak-anaknya, tetap saja ia tidak akan mungkin membuat wanita itu berpaling darinya. Sejak dulu dirinya memang selalu kalah dengan Aciel. Pria itu, meskipun banyak mahasiswa yang mengatakan ia tampan dan sempurna, tapi tetap saja ia tidak bisa mengalahkan ketampanan dan aura berkharisma Aciel Lutherford. Buktinya Eden tidak pernah merasa tertarik padanya, meskipun ia telah memakai berbagai cara untuk menarik perhatian wanita itu. Bahkan ketika wanita itu hanya di ombang-ambingkan oleh Aciel, ia tetap tidak goyah dan lebih memilih untuk menikah dengan Aciel dan menerima apapun yang menjadi keburukan Aciel. Lalu apa gunanya sekarang ia mendekati Eden dan mencoba mendapatkan perhatian dari wanita itu jika pada kenyataannya perasaan Eden hanya untuk Aciel seorang. Benar-benar sangat menyedihkan.
“Bukankah aku terlihat menyedihkan?” tanya Andrew dengan pandangan kosong ke arah Summer. Wanita itu menolehkan kepalanya ke arah kakaknya dan mengernyit bingung dengan perkataan kakaknya yang ambigu itu.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?” tanya Summer dengan kerutan bingung di dahinya. Andrew menghembuskan napasnya kasar dan mengacak rambutnya frustasi.
“Aku menyedihkan... Aku berusaha untuk mendekati Eden dan berusaha mendapatkan simpati dari anak-anaknya, tapi sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mendapatkan Eden, bukan? Aku hanya melakukan sesuatu yang sia-sia dan picik.” ucap Andrew terdengar frustasi. Summer mengelus bahu kakaknya pelan dan berusaha
membuat kakaknya nyaman. Ia sebenarnya tidak ingin kakaknya menjadi seperti ini dan terlihat menyedihkan. Tapi mau bagaimana lagi? Hati kakaknya sudah terlanjur tertutup hanya untuk Eden. Bahkan, Andrew selalu menolak semua wanita yang berusaha mendekatinya hanya karena ia masih tidak bisa untuk berpaling dari Eden.
“Jika kau tidak ingin terlihat menyedihkan, seharusnya kau melupakan Eden dan mencoba membuka hatimu untuk wanita lain. Bukankah ada banyak wanita cantik dan baik di luar sana yang menginginkanmu menjadi pasangan mereka? Kenapa kau tidak mencoba untuk menjadi dekat dengan salah satu diantara mereka?” tanya Summer pada Andrew. Ia sendiri sudah terlalu bingung dengan Andrew. Dan sekarang ia justru ikut merasa frustasi setelah melihat Andrew menjadi seperti ini. Summer sendiri tidak bisa membayangkan, bagaimana kehidupan Andrew setelah ia menikah dengan Max. Ia pasti tidak akan bisa menemani Andrew seperti dulu lagi dan waktunya
tentu akan banyak tersita untuk Max. Oleh karena itu sebelum Andrew merasa ditinggalkan olehnya, ada baiknya jika Summer memberi saran pada kakaknya agar segera mencari seorang kekasih atau pendamping hidup.
__ADS_1
“Kau tidak mengerti bagaimana perasaanku? Selama ini aku terus mencoba untuk melupakan Eden dan berusaha mencari wanita lain yang sama baiknya dengan Eden. Tapi tetap saja hatiku tidak bisa menerima mereka sepenuhnya. Hatiku terlanjur terpatri pada Eden. Apalagi setelah melihat Eden yang sekarang, yang jauh lebih lembut dan anggun. Aku semakin tidak bisa berpaling dari Eden.” ucap Andrew terdengar menyedihkan. Summer menghela napas lelah dan hanya mampu menepuk pundak kakaknya pelan. Setelah itu ia lebih memilih untuk meninggalkan Andrew agar pria itu bisa merenung sendirian di ruang keluarga. Summer berharap, semoga kakaknya itu segera mendapatkan wanita yang baik untuk menggantikan Eden di hatinya. Karena sampai kapanpun Andrew tidak akan pernah bisa mendapatkan Eden di sisinya.