
Seminggu setelah janji suci pernikahaanya dengan Scout, kini Olivia telah resmi menyandang status sebagai nyonya Voyage, disamping marga Markle yang lebih dulu disandangnya. Hari-hari setelah pernikahan terasa lebih indah dari sebelumnya karena kini Scout selalu memandangnya dengan penuh cinta dan selalu mencurahkan perhatiannnya pada Olivia. Meskipun begitu, ia masih memiliki ganjalan di hatinya karena hubungan Scout dan Sian tak kunjung membaik. Pria itu masih tetap bermain kucing-kucingan dengan Sian dan terus mempermaikan pria itu dengan semua rencana liciknya.
Dan sekarang disinilah ia, di sebuah gedung pencakar langit yang menjadi cabang dari perusahaan Cadillac
Corp. Dengan langkah pasti, Olivia mulai menaiki lift untuk menuju ke ruangan Sian yang berada di lantai paling atas gedung ini. Ia yakin, jika Scout mengetahui hal ini, pria itu pasti akan marah besar padanya karena ia telah pergi menemui Sian tanpa persetujuan darinya. Tapi ia tidak bisa membiarkan masalah ini terus berlarut-larut. Ia lelah dan ia ingin mengakhiri semuanya sekarang.
Tok tok tok
Olivia mengetuk pelan pintu kayu itu dengan perasaan berdebar. Bebbagai macam pertanyaan mengenai reaksi Sian saat melihatnya terus menghantui benaknya dan membuatnya gugup. Tapi semoga saja Sian tidak mengusirnya begitu saja saat pria itu melihat keadaanya saat ini.
“Masuk.”
Suara maskulin yang sudah lama tak didengarnya itu langsung berseru keras dari dalam ruangan, mempersilahkan Olivia untuk masuk ke dalam ruangannya. Perlahan-lahan, Olivia mulai memutar kenop pintu itu dan langsung membukanya lebar-lebar dalam satu kali tarikan.
“Olivia.” pekik Sian terkejut dari balik meja kerjanya. Olivia tersenyum lembut pada Sian sambil melangkah pelan untuk menghampiri pria itu. Sekilas Olivia dapat melihat adanya keterkejutan di wajah Sian saat melihat keadaanya yang kini datang dengan perut buncit yang telah mendekati waktu untuk melahirkan. Tapi ia berusaha untuk mengusir pikiran buruk dari dalam kepalanya karena ia yakin Sian pasti akan menerima keadaaanya dengan lapang dada.
“Duduklah. Bagaimana keadaanmu sekarang?” Sian merasa tak bisa mempercayai dirinya sendiri saat melihat Olivia tiba-tiba telah muncul di kantor cabang milik Aciel setelah berbulan-bulan ia mencari keberadaan wanita itu seperti orang gila. Rasanya sedikit canggung ketika mereka bertemu kembali, namun anehnya ia seperti sudah tidak merasakan kemarahan yang seperti dulu. Kemarahan karena terkhianati itu telah pergi sepenuhnya dari benak Sian. Justru sekarang ia memiliki harapan baru untuk kembali memperbaiki hubungan rumah tangganya yang sangat kacau agar kembali memiliki harmoni yang utuh seperti dulu.
“Aku baik-baik saja dan sangat sehat. Scout merawatku dengan baik selama ini.” jawab Olivia ringan.
“Syukurlah jika pria itu baik padamu. Darimana kau tahu jika aku berada di sini dan bukan di Vegas?”
“Aku menghubungi sekretarismu.”
“Oh ya, itu memang tidak sulit.” jawab Sian sekenanya. Ia masih dilingkupi perasaan canggung pada Olivia. Seperti mereka kembali ke masa dulu saat ia baru saja menemukan Olivia menjadi gelandangan karena rumahnya dihancurkan.
“Bagaimana keadaan Justice?”
“Baik. Selama ini ia bersama Eden dan ia tumbuh seperti anak-anak Eden yang lain. Aciel sangat menyayangi Justice seperti putri kandungnya sendiri.”
“Betapa beruntungnya kita.” ucap Olivia datar. Ketegangan yang dirasakannya saat ini membuat Olivia gugup setengah mati. Ia terus saja memutar-mutar cincin pemberian Scout di jari manisnya sambil bergerak gelisah menatap apapun yang bisa ia tatap kecuali mata milik Scout yang tiap hari juga selalu ia pandang saat ia sedang bercermin. Mata itu selalu saja menamparnya dan mengingatkannya pada keburukan yang telah ia lakukan. Betapa tak tahu dirinya ia. Setelah merampas sebelah mata milik Sian, ia justru pergi bersenang-senang dengan pria lain.
“Kau sudah menghentikan pencarianmu terhadapku.” gumam Olivia pelan. Sian sedikit terkejut mendengar hal itu dari Olivia. Tidak pernah sekalipun ia berpikir jika Olivia akan peduli pada usahanya untuk menemukan wanita itu. Malah akhir-akhir ini ia telah berpikir jika Olivia pasti sudah tidak ingin kembali lagi padanya dan membesarkan Justice bersama.
“Karena kurasa itu tidak penting lagi untuk dilakukan. Kata Aciel kau akan kembali padaku jika waktunya sudah tepat. Dan ternyata hal itu memang benar, kau kembali padaku dengan sendirinya.” jawab Sian ringan. “Ayo kita mulai semuanya dari awal, Olive. Lupakan kamarahan dan teriakan itu. Aku akan berusaha menerima bayi itu sebagai anakku juga.”
Olivia sungguh tersentuh mendengar kata-kata Sian yang begitu manis. Andai saja sejak dulu pria itu mengatakan hal ini, tak perlu ada drama pertengkaran dan penculikan diantara mereka. Ia juga akan lebih mudah untuk menolak kehadiran Scout dalam hatinya. Sayangnya dulu Sian tidak semanis ini. Dulu Sian terus menghinanya dengan kasar hingga ia tidak pernah bisa melawan untuk menyelamatkan harga dirinya yang hancur. Kenapa harus seperti ini? batin Olivia getir.
“Kau dulu tidak mengatakan hal itu.” Olivia berusaha menatap Sian dengan mata tegar. Tersenyum lembut kearah Sian, Olivia mencoba menyembunyikan tangannya yang tersemat cincin berlian dari Scout dibalik meja kerja Sian.
“Aku perlu waktu untuk mencerna semua peristiwa yang tiba-tiba menyerangku. Maaf karena dulu aku sangat kasar padamu. Aku sangat mencintaimu, Olive.”
__ADS_1
Bukan kebahagiaan seperti dulu yang Olivia rasakan setiap kali mendengarkan pernyataan cinta dari Sian, justru kepedihan yang kini menggelayuti hati Olivia karena ia sedang menyembunyikan fakta baru dari Sian.
“Kau terlihat aneh, Olive.”
“Banyak yang terjadi selama kepergianku. Kaupun pasti dapat merasakan perbedaan itu.”
“Kau terlihat tidak lagi antusias padaku. Apa aku sudah kehilangan keistimewaan di hatimu?” tanya Sian dengan wajah mengeras. Ia membenci fakta yang ada jika sekarang Olivia telah berpaling darinya.
“Kurasa tidak, tapi kau hanya berbagi.” Olivia mengangkat jari manisnya yang dilingkari cincin dari Scout. Lalu di tangan kirinya Sian dapat melihat cincin pernikahannya dan Olivia masih tersemat juga di jari manis wanita itu.
“Bagaimana mungkin kau tega mengkhianatiku untuk yang ke dua kalinya?”
“Aku tidak punya pilihan.” jawab Olivia lemah. Sama sekali tidak ada pilihan selama ia tinggal bersama Scout. Semua yang diberikan pria itu harus ia terima dengan hati terpaksa pada awalnya, namun akhirnya ia justru semakin terbiasa dan merasa nyaman.
“Anak ini berhak mendapatkan status yang lebih baik. Maafkan aku Sian.”
“Sungguh luar biasa. Aku mencarimu seperti orang gila hingga harus menitipkan Justice pada Eden, tapi kau justru bersenang-senang dengan si keparat itu!”
“Kau juga salah, Sian! Sadarla! Sejak awal aku sudah mencoba berbicara baik-baik denganmu, tapi kau justru menghinaku dengan sangat kejam. Scout memberiku perhatian yang selama ini tidak pernah kau berikan!” jerit Olivia lantang. Akhirnya dalam sejarah hidupnya, ia bisa menunjukan sesuatu yang menjadi kesukaannya. Ia lelah hanya mengikuti keinginan orang lain tanpa benar-benar bisa mengutarakan jalan pikirannya. Dan karena hal itu, ia sekarang melihat Sian terkejut dengan perubahan drastis yang terlihat padanya.
“Pria itu pasti telah mencuci otakmu selama kau diculik.”
“Tidak sekalipun Scout menyakitiku. Awalnya memang dia memksaku, tapi setelah itu aku menyadari ketulusan yang terpancar dari kesungguhan di wajahnya. Scout ingin anak ini tumbuh dengan limpahan kasih sayang orangtuanya.” Olivia mengiba di hadapan Sian, meminta pria itu untuk menerima keputusan yang telah ia buat. “Izinkan aku menjadi ibu dari anak-anakku.”
“Dan juga istri dari ayah anak-anakku.”
Sebuah permintaan yang berat. Sian benar-benar tak bisa berpikir jernih untuk memutuskan langkah apa yang akan ia ambil saat ini. Apalagi ia tidak cukup gila untuk menerima permintaan aneh itu. Ia akan berbagi istri dengan pria lain? Sungguh lucu, batin Sian perih.
“Kau egois.” Hanya itu yang bisa dikatakan Sian saat Olivia terus menunjukan wajah permohonan di depannya. “Lebih baik kau pergi dari sini, Olive. Aku ingin sendiri.”
-00-
“Sejak awal kau sudah tahu! Tapi kenapa kau hanya diam, Ace?”
Eden menunjukan tatapan berkilat-kilat pada Aciel yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka dan membawa sebuah kabar yang mengejutkan untuknya.
“Mereka sudah menikah, lalu untuk apa kita meributkannya lagi, sayang?”
“Kau selalu tahu dimana keberadaan Olivia, tapi kau tetap menjadi penonton tanpa bergerak untuk menangkapnya. Dan sekarang Olivia bahkan telah menjadi istri sah Scout, hal gila macam apa lagi ini?” jerit Eden frustrasi. Ia tidak menyangka jika semua kerumitan ini masih ada hubungannya dengan Aciel. Suaminya yang penuh kuasa itu memegang kunci penting atas kehancuran rumah tangga Sian yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
“Jadi kau menyalahkan aku?” desis Aciel mulai kesal. Ia menjadi terpancing setelah Eden lebih dulu meneriakinya dengan wajah penuh tuduhan yang begitu memuakan. “Aku hanya mengikuti saranmu, jika kau lupa, Ed.”
__ADS_1
Eden tentu saja tidak lupa dengan nasihat yang ia berikan pada Aciel agar pria itu tidak perlu ikut campur terlalu jauh dalam masalah keluarga Sian. Namun jika kenyataannya Aciel sudah mengetahuinya sejak awal, seharusnya pria itu tidak perlu berpura-pura tidak tahu dan hanya menjadi penonton.
“Ya, tapi itu jika kau tidak pernah mengetahui apapun. Sekarang Olivia sudah terlalu nyaman berada di dalam pelukan Scout, apa kau tidak bisa memikirkan bagaimana perasaan Sian?”
“Dia baik-baik saja jika itu yang kau khawatirkan.” jelas Aciel geram. Menurutnya Eden terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkan kondisi Sian yang notabenenya masih baik-baik saja saat ini.
“Lagipula ini adalah sisi lain dari Olivia yang perlu kau ketahui, ia tidak sepolos itu. Hatinya begitu mudah goyah saat ia mendapatkan kenyamanan dari pria lain. Murahan.” dengus Aciel mencemooh. Pria itu memilih duduk santai di sofa kamarnya sambil mengangkat satu kakinya untuk ditumpukan pada kaki yang lain. Jika Eden ingin mengajaknya berdebat, jujur ia tidak mau. Yang diinginkannya saat ini adalah memberitahu semuanya pada Eden. Sebentar lagi drama kesukaannya akan berakhir, dan ia ingin melihat akhir dari drama itu bersama Eden.
“Ini mengejutkanku.” cicit Eden lemah. Tak bisa ia bayangkan seorang wanita polos seperti Olivia ternyata mampu berpaling dengan mudah dari suaminya.
“Itulah sebabnya mengapa aku tidak pernah membiarkanmu terlalu akrab dengan teman-teman priamu di luar sana. Kita tidak pernah tahu godaan apa yang menghampiri kita. Meskipun pada awalnya kita menolak, tapi semakin lama kita akan semakin tergoda untuk mencicipinya jika godaan itu terlalu menggiurkan untuk diabaikan.”
“Setidaknya kau memberikan peringatan pada Sian.”
Aciel tertawa hambar menanggapi ucapan istrinya. “Sudah sejak lama. Jauh sebelum Sian menikahi Olivia, aku memberinya nasihat untuk tidak terburu-buru melangkah. Tapi ia tidak mendengarkanku. Dan aku sendiri bukan seseorang yang suka menghambat kebahagiaan orang lain. Saat mereka memutuskan untuk menikah, aku hanya berperan sebagai teman yang baik untuk mereka. Aku mempermudah semua persiapan pernikahan mereka, dan aku memberikan semua kelonggaran untuk Sian agar ia menikmati pernikahannya. Tapi nyatanya pernikahan itu tidak mudah. Harus ada banyak pengorbanan di dalamnya, dan juga air mata.”
“Aku kasihan pada Justice.” ucap Eden setelah ia merasa tidak bisa mendebat Aciel lebih jauh lagi.
“Akupun juga. Ingat tentang penilaianmu padaku soal family man, kuakui aku memang sekarang berubah. Aku lebih penyayang pada anak kecil, dan aku memikirkan masa depan Justice sama bersungguh-sungguhnya dengan keempat anakku. Nanti saat dewasa ia pasti akan menanyakan asal usul adiknya dan bagaimana kehidupan orangtuanya yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Gadis itu harus selalu diawasi agar tidak muncul benih permusuhan di hatinya yang cantik.”
Eden mengangguk setuju dengan usulan Aciel. Bagaimanapun Justice adalah korban dari keegoisan kedua orangtuanya. Bahkan sekarang Eden merasa jika Sian mulai mencampakan putrinya sendiri dengan jarang datang untuk berkunjung.
“Sekarang kita tahu apa yang telah disimpan Olivia di balik punggungnya.”
“Mungkin saja ia terpaksa melakukannya karena terhimpit. Scout memaksanya.”
“Omong kosong.” bantah Aciel mencemooh. “Apa kau lupa jika kau sudah lusinan kali masuk ke dalam pelukan pria yang berbeda, namun pada akhirnya kau hanya memberikan hak-hak istimewa itu padaku. Kau tidak membiarkan pria lain menyentuhmu dan memiliki cintamu. Semua itu tentu saja terjadi bukan karena suatu keterpaksaan, tapi komitmen. Saat kau memiliki komitmen, maka kau tidak akan mudah untuk tergoyahkan. Namun jika kau tidak memilikinya, kau akan mudah sekali berbelok ke dalam pelukan pria lain yang menawarkan kenyamanan padamu.”
“Itu karena aku mencintaimu.” balas Eden gusar. Tak menyangka jika Aciel akan mengungkit kehidupan masa lalunya yang kerap bergonta ganti pasangan hanya demi menyakiti ego kekanakan Aciel.
“Tepat sekali. Kau mencintaiku dengan sangat besar, sedangkan Olivia tidak mencintai Sian dengan sangat besar. Kurasa sekarang kita mulai bisa melihat perbedaan antara cinta dan rasa balas budi.”
“Sepertinya begitu.” balas Eden melemah. Tubuhnya mendadak terasa dingin karena gugup dan rasa tidak percaya yang berkali-kali disangkalnya. Seorang Olivia tega mengkhianati Sian dengan menikahi penculiknya, itu sungguh konyol dan tak masuk akal untuk Eden. Selama ini ia selalu membayangkan hal-hal baik dalam diri Olivia yang didukung dengan kelembutan wajahnya yang sangat menenangkan. Sekarang setelah semua ini terjadi, Eden khawatir ia tidak akan bisa lagi memandang Olivia secara objektif.
“Jangan terlalu dipikirkan, sayang. Mereka sudah sama-sama dewasa, mereka tahu mana benar dan mana salah dengan jelas. Lebih baik kita lihat saja akhir yang akan disuguhkan dari drama ini, apakah Olivia memilih Sian dan Justice atau memilih Scout dan anaknya.”
“Peluk aku kalau begitu. Aku takut.”
“Kemarilah.”
Eden langsung meringsek masuk ke dalam pelukan Aciel dan membenamkan kepalanya sedalam-dalamnya di atas dada bidang Aciel yang nyaman.
__ADS_1
“Bagaimana jika kau goyah juga seperti Olivia?”
“Tidak akan mungkin, kau mencintaiku. Dan aku tidak akan pernah membiarkan orang lain mendapatkan cintamu. Hanya aku, Eden. Hanya aku!” bisik Aciel penuh ketegasan dan janji.