Black Swan

Black Swan
Silent Man (One Hundred Fourty)


__ADS_3

            Pagi itu Scout tampak sudah siap dengan kemeja berwana hitamnya dan juga sebuah jas yang tersampir di tangannya. Dengan langkah lebar, Scout berjalan ke arah jendela besar di kamarnya dan segera membuka gorden abu itu lebar-lebar, membuat Olivia yang masih terlelap langsung terbangun seketika dengan erangan kesal karena tidurnya telah diganggu oleh pria itu.


            “Tutup gordennya, aku masih mengantuk.” erang Olivia kesal dan kembali memeluk gulingnya dengan nyaman.


            “Ini sudah siang.” ucap Scout datar di sebelah ranjang yang ditempati oleh Olivia. Tubuhnya yang tinggi terlihat menjulang di atas tubuh Olivia yang sedang meringkuk seperti bayi di atas ranjangnya yang nyaman. Selama satu menit Scout di sana mengamati wajah Olivia yang tampak tak bergerak sedikitpun dari posisinya. Hatinya gusar melihat Olivia yang masih bermalas-malasan seperti ini, namun ia akhirnya hanya menatap wanita itu datar dan segera melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya untuk menikmati sarapan yang telah disiapkan oleh Wills.


            “Selamat pagi tuan.”


            Wills langsung menyapa Scout hangat ketika pria itu telah menuruni tangga dan sedang berjalan menuju meja makan. Di sana, Wills sudah menyiapkan berbagai macam hidangan sarapan dan juga secangkir kopi untuknya. Scout kemudian meraih cangkir kopi itu, dan segera menyeruputnya dengan nikmat.


            “Apa kau sudah mempersiapkan semuanya?” tanya Scout pada Wills yang sedang menyiapkan piring untuknya. Pria itu menoleh sekilas pada Scout, dan langsung menganggukan kepalanya sebagai jawaban ya.


            “Saya sudah mengemasi seluruh barang-barang kita tuan. Kapan kita akan pindah tuan?” tanya Wills penasaran.


            “Sore ini. Kita akan pindah ke sebuah rumah yang berada di Dallas, kebetulan malam ini aku memiliki proyek baru di sana.” ucap Scout misterius dengan seringaian. Wills menganggukan kepalanya mengerti dan tidak menanyakan hal itu lebih lanjut. Ia tahu, maksud dari tugas yang diucapkan oleh Wills pasti adalah tugas membunuh.


            Sebenarnya sudah lima tahun terakhir ini Scout juga menerima pekerjaan sebagai seorang pembunuh bayaran. Selain bekerja sebagai tukang gambar untuk bangunan-bangunan mewah di Amerika, Scout juga melakukan pekerjaan gelap yang semata-mata dilakukan untuk memacu adrenalinnya. Bermain-main menggunakan pistol dan juga pisau adalah salah satu kesenangan yang mampu membuatnya melupakan semua kesedihannya. Dan sepertinya malam ini Scout Voyage telah menemukan target baru.


            “Tuan, Xaner telah datang.” beritahu Wills pada Scout yang sedang menyantap makanannya dengan nikmat. Tak berapa lama, pria muda dengan rambut berwarna coklat itu masuk ke ruang makan. Dalam balutan jaket denim, Xaner terlihat begitu kaku dengan garis wajah keras yang terlihat jarang digerakan untuk tersenyum.


            “Bagaimana dengan target kita?”


            “Sudah siap, dan sedang menunggu untuk di eksekusi.”

__ADS_1


            “Bagus, persiapkan semua perlengkapan yang diperlukan. Dan jangan lupakan senjataku, Xaner.” seringai Scout licik sambil menatap Xaner penuh arti.


-00-


            Kegaduhan tampak terjadi di dalam ballroom hotel Ritz Carlton ketika polisi dan tim medis datang untuk membawa jasad nyonya dan tuan Donahue yang tampak mengenaskan. Sian yang berada di sana untuk menghadairi sebuah jamuan makan malam bersama Aciel menjadi bingung dengan situasi yang ada.


            Semua orang praktis panik dengan keadaan mencekam yang tiba-tiba terjadi diantara mereka. Suara sirine ambulans dan mobil polisi seakan sedang melakukan perlombaan untuk membuktikan suara siapa yang paling nyaring. Sirine itu sungguh memekakan telinga dan mengganggu, pikir Sian jengkel. Petugas kepolisian  yang datang di sana langsung saja mengamankan semua orang, termasuk Sian dan Aciel yang langsung dihalau menuju tempat yang aman demi menghindari adanya korban berikutnya. Apalagi polisi baru saja memberikan pernyataan resmi jika pembunuhan itu terjadi karena ulah seorang sniper yang ahli. Hal itu tentu saja semakin memicu kekhawatiran di benak orang-orang yang berada di sana hingga mereka ingin cepat-cepat pergi dari hotel itu untuk menyelamatkan kehidupan mereka.


            “Kejutan macam apa ini?” geram Sian kesal. Mereka semua terlihat seperti lebah berdesing yang sangat berisik di mata Sian. Tak ada satupun yang bisa mengambil sikap tenang seperti Aciel yang menurutnya terlalu tenang dengan sikap yang mencurigakan.


            “Mereka takut akan kehilangan harta yang berharga. Bagaimanapun hal semacam ini pasti tidak pernah terpikirkan oleh mereka.” Dengan santai, Aciel mengambil gelas berisi soda, lalu meminumnya pelan untuk membasahi kerongkongannya yang kering.


            “Kurasa hanya kau yang masih memiliki ketenangan seperti budha yang sedang bersemedi.” sindir Sian sakartis. Semenjak Olivia hilang, Sian memang telah berubah menjadi pribadi yang kasar. Hal itu membuat Sian kini lebih mirip seperti Aciel sebelum ia bertemu dengan Eden. Namun Aciel sama sekali tidak pernah mempermasalahkan lonjakan emosi yang sering terjadi pada Sian. Menurutnya itu bagus daripada Sian tersiksa karena menahan-nahannya.


            Aciel memperhatikan satu persatu tamu jamuan yang sedang diintrogasi oleh polisi. Mungkin nanti ia juga akan dimintai keterangan untuk mengusut kasus ini. Namun ia merasa sedikit aneh dengan kematian sang tuan rumah, tuan dan nyonya Donahue. Selama ini tidak pernah ada berita miring tentang mereka. Perusahaan mereka juga mendapatkan reputasi yang baik karena selalu membayar pajak tepat waktu. Mereka nyaris tidak memiliki kecacatan menurut Aciel.


            “Cari pembunuh itu dan hukum dia seberat-beratnya.” Dari tempatnya duduk Sian dapat mendengar suara putra mr. Donahue sedang memberikan instruksi pada sekumpulan polisi yang sedang berdiri mengerumuninya. Polisi-polisi itu langsung mengangguk patuh dan segera pergi untuk menyisir lokasi hotel dan sekitar hotel.


            “Menurutmu sampai kapan kita akan di sini?”


            “Sampai mereka mengizinkan kita pergi dari sini.”


            “Kurasa akhir-akhir ini kau aneh.” ucap Sian tiba-tiba dengan kernyitan dalam di dahinya.

__ADS_1


            “Seperti apa?” tanya Aciel tenang. Kali ini ia sangat menikmati pertunjukan keramaian dan kepanikan yang sedang terjadi di hadapannya. Sudah lama ia tidak merasakan euforia karena melihat orang-orang ketakutan. Mereka mengingatkannya pada kehidupannya di masa lalu yang selalu dilingkupi perasaan seperti ini. Rasanya


sudah lama sejak terakhir ia merasakan perasaan senang, takut dan marah dalam suatu harmoni sosial yang tak terkendali seperti ini. Bisa dibilang semua rasa itu perlahan-lahan terkikis dari hatinya, digantikan dengan perasaan tenang karena kini ia memiliki keluarga sebagai tempatnya pulang.


            “Seperti saat ini. Aku tahu ini bukan sikap yang biasa ditunjukan oleh seseorang yang baru saja melihat kejadian pembunuhan.”


            Aciel tergelak mendengar analisis asal-asalan yang dilontarkan Sian. “Lalu kau berharap aku bersikap seperti apa? Menghubungi Eden dengan wajah panik sambil mengatakan jika aku baru saja melihat seseorang tertembak di depanku? Konyol.” decak Aciel geli. Jika ia sampai berani menghubungi Eden dalam kondisi seperti


ini, ia sama saja mengirimkan bom waktu pada wanita itu. Dalam sekejap Eden pasti akan meledak takut, merasa paranoid, dan akan menerornya dengan ratusan panggilan hanya untuk memastikan jika ia masih bernapas.


            “Hal seperti itu jelas tidak akan kau lakukan. Tapi setidaknya kau pasti akan langsung menghubungi anak buahmu. Melakukan penyelidikan secara diam-diam untuk memastikan jika seseorang yang melakukan penembakan malam ini tidak akan mengusikmu dan urusanmu. Kau tidak pernah mempercayai orang-orang berseragam polisi itu sama sekali.”


            “Ada kalanya aku harus menghormati mereka sebagai aparat penegak hukum.”


            “Itu tidak seperti puisi yang indah. Kau sudah tahu jika hal ini akan terjadi?” tanya Sian curiga sambil memincing ke arah Aciel. Pria itu terlihat sangat bersungguh-sungguh dengan analisisnya saat ini karena ia merasa yakin jika Aciel memang telah menunjukan sesuatu yang berbeda.


            “Kehilangan Olivia membuatmu berpikiran tumpul.” jawab Aciel berubah serius. Wajahnya yang sebelumnya tenang, kini menunjukan ketegangan di hadapan Sian. Pria itu merasa terpancing karena Sian terus memojokannya, sedangkan ia sendiri tidak pernah berharap akan disudutkan seperti ini. “Jika aku Tuhan, mungkin aku bisa mengetahui peristiwa apa yang akan terjadi padaku. Tapi sayangnya aku bukan Tuhan.”


            Merasa muak, Aciel memutuskan untuk mengalihkan tatapan matanya ke arah lain agar emosinya dapat sedikit mereda. Berbicara dengan Sian terlalu lama memang tidak pernah bagus untuknya semenjak Olivia menghilang. Sian selalu kehilangan kontrol dan menjadi terlalu sensitif pada hal-hal di sekitarnya.


            “Kau tahu...” ucap Aciel lagi di sebelah Sian. “Andai aku tahu jika hal ini akan terjadi, aku pasti dapat menemukan Olivia dengan mudah berbulan-bulan yang lalu. Tapi seperti yang kau lihat, aku tidak bisa. Saat ini aku hanya menempatkan diriku sebagai penonton, yang bila saatnya sudah tiba, aku akan bertepuk tangan untuk orang-orang yang telah terlibat dalam drama yang sedang kutonton.”


            Sian dapat melihat wajah bersungguh-sungguh Aciel saat menyebut dirinya sebagai penonton. Terlihat dari mimik wajah yang ditunjukan Aciel, pria itu saat ini sedang menikmati setiap detik pertunjukan yang sedang dimainkan oleh para polisi, para saksi, dan sang tokoh utama yang saat ini keberadaannya diyakini Sian sebenarnya terselip diantara mereka. Dan saat Sian sedang memikirkan itu semua, tiba-tiba alarm di dalam kepalanya berbunyi. Tubuhnya menegang seketika saat ia menangkap siluet seorang pria yang telah dicarinya selama berbulan-bulan yang lalu terselip diantara para saksi yang sedang berlalu lalang di sekitar loby. Seperti hantu, siluet itu berada di sana untuk beberapa detik, namun saat Sian hendak berdiri untuk menangkapnya, dalam sekejap siluet itu telah menghilang seperti hantu tanpa meninggalkan jejak sedikitpun di tempat yang telah ia pijaki.

__ADS_1


__ADS_2