
Malam hari setelah Eden menerima hasil pemeriksaan labnya ia tampak sangat lesu dan tidak bersemangat. Beberapa kali ia terlihat melamun dan mengabaikan teriakan anak-anaknya, hingga Aciel berulang kali harus menegurnya yang terlihat seperti wanita linglung itu.
“Ed, Louise memanggilmu.”
Entah sudah berapa kali pria itu menegur istrinya yang terus melamun sejak ia datang dari rumah sakit sore tadi.
“Mommy, Louise mau susu.” ucap bocah dua tahun itu terlihat cemberut karena sejak tadi diabaikan oleh ibunya.
“Maaf sayang, hari ini mommy sedang memiliki banyak pikiran.” bohong Eden sambil mengulurkan tangannya pada Louise untuk membuat susu bersama-sama di dapur.
Sementara itu Aciel langsung menatap kepergian istrinya dengan perasaan khawatir. Tidak biasanya Eden terlihat selesu dan sekacau itu selama ini. Apalagi mereka berdua tidak sedang dalam kondisi bertengkar atau saling mendiami, jadi ia pikir ada sesuatu yang tidak beres pada istrinya. Namun ia masih berusaha menunggu
kejujuran dari Eden, karena biasanya istrinya itu akan langsung bercerita padanya jika ia memiliki masalah.
“Daddy, mommy hari ini aneh. Mommy terus mengabaikan Ciara dan Louise.” adu putri kecilnya dengan wajah menggemaskan. Aciel lantas berjongkok di depan tubuh kecil putrinya untuk menanyai keadaan istrinya seharian ini.
“Memangnya apa yang dilakukan mommy hari ini? Kenapa mommy terlihat lesu seperti itu dan sering melamun?”
“Ciara tidak tahu, tapi ketika Ciara pulang dari sekolah, mommy tidak ada di rumah. Kata bibi Jane, mommy pergi ke rumah sakit.”
Aciel mengernyitkan dahinya bingung pada Ciara karena ia sama sekali tidak tahu jika istrinya itu pergi ke rumah sakit. Mungkinkah istrinya pergi untuk menemui Laila?
“Baiklah, nanti daddy akan bertanya lebih lanjut pada mommy. Sekarang waktunya gadis kecil daddy tidur.”
Aciel menggendong tubuh kecil Ciara dan memutar-mutarnya beberapa kali di udara sebelum ia membawa Ciara untuk naik ke kamarnya di lantai dua. Suara tawa Ciara yang begitu girang ketika sang ayah menggendongnya seperti sebuah pesawat membuat Louise langsung berlari menghampiri ayahnya dengan wajah iri.
“Daddy!!! Louise juga mau digendong!”
-00-
Eden terbangun di tengah malam dengan keringat dingin yang membasahi dahinya. Baru saja ia bermimpi buruk mengenai penyakitnya dan membuatnya ketakutan setengah mati. Ia kemudian menolehkan kepalanya ke samping, tempat dimana Aciel saat ini sedang tertidur lelap dengan wajah damainya. Perlahan-lahan Eden mengulurkan tangannya untuk membelai wajah Aciel sambil tersenyum tipis pada pria itu. Sebagai seorang istri dan juga ibu, ia belum siap untuk meninggalkan orang-orang yang ia cintai. Ia masih ingin hidup bersama keluarga kecilnya hingga berpuluh-puluh tahun yang akan datang dan melihat kedua anaknya tumbuh dewasa. Namun ia sekarang tidak bisa terlalu mengharapkan akhir yang bahagia dari kehidupan kecilnya karena saat ini ada sebuah kanker yang sewaktu-waktu bisa memisahkannya dari kehidupan bersama keluarag kecilnya.
“Ed..”
Suara serak Aciel tiba-tiba mengejutkan Eden dan membuat wanita itu menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengelus puncak kepala suaminya. Wanita itu menatap suaminya lembut dan meminta suaminya untuk tidur kembali. Tapi Aciel justru bangkit dari tidurnya dan menatap Eden sedikit curiga.
“Hari ini kau terlihat aneh, ada apa? Apa kau sedang memiliki masalah? Ceritakan padaku.” desak Aciel sambil menatap kedua manik bulat Eden. Eden mencoba mengakhiri kontak mata mereka dan beralasan jika ia ingin pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Namun Aciel tahu jika isterinya itu sedang berbohong, sehingga ia langsung mencekal pergelangan tangan Eden sebelum isterinya itu benar-benar beranjak berdiri dari duduknya.
“Ceriatakan padaku ada apa?” ucap Aciel lebih tegas. Eden menghela napasnya pelan dan kembali duduk di depan suaminya.
“Aku hanya lelah, kenapa kau jadi mendesakku seperti ini?” tanya Eden gusar.
“Aku khawatir padamu, hari ini kau terlihat aneh setelah pergi ke rumah sakit. Apa kau hari ini pergi untuk menemui Laila?” desak Aciel tanpa mengindahkan raut kesal yang tercetak jelas di wajah Eden. Namun tanpa Aciel sadari, saat ini Eden sedang gugup karena ia tidak memiliki asalan yang terdengar masuk akal untuk menjawab pertanyaan dari suaminya itu. Ia tidak mungkin berkata jujur pada Aciel jika ia dinyatakan positif mengidap penyakit kanker, ia tidak mau Aciel mengetahuinya sekarang.
“Aku lelah dan kesal karena kau selalu sibuk.”
Akhirnya Eden berhasil mengeluarkan kata-kata dustanya untuk menjawab rasa penasaran Aciel yang menyebalkan itu.
“Lalu? Kupikir kau sudah terbiasa dengan keadaanku yang memang super sibuk ini. Memangnya sudah berapa tahun kau mengenalku dan menjadi istriku, hingga kau merasa kesal seperti itu saat aku untuk yang kesekian kalian kembali terlihat sibuk akhir-akhir ini.” ucap Aciel dengan wajah santai. Eden mengerucutkan bibirnya kesal di depan suaminya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sebenarnya bukan jawaban itu yang ingin Eden dengar, seharusnya suaminya itu lebih peka dan berusaha meluangkan waktu untuk dirinya dan juga anak-anak. Apalagi umurnya kini mungkin sudah tidak akan lama lagi, mereka harus membuat kenangan sebanyak-banyaknya sebelum penyakit mengerikan itu menggerogoti tubuhnya.
“Kau menyebalkan, Ace! Memangnya apa yang kau kerjakan di luar sana? Apa kau memiliki wanita lain yang kau sukai di luar sana?”
Tiba-tiba saja Eden menyinggung soal wanita yang langsung membuat Aciel bingung. Padahal sebelumnya mereka hanya membahas masalah suasana hati Eden yang buruk, namun tiba-tiba ia menjadi ikut terlibat ke dalam pembicaraan tengah malam mereka yang terdengar aneh itu.
“Wanita? Kau pikir aku selama ini menghabiskan seluruh hari-hariku dengan mengencani wanita-wanita cantik di luar sana? Ck, kau keterlaluan Ed, jika menuduhku seperti itu.” balas Aciel kesal. Eden tiba-tiba merasa mendapat angin segar di kepalanya untuk mulai mempersiapkan calon ibu dan juga calon istri untuk menggantikannya jika ia meninggal nanti. Ia rasa itu perlu dipersiapkan sejak dini agar ia bisa lebih tenang di alam sana ketika meninggalkan keluarga kecilnya pada wanita yang menurutnya tepat.
“Kalau begitu, apa saat ini kau sedang tertarik dengan seorang wanita?”
“Kau? Ada apa denganmu sebenarnya?” tanya Aciel tak habis pikir. Namun Eden terlihat begitu serius di depannya, membuatnya merasa ada yang tidak beres dengan sikap istrinya hari ini.
“Aku sedang bertanya serius padamu, Ace. Ah.. kulihat ada seorang karyawan yang cantik di kantormu. Rekan-rekan bisnismu juga tak kalah cantik. Kurasa mereka sangat cocok denganmu. Dan wanita yang kemarin berpapasan denganku saat aku menjemput Ciara, siapa namanya? Aku lupa.” tanya Eden sambil mengingat-ingat.
“Krystal.” jawab Aciel datar. Bersamaan dengan itu Eden langsung menjentikan jarinya tepat di depan wajah Aciel sambil menunjukan wajah berbinar-binarnya yang membuat Aciel sebal.
__ADS_1
“Ya, Krystal! Ah.. dia adalah wanita yang cantik dan juga pintar, jika kau bersanding dengannya pasti akan terlihat sangat serasi. Atau Annabeth yang sudah memiliki satu anak namun baru saja bercerai dengan suaminya. Menurutku Annabeth tidak terlalu buruk, ia memiliki wajah keibuan yang sangat menenangkan.” ucap
Eden antusias. Aciel mengernyitkan wajahnya dan mulai merasa tidak suka dengan arah pembicaraan mereka yang semakin aneh itu. Apalagi Eden juga sama terlihat anehnya, karena tidak biasanya wanita itu terlihat santai saat membicarakan seorang wanita yang pernah dekat dengannya.
“Ed, kurasa kau memang sedang sakit jiwa. Ada apa denganmu sebenarnya?”
“Apa kau sedang menuduhku gila? Aku sehat, Ace! Bahkan aku sangat sehat hari ini.” ucap Eden berapi-api.
“Lalu apa maksudmu dengan menjodohkanku dengan wanita-wanita yang sama sekali tidak kucintai. Kau terlihat seperti bukan istriku yang posesif.”
“Bukankah itu bagus, jika aku sudah tidak posesif kau bisa mendekati wanita manapun dengan bebas. Kau tidak perlu lagi memikirkanku.”
“Terserah apa katamu, aku tidak mau mendengarkan ucapanmu yang semakin aneh itu.”
Dengan gusar Aciel segera berbaring miring meninggalkan Eden yang saat ini juga sedang menatap Aciel sebal karena ia diabaikan oleh suaminya saat sedang membicarakan masalah serius mengenai masa depan mereka.
“Aciel, aku belum selesai. Kita harus membicarakan wanita-wanita yang tepat untukmu. Atau jika kau ingin kembali pada Stacie, kau bisa melakukannya. Jangan berpura-pura tidur, Ace.” rengek Eden sambil mengguncang-guncangkan tubuh Aciel brutal. Namun Aciel tak menghiraukan istrinya dan tetap memejamkan matanya rapat-rapat karena ia merasa cukup jengah dengan kelakuan istrinya yang aneh hari ini.
“Tidur, Ed! Jangan menggangguku.”
“Tapi kita harus membicarakan wanita-wanita itu.”
“Aku lelah!”
Dan pada akhirnya Eden harus menelan pil kekecewaan karena suaminya sama sekali tidak mau membahas wanita-wanita itu lebih lanjut. Padahal ia ingin sekali memberikan beberapa kandidat calon isteri terbaik yang bisa menggantikan posisinya nanti.
-00-
Keesokan harinya setelah pembicaraan tidak jelas mereka semalam, Eden terlihat semakin lesu dan juga pucat. Beberapa kali mengeluhkan sakit kepala dan ia merasa jika gejala penyakit kankernya mulai muncul perlahan-perlahan.
“Louise jangan mengotori lantainya lagi.” peringat Eden dengan suara lirih. Namun bocah laki-laki itu tidak mengindahkan peringatan Eden dan justru semakin mengotori lantai ruang tamu mereka dengan lumpur yang ia bawa dari halaman depan. Akhirnya Eden terpaksa menyeret bocah kecil itu menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa lumpur yang mengotori hampir seluruh tangan dan kaki pria kecil itu.
“Mommy... mommy, Louise masih ingin bermain!” pekik bocah kecil itu sambil meronta-ronta. Namun Eden dengan sigap langsung mengunci tubuh Louise dengan kedua kakinya agar anak kecil itu tidak bisa melarikan diri dari dekapannya.
“Mommy lelah, lebih baik kau bermain di kamarmu dan jangan membuat kotoran dengan lumpur.” geram Eden gusar. Sesekali Eden memegangi kepalanya yang semakin berdenyut akibat kelakuan Louise yang hari ini sangat menjengkelkan.
“Sekarang kau diam di sini, dan jangan pergi kemana-mana sebelum mommy kembali, mengerti!”
Eden terlihat begitu tegas pada Louise dan segera menutup pintu kamar putranya rapat-rapat. Setelah itu ia langsung bekerja keras untuk membersihkan seluruh kekacauan yang dilakukan oleh Louise. Namun yang paling membuat Eden jengkel adalah karena lumpur-lumpur itu kini sudah mulai mengering, sehingga ia harus semakin mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengeruk lumpur-lumpur itu dari lantainya yang mengkilap.
“Ya Tuhan, kenapa Louise hari ini sangat menyusahkan.” gerutu Eden masih tetap berjongkok di atas lantai untuk mengeruk sisa-sisa lumpur yang menempel di atas lantai.
“Nyonya, biarkan saya saja yang membersihkan.” Seorang pelayan tiba-tiba mendatangi Eden dan mencoba mengambil alih pekerjaan Eden, namun segera ditolak oleh Eden karena kali ini ia memang ingin membersihkan sendiri semua kekacauan yang telah dilakukan oleh anaknya.
“Kembalilah ke dapur dan lanjutkan pekerjaanmu.”
Tes
Setelah pelayan itu berlalu pergi, Eden merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya dan membuat lantai yang dipijakinya ternodai oleh darah. Refleks ibu muda itu langsung menyeka hidungnya dan ia menemukan begitu banyak darah yang mengalir dari lubang hidungnya. Dengan sedikit bingung dan juga panik, Eden langsung menarik selembar tisu untuk mengelap darahnya yang semakin banyak menetes dari hidungnya.
“Kenapa aku bisa mimisan?”
Eden membersihkan seluruh darah mimisannya yang cukup banyak itu sambil bertumpu pada pinggiran wastafel dengan wajah pucat. Sayup-sayup ia kemudian mendengar suara berisik yang berasal dari ruang tamu dan disusul dengan teriakan Louise dari lantai dua yang meneriaki nama daddynya berulang kali.
“Daddy!!”
“Dimana mommymu? Kau mengotori rumah lagi?”
Aciel berkacak pinggang kesal pada anak bungsunya yang hari ini telah menyusahkan ibunya.
“Aciel..”
Eden terlihat begitu lemah di ujung pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang depan. Salah satu tangan wanita itu masih menggenggam tisu yang penuh bercak darah, dan setelah itu ia terlihat limbung hingga membuat Aciel harus bergerak sigap untuk menangkap tubuh lunglai istrinya yang saat ini sedang tak sadarkan diri di dalam dekapannya.
__ADS_1
“Ed... Eden!”
Aciel menepuk-nepuk pipi Eden beberapa kali dan langsung menggendong wanita tak berdaya itu ke dalam kamar mereka. Namun sebelumnya ia sudah terlebihdulu memastikan kecepatan denyut nadi Eden agar ia tidak salah memberikan pertolongan pertama untuk istrinya yang tiba-tiba pingsan tanpa sebab yang jelas itu.
-00-
“Eungg...”
Eden melenguh sekali dan mulai membuka matanya perlahan-lahan yang terasa cukup berat. Disebelahnya Aciel masih setia memantau keadaan isterinya sambil mengatur aliran cairan infus yang ia pasang di pergelangan tangan Eden yang terlihat pucat.
“Kau ingin minum?”
Aciel menyodorkan segelas air putih pada Eden yang segera diraih oleh wanita itu karena ia merasa sangat kehausan.
“Apa yang terjadi? Kepalaku sakit sekali.” erang Eden sambil memegangi kepalanya. Lalu Aciel menyuruh Eden kembali berbaring karena ia merasa tak tega melihat kondisi isterinya yang terlihat memprihatinkan itu.
“Kau sepertinya kelelahan dan kau pingsan setelah mimisan.” jelas Aciel terlihat tenang. Eden kemudian melongokan kepalanya ke ujung pintu sambil menanyakan dimana keberadaan anak-anaknya.
“Mereka sedang tidur siang. Sejak tadi Louise ribut karena kau tiba-tiba pingsan di depannya, lalu aku menyuruh Ciara untuk menemaninya di kamar. Tapi beberapa menit yang lalu saat aku mengeceknya, mereka tengah tertidur pulas sambil berpelukan, jadi kau tidak perlu khawatir. Oiyaa, apa kau kemarin baru saja melakukan pemeriksaan papsmear?”
Seketika wajah Eden semakin pucat ketika suaminya menyinggung masalah pemeriksaan mengerikan itu. Padahal ia sudah ingin melupakannya dan menyimpulkan jika pingsannya hari ini hanya karena kelelahan, tapi Aciel justru kembali membuatnya teringat akan hasil pemeriksaan papsmear yang mengerikan itu.
“Kenapa kau tak mengatakan padaku? Apa yang kau rasakan?”
“Eee...”
“Dan Laila memberikan hasilnya padaku.” tambah Aciel yang membuat Eden semakin mati kutu karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari pria itu.
“Ace, aku... aaku... aku positif kanker.” ucap Eden lirih dan hampir seperti bisikan. Wanita itu terlihat tidak berani menatap wajah Aciel dan hanya menatap langit-langit kamarnya dengan mata berkaca-kaca yang hampir menangis.
“Hasil labku menunjukan jika aku positif mengidap kanker serviks stadium tiga. Maaf karena aku baru mengatakannya, aku terlalu takut.”
Aciel mengernyit tidak mengerti dan langsung menyambar amplop putih yang ia letakan di atas nakas sebelumnya.
“Sejak kapan kau mengidap kanker, kau sehat. Ini lihatlah!”
Aciel menyerahkan kertas putih itu pada Eden dan menyuruh isterinya itu untuk membaca sendiri hasilnya yang ternyata memang tertulis negatif.
“Darimana kau mendapatkan ini? Kkkemarin aku melihat hasilnya positif!” ucap Eden tak percaya, ia pun mencoba membola balikan kertas itu dan membaca hasilnya lebih teliti lagi untuk memastikan jika penglihatannya tidak salah kali ini.
“Aku mendapatkan amplop itu dari Laila beberapa saat yang lalu, ia mengatakan padaku jika kau salah mengambil amplop. Amplop yang kau ambil untuk Eden Zukkenberg, bukan Eden Lutherford.” tegas Aciel dengan tawa yang hampir meledak karena merasa konyol dengan istrinya.
“Jjjadi... jadi aku sehat? Aku tidak mengidap kanker?”
Rasanya Eden ingin berteriak sekeras-kerasnya dan melompat-lompat di atas ranjang jika ia tidak sadar jika saat ini ada sebuah infus yang tertancap di pergelangan tangannya.
“Dasar bodoh! Perhatikan dulu dengan teliti sebelum kau mengambil hasil pemeriksaan di rumah sakit. Untung saja Laila datang untuk mengantarnya langsung padaku.”
“Lalu kenapa aku merasa sangat pusing dan mimisan?”
“Bukankah sudah kubilang jika kau hanya kelelahan dan kurang gizi karena terlalu banyak mengurus tugas tugas rumah tangga. Besok aku akan menambah jumlah pelayan lagi agar kau tidak kelelahan seperti hari ini karena mulai sekarang kau harus memperhatikan kondisi tubuhmu. Kau hamil dua bulan. Dokter Arthur yang memeriksamu tadi mengatakan hal itu.”
Lagi-lagi Eden dibuat terkejut dengan setiap informasi yang diberikan oleh suaminya. Bagaimana mungkin ia bisa hamil jika ia tidak pernah merasakan apapun.
“Karena kau terlalu sibuk mengurus Ciara yang mulai sekolah dan juga Louise, kau jadi tidak sadar jika sebenarnya kau sedang hamil. Dan karena sekarang kau sudah sadar, aku akan kembali lagi ke kantor. Krystal sedang menungguku untuk...”
“TIDAK BOLEH!” teriak Eden galak dengan taring yang siap keluar dari kedua sudut bibirnya. Sedangkan Aciel hanya tertawa-tawa santai di samping ranjang sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Bukankah kau ingin mencarikan penggantimu, jadi untuk permulaan aku akan mencoba membangun chemistry dengan Krystal.”
“Awas jika kau berani macam-macam, aku benar-benar akan meninggalkanmu bersama Ciara, Louise, dan juga bayi yang sedang kukandung ini.” ancam Eden sungguh-sungguh dengan ekspresi wajah mengamuk yang terlihat sangat menggemaskan untuk Aciel. Pria itu kemudian mendekati Eden dan memberikan ciuman hangat di bibir dan juga pipi Eden yang kini telah berubah warna menjadi merah karena wanita itu sedang tersipu.
“Tenanglah sayang, sampai kapanpun kau akan menjadi satu-satunya istriku. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu.”
__ADS_1
“Aww... manis sekali, terimakasih, Ace. Aku janji tidak akan bertindak bodoh dan berpikiran pendek.” ucap Eden dengan wajah bodoh yang menyiratkan penyesalan.
Dan sore itu suasana di rumah keluarga Aciel sudah kembali terlihat normal dengan suara berisik Ciara dan Louise yang sedang berebut mainan. Sementara itu Eden dan Aciel hanya mengamati mereka dari atas sofa tanpa berniat sedikitpun untuk melerai mereka. Biarlah mereka sibuk dengan suara jeritan mereka yang memang berisik itu, namun justru terdengar menentramkan untuk mereka berdua.